Produk Minuman

Foto Produk Minuman

6 Juli, 2014. Ketika saya terbangun dari tidur, di Forum Lenteng, hanya ada saya, Ugeng, Petruk, Abi (dan pacarnya), Hanif dan Yoyo. Baru saja Abi dan pacarnya pergi menggunakan motor entah ke mana, dan seorang teman Hanif datang berkunjung. Ugeng bermain komputer di ruangan atas, dan si Petruk setia menemaninya di depan pintu.

Hari ini saya harus menyelesaikan esai tentang “media dan kesehatan”. Sudah satu minggu, tulisan itu belum juga selesai. Padahal, mudah saja membuatnya. Saya sendiri tidak tahu kenapa sampai sekarang belum selesai.

Di atas meja besar, di ruang tengah kantor Forum Lenteng, sekarang ini—selain perangkat elektronik pribadi saya—ada empat botol minuman, merek Tehbotol Sosro. Kalau tak salah ingat, tadi ada lima botol. Satu botol lagi hilang, mungkin di bawa Yoyo atau siapa ke ruangan Redaksi Visual Jalanan dan Radio akumassa. Beberapa menit yang lalu, mereka berfoto-foto ria di meja ini, sembari memegang teh botol itu. “Biar dapat satu juta, Zik…!” ucap Abi. Saya cuek saja sementara Ugeng dengan tegas menolak untuk masuk ke dalam foto, lantas menawarkan agar dirinya saja yang mengambil foto.

Render-an video hari ini masih sedang berjalan. Saya belum menemukan image of the day. Memang begini… saya seringkali memaralelkan aktivitas di depan laptop: sembari mengerjakan esai, saya juga menambah konten blog. Target produksi setiap hari, mau tak mau, harus berjalan karena sudah berjanji pada diri sendiri. 365 hari.

Tapi saya tidak tahu hari ini harus menulis apa untuk blog.

Oh, ya! Saya ingat. Beberapa menit yang lalu, Ugeng bertanya kepada saya, “Zik, lu bukan peminum teh botol, ya?”

“Ha…?” respon saya datar.

“Ya, yang lain kan minum, tuh…! Lu bukan…”

“Lah, emang gue harus ngelapor ke lu dulu gitu, Om, kalau mau minum teh botol?”

“Ya, maksudnya, gue gak pernah lihat lu minum teh botol, kalau Abi kan sering, tuh minum teh botol…”.

Saya sering minum teh botol. Apalagi kalau di warung, makan mie ayam bersama Ageung. Biasanya, teh botol adalah minuman yang sering kami pilih. Tapi, kalau meniatkan diri untuk sengaja minum teh botol (maksudnya, mendorong diri pergi ke warung hanya untuk beli teh botol), saya tidak pernah. Bagi saya, teh botol hanya minuman sekedar lewat, bukan ujaran iklan yang menyatakan bahwa teh botol hanyalah satu-satunya pilihan menarik.

Tapi, ‘teh botol’ yang dimaksud oleh Ugeng berbeda. Ia bermaksud membicarakan ide yang lebih luas, yakni ide tentang ‘produk’. Itu saya sadari ketika saya berkata, “Yang aneh, tuh lulus. Hobinya minum minuman kemasan… kayak teh kotak, teh gelas,…” (yang kalau diminum, sedotannya harus dicoblos dulu…).

“Ya, itu kan teh botol juga,” kata Ugeng. “Di kepalanya ada ide ‘teh botol’, kalau di lu, gue lihat gak ada.”

Saya ingat orang tua saya dulu melarang keras anak-anaknya jajan makanan kemasan, seperti mi instan dan ciki-cikian. “Ada bahan pengawet,” katanya. “Ndak sehat!”

Sejak SMA, keinginan untuk beli mi instan itu sudah tak harus dapat izin dari ibu. Kalau mau beli, ya beli saja. Sekarang juga begitu. Bahkan, bisa dibilang sering, malam hari, kalau begadang.

Tapi, berbeda dengan Lulus, yang pernah berkata kepada saya mengenai alasannya sering beli minum-minuman kemasan: “Ya, seru aja rasanya jajan begituan…”. Di mata saya, minum minuman kemasan itu tak menggoda sama sekali. Apalagi, teh gelas, rasanya aneh. Apakah ini pengaruh didikan orang tua, saya agak ragu. Ini hanya soal selera.

Tapi, saya paham maksud pertanyaan Ugeng. Dia sedang memancing kepekaan kami, maghrib itu, tentang budaya konsumerisme. Mungkin, saya hanya menebak-nebak. Tapi, Ugeng memang hobi berbicara soal itu.

TandaTangan_latar_transparant

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s