Biasa aja kali

Saya belum lepas sepenuhnya dari tiang-tiang penuh peraturan akademik itu. Masih tersangkut revisi dan urusan soal tandatangan yang menyatakan saya sah sebagai seorang lulusan. Ternyata, ini fase yang paling sulit. Ketakutan datang bukan dari kekhawatiran tidak bisa menyelesaikan tugas tepat waktu, tetapi dari kemungkinan bahwa si pemilik tanda tangan sulit ditemui atau berkendala untuk menyelesaikan urusannya dengan saya. Yang paling mengkhawatirkan, kalau-kalau para dewan penguji justru sengaja menahan tandatangannya dengan alasan tertentu yang tidak saya sadari.

Di samping masalah itu, hati kecil saya yang lain juga berkata: saya seharusnya belum [me]lepas[kan] diri dari lingkungan kampus.

Beberapa teman saya sudah menggerutu ingin segera lepas dari lingkungan kampus. Lingkungan yang memuakkan, kata mereka. Lingkungan yang penuh kemunafikan dan tindas-menindas, kata mahasiswa lain yang lebih sakit hati. Ah! Saya justru sedih meninggalkan status sebagai mahasiswa. Rasa-rasanya, kata itu tak pernah habis unsur kerennya.

Saya sendiri tidak pernah jengah dengan peraturan kampus, atau peraturan akademik. Banyaknya tugas dengan tenggat waktu pengumpulan yang terkadang tak masuk akal, urusan dengan dosen yang seringkali membuat mahasiswa ketar-ketir, kewajiban ikut seminar-seminar, tuntutan berpakaian sopan dan rapi, keharusan mencari buku pelajaran di perpustakaan sendiri-sendiri, dan sebagainya. Rata-rata mahasiswa yang saya kenal mengeluhkan itu. Meskipun saya tak kalah sering juga mengeluh, bahkan dengan umpatan yang lebih kasar ke arah gelas kopi yang sedang saya minum di meja kantin, tetapi tidak dalam artian membencinya. Semua peraturan, ketersendatan urusan birokrasi dan masalah kepentingan individu orang-orang di dalamnya itu, bagi saya, justru terasa wajar, malah membuat hidup, dan membuat saya merasa benar-benar sebagai mahasiswa. Intinya, tak ada yang saya tak suka dengan dinamika lingkungan akademik itu, sejauh ini.

Dan saya memang tak ingin lekas pergi dari kampus. Menjadi sarjana bukan berarti harus pergi meninggalkan kampus. Tetap beraktivitas di kampus juga bukan berarti tidak melanglang buana ke mana-mana.

Jujur saja, saya belum puas sama sekali. Saya belum puas mengikuti diskusi-diskusi dengan orang-orang yang hebat. Masih ada banyak orang hebat di kampus yang belum saya ajak bekerja bersama atau, paling tidak, berbincang di kala nongkrong. Ada banyak orang hebat di kampus yang belum saya kenal. Masih ada banyak profesor, doktor dan master yang jiwanya masih sangat muda, yang pasti menarik untuk dikenal lebih jauh. Dan semakin banyak pula teman-teman mahasiswa yang semakin bersemangat mengisi peran dalam dinamika perkembangan ilmu pengetahuan di negeri ini. Apakah mungkin saya ingin meninggalkan lingkungan menarik itu begitu saja demi gaji tetap sebagai buruh yang bekerja monoton? Yang benar saja!?

Author: Manshur Zikri

Penulis

2 thoughts on “Biasa aja kali”

  1. Ngahaha, gue pengen komen dua macem sih. Pertama “cie… Belom wisuda aja udah kangen kampus” hahaha
    Kedua, “bagian awal cerita ini adalah rangkuman drama. Hahaha”
    (sorry nyampah coy! Ahaha)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s