Setelah Ini…

foto setelah ini...

9 Juli, 2014. Sore hari ini, saya duduk di studio Forum Lenteng dan berbincang dengan UTM, mengenai perkembangan hitungan cepat hasil coblos 9 Juli. UTM sendiri tidak terlalu berbicara banyak mengenai hasil hitung cepat meskipun dia sempat bertanya kepada saya terkait metode-metode yang umumnya digunakan oleh lembaga-lembaga survei.

Saya yang juga tak banyak tahu soal metode itu—saya tahu sedikit sekali soal statistika—hanya menjawab, “Ya, tergantung sih, Om… tapi, kan hasil hitungan itu juga ada standar eror-nya, tingkat kepercayaannya, berapa persen… dari situ bisa ditakar sih…”

Perbincangan kami pun lebih terfokus soal kemungkinan-kemungkinan yang terjadi jika salah satu kandidat menjadi presiden. Yang cukup menarik—tapi tidak mengejutkan—UTM berpendapat bahwa justru yang membuat dirinya semakin was-was adalah jika Jokowi-JK menjadi Presiden-Wakil Presiden. “Dua sipil … apakah bisa menundukkan militerisme?” begitulah kira-kira ujarannya (seingat saya).

Menurut amatan UTM—baru sebatas bacaan atau spekulasi, mungkin—jika Jokowi-JK menjabat jadi ‘pengurus’, serangan ke mereka (dalam artian, serangan ke sipil) akan semakin kuat. Dan itu menyeramkan. UTM sendiri mengaku sudah seminggu ini dia gelisah. Apalagi, berita terbaru mengabarkan bahwa sudah ada “Koalisi Permanen” dan “revisi UU MD3” yang disahkan. “Itu kan tanda-tanda…” ujar UTM.

Kami berdua pun menyadari orang-orang yang berada di lingkaran Jokowi-JK tidak sepenuhnya dapat dipercaya: Wiranto? Ini aneh. Mengapa?

“Ya, tentunya itu bukan tanpa alasan…” ujar UTM.

“Tapi, mungkin…” UTM berkata sambil berpikir. “Yang perlu dirayakan adalah bukan orangnya, ya… si Jokowi ini. Tapi lebih kepada… fenomenanya menjadi ikon puncak dari reformasi yang dibayangkan selama… sudah berapa tahun… enam belas tahun… Itu yang sangat disayangkan jika…”

“Jika perayaan ini digagalkan…?” saya memotong. UTM hanya mengangkat kedua bahunya.

“Gue takutnya kasus ini akan serupa dengan di Mesir…” kata UTM lagi. “Tidak sampai dua tahun, kan? Ya, kalau gak salah gak sampai dua tahun… Nah, ini, kan bisa dilihat bahwa semua itu terjadi pasti ada yang mengatur… Gak mungkin lah ‘mereka’ itu diam-diam saja…”

Perbincangan kami pun melebar ke persoalan konspirasi-konspirasi internasional, yang ujung-ujungnya melihat kepentingan Israel dalam mengendalikan ke dunia untuk menguasai peradaban. Melihat posisi tawar Obama, pemerintah-pemerintah di Amerika Latin, Timur Tengah, dan lain sebagainya. Bahkan, kami sempat menyinggung freemasonry (sebuah topik yang rasa-rasanya tidak akan menarik perhatian lawan bicara saya ini). UTM pun sempat menyinggung soal people power di Filipina yang menurutnya hanya bertahan lima tahun (kalau saya tidak salah ingat, UTM menyebut ‘lima tahun’).

“Setelah itu… bisa dibilang militer lagi, kan?” katanya.

Lalu saya berujar, kalau misalnya di kriminologi, itu ada yang namanya kelompok left realist, yang berpendapat bahwa mendiskusikan hal-hal berbau ‘konspirasi’ itu tidak ada gunanya. Lebih baik langsung aksi di ‘kenyataan’. UTM pun membenarkan. Dan ini pula mungkin yang melatarbelakangi alasan UTM untuk menjelaskan bahwa “wajar jika ‘konspirasi’ tidak menjadi bahasan Foucault dan kawan-kawan. Menurut UTM, ‘konspirasi’ itu di luar konteks pembahasan tentang wacana.

“Perlu diingat…” kata UTM. “Dalam sejarah peradaban kita, tak pernah ada yang namanya militerisme itu menghendaki supremasi sipil…!”

Saya terdiam. Sumpah, kata-kata itu membuat saya ngeri.

“Yang menakutkan adalah mereka ini justru akan memicu konflik antara sipil dan militer, padahal yang punya konflik kepentingan adalah militer dengan militer,” katanya lagi. “Itu, kan yang terjadi pada masa Orde Baru…”

Saya pun speechless.

Lalu, bagaiamana setelah ini? Ya, tak bagaimana-bagaimana. Yang terpenting adalah tetap berada di jalur kritisisme terhadap negara. Jika memang nantinya harus berhadapan dengan hal-hal yang ditakuti itu (mungkin ini hanyalah dramatisasi saja, mudah-mudahan ini benar-benar dramatisasi saya saja, tidak akan jadi kenyataan), harus siap hadapi. Selama mata, telinga, dan mulut ini masih berfungsi, kritik tak akan pernah berhenti.

Begini saja tulisannya. Tak ada niat untuk membuat tulisan analitis-kontekstual yang komperhensif layaknya esai. Ini hanya curahan hati saja.

Bahwa sekarang, saya sedang mengkhawatirkan hal yang mengerikan—yang mudah-mudahan tidak terjadi. Amin.

TandaTangan_latar_transparant

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s