Workshop Ber-Argumentasi

Workshop ber-Argumentasi

3 Juli, 2014. Tidur setelah sholat subuh, saya terbangun pukul dua siang, dan segera langsung sholat zuhur. Saya mendengar suara-suara anak-anak pengurus visualjalanan.org di ruangan bawah. Hari itu, saya berencana akan memberikan workshop menulis kepada mereka, sesuai permintaan dari Andang dan Hafiz.

Visual Jalanan merupakan sebuah media online berbasis komunitas, dikelola oleh Kampung Segart dan Forum Lenteng, yang berisikan kumpuln-kumpulan visual yang ditangkap dari jalanan. Segala macam visual; budaya visual yang tak pernah lepas dari konteks praktik-praktik sosial di masyarakat. Website ini dibangun dengan tujuan untuk pengarsipan sekaligus sebagai media informasi-pengetahuan mengenai fenomena visual di ruang publik, termasuk juga di dalamnya karya-karya street art dan produki-produk visual buatan ‘massa’ (yang terkadang anonim atau dapat dilacak identitasnya).

Sebenarnya, website dan mekanisme kerja Visual Jalanan ini sudah mulai dikembangkan sejak dua atau tiga tahun yang lalu. Namun, sepertinya perkembangannya kurang signifikan meskipun produktifitasnya terbilang cukup tinggi. Seperti yang sering dikeluhkan oleh Andang dan Hafiz, penguasaan konten dari para pengurus dalam mengemas media tersebut masih perlu ditempa lagi.

Workshop dimulai terlambat setengah jam dari jadwal yang direncanakan. Bertempat di ruang redaksi Visual Jalanan dan Radio akumassa, Forum Lenteng, saya memulai kegiatan itu dengan diskusi mengenai kesulitan-kesulitan yang paling sering ditemui oleh para pengurus—Yoyo, Abi, Hanif, Dalu dan Rambo (yang baru datang sejam kemudian)—ketika memulai membuat tulisan. Saya dan Otty kemudian memetakan kesulitan-kesulitan itu: sukar menemukan inti atau sudut pandang tulisan, ketidakpercayaan diri mengemukakan pendapat, dan teknis gaya tulisan, serta tidak mampu fokus pada satu pokok bahasan.

Otty pun kemudian memaparkan secara garis besar tata-cara workshop yang akan dilakukan satu minggu ke depan, khususnya mengenai metode mengemas tulisan. Sementara itu, ketika Otty menyerahkan pertemuan pertama itu kepada saya sepenuhnya, saya lebih mengarahkan jalannya workshop itu untuk mendedah lebih dalam karya tulis masing-masing partisipan yang telah dimuat di website Visual Jalanan.

Hasil dari diskusi kami menyimpulkan bahwa umumnya karya tulis para partisipan masih bersifat deskriptif. Unsur-unsur jurnalistik cukup kuat, tetapi unsur bingkaian secara kritik (berbentuk esai) masih lemah. Padahal, Visual Jalanan bukanlah sekedar reportase mengenai visual-visual di jalanan, tetapi lebih kepada ruang kritik dan diskusi mengenai wacana dan budaya visual itu sendiri.

Saya kemudian memberian masukan bahwa cara paling mudah untuk menyajikan esai-esai kritik adalah dengan menyajikan paragraf-paragraf yang tidak hanya deskriptif, tetapi juga argumentatif. “Bagaimana kita bisa meyakinkan pembaca bahwa obyek yang kita angkat itu penting untuk dibahas…” kata saya.

“Karena kita menyajikan informasi, kerja media, ada kerja redaksional, dan karenanya Visual Jalanan harus dapat menunjukkan obyek-obyek yang diangkat itu penting untuk dibahas dan diketahui oleh publik,” kata saya lagi. “Ada tanggung jawab moral kita kepada publik, jangan sampai menerbitkan informasi yang justru membodohi publik.”

Dari beberapa contoh tulisan yang kami ambil di website Visual Jalanan, kami fokus pada karya tulis Abi mengenai visual “Dilarang Kencing!”. Dalam tulisan sepanjang satu paragraf itu, ditampilkan foto-foto dokumentasi visual-visual yang terpampang di tembok-tembok: tulisan-tulisan himbauan yang melarang orang-orang untuk kencing sembarangan.

“Apa pentingnya visual itu diangkat oleh Visual Jalanan?” tanya saya. Pertanyaan ini kemudian dicoba dijawab oleh para partisipan dengan menuliskannya kembali—masih dalam satu paragraf saja—di secarik kertas yang kemudian mereka presentasikan masing-masing ke tengah-tengah diskusi. Lagi-lagi, tulisan yang mereka hasilkan masih bersifat deskriptif.

Dalu, misalnya, yang akhirnya menjadi contoh utama yang saya bahas, masih memaparkan visual “Dilarang Kencing di sini Kecuali Anjing” dengan menyebutnya sebagai fenomena yang sering kita temui sehari-hari. Lalu dia memaparkan opini dalam paragrafnya bahwa himbauan itu ditulis oleh orang tak dikenal dengan tujuan untuk mengingatkan masyarakat agar mau menjaga kebersihan. Dalu memberikan catatan, yang menarik, himbauan itu menyematkan kata ‘anjing’.

“Kenapa itu menarik?” tanya saya lagi.

Sebenarnya, saya memiliki keyakina bahwa para partisipan ini memahami di luar kesadaran mereka bahwa ada semacam ‘tegangan’ dari kalimat itu. Lalu saya mendorong mereka, apa kata kunci yang bisa kita gunakan untuk membedah visual “Dilarang Kencing di sini Kecuali Anjing” tersebut.

Yoyo, dengan santainya, mengatakan, “Bahasa…!”

Berangkat dari pendapat Yoyo mengenai ‘bahasa’ itulah kami kemudian mencoba mendedah visual “Dilarang Kencing di sini Kecuali Anjing”. Sebenarnya, yang kami bahas belum sepenuhnya visual, melainkan lebih kepada konteks bahasa yang digunakan oleh himbauan itu. Saya kemudian memaparkan pendapat bahwa kita harus mampu menemukan ‘tegangan’ atau semacam ‘konflik’ dari visual itu. Berikut beberapa premis yang bisa saya catat dari hasil diskusi kami:

  1. “Dilarang Kencing di sini Kecuali Anjing” adalah himbauan.
  2. Kata ‘anjing’, dalam konteks masyarakat kita, sering digunakan sebagai umpatan.
  3. Himbauan umumnya bertujuan untuk mendorong kedewasaan masyarakat.
  4. Umpatan tidak membuat orang jadi lebih dewasa.
  5. Kata ‘anjing’ tidak dewasa.

Kesimpulan dari lima premis itu adalah himbauan “Dilarang Kencing di sini Kecuali Anjing” [jangan-jangan] tidak mendewasakan masyarakat. Saya kemudian berpendapat bahwa itu salah satu poin ‘tegangan’ yang muncul. Hal ini diperkuat dengan pengalaman emirik para partisipan. Mereka mengaku bahwa sering menemukan visual himbauan semacam itu di macam-macam lokasi, pada tembok-tembok. Artinya, himbauan (yang sesungguhnya menggagas dan mengedepankan etika dan moral masyarakat) itu bersifat massa dan sehari-hari. Akibatnya, himbauan itu dianggap lumrah. Kesadaran akan kata ‘anjing’ sebagai umpatan dianggap lalu, dan justru hadir sebagai komedi: “kencing sembarangan sama dengan anjing”.

Lebih jauh, himbuan itu di-visual-kan dengan tulisan tangan asal-asalan (yang tentunya oleh orang yang, dalam hal ini, kita anggap anonim). Saya kemudian berasumsi, bahwa latarbelakang yang mendorong seseorang menuliskan atau membuat visual itu tak lain hanyalah tuntutan untuk mendapatkan kenyamanan lingkungan yang bersih. Tujuannya sedikit berbeda dengan tagging para bomber kebanyakan yang lebih menekankan eksistensi, atau pun dengan karya-karya street art yang seringkali terjebak dalam kesalahpahaman tentang terminologi “rebel” atau “protes”. Meskipun berbeda, visual yang diproduksi oleh massa ini justru dapat dilihat sebagai kritik untuk masyarakatnya sendiri: himbauan itu menjadi otokritik.

“Artinya, visual itu memiliki posisi yang sifatnya juga politis, tak kalah bersaing dengan visual-visual street art lainnya,” saya berpendapat. “Bahkan mungkin memiliki nilai yang melebihi dari tagging yang seringkali kita temui. Dia hadir berdampingan dengan himbauan-himbauan yang sifatnya formal dan menggunakan bahasa-bahasa yang lebih baku.”

Oleh sebab itu, visual “Dilarang Kencing di sini Kecuali Anjing” menjadi penting untuk dibahas. Sederhana saja, sebenarnya, untuk mengungkapkan itu melalui kata-kata. Dan memang, mentransformasikan pemikiran itu dalam bentuk tulisan, seringkali sulit dilakukan.

Saya pun menyarankan keada para partisipan, “Buatlah dulu bongkarannya, atau paling tidak, kerangka berpikirnya. Itu akan memudahkan kita untuk menyusun kalimat demi kalimat menjadi satu paragraf menarik yang bisa menunjukkan betapa pentingnya visual itu kita bahas.”

“Nah, cara-cara mentransformasi gagasan itu menjadi tulisan, lebih detailnya, bagaimana metodenya, akan diberikan oleh Otty pada Hari Senen yang akan datang,” kata saya menutup diskusi.

TandaTangan_latar_transparant

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s