Coba dedah karya UTM

Bidang persegi yang sekarang sedang saya lihat berwarna cokelat muda. Bukan triplek. Kardus berbidang luas, yang tingginya melebihi saya jika diberdirikan, tetapi ketebalannya tak lebih dari sejengkal. Kardus itu bersandar di dinding berwarna putih. Pinggiran bidang itu ditutupi solasiban berwarna cokelat yang lebih tua, membentuk frame.

Lukisan wajah-wajah, terletak di teras perpustakaan Forum Lenteng, tahun 2014_01
Lukisan wajah-wajah oleh UTM (2013-2014) di salah satu bidang kardus yang membungkus karya Andang Kelana.

Pada garis solasiban sebelah kiri, tertempel 6 potongan lakban berwarna putih yang panjangnya sekitar sepuluh hingga lima belas sentimeter. Potongan lakban yang pertama tertempel di sudut kiri atas bidang, lalu di bawahnya potongan kedua. Dengan jarak yang kurang lebih sama, di bawah potongan kedua, tertempel potongan ketiga, begitu seterusnya hingga potongan keenam yang berada di sudut kiri bawah si bidang.

Berjarak sangat tipis sekali dari batas solasiban sebelah kiri itu, tepat di sebelah kanan lakban kedua, ada kata bergaris bawah yang ditulis oleh tangan: JAKARTA. Sementara itu, di dekat sudut kiri bawah, ada tulisan nama Andang: ANDANG. K. Arah kedua tulisan kata itu -90°, yang artinya, garis bidang sebelah kiri itu merupakan garis bidang atas ketika kata-kata itu ditulis.

Saya duduk di meja panjang di depan kardus berbidang luas tersebut. Saya lihat ada dua belas wajah yang dilukis di atas bidang kardus yang menghadap saya. Baris pertama terdiri dari tiga wajah, baris kedua ada empat wajah, dan lima wajah sisanya ada di baris ketiga yang tidak sejajar. Hanya ada dua wajah yang saya kenal: Mirra (di baris kedua) dan Andang (di baris ketiga). Ada dua wajah—posisi mereka sejajar dengan wajah Mirra, di mana wajah Mirra berada di posisi paling kiri—yang saya duga dengan sengaja ditiban dengan warna hitam sehingga tertutup semua wajahnya. Saya tidak kenal dengan wajah-wajah lainya.

Lukisan wajah-wajah, terletak di teras perpustakaan Forum Lenteng, tahun 2014_02

Wajah-wajah itu, sepertinya, dilukis dengan cepat. Sapuan kuas si pelukis, terutama pada lukisan wajah paling kiri di baris pertama, sepertinya digoreskan dengan kuat meski terlihat sebagai hasil dari gerakan kuas yang cepat itu. Dan lukisan wajah di urutan paling pertama itu, menurut saya, yang paling banyak menggunakan warna; si pelukis menggunakan warna hitam, merah, cokelat, biru dan putih pada wajah tersebut. Lukisan wajah lainnya yang mengandung warna sama berada di urutan nomor dua dari kanan di baris ketiga. Sementara itu, pada lukisan wajah-wajah yang lain, pelukis hanya menggunakan satu-dua warna saja, contohnya lukisan wajah Mirra yang dominan berwarna biru.

Ekspresi-ekspresi wajah yang dilukis itu, jelas sekali tidak terlihat datar. Bagi saya, wajah-wajah itu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Wajah Mirra—satu-satunya lukisan wajah di bidang itu yang dilengkapi tangan, terlihat sedang memegang mobile phone—misalnya, dilukis menghadap ke arah kiri bidang, terlihat sedang memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan informasi dari teknologi yang sedang ia pegang. Wajah yang berada di baris pertama, paling kiri, seolah sedang menatap saya, sendu. Wajah yang berada di sebelah kanannya, belum bisa ditebak karena sepertinya wajah itu memang belum selesai dilukis. Sedangkan wajah paling kanan di baris pertama, sedang melirik ke arah yang lain, mengindari tatapan saya. Wajah di urutan ketiga dari kiri, baris kedua, menghadap ke arah kanan bidang, terkesan sedang termenung memandang kejauhan. Wajah Andang berkacamata, yang berada di tengah-tengah baris ketiga, sedang menatap saya lekat, serius. Wajah di sebelah kanannya, atau urutan kedua dari kiri di baris ketiga, yang mengenakan kacamata pula, juga belum bisa saya tebak. Wajah di urutan kedua dari kanan di baris yang pertama, sepertinya sedang memperhatikan obyek yang berada di hadapannya (matanya menatap ke arah yang lain, bukan saya, dan satu-satunya obyek yang berada di jurusan pandangnya adalah dinding putih yang berada di belakang saya). Wajah paling kiri di baris ketiga itu, terlihat sedang menatap bawah meja (saya berpikir demikian karena kebetulan ada meja kecil, di depan meja tempat saya duduk, yang menjadi fokus tatapannya). Wajah paling kanan, masih di baris yang sama, juga menatap obyek yang sama dengan yang sedang ditatap oleh wajah paling kiri: obyek yang berada di luar frame, ruang realitas saya, yang berbeda dengan realitas di dalam frame atau bidang lukis tersebut.

Lukisan wajah-wajah, terletak di teras perpustakaan Forum Lenteng, tahun 2014_03
UTM (kanan), Gelar (kiri), temennya Bang Gelar (perempuan kacamata), dan Akbar (baju putih)

Pelukis yang melukis wajah-wajah itu, saya yakin dan saya tahu, secara visual dekat sekali dengan orang-orang yang menjadi obyeknya. Terlihat melalui garis yang membentuk wajah mereka, tidak rumit, tetapi digoreskan secara pasti, tanpa ragu-ragu, dan seketika menjadi representasi orang-orang yang dilukis. Melalui lukisan wajah-wajah ini, saya belajar tentang ‘bentuk’ yang mampu membangkitkan memori audiences sebagai tolak ukur kedekatan mereka dengan obyek lukisan. Menurut saya, ini lah salah satu pengertian paling dasar dari seni rupa, bahwa ‘bentuk’, yang ‘dituliskan’ di atas mediumnya, tidak lah harus mirip dengan obyek aslinya, tetapi seberapa jauh ia mampu memainkan kode ‘bentuk’ dari obyek itu sendiri.

Di sini, ada dua hal yang ingin saya utarakan. Pertama, kedekatan si pelukis (pengarang/komunikator) dengan obyek yang ia tangkap. Kedekatan itu mengandung data-data mengenai karakter si obyek, yang kemudian ditransformasikan secara baru menjadi ‘bentuk’ (yang juga baru) melalui medium yang dipilih si pengarang. Pada kasus ini, medium yang dipilih si pelukis adalah bidang kardus, sebagai bidang lukis, dan cat dan kuas (dan sepertinya juga menggunakan pensil kayu). Data-data mengenai karakter yang dimiliki obyek asli yang diamati oleh si pengarang itu, di atas bidang lukis, kemudian diolah dengan menyusunnya menjadi kode-kode yang memiliki peluang untuk dipahami oleh audiences (komunikan) sebagai informasi. Proses pengolahan ini bisa jadi mengalami pengurangan, peringkasan, atau penambahan, sesuai dengan keinginan pelukis. Tindakan-tindakan yang diambil pelukis dalam proses itu, sebenarnya, suatu aksi yang berlandaskan rasionalitas empiris. Oleh audiences, kode-kode itu ditangkap, kemudian diinterpretasi dengan menarik hubungannya ke hal-hal yang berkaitan dengan apa-apa yang sudah dialami. Karena kode yang ditangkap adalah visual, pengalaman-pengalaman yang ditarik hubungannya juga visual. Di sini lah proses kedua terjadi: kedekatan si audiences terhadap obyek yang dilukis akan menentukan kualitas interpretasi.

Melalui pemahaman maksud dari kode-kode tertentu, audiences akan menebak informasi apa yang dibawa ‘bentuk’ yang dilukis itu. Secara visual, saya tidak dekat dengan wajah-wajah yang dilukis, kecuali wajah Mirra dan Andang. Dengan demikian, saya bisa menangkap informasi yang sedang dikomunikasikan oleh si pelukis, bahwa konsep yang ada di kepalanya ketika melukis di atas bidang kardus tersebut, dua di antaranya adalah “Mirra” dan “Andang”. Mengapa ini bisa terjadi? Karena saya juga memiliki data-data mengenai karakter dari dua orang tersebut. Data-data itu saya dapatkan dari pengalaman di dalam waktu dan ruang interaksi yang lebih kurang sama dengan si pelukis (meskipun bentuk interaksi dan pengalamannya berbeda, tetapi secara visual, karakter-karakter yang tertangkap dalam pengalaman mata kami hampir pasti sama). Data-data yang saya miliki bisa dikorelasikan, atau dibandingkan, dengan data-data yang dimiliki si pelukis, di mana data-data itu sudah terlukis di atas bidang dalam susunan-susunan tertentu. Dengan demikian, bentuk ‘rambut pendek’ si ‘Mirra’ atau ‘kacamata’ si ‘Andang’ adalah kode yang disusun si pelukis sebagai pemantik untuk mengingat Mirra yang berambut pendek dan Andang yang selalu berkacamata. Dalam proses interpretasi ini, kode memainkan peran penting. Kode-kode itu lah yang menjadi katalisator mesin imajinasi audiences, baik itu memori maupun kritisisme mereka: karena ada memori mengenai rambuk pendek Mirra, dan kacamata Andang, saya bisa mengatakan dua di antara banyak obyek (wajah) yang dilukis si pelukis di atas bidang itu adalah ‘Mirra’, dan ‘Andang’.

Ketika saya sudah tahu informasi yang terkandung dalam dua wajah tersebut, otak saya secara otomatis akan menariknya ke ingatan tentang pengalaman yang paling baru atau paling dekat—memori bergantung dengan rentang waktu—mengenai dua orang itu. Pertemuan paling akhir saya dengan Mirra, saya melihat Mirra tak bisa lepas dari mobile phone-nya, mungkin untuk berbincang dengan rekan kerja atau pacarnya melalui SMS. Saya setiap hari menghadapi wajah serius Andang karena kegiatan sehari-harinya di Forum Lenteng adalah bekerja di depan laptop, merancang tampilan dan konten website atau dokumen-dokumen, seperti proposal, artikel, atau laporan-laporan kegiatan dan keuangan, yang pastinya membutuhkan daya pikir dan keseriusan yang tinggi. Berdasarkan pengalaman itu, saya pun menginterpretasikan ‘Mirra’ dan ‘Andang’ sebagai representasi dari “Mirra yang memikirkan sesuatu dari mobile phone miliknya” (karena ada kode ‘tangan yang memegang suatu benda mirip mobile phone’) dan “Andang yang menatap saya dengan wajah serius (sembari bekerja)” (karena ada kode ‘tatapan mata si Andang ke orang yang melihatnya, yaitu saya’). Sementara itu, untuk wajah-wajah yang lain, saya tidak tahu mereka memikirkan apa.

Lukisan wajah-wajah, terletak di teras perpustakaan Forum Lenteng, tahun 2014_04

Jakarta, menurut saya, dipenuhi oleh orang yang begitu: seringkali sendu dan penuh pikiran, tak jarang juga terlalu serius dengan pekerjaannya, dan hal itu menjadi kebiasaan sadar tak sadar yang dibawa dalam interaksi mereka dengan orang lain di sekitarnya. Jika ingin mengalami sensasi dari ekspresi orang Jakarta sehari-hari, nikmatilah lukisan “Wajah Jakarta” (saya menjudulkannya demikian) yang berdiri-bersandar pada salah satu dinding teras perpustakaan Forum Lenteng.

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s