Kembali ke Media

Foto Kembali ke Media

10 Juli, 2014. Di tengah-tengah hiruk-pikuk pasca hari pencoblosan kemarin, saya di Forum Lenteng kembali fokus ke pekerjaan: kembali ke media. Sekarang ini, sebagian dari kami tengah disibukkan dengan pembuatan buku kumpulan tulisan hasil kerja di Papua pada Bulan Februari-Maret dan Mei-Juni, 2014 lalu. Saya sendiri kebagian tugas untuk membuat sebuah esai tentang ‘cita-cita ideal mengenai pemberdayaan media untu kesehatan’. Dan saya memilih ‘media komunitas’ sebagai alternatif bagi masyarakat untuk membangun media center-nya sendiri, membangun wacana tandingan yang baru untuk konglomerasi media.

Saya sendiri sekarang lebih percaya bahwa kesadaran terhadap media adalah pangkal dari kesehatan. Rendahnya kesehatan masyarakat, salah satu penyebab utamanya adalah kurangnya informasi mengenai kesehatan dan pelayanan kesehatan yang sampai ke masyarakat secara merata. Tak ada hal lain selain sarana pra sarana informasi dan komunikasi (media) harus ditata dengan sedemikian baik untuk menanggulangi masalah itu.

Saya juga ditugaskan untuk memeriksa tulisan-tulisan yang lain, apakah sudah sesuai ejaan EYD atau konteks pembahasannya. Salah satu tulisan yang saya periksa adalah tulisan Gelar. Tulisannya itu lebih berbentuk catatan kritis, berdasarkan pengalamannya sebagai fasilitator pelatihan program, mengenai kerja-kerja bermedia di Papua. Yang menarik, Gelar menyinggung persoalan montase sehubungan dengan aktivitas pembuatan filem/video dokumenter yang seringkali dilakukan oleh kelompok-kelompok kreatif dari luar Papua di tanah Papua itu. Gelar—saya sependapat dengannya—menyatakan bahwa seharusnya partisipan pelatihan dokumenter bukan diajar-ajari tentang bagaimana “mengadegankan” situasi di lapangan agar sesuai dengan skenario filem/video yang akan dibuat. Menurutnya, itu justru mengobyektifikasi masyarakat. Gelar lebih setuju jika partisipan pelatihan itu dibagikan pemahaman tentang konstruksi visual di dalam filem secara utuh dan mendalam agar mereka tidak mendapatkan pengetahuan filem secara setengah-setengah. Eksekusi di lapangan akan lebih bijak dikembalikan ke para partisipan karena mereka adalah warga lokal, yang memiliki sudut pandang atau perspektifnya sendiri, yang tentu akan lebih cair dalam menangkap kenyataan menggunakan kamera yang mereka bawa.

Selain sibuk dengan pembuatan buku itu—yang nantinya akan didistribusikan dalam acara peluncuran karya-karya video Papua oleh Forum Lenteng, pada Bulan Juli, 2014 ini—orang-orang di Forum Lenteng sebagiannya juga disibukkan dengan kegiatan workshop. Seperti yang sudah saya tulis beberapa hari lalu, teman-teman Kampung Segart yang mengelola webiste Visual Jalanan, mengikuti workshop penulisan, yang di hari ini dipandu oleh Otty Widasari. Tidak jauh dengan wacana pemikiran yang sedang berjibaku di Forum Lenteng dalam satu minggu ini—bahkan setiap hari—pembahasan materi hari ini juga menyangkut media. Otty membagi pengetahuannya tentang bagaimana cara mendedah karya fotografi secara kritis dan bernas.

Teman-teman dari Visual Jalan (dan juga akumassa) memberikan pendapatnya satu per satu mengenai foto para demonstran yang memanjat pagar. Foto itu diambil dari sebuah artikel di website akumassa.org, berjudul “Catatan Seorang Bukan Demonstran” (tulisan saya sendiri) yang menceritakan kronologi demonstrasi buruh dan mahasiswa di Gedung DPR, menuntut digagalkannya kenaikan harga BBM, tahun 2012. Foto itu juga saya seniri yang mengambilnya.

Menurut amatan saya, kesulitan dalam menafsir sebuah karya fotografi adalah karena kita sering kali terjebak berbicara hal-hal yang berada di luar foto itu sendiri (dengan kata lain, hal-hal yang berada di luar frame). Padahal, sebagaimana yang berkali-kali ditegaskan oleh Otty pada workshop tersebut, sebenarnya akan lebih mudah untuk menulis tentang sebuah karya fotografi secara kritis (dan tidak mengarang-ngarang) jika kita tetap menguraikan apa yang terlihat di dalam frame. Saya sendiri memahaminya sebagai latihan memaparkan bentuk, lalu mengulas unsur tekstual (analitis) dan kontekstual-nya. Jujur saja, hal itu memang sangat sulit. Butuh latihan yang disiplin untuk meningkatkan kepekaan dan ketajaman analisa. Hafiz dan UTM pun pernah berkata kepada saya bahwa tulisan Susan Sontag, On Photography, adalah bacaan wajib untuk memahami filsafat fotografi itu. Dan hingga sekarang, saya belum berhasil membaca dengan khatam tulisan Sontag itu lebih dari enam halaman.

Tapi saya mengerti, belajar visual bisa dilakukan dengan banyak cara. Saya sendiri sekarang sedang terus berlatih belajar visual setiap hari. Di samping menonton karya-karya filem—dan disiplin ini pun masih belum berjalan dengan apik—saya terus mengulik kamera android saya. Saya usahakan merekam setiap hari. Setiap hari. Paling tidak, saya percaya petuah UTM, “Buatlah kamera itu menjadi bagian dari dirimu, dan gambar yang dihasilkan pasti akan beda.”

Hari ini pun, karena terdorong kata “montase” di tulisannya Gelar, saya mencoba membuat karya video dengan mempraktekkan teori paling dasar dari montase-nya Kuleshov. Saya pernah membaca sebuah jurnal ilmiah di kriminologi bahwa orang itu adalah salah satu pelopor kelahiran teori montase, yang pada masa berikutnya dipopulerkan (atau ‘dipatenkan’) oleh Eisenstein sebagai salah satu temuan ide paling berpengaruh dari Russia di wacana perfileman dunia. Sekali lagi, saya harus jujur, bahwa saya sendiri belum betul-betul mengerti montase ‘lapar’ ala Kuleshov ini. Tapi saya pernah melihat UTM melukis di kertas—yang menjadi modelnya, kebetulan, waktu itu adalah saya sendiri—hasil tafsirannya mengenai ‘montase lapar’ itu. Di dalam frame yang dibuat UTM itu, wajah si subyek lukis berdekatan dengan sebuah obyek, yakni piring kosong. Lalu, dengan bangga dia menyebutnya itu sebagai “Sepotong montase Kuleshov”. Lalu UTM juga pernah menjelaskan bahwa Kuleshov menggagas ide semacam itu sebagai hasil pembacaannya terhadap kondisi sosiokultural di Russia pada masanya. Bagi saya sendiri, penjelasan UTM itu menegaskan apa yang pernah saya dengar dari Akbar tentang pendapatnya mengenai pemikiran Andre Bazin: sinema sudah ada di dalam kepala sebelum kamera itu sendiri hadir di hadapan kita.

Maka dari itu, berbekal sedikit pemahaman ini, dan keberanian untuk mendisiplinkan diri—semoga saja ini bukan aksi sotoy, karena dengan rendah hati saya katakan bahwa saya sedang belajar membuat konstruksi visual—saya mencoba membuat tafsiran sendiri dalam karya video. Alurnya sederhana saja. Kebetulan malam ini ada Jayu, yang hobi makan, dan saya memintanya menjadi model dalam frame. Terimakasih untuk Jayu, video itu saya unggah ke Youtube dengan judul “Makan Malam Jayu”. Semoga latihan ini tidak sia-sia, terutama bagi latihan disiplin saya secara pribadi. Kalau misalnya tafisaran saya kurang tepat, ya… maklum ya… Hahaha.

TandaTangan_latar_transparant

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s