Pilihanlah yang Membuat Sesuatunya Tetap Politis

Karya Asep Topan pada Pameran Lost in Transaction_2014

2 Juli, 2014. Hari ini, ada tiga hal yang saya dapat dan perlu saya ingat. Poin pertama , pekerjaan rumah lima tahun ke depan. Bagaimana caranya memastikan kebertahanan ekspresi masyarakat yang sekarang ini sedang menggejolak-menggejolaknya?! Ade Darmawan berkata kepada saya beberapa jam yang lalu bahwa dia optimis ekspresi-ekspresi ini akan bertahan. “Gue yakin, pasti ada, secara tradisi masih ada bahwa kita secara kolektif memang kuat…” ujarnya.

Pernyataan GM  pada 27 Juni lalu pun seakan diterangkan. “Belum pernah saya menyaksikan gerakan sukarela rakyat dan pemuda seperti dalam Pilpres 2014 ini!”

Menafsirkan cerita Ade mengenai pengalamannya sebagai bagian dari generasi transisi, saya berpikir bahwa pastinya, ‘kesukarelaan massa’ itu adalah tradisi—yang pernah terbelenggu selama tiga puluh tahun—yang pada pasca reformasi masih limbung mencari pegangan dan berusaha kembali beradaptasi pada kebaruan-kebaruan zaman yang terasa bergerak lebih cepat beribu kali lipat. Seperti yang terlihat, yang kreatif terus bertumbuh-kembang dalam inisiatif kebebasan, reaksi terhadap aksi-aksi yang mencoba kembali membungkamnya mewujud ke ranah citra. Dan memang pada dasarnya masyarakat kita memiliki sifat mencintai ‘hal kecitraan’ itu. Manusia doyan citra.

Makanya, Kwan Kong pun merajai citra-citra. Viral. Dia Dewa Perang yang membenci perang. Sebagaimana kata pendampingnya yang tak takut kamera, “Kami tidak sedang bertarung, kami hanya berkompetisi.”

Saya pun sadar—ini poin kedua—kami adalah generasi yang tak bisa lepas dari media dan teknologi. Kepekaan terhadap konteks bahasa dan gaya pengungkapan menjadi penting agar tidak tersesat dalam kompetisi yang nir-aksara. Tapi, seorang teman—seorang pelajar sekaligus guru, yang kerjanya tak jauh beda dengan saya—mencoba sedikit berlawanan dari yang dominan—meskipun minim kejutan. Di saat saya sedang berusaha meluruskan benang kusut strategi komunikatif di dalam kepala ini, Ugeng justru mengatakan bahwa teman saya itu sedang menawarkan orang-orang untuk “…menyecap bentuk-bentuk atau pecahan-pecahannya tanpa harus mengacu pada kejelasan realitas.” Teman saya itu sedang mengolah “ketinampilan” dan “menghapus jejak representasional semula” dari citra.

Ugeng bertanya pada dirinya sendiri—yang bagi saya itu adalah pernyataan polemis—agaknya Asep Topan telah “menghapus fenomena sosial semata-mata demi rupa”. Dia mencoba menantang sejarah. Saya belum bilang setuju, meskipun pendapat yang lain (bisa saja berbeda atau sama) belum saya dengar dari Otty dan Hafiz, melainkan ragu. Kenyataannya, titik-garis-bidang hitam-putih pada kertas-kertas yang tertempel di dinding Galeri Cipta III, TIM, itu hanya bisa saya nikmati sebagai pola, tetapi saya agak ragu, apakah pola itu sedang bercerita kepada saya? Saya belum fasih soal semantika.

Tapi yang jelas, seni grafis Asep membuat saya lupa sejenak pada perayaan-perayaan terhadap citra yang sedang marak sekarang ini. Memang, sih, sesungguhnya Si Asep pun tak bisa dibilang sepenuhnya sedang berlawanan arah. Toh, dia juga sedang merayakan citra. Hanya saja, pendekatannya berbeda. Ugeng lebih jeli. Menurutnya, waktu dan gerak telah lenyap dalam pameran karya Asep. Saya lantas bertanya, jangan-jangan benar kata Ugeng, Asep sedang mencoba melupakan (bukan menafikan) durasi…[?].

Dan poin yang ketiga: hasil benturan dari dua pengalaman saya malam ini.

Ade optimis bahwa ekspresi-ekspresi tahun ini akan bertahan—yang sebagian kecilnya adalah citra-citra itu, yang digital, yang viral—walau nantinya Dewa Kwan Kong kembali menjadi milik sebagian orang saja. Oke, kemungkinan itu 50-50. Jika kejadiannya demikian—yakni Sang Dewa pulang kampung—maka sangatlah besar potensi untuk kembali ke masa-masa ketika “argumen spiritual bagi proyek pembangunan” lebih dominan—masa ketika ‘para pengekspresi’ menyangkal unsur-unsur ekonomi-kapital dalam surat-suratnya. Hal ini saya pahami dengan menafsirkan pemaparan Ugeng tentang gejolak-gejolak pada dekade 1970-1980-an: gejolak sosial-budaya yang dikungkung oleh otoritarianisme citra. Sublimasi yang dilakukan penguasa menyihir masyarakat menjadi sukar (atau bahkan gagal) untuk melihat lebih terang, seperti kemampuan Kaguya yang lebih hebat dari genjutsu petarung-petarung dari Klan Uciha dalam serial Naruto. Seniman dan aktivis akan kembali lagi menggunakan pendekatan-pendekatan yang membuat kita tersesat dalam carut-marut pertarungan ideologi.

Jika kekelaman itu menjadi nyata, maka optimisme Ade itu salah satunya mungkin akan terjawab dengan pendekatan yang dilakukan si Asep. Jika nantinya keengganan yang masih dimiliki Jim Geovedi untuk menerjang dan mengambil alih viralitas para narsisan dan partisan media sosial itu dilipatgandakan kengeriannya oleh perwujudan baru dari UU ITE oleh tangan besi warisan penguasa lama, kita bisa menjawabnya dengan ‘kembali’ ke cara-cara yang anti-teknologis (bolehlah saya ber-sotoy dengan menyebutnya sebagai ‘dialektika media’). Meskipun…, meskipun sepertinya pendekatan Asep pada karyanya itu menghapus fenomena sosial, mencoba melawan sejarah representasional dan sifat-sifat naluriah digital, bagi saya (meniru kata Ugeng) itu tak selalu berarti buruk. Paling tidak, ekspresi-ekspresi itu (atau seperti kata Hafiz: pilihan yang politis) dalam hemat saya, akan tetap bertahan dalam keaksaraan media.

__________________
Referensi:

  1. Ugeng T. Moetidjo, “Grafis yang Menghapus Fenomena Sosial”, dalam Lost in Transaction. Katalog Pameran Tunggal, Asep Topan, 2014.
  2. Wawancara Ade Darmawan, tanggal 2 Juli, 2014.

TandaTangan_latar_transparant

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s