Seni adalah Penelitian; Penelitian adalah Seni

Suatu siang di awal Bulan November, sekitar pukul sebelas, saya duduk di salah satu meja kantin kampus. Seorang teman bertanya kepada saya, “Yang lu kerjain di Senen itu sebenarnya penelitian atau kesenian, sih?”

“Dua-duanya,” jawab saya singkat. “Karya seni berbasis riset.”

“Memangnya bisa?”

“Ya, bisa dong! Sekarang, kan semuanya udah lintas disiplin.”

Keningnya berkerut, tetapi kepalanya manggut-manggut. Matanya masih menatap saya, penuh tanya, tapi tidak ada pertanyaan lanjutan yang keluar dari mulutnya.

Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika melakukan penyuntingan karya video di Sanggar Budaya Paseban. [Foto: Anib Basatada]
Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika melakukan penyuntingan karya video di Sanggar Budaya Paseban. [Foto: Anib Basatada]

Ini dia masalahnya. Banyak teman saya di kampus yang tidak paham bagaimana sebuah kerja seni bisa dipadukan dengan kerja penelitian. Maksud saya, kerja penelitian yang sebenarnya. Bukan sekedar survei tempat untuk kepentingan presentasi atau negosiasi dengan komunitas di lokasi tertentu demi lancarnya aksi berkesenian.

Berbagi pengalaman terkait soal penelitian dan juga dengan kesenian, orang-orang di kampus saya, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, menjadi contoh yang nyata. Masalah ini sudah mengakar begitu lama, karena terjebak oleh kungkungan kepentingan-kepentingan akademis yang bersifat eksklusif.

Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika proses penyuntingan karya video di Sanggar Budaya Paseban. [Foto: Harryaldi Kurniawan]
Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika proses penyuntingan karya video di Sanggar Budaya Paseban. [Foto: Harryaldi Kurniawan]

Dalam penelitian, misalnya. Biasanya, jika ingin mendapat nilai A untuk mata kuliah penelitian, mahasiswa (termasuk saya) harus mengikuti kemauan dosen (yang mengikuti kurikulum jurusan). Mahasiswa harus mencantumkan hasil tinjauan terhadap jurnal ilmiah ke dalam makalah miliknya. Paling sedikit, sepuluh jurnal. Jurnalnya, harus jurnal internasional. Kampus menyediakan akses yang baik bagi kebutuhan ini. Mahasiswa dapat mengunduh beratus-ratus jurnal ilmiah internasional melalui portal online yang disediakan kampus dengan gratis. Ini adalah sebuah kesempatan, di mana mahasiswa mampu mempelajari berbagai bentuk dan perkembangan metodologi penelitian dari jurnal-jurnal yang mereka baca.

Akan tetapi, ujung-ujungnya hal ini menjadi masalah. Teman saya punya pengalaman harus bergadang semalam suntuk di kampus bersama kelompok penelitiannya. Ketika itu mereka sedang mengulas sebuah jurnal ilmiah tentang peraturan lalu lintas. Teman saya itu, mahasiswirock n’ roll yang memiliki hobi menghabiskan waktu saban hari dengan nongkrong dan bermusik (hingga akhirnya dia suka menunda-nunda waktu untuk mengerjakan tugas), berteriak-teriak histeris gara-gara muak dengan jurnal yang ia baca. Pasalnya hanya gara-gara kata ‘police stop’, yang sulit baginya untuk mencari padanan dalam Bahasa Indonesia. Hingga akhirnya tiba di titik kejenuhan, kelompoknya mengambil jalan pintas dan menafsirkan kata itu menjadi ‘tilang’. Padahal, tidak sesederhana itu. Sebab, dalam konteks Amerika, ‘police stop’ menjadi perhatian para periset ilmu sosial karena ada kecacatan sistem yang menjadi persoalan di baliknya. Dan jurnal yang ia baca sesungguhnya sedang berbicara soal hak-hak kelompok minoritas kulit hitam di Negeri Paman Sam tersebut.

Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika para partisipan akumassa Ad Hoc melakukan riset dan sytuing di Grand Theatre Senen. [Foto: Mufti al Umam]
Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika para partisipan akumassa Ad Hoc melakukan riset dan sytuing di Grand Theatre Senen. [Foto: Mufti al Umam]

Ada juga pengalaman lain, ketika saya terlibat diskusi dengan teman yang lain mengenai ‘kejahatan’, ‘media’, dan ‘budaya populer’. Dalam sebuah pemaparan singkat, seorang akademisi Barat bernama Jeff Ferrell mewacanakan soal ‘adegan berdarah-darah yang penuh ancaman’ dalam tulisannya. Saya sempat menangkap bahwa yang dimaksud Jeff Ferrell adalah cerita dan informasi kejahatan, dalam bentuk visual, memiliki pengaruh terhadap gaya hidup masyarakat perkotaan yang hidup dalam budaya tontonan. Tentu saja itu keliru, tetapi saya tak menyadarinya waktu itu. Baru beberapa hari kemudian, pendapat seorang teman membuat saya menepuk jidat sendiri. Pendapat itu mungkin wajar muncul dari mahasiswa jurusan komunikasi. Tetapi, bagi sudut pandang kriminologi, jurusan saya, saya seharusnya menerjemahkan pemaparan Jeff Ferrell itu sebagai wacana kejahatan yang terselubung secara sistemik dalam kemasan budaya populer yang terdistribusi melalui media massa. “Meaning in Motion; Bloody Knuckles”, ungkap Ferrell, bahwa visual-visual kejahatan yang dikemas menjadi acara TV itu menyembunyikan bentuk subordinasi oleh kekuasaan kapital (industri) terhadap kesadaran publik: bentuk kejahatan yang lebih rumit. Dan wilayah seni, oleh sebagian besar akademisi seperti Ferrell, diamini sebagai salah satu wacana yang bisa mengkritisi itu karena sikap skeptisnya. Gampang saja sebenarnya, kalau dalam konteks Indonesia, Ferrell itu sebenarnya sedang berbicara soal sinetron.

Itu sedikit dari banyak kelucuan yang sering saya temukan terkait pengalaman review-review-an jurnal ilmiah internasional. Umumnya, mahasiswa malah kebingungan karena contoh-contoh kasus yang mereka baca memiliki konteks ruang dan waktu yang berbeda. Cara pandangnya juga berbeda, apalagi paradigmanya. Rata-rata, mahasiswa sulit melepas pengaruh cara berpikir Barat dalam menghadapi masalah penelitian yang ada di lingkungan sekitarnya.

Untuk kesenian, tak kalah bermasalah. Saya sering mengerutkan kening jika di suatu minggu ada penyelenggaraan apresiasi seni, mendadak saja kampus saya dipenuhi oleh selebritis. Acara musik, pameran seni visual, penampilan teater, kegiatan seni yang mengundang masyarakat, semuanya dipegang oleh entertainer, ada yang jadi pemandu workshop atau seminar yang hanya diadakan sehari, juri kompetisi, bintang tamu, atau MC. Mahasiswanya? Malah jadi kacung yang puas berbangga dengan kesibukan mondar-mandir membawa walkie-talkie yang kabelnya melilit jaket almamater.

Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika para partisipan akumassa Ad Hoc melakukan riset dan syuting di Tanah Tinggi. [Foto: Mufti al Umam]
Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika para partisipan akumassa Ad Hoc melakukan riset dan syuting di Tanah Tinggi. [Foto: Mufti al Umam]

Mahasiswa-mahasiswa di kampus saya, umumnya, memandang kesenian sebagai obyek yang berbeda dengan bidang studi mereka. Bahkan, masih ada pandangan tentang seni yang artifisial, jauh dari sifat ‘mewarga’, dan menganggap seni adalah wilayah bagi orang-orang yang tenar. Kalaupun ada yang menyenangi seni, seni dianggap sebagai hobi, bukan bagian yang integral dengan wilayahnya sebagai calon akademisi. Dampaknya, penyelenggaraan seni di kampus saya berhenti di titik selebrasi dan hiburan saja. Pertunjukan kesenian hanya menjadi puncak acara-acara yang kemasannya tak jauh-jauh dari bentuk yang diadakan oleh EO (event organizer).

Maka tak heran, jika ada teman saya yang bingung ketika saya bercerita bahwa di Senen, saya dan beberapa teman menetap di sana sekitar dua bulan mengerjakan penelitian dengan pendekatan antropologi-sosiologis untuk membuat karya seni.

***

Suatu malam di Bulan Oktober, sekitar pukul sebelas, saya dan Andrie, teman seperjalanan saya di Senen, berada di area parkiran depan rumah-rumah toko (ruko) di Pasar Senen. Malam hari, area parkir itu menjadi lapak para pedagang kue. Orang-orang menyebutnya ‘kue subuh’, karena para pedagang di sana berdagang hingga dini hari. Kami berdua ingin merekam peristiwa massa di tempat itu.

Salah satu shot dari karya video akumassa Ad Hoc, “Manis Dini Hari”.
Salah satu shot dari karya video akumassa Ad Hoc, “Manis Dini Hari”.

Kue subuh, mungkin, merupakan fenomena yang biasa saja. Isu-isu yang berkembang di sekitarnya juga dengan gampang bisa ditebak. Sebut saja beberapa diantaranya, seperti sirkulasi ekonomi, konflik sosial dan politik mengenai komodifikasi ruang dan kepemilikan, dan sebagainya. Namun, cara kerja yang biasa kami lakukan di proyek-proyek akumassa menghantarkan kami ke persoalan lain yang menarik. Akumassa berbicara tentang keindahan, tentang estetika yang berhubungan dengan praktik sosial antara para pedagang dan pembeli kue subuh, artistik yang dibangun secara sadar tidak sadar oleh kebiasaan suatu lingkup komunitas pedagang di Senen.

Keindahan apakah itu?

Maka kami pun menjadi pembeli berbekal kamera yang ada di telepon seluler (ponsel). Hari-hari yang kami habiskan di Senen selama lebih satu minggu sebelumnya memberikan informasi detil bahwa keramaian para pedagang membuka lapak terjadi pada pukul setengah lima sore. Mobil-mobil boks berisi keranjang-keranjang kue akan menepi di pinggir jalan, lalu orang-orang akan mengangkut keranjang demi keranjang ke atas meja triplek. Meja yang disanggah kaki besi itu disewa ke pemilik area parkir seharga Rp 5000,-. Pada waktu itu, motor-motor yang parkir akan hilang satu demi satu. Umumnya, seperti yang saya amati, pengendara-pengendara motor terakhir itu adalah pedagang baju bekas di ruko depan area parkir. Pukul setengah enam, keranjang-keranjang dibuka, satu per satu kue-kue basah warna-warni dipajang di atas meja. Ada kue tart juga. Selain itu, keranjang-keranjang berisi roti disusun di atas lantai aspal, bertingkat-tingkat. Ketika azan berkumandang, lampu-lampu dari setiap lapak mulai menyala. Area yang semulanya gelap, menjadi terang. Pemandangan kue berbaris-baris pun dimulai.

Salah satu shot dalam karya video akumassa Ad Hoc, “Manis Dini Hari”.
Salah satu shot dalam karya video akumassa Ad Hoc, “Manis Dini Hari”.

Keindahan yang kami temukan tidak mengada-ada. Semua itu tertangkap di dalam frame kamera ponsel yang kami bawa. Menurut pengalaman saya, jika saya berdiri di posisi para pembeli yang memilih kue, melalui frame kamera, saya akan melihat jejalan kue-kue itu membentuk komposisi titik, garis, bidang yang simetris, serta komposisi warna yang teratur. Keteraturan ini mengalami distraksi oleh gerak tangan pedagang dan pembeli yang bertransaksi, diterpa pendar cahaya berwarna kuning bercampur putih dari bohlam yang tergantung di langit-langit lapak, atau dari sorotan lampu mobil boks yang memasok barang dagangan untuk subuh hari. Suara orang-orang, lagu dari pengamen-pengamen, bising kendaraan bermotor dari jalan raya juga turut melengkapi. Bahkan, ada suara televisi yang sengaja diletakkan oleh salah seorang pedagang di lapaknya untuk ditonton, sekedar mengisi waktu luang jika sepi pembeli.

lapak-dan-TV
Salah satu shot dari karya video akumassa Ad Hoc, “Manis Dini Hari”.

Perspektif yang kami gunakan untuk melihat keindahan itu adalah perspektif pembeli. Mungkin, menurut para peneliti aliran universitas, sudut pandang ini tidak ada istimewa-istimewanya. Akan tetapi, saya yang tinggal di Depok dan lebih banyak menghabiskan waktu di kampus, kurang tahu banyak tentang lokasi-lokasi lain di Jakarta. Ketika mengetahui bahwa di Senen ada pedagang kue dini hari yang begitu ramai di satu tempat, saya justru takjub. Melalui mata seorang pembeli, saya melihat tumpukan-tumpukan kue di area parkir itu sebagai suatu pemandangan yang artistik. Pembeli yang tinggal jauh dari Senen, bisa membuktikan hal itu. Salah satu caranya, seperti yang saya lakukan, menggunakan kamera ponsel untuk mendokumentasikannya. Dan narasi ini tertuang dalam hasil penelitian berupa karya seni dalam bentuk video, berjudul Manis Dini Hari.

***

Di malam yang berbeda di Bulan Oktober, sekitar pukul sembilan, saya menjadi salah satu penonton pertandingan bulutangkis di Lapangan Perintis, Kelurahan Paseban, Kecamatan Senen. Kekerabatan sosial warga masyarakat adalah salah satu fokus saya dalam penelitian ini. Lapangan Perintis ialah salah satu ruang yang membangun itu.

Salah satu shot dari karya video akumassa Ad Hoc, “Pertandingan Kali Ini”.
Salah satu shot dari karya video akumassa Ad Hoc, “Pertandingan Kali Ini”.

Jika orang-orang pertelevisian (media massa) datang ke lokasi ini, peristiwa massa malam itu—turnamen bulutangkis PB Perintis Paseban waktu itu diselenggarakan selama lebih kurang dua minggu—pasti sudah menjadi informasi menarik mengenai inisiatif-inisiatif warga. Saya berpikir demikian karena teringat cerita Mbak Ira dan Bang Galis, aktivis dari Sanggar Budaya Paseban, tentang seringnya orang TV datang ke Paseban untuk meliput kegiatan masyarakat di daerah itu. Oleh industri media massa, inisiatif ini biasanya dikomodifikasi menjadi bahan program berita ringan, yang ujung-ujungnya menghilangkan esensi kekerabatan sosial yang berpeluang untuk ditafisr dengan bernas.

Saya bisa saja memastikan, terlepas dari kemungkinan-kemungkinan lain yang tentu saja ada, bahwa peneliti-peneliti dari kampus pasti akan meminta waktu kepada panitia, pengurus RW, dan warga masyarakat untuk diwawancarai, terkait dengan perhelatan turnamen bulutangkis ala warga itu. Mungkin, instrumen semacam kuesioner akan disebar untuk menakar sejauh apa kekerabatan sosial dipengaruhi oleh penyelenggaraan kegiatan semacam itu, atau sebaliknya. Hasilnya, sebuah narasi kering tentang kehidupan warga yang sebenarnya tidak tahu menahu soal dirinya yang sudah menjadi obyek penelitian.

Ada cara lain untuk melihatnya?

Saya, sebagai penonton, tertarik mendokumentasikan peristiwa itu dengan kamera digital yang saya bawa. Bukannya menyorot atlit yang bertanding, saya lebih memilih merekam ekspresi-ekspresi warga yang sedang serius menonton. Gerakan kepala dan kerlingan mata mereka mengikuti gerakan kock di lapangan, celetukan dan guyonan mereka, serta pecah tawa dan senyum atau tampang kekecewaan mereka dalam menanggapi jalannya pertandingan. Jika instrumen penelitian umumnya membutuhkan jawaban tertulis atau terucap dari orang-orang yang menjadi responden, saya justru menganggap ekspresi-ekspresi itu sebagai ‘pernyataan-pernyataan’ yang dapat ditangkap oleh frame kamera.

Salah satu shot dari karya video akumassa Ad Hoc, “Pertandingan Kali Ini”. Karya ini menangkap ekspresi-ekspresi penonton turnamen bulutangkis di Lapangan Perintis, Paseban, saat itu.
Salah satu shot dari karya video akumassa Ad Hoc, “Pertandingan Kali Ini”. Karya ini menangkap ekspresi-ekspresi penonton turnamen bulutangkis di Lapangan Perintis, Paseban, saat itu.

ekspresi-2

ekspresi-5

Hasil penelitian kami itu, yang berupa karva video berjudul Pertandingan Kali Ini, ditayangkan ke hadapan warga-warga Paseban, di malam 7 November 2013. Hasil interpretasi kami sebagai warga pendatang, dilemparkan kembali kepada warga lokal, memancing suatu refleksi warga mengenai kekerabatan sosial yang ada di RW 03, Kelurahan Paseban. Reaksi mereka adalah jawaban dari penelitian ini: kekerabatan itu sudah jauh terbangun, dan karena itu lah turnamen bulutangkis itu ada. Warga saling mengenal, tertawa, bercanda, dan berkegiatan di Lapangan Perintis sebagai ruang publik yang dikelola bersama-sama.

Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika pemutaran karya video akumassa Ad Hoc kepada warga masyarakat Paseban di Lapangan Perintis. [Foto: Anib Basatada]
Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika pemutaran karya video akumassa Ad Hoc kepada warga masyarakat Paseban di Lapangan Perintis. [Foto: Anib Basatada]
Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika pemutaran karya video akumassa Ad Hoc kepada warga masyarakat Paseban di Lapangan Perintis. [Foto: Dian Ageung Komala]
Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika pemutaran karya video akumassa Ad Hoc kepada warga masyarakat Paseban di Lapangan Perintis. [Foto: Dian Ageung Komala]

Ini lah penelitian yang partisipatoris itu. Warga benar-benar terlibat. Mereka memiliki andil dalam proses dan penentuhan hasil. Selain itu, hasil penelitian yang didapat tidak serta-merta dimasukkan ke lemari arsip yang susah diakses oleh warga, seperti yang sering dilakukan oleh kalangan peneliti kampus, melainkan menjadi sebuah karya seni yang dapat diberdayakan kembali oleh warga Paseban, baik sebagai konsumsi hiburan alternatif maupun sebagai materi pendidikan.

***

Akumassa lebih mengutamakan suatu aksi yang mendorong warga untuk membaca diri mereka sendiri. Standar pengukuran atas obyek permasalahan warga tidak ditentukan oleh peneliti. Cara pandang dan paradigma berasal dari warga, dan reliabilitas hasil penelitian dan kualitas karya seni itu pun akhirnya akan dilegitimasi oleh warga itu sendiri.

foto-oleh-umam-2

Sebab, akumassa percaya, sebagaimana yang dinyatakan oleh Linda Tuhiwai Smith di tahun 1999 dalam Decolonizing Methodologies, Research and Indigenous Peoples, bahwa narasi-narasi warga (yang bersifat lokal) sesungguhnya memiliki daya untuk mempertanyakan ulang watak-watak yang diandaikan pada hal-hal ideal dan berfungsi sebagai cerita alternatif sebagai tandingan yang ‘mapan’. Dan dengan demikian, akumassa melihat “protokol-protokol kultural, nilai dan perilaku lokal sebagai bagian integral metodologi”, baik sebagai penelitian, aksi berkesenian, atau kedua-duanya sekaligus.

— — —

Tulisan ini sudah dimuat di website akumassa, tertanggal 16 Desember, 2013, dan juga di dalam Jurnal akumassa Ad Hoc, berjudul Seni di Batas Senen (Forum Lenteng, 2013).

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s