manis yang ternyata tak pernah hilang

featured

Saya (kembali) mem-post sebuah puisi (cinta-cintaan) yang sudah pernah saya muat di blog ini. Puisi yang jadi salah satu arsip pribadi saya yang penting, yang saya buat di sela-sela kegiatan workshop akumassa, di Serang, bersama Komunitas Sebumi. Saya tidak sedang bercerita tentang workshop itu, hanya tentang puisinya (yang tidak ada kaitan sama sekali dengan agenda/materi kegiatan workshop), tapi saya bubuhkan juga beberapa foto dokumentasi bersama teman-teman partisipan workshop pada waktu jam istirahat dan riset lapangan.

Komunitas Sebumi bertemu Gol A. Gong (dari kiri ke kanan:
Komunitas Sebumi bertemu Gol A. Gong (dari kiri ke kanan: Yugo, Ageung, Damar, Dolly, Mira, Gol A. Gong, saya, Susa, Doci, dan Dafi).

Puisi ini saya buat pada Bulan Agustus, 2010, untuk Ageung yang waktu itu masih berstatus sebagai teman dekat saya. Benih-benih ketertarikan sebenarnya sudah muncul jauh sebelum bulan itu, tetapi karena intensitas pertemuan dan keseruan yang didapatkan selama workshop, ketertarikan ini menguat.

Namun begitu, saat di Serang saya belum berani menyampaikannya secara langsung. Di facebook, saya menulis puisi ini. Niatnya, jadi semacam kode kepada Ageung bahwa saya tertarik padanya. Keberadaan puisi ini di note facebook saya, telah dihapus karena pacar saya pada waktu itu tak menyukainya (entah bagaimana, dia tahu saja kalau puisi ini bukan tentang dan/atau untuk dia). Dia marah sekali. Saya menghapusnya supaya pertengkaran kami tak berlarut-larut.

Ageung (tengah) bersama Doci (kiri) dan Susa (kanan).
Ageung (tengah) berfoto bersama Doci (kiri) dan Susa (kanan) ketika melakukan riset ke Benteng Surosowan.
Mira
Mira (kiri), teman dekat saya juga, ketika sedang berdiskusi soal Benteng Surosowan bersama para partisipan workshop (dari kiri ke kanan: Doci, Radit, Dafi dan Sri).
Ageung ketika melakukan riset di tempat billiard yang dulunya gedung bioskop.
Ageung ketika melakukan riset di tempat billiard yang dulunya gedung bioskop.

Dalam perjalanan pulang dari Serang menuju Jakarta, Ageung sempat bertanya kepada saya tentang puisi ini. Sepertinya, ia sadar puisi ini tentang dan untuk dirinya. Ageung bertanya melalui SMS, “Kenapa puisinya dihapus?”. Saya tak menjawab, karena yakin bahwa tentunya ia juga tahu alasannya.

Kegiatan iseng di waktu rehat malam hari

Kegiatan iseng, berfoto, di waktu rehat malam hari.

Kegiatan iseng di waktu rehat malam hari.
Asik berfoto narsis di waktu jeda kegiatan workshop.

Ageung dan saya tak pernah lagi membahas soal puisi ini sampai pada waktu kami, akhirnya, berpacaran dua tahun kemudian. Kalau saya tidak salah ingat, obrolan tentang puisi ini terjadi ketika kami telah menjalin hubungan lebih kurang satu tahun. Ageung tak segan-segan menunjukkan kekesalannya dan menyalahkan saya yang tega menghapus si puisi. Saya bisa bilang apa?! Hahaha!

Saya kemudian mencoba membuat puisi baru, tapi tetap saja Ageung tak puas. Ia ingin membaca sekali lagi puisi yang saya buat di Serang itu.

Ageung dan Zikri

Saya sempat percaya dan pasrah (lebai), puisi ini sudah benar-benar hilang sama sekali. Kemarin, saya terkejut menemukan puisi ini ter-posting di dalam blog saya ketika sedang membaca kembali satu per satu semua arsip tulisan. Oh, Arsip, betapa gembira dan lucunya melihat masa lalu dari sudut pandang kini! #asyek

Saya coba ingat, pernahkah saya meng-copy puisi ini ke blog sebelum menghapusnya…[?] Ah, itu tak jadi soal sekarang! Nyatanya, puisi ini masih ada. Tanpa pikir panjang, dan dengan hati yang riang, saya menunjukkannya kepada Ageung kemarin. “Dian, puisinya tidak hilang!”

Ageung senang sekali. Begitu juga saya.

Ageung sedang terlelap di sela-sela kesibukan editing video saat workshop di Serang.

Alasan Kenapa Kita Terlelap Berdua

kadang-kadang aku terjaga
dengkuran tidurmu menyebabkan mataku tersentak terbuka
aku usap punggungmu, dengkuran pun mereda
kemudian kau bergerak ke samping,
batang hidungmu berjarak lima jari dari mataku
kulihat tampang lelah menghadapiku

lelah bukan sekadar lelah mengelilingi kota jawara
lelah akan takdir juga ikut menghiasi
dalam kepalaku, kemudian, timbul simpati
karena, sedikit banyak, aku tahu cerita-cerita kecilnya

bukan, bukan,
aku bukan membual atau menggombal
tentang ombak menggulung kemudian surut,
menggambarkan keinginan bayang-bayang yang sudah akut
niatku mungkin sedikit lebih berbudi
walau mungkin, mungkin, aku harus berbohong kepada hati
tidak, ini bukan karena dugaanmu akan sesuatu yang sangat aku inginkan

sebenarnya kau lebih beruntung
punya hidup sedikit berwarna
sayangnya, sekelopak bunga bisa terbawa arus air sungai penuh batu tajam
dengan gesekan-gesekan hilanglah warnanya
sedang diriku mengaggumi warna itu

tahulah kau sekarang, engkau
kita terlelap berdua
karena kepedulianku dan rasa ingin menjaga

Serang, Agustus 2010

Tooftolenk Manshur Zikri

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s