Tentukan Pilihanmu! Saya Sudah! #salam2jari

Tentukan Pilihanmu

5 Juli, 2014. Turun dari kereta listrik di Stasiun Palmerah, saya langsung dibikin merinding (semangat) oleh segerombolan orang berpakaian kotak-kotak. Masih sekitar setengah jam lagi berjalan kaki menuju Gelora Bung Karno (GBK).

Saya teringat tulisan rustyrevlover, berjudul “Kita Seharusnya Tidak Mendukung Jokowi”. Tulisan itu mengingatkan bahwa dalam pemilu ini, khususnya yang mendukung Jokowi, kita seharusnya bukan mendukung. Yang tepat, menurutnya, adalah memilih. Karena Presiden dan Wakil Presiden adalah orang yang akan bekerja untuk kita.

Ide tulisan tersebut ditegaskan oleh pendapat Ade Darmawan saat saya berbincang dengannya, 2 Juli, 2014, di ruangrupa. Menurut Ade, selama ini kita menggunakan diksi yang keliru, yakni ‘pemerintah’ (yang memberikan perintah). Dia mengajukan diksi yang lebih tepat, yakni ‘pengurus’, yang lebih mengesankan ‘orang yang bekerja’ dan ‘sebagai mitra’. Meskipun kelihatannya sederhana, persoalan diksi yang sudah berakar-berurat ini merasuk dalam setiap tindak-tanduk kita dalam memaknai kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadi, agaknya yang lebih tepat adalah ‘memilih para kandidiat untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden yang bekerja sebagai pengurus kegiatan harian negara’.

Saya, sejak satu setengah minggu yang lalu, sudah menyatakan dengan tegas bahwa saya memilih Jokowi-JK untuk menjadi pengurus itu. Oleh karena alasan itu, saya turut hadir di GBK untuk menyaksikan sendiri antusiasme orang-orang atas pilihan mereka.

Saya adalah pengagum paradigma postmodernism. Dalam perkembangannya, salah satu gagasan dari paradigma ini adalah “apa yang tampak dan yang nyata sudah tak ada lagi beda”. Tafsiran saya, yang tampak (representasi) itu adalah kenyataan (realitas). Inilah faktor yang menentukan pilihan saya.

Tidak, saya tidak sedang akan membahas “citra”, “pencitraan” atau pun “politik pencitraan”. Yang saya soroti adalah perilaku massa, baik yang di dunia maya (online) maupun nyata (di luar online).

Saya sendiri menyambut gembira Pemilihan Presiden tahun ini. Sebab, kita menyaksikan suatu gejolak yang di luar kebiasaan yang pernah terjadi dalam sejarah demokrasi Indonesia. Pada tahun inilah saya menjadi yakin bahwa kegiatan yang saya geluti dalam lima tahun ini menunjukkan manfaatnya. Literasi media tak lagi sekedar gagasan minor—dua tahun yang lalu, gagasan ini masih asing di lingkungan pertemanan saya di kampus—tapi sudah menjadi keharusan. Pemilu tahun ini mendidik kita untuk menjadi lebih dewasa.

Tahun ini, saya menyaksikan sendiri dinamika pemilu yang tidak membosankan. Alih-alih, memancing decak kagum, salut, simpati, tawa, dan termasuk juga sumpah serapah akibat emosi. Saya masih ingat perdebatan saya dengan saudara-saudara saya dalam satu bulan belakangan ini. Hanya karena penjelasan saya masih diragukan, saya sampai lupa diri dan mengumpat habis-habisan (hingga akhirnya umpatan itu ‘menggampar’ kepala saya sendiri). Jujur saja, saya memang kesal dengan pendapat-pendapat yang meremehkan alasan HAM sebagai salah satu indikator utama dalam melakukan perhitungan kriteria capres dan cawapres. Pembelaan-pembelaan terkait konteks masa lalu, keterpaksaan situasi, atau bahkan pertanyaan-pertanyaan mengenai batasan-batasan HAM yang tak jelas, serta tuntutan demi keadilan HAM yang dianggap terlalu berlebihan, seringkali memancing saya untuk berkata, “Anda tolol! Tidak mengerti HAM!” kepada mereka yang meragukan pentingnya HAM (apalagi yang mengatakannya haram).

Tapi, ya sudahlah. Perdebatan yang seperti itu pun tak akan ada gunanya. Beberapa hari ini, saya memutuskan membantu kampanye kandidat yang saya pilih sembari terus mendemonstrasikan pentingnya HAM. Jaman sudah sedemikian canggihnya, batasan-batasan HAM yang [digugat] masih rancu itu bisa ditakar sendiri oleh masing-masing orang dengan menelusuri berbagai sumber, ada yang sifat sumbernya non-ilmiah dan non-formal, ada juga yang ilmiah (empirik) dan formal (legitimasi resmi dari negara). Sudah ada banyak kasus, sudah ada banyak korban, sudah ada banyak saksi, sudah ada banyak pakar, dan sudah ada banyak wacana yang menunjukkan ini. Dan menurut penilaian saya, masa lalu Prabowo tidak bisa dimaafkan dalam konteks hukum (bahkan keimanan saya). Kalaupun ia tak terbukti menghilangkan aktivis, “menghilangkan hak beraspirasi” masyarakat semasa karir militernya itu sudah termasuk dalam pelanggaran HAM. Menuntut Prabowo untuk membayar kesalahannya hanya bisa melalui pengadilan HAM—yang sampai sekarang belum pernah terlaksana—dan bukan berarti pula, kami yang menuntut ini, menginginkan kepalanya dipenggal. Hanya keadilan, tak lebih dari itu. Agar adil, laksanakan pengadilan HAM, cegah Prabowo jadi presiden.

Lalu Jokowi? Tak ada yang istimewa. Semua rancangan dan agenda kerjanya tidak ada yang istimewa–karena menang sudah seharusnya begitu agenda seorang pengurus negara, prestasi-prestasinya pun masih terlalu dini untuk dipuji-puja. Lingkaran Jokowi-JK juga disesaki oleh para pelanggar HAM. Bedanya, selain karena Prabowo sendiri adalah pelanggar HAM, tak ada pembela HAM di kubu Prabowo-Hatta—tak mungkin ada pembela HAM sejati yang mendukung/memilih Prabowo. Sementara itu, di kubu Jokowi-JK, orang-orang yang membela HAM beradu wacana dan pengaruh dengan kelompok-kelompok berkepentingan (militer dan korporat) yang turut mendukungnya.

Dengan kata lain, di kubu Prabowo-Hatta, tak ada harapan bagi kita yang membela HAM—kita juga bisa menilai ini dari tindak-tanduk tim sukses dan pernyataan-pernyataan publiknya. Di kubu Jokowi-JK, kita masih diberi ruang untuk tetap bergerak membela HAM. Dan perlu saya tegaskan, saya tak perlu ikut berdebat lebih jauh dan bertele-tele soal topeng agama—nonsense!

Saya tak akan pernah percaya kepada orang yang mendiskreditkan komunis (ingat Fadli Zon, pendukung Prabowo)—ayolah, lepaslah pengaruh Orde Baru di kepalamu! Komunis itu bukan kafir dan musuh negara, tapi ideologi yang mendambakan kesetaraan klas—Sejarah tentang PKI dan lain sebagainya hasil konstruksi Orde Baru itu omong kosong! Komunis bukan hal yang salah (itu pertama). Memfitnah kelompok tertentu sebagai komunis atau PKI dengan tujuan untuk mendiskreditkan kelompok tersebut dan untuk membuat masyarakat membenci kelompok tersebut, itu mutlak salah (itu kedua). Dan ketika TV One menuduh PDIP adalah PKI, tak ada reaksi dari Prabowo. Sekali lagi, saya dipertunjukkan kebobrokan moral Prabowo. Semakin mantap saya untuk tak memilihnya. Sah-sah saja jika TV One membentuk opini publik untuk pro Prabowo-Hatta (sebagaimana yang juga dilakukan MetroTV dan berbagai media massa lainnya pendukung Jokowi-JK), tetapi bukan dengan cara-cara yang di luar moralitas. Silahkan media massa bertingkah tolol dan munafik, kami, masyarakat, punya literasi media sebagai tameng.

Butuh faktor-faktor lain selain HAM? Tak perlu saya bahas. Debat Capres dan Cawapres sudah jadi referensi publik (ditambah kesadaran publik sendiri untuk meneliti lebih jauh). Orang-orang bebas menentukan pilihan. Di luar alasan HAM, saya memilih No. 2 karena gagasan-gagasannya lebih cerdas dibandingkan No. 1.

Semesta pun berbicara, menunjukkan berbagai visual kepada saya, mempertunjukkan ‘kepercayaan saya terhadap paradigma postmodernism—dan perlu pula saya tegaskan lagi, sebagai muslim saya katakan, postmodernism adalah cara pandang duniawi dan teoritis yang paling menguatkan ide-ide dan pemikiran-pemikiran Islam! (Catat itu!).

Tahun ini, kolega-kolega saya berhenti untuk apatis dan berubah jadi aktif. Tahun ini, kampanye-kampanye dilakukan dengan kreatif. Tahun ini, sebagian besar orang yang saya temui menunjukkan inisiatif. Tahun ini, cara kerja media massa arus utama semakin gamblang mempertunjukkan kebodohannya secara masif. Tahun ini, masyarakat di lingkungan tempat saya berkegiatan mengorganisir lingkungannya sendiri untuk bergerak [juga] secara masif. Tahun ini, dinamika pemilu memaksa kita untuk lebih dewasa dan berhenti melihat politik secara naif.

Dan saya pun percaya—karena mengalaminya secara langsung—lautan manusia yang memenuhi GBK, tanggal 5 Juli, 2014, itu datang dengan niat sendiri tanpa bayar! Saya datang tanpa bayar! Saya memilih tanpa tekanan atau ikut-ikutan! Saya memutuskan berdasarkan perhitungan! Saya ikut berpolitik di tahun ini dengan melepas ‘idealisme’ golput karena Jokowi-JK layak menjadi pilihan!

TandaTangan_latar_transparant

Author: Manshur Zikri

Penulis

1 thought on “Tentukan Pilihanmu! Saya Sudah! #salam2jari”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s