Dengan Elektronik

foto dengan elektronik

17 Juli, 2014. Tadi saya bangun kesiangan. Pukul satu lewat saya baru terjaga. Di studio Forum Lenteng, ada Paul yang masih mendengkur. Di ruangan perpustakaan lantai dua, depan ruangan kerja akumassa, sudah ada Enji di depan laptop. Di lantai bawah, di ruang tengah Forum Lenteng, sudah ada Hafiz di depan laptop. Di teras belakang, sudah ada Ageung yang sedang membaca Agatha Christie.

Beberapa menit kemudian, Hafiz mengingatkan saya soal ketersediaan buku tamu untuk acara penayangan karya video-video dokumenter tentang Papua di GoetheHaus besok. Ini kebutuhan printilan, tetapi penting. Karena, dari kesiapan inilah keuletan si penyelenggara diuji cara mereka mengemas acara. Untung saja, tak lama setelah Hafiz mengingatkan itu, Andang datang. Saya memintanya mendesainkan bukut tamu yang bagus. “Cukup cover dan satu halaman kolom tandatangan, kelar!” ujar Andang.

Sekitar pukul tiga sore, saya berangkat menuju Depok. Saya berencana mengambil persediaan baju di kosan sekaligus menjilid buku tamu dan membeli amplop. Nah, sore tadi itu, Ageung kembali ke ruangan akumassa untuk tidur sembari menunggu Otty, sedangkan Vina sudah duduk di meja kerja akumassa menghadapi laptop. Rencananya, mereka berdua akan mulai mengerjakan filem dokumenter tentang Parungkuda—filem ini disutradarai oleh Otty dengan melibatkan Robert (dari Sarueh Padangpanjang), Enji dan Ageung. Di ruangan perpustakaan sudah ada Komeng juga. Saya sempat mendengar suara Bunga, tetapi batang hidungnya tak kelihatan.

Hari-hari di Forum Lenteng memang selalu penuh dengan interaksi antara manusia dan laptop. Bukan hal yang aneh. Ruang lingkup kerja di media, menyebabkan para pelaku seni di sini harus selalu membutuhkan akses internet untuk mendukung kinerja masing-masing—dan saya rasa semua orang, kelas menengah ke atas, terutama, pasti memiliki durasi interaksi yang luar biasa dengan elektronik, seperti laptop itu.

Baterai ponsel saya habis sehingga terpaksa saya tinggal di Forum Lenteng untuk diisi daya. Jadinya, saya berjalan menuju Depok tanpa membawa satu pun perangkat elektronik.

Jalanan macet. Butuh waktu setengah jam dari Tanjung Barat menuju Depok. Setibanya di Jalan Sawo yang dari Jalan Margonda mengarah ke pintu masuk Stasiun Universitas Indonesia, saya langsung mencari toko fotokopi yang masih buka. Materi buku tamu yang harus dijilid saya titipkan di salah toko yang letaknya paling ujung dan berjanji akan mengambilnya pukul enam sore.

Dari Stasiun Universitas Indonesia, saya sengaja berjalan kaki menelusuri jalanan aspal di kompleks Kampus UI. Dari depan kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, saya masuk ke kampus Fakultas Ilmu Budaya, terus menelusuri Jembatan Teksas, mampi sebentar ke ATM yang ada di kampus Fakultas Teknik. Saya mengambil uang untuk bayar yang bulanan kosan. Hal ini cukup ampuh untuk berbasa-basi dengan Pak Kos yang jarang saya temui karena hampir setiap hari saya bermalam di Forum Lenteng.

Saya sempat tertidur di kosan. Azan maghrib dan hiruk-pikuk penghuni kosan yang berbuka puasa yang membangunkan saya. Saya segera mandi, mabil baju seperlunya—dan sebuah kemeja untuk digunakan besok—lalu berangkat lagi menuju Jalan Sawo untuk mengambil buku tamu yang sudah dijilid. Kali ini, saya menaiki ojek karena takut toko fotokopinya keburu tutup.

Setiap ruas jalan ramai oleh padagang takjil. Wajah-wajah orang datar. Mungkin semuanya lelah karena kerja seharian. Benar-benar datar, atau memang seperti itulah yang tertangkap di mata saya.

Seusai mengambil buku tamu yang sudah dijilid itu, saya berjalan pelan di Jalan Sawo, memperhatikan setiap tokok yang satu per satu mulai menutup lapak. Di Jalan Sawo, ada banyak penjual buku, baik yang bekas maupun yang baru (tapi duplikat-an alias bajakan). Saya jadi teringat buku novel Dataran Tortila milik akumassa yang hilang entah kemana. Kabar terakhir yang saya dengar, buku itu berpindah tangan dari Pepe ke adik saya. Saya sempat berniat ingin membeli buku yang baru saja, tapi tidak jadi karena persediaan uang di saku tak cukup. Saya harus membeli kertas A4 80 gram dan setumpuk amlop. Di Jalan Sawo, toko-toko fotokopi sudah tutup dan biasanya juga tak menjual kertas dan amplop. Artinya, saya harus menuju toko besar Gramedia, yang kemungkinan besar harganya begitu mahal.

Saya sering kesal mengapa harga barang-barang di Gramedia begitu mahal? Buku-buku untuk kebutuhan sekolah dan kuliah juga mahal luar biasa. Wajar saja ada banyak ‘pembajak’ buku di Jalan Sawo yang merupakan salah satu kampung mahasiswa paling ramai. Kami membutuhkan akses pengetahuan dari buku itu dengan harga yang murah. Masalahnya, pengusaha yang memonopoli distribusi buku-buku original, seperti Gramedia itu, tidak pernah memberikan harga yang murah.

Saya tak berlama-lama di Gramedia meskipun ada dua tiga orang pengunjung yang menarik perhatian saya. Dari Gramedia, saya langsung meluncur dengan menaiki angkot nomor 19 (warna merah) jurusan Depok – Kampung Rambutan, menuju Tanjung Barat, ke Forum Lenteng.

Setibanya di Forum Lenteng, saya melihat Andang sedang berbicara via ponsel di teras depan. Dari pintu pagar, saya melihat Gelar sedang serius di depan komputer, di ruang redaksi Visual Jalanan. Di ruang tengah, Hafiz tidak berpindah tempat, masih serius di depan laptop. Di teras belakang, Ageung masih membaca buku yang menceritakan tokoh Hercule Poirot itu sembari makan bakso. Di lantai atas, di ruang perpustakaan, Enji, Bunga dan Bobi juga serius di depan laptop. Di ruang studio, Ugeng sedang bermain-main dengan ‘digital web’, di depan komputer. Di sebelahnya, ada Paul dan Komeng yang sedang me-review video-video dokumenter Papua, juga di depan komputer.

Ya, apa yang bisa saya simpulkan dari empat setengah jam tanpa elektronik? Tak ada. Karena sekarang, saya juga terbawa arus kebiasaan, kembali berinteraksi dengan layar komputer ini.

TandaTangan_latar_transparant

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s