Catatan Desember 09

Bangun subuh, kuliah seni rupa dengan Ugeng. Ternyata mooi indie tak sesederhana yang saya kenal selama ini. Ugeng baru mengajarkan sepersepuluh persen tentang chiaroscuro sebagai langkah awal bagi saya untuk memahami komposisi. Dan itu membuat kepala saya pusing tujuh keliling. Ugeng menceritakan perkembangan sejarah seni rupa dan kebudayaan jaman Sudjojono tanpa menunjukkan contoh-contoh lukisan (hal ini terjadi karena Ugeng mengakui belum mempersiapkan bahan-bahan yang tepat untuk diajarkan, dan tadi pagi dia memutuskan untuk berceramah saja, hitung-hitung sebagai prolog sebelum masuk ke kuliah seni rupa yang lebih rumit). Hasilnya, kuliah subuh hari itu justru membuat mata saya ngantuk.

Terbangun mendadak gara-gara telepon seluluer (ponsel) berdering, mendapat informasi tentang perkembangan surat persyaratan sidang di kampus. Tanpa basa-basi, saya beranjak dari lantai studio radio akumassa, mengambil tas, lalu berjalan ke luar pagar kontrakan Forum Lenteng, menaiki angkot, menuju kampus. Setibanya di kampus, birokrasi lagi-lagi menjadi kendala. Harus menunggu lama sebelum surat dari pihak Fakultas itu benar-benar berada di tangan saya. Setelah mendapatkan surat, giliran pegawai di Departemen Kriminologi yang tidak ada. Saya terpaksa harus menunggu hingga usai jam makan siang karena Mas Arif, pegawai yang bertanggung jawab mengumpulkan surat-surat seperti itu, pergi entah ke mana tak ada yang tahu dan baru tampak kembali batang hidungnya sekitar pukul setengah dua siang.

Sembari menunggu, saya duduk di kantin kampus, Takor, bertemu dengan seorang teman lama, teman SMA. Dia sudah lulus semester lalu. Basa-basi sebentar, seperti bertanya tentang skripsi saya, kesibukan saya, dan sebagainya. Tak lupa pula dia meledek saya karena masih saja “komprador”. Saya hanya bisa tertawa. Lalu perbincangan kami beranjak ke masalah Papua, ASEAN, tak lupa pula membahas Soeharto dan Orde Baru-nya serta Pemilu 2014. Tidak ada yang istimewa selain kelezatan gado-gado yang saya pesan, siang itu.

Setelah meletakkan surat ke bagian penerimaan surat di Departemen Kriminologi, tanpa berleha-leha, saya kembali menuju Forum Lenteng. Macet di jalan menyebabkan saya sampai di tujuan pukul setengah empat sore. Lalu, kembali membuka laptop, mengoreksi sebuah proposal yang masuk ke email redaksi akumassa, dari seseorang anggota sebuah komunitas di Solok. Setelah merevisi proposal itu, saya berbincang-bincang sedikit dengan Ageung di facebook, lalu saya habiskan waktu membaca jurnal tentang “non-violence“, dan beberapa komik online, hingga malam hari. Dan akhirnya, saya menulis ini.

Selamat malam.

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s