‘Menjaga’ Jurnal Harian

Diakses dari Foto akun Facebook Peter Gould yang dibagi oleh JJ Rizal

19 Juli, 2014. Hari ini, saya saya menonton filem Harun Farocki & Andrei Ujică, berjudul Videogramme Einer Revolution (dalam Bahasa Inggris: Videograms of Revolution, tahun 1992). Hafiz merekomendasikan filem ini untuk saya tonton sebagai pembanding dalam mengkritisi filem Peter Snowdon, The Uprising (2013). Kesan saya setelah menonton filem Farocki itu pertama kali: jungkir balik 360 derajat. Saya semakin pusing. Hahaha!

Setidaknya, saya harus bisa memaparkan montase dari masing-masing filem itu dan menariknya ke persoalan “media oleh masyarakat dalam gejolak gerakan sosial”. Hafiz sempat menyebut kata kunci: ‘pola dramatik’—yang oleh UTM disebut dengan istilah “pola dramaturgi”. Yang menarik, celetukan UTM kemarin pagi, “Filem pada umumnya menurut gue justru memiliki dramaturgi yang datar. Yang memuncak itu justru filem-filem avant-garde, seperti Maya Deren.” Celetukan ini justru berbeda dengan pemaparan Hafiz bahwa umumnya filem memiliki pola dramatik yang memuncak, dan dia melihat hal yang berbeda pada filem The Uprising.

“Setiap footage dalam filem itu memiliki peran yang sama,” ujar Hafiz. Peryantaan itu menjadi teka-teki yang harus saya pecahkan. UTM sendiri belum mau memberi komentar mengenai karya Snowdon itu. “Ga apa kalau lu mau sotoy, yang penting tulis dulu!” kata UTM memberi semangat.

Sekarang ini, saya masih mencari-cari berbagai sumber literatur untuk mendukung argumentasi saya mengenai The Uprising—tetapi sembari mengingat kata UTM, “Jangan mencari sumber literatur untuk pembenaran argumen kita! Itu keliru. Kecuali jika kita ingin mengkritisinya.”

Menonton filem Farocki ternyata lebih memberatkan ketimbang Snowdon. Tapi, bagaimanapun caranya, kedua filem ini harus bisa saya taklutkan! #asyek

***

Pukul enam sore tadi, saya mulai berselancar di facebook—setelah sebelumnya sempat menghubungi Ageung. Katanya, ia sekarang berada di Cicurug menyaksikan pementasan teater temannya.

Ketika baru pertama kali membuka home page, saya melihat akun JJ Rizal mempublikasi sebuah foto yang mengilustrasikan perbedaan antara ‘orang sukses’ dan ‘orang gagal’. Dalam ilustrasi itu, kriteria umum orang sukses, yang paling menarik perhatian saya, adalah: mempunyai jurnal harian dan daftar-daftar “proyek” (atau agenda kegiatan yang akan dilakukan).

“Wah, benar sekali ini!” ujar saya dalam hati ketika memperhatikan ilustrasi tersebut.

Saya sendiri, meskipun belum layak dibilang sukses, sedang mencoba melakukan itu menjadi suatu kebiasaan: mengelola jurnal harian sendiri (di blog ini) dan menargetkan beberapa hal yang harus saya capai. Salah satunya, proyek 365 ini, yang walaupun bukan untuk apa-apa selain kebutuhan untuk produktif setiap hari.

***

Rencananya, hari ini saya dan Lulus akan siaran di Radio akumassa, tetapi Yoyo (atau pasukan Visual Jalanan lainnya) yang menjadi operator radio, belum terlihat batang hidungnya. Sementara itu, Lulus sudah siaga di ruang tengah (saya menulis ini di perpustakaan Forum Lenteng).

Oh iya, harus ada dua video yang harus segera saya sunting malam ini: 365 hari kemarin dan 365 hari ini.

#asyek

TandaTangan_latar_transparant

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s