Pesta Makan

12 Juli, 2014. Tadi sore, saya duduk di dalam angkot, nomor 19, jurusan Depok-Kp. Rambutan, berwarna merah. Saya sedang menuju Forum Lenteng. Dan ketka angkot lewat di depan Kampus IISIP Jakarta, saya melihat selapak takjil yang dijaga oleh seorang ibu-ibu dan seorang gadis. Saya melihat gadis itu begitu semangat menjual, merapikan takjil yang dijajakan.

Seketika pikiran saya bergerak ke memori-memori dulu, ketika masih di Pekanbaru. Bulan puasa, adalah bulan yang penuh dengan pesta makan. Kegiatan berbuka bersama, bagi saya, adalah sebuah pesta makan. Makanan yang dihidangkan pasti nikmat, sedap dan mengenyangkan. Setelah berbuka, dilanjutkan dengan makan malam dengan lauk-pauk super mantap buatan ibu. Saya selalu makan sampai perut benar-benar kenyang sebelum pergi sholat tarawih. Sepulang sholat, pesta makan kembali dilanjutkan. Sahur pun, biasanya juga begitu, tetap pesta makan karena lauk-pauk yang disediakan oleh ibu selalu luar biasa.

Pesta makan di bulan puasa juga tertanam di kepala saya karena ada banyak acara berbuka bersama, baik di lingkungan keluarga besar, teman-teman sekolah, atau acara-acara lainnya. Selalu pesta makan. Entah mengapa, setiap berbuka, makanan yang akan dimakan itu serasa berkah dari langit. Makan luar biasa. Mungkin, karena biasanya saya dulu selalu memperhatikan makanan itu di siang hari, ketika sedang menahan godaan makan dan minum. Seraya memerhatikan, saya selalu membayangkan, “Wah, ini nanti akan kusantap ketika berbuka puasa nanti!”. Kalau di rumah, saya sering melihat ibu, nenek, kakak dan adik di dapur memasak makanan untuk berbuka puasa. Saya bahkan mau membantu memotong cincau menjadi ukuran dadu-dadu kecil (menu wajib buka puasa). Memotong cincau itu begitu mengasyikkan, karena aromanya yang segar, menambah sensasi tantangan berbuka puasa—meskipun nenek sering berkata kalau saya tergoda, “Jadi sumbiang puaso ang!”

Sekarang, rasa-rasanya sensasi pesta makan dan semangat menyambut buka puasa itu sudah tak pernah lagi saya rasakan. Hidup di Jakarta dengan kesibukan ini-itu, membuat saya tak pernah lagi makan secara teratur. Bahkan, saya pernah tidak makan seharian. Semuanya berjalan dengan datar. Ketika azan berkumandang, waktunya berbuka, tak ada semangat untuk pesta makan. Waktu berjalan seperti biasa saja.

Bagi saya, konflik yang dihadirkan antara visual di depan kampus itu dan ingatan masa lalu saya adalah sebuah kelucuan yang aneh. Aneh, tapi memercikkan kesan-kesan yang samar. Ah, tak tahulah apakah mungkin karena sudah tiga hari ini kepala saya selalu pusing gara-gara penyakit langganan—tipus—kumat lagi. Ramadhan tahun ini baru berjalan setengah bulan. Semoga saja saya akan menemukan kembali sensasi ‘pesta makan’ itu. Katanya, sih, besok ada acara berbuka bersama di Forum Lenteng—sekaligus merayakan hari jadi Forum Lenteng yang ke-11. Pesta makan.

Dan ketika saya menulis ini, sudah ada Adel nongol, mungkin dia akan stay di sini hingga besok untuk ikut serta hadir dalam acara buka bersama Forum Lenteng. Pesta makan.

TandaTangan_latar_transparant

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s