Proyek [cetak]dariwarga

fokus saya lebih banyak menekankan pada ritual-ritual yang menjadi kenangan dalam keluarga Ageung, seperti acara selamatan keluarga, santai sore hari di rumah tetangga (yang sebenarnya juga anggota keluarga Ageung), pengalaman-pengalaman bermain-main di sekitar rumah, serta kenangan-kenangan manis lainnya di keluarga Ageung.

Semakin hari, saya semakin semangat mengerjakan proyek [cetak]dariwarga bersama Ageung. Bukan hanya kami berdua, Aliet, adiknya Ageung, yang sekarang menempuh pendidikan guru di Balikpapan, juga terlibat dalam proyek ini.

Awalnya, kami hanya berniat menyalurkan hobi menulis dan kemudian memuatnya di blog dariwarga. Sebenarnya, dariwarga itu blog-nya Ageung. Beberapa kali Ageung meminta saya untuk menulis. Tulisan berjudul “Cerita Di Belakang Warung Bordir” merupakan salah satu tulisan panjang saya di blog itu.

Saya sangat senang membaca tulisan-tulisan Ageung tentang peristiwa-peristiwa yang ia alami atau cerita-cerita yang ia miliki di sekitar rumahnya di Parungkuda. Setelah diamati lebih jauh, ternyata tulisan-tulisan Ageung memiliki sebuah benang merah yang cukup menarik. Tema-tema tulisannya—seperti yang pernah didiskusikan juga di akumassa, dalam rangka mengkurasi tulisan-tulisan di website akumassa.org untuk program penerbitan buku kumpulan tulisan akumassa oleh Forum Lenteng—tidak pernah lepas dari fenomena pabrik, teknologi piranti mobile dan internet, serta dampak dua faktor itu kepada kehidupan masyarakat di sekitar Kampung Sawah, sebuah wilayah tempat berdirinya rumah Ageung.

Namun, fokus saya sedikit berbeda dengan apa yang dilihat oleh akumassa mengenai tulisan Ageung. Akumassa lebih melihat bagaimana keberhinggapan tekonologi (mobile dan internet) pada masyarakat di Parungkuda, melalui kaca mata Ageung, memiliki kesalingkaitan dengan kultur masyarakat pabrik. Sedangkan fokus saya lebih banyak menekankan pada ritual-ritual yang menjadi kenangan dalam keluarga Ageung, seperti acara selamatan keluarga, santai sore hari di rumah tetangga (yang sebenarnya juga anggota keluarga Ageung), pengalaman-pengalaman bermain-main di sekitar rumah, serta kenangan-kenangan manis lainnya di keluarga Ageung. Semua ritual-ritual itu, tentunya, juga tidak lepas dari obrolan tentang pabrik dan hadirnya teknologi piranti mobile dan internet ke dalam kehidupan keluarga Ageung, terlebih lagi setelah Ageung memiliki sebuah kamera pocket yang dibeli dengan uang hasil tabungan kami berdua. Teknologi kamera itu menjadi medium utama bagi Ageung untuk merekam ritual-ritual tersebut.

Dengan terkumpulnya tulisan-tulisan itu, juga tulisan-tulisan Aliet tentang kenangan-kenangan yang ia miliki di Parungkuda (yang gaya tulisannya juga sangat terinspirasi oleh gaya tulisan Ageung), saya dan Ageung sepakat untuk membuat sebuah buku kumpulan tulisan, yang akhirnya menjadi proyek [cetak]dariwarga.

Isi buku kumpulan tulisan ini dikurasi oleh Ageung dan saya secara bersama-sama. Secara khusus, saya berperan sebagai editor dalam proses pembuatan buku ini sementara Ageung dan Aliet membuat tulisan-tulisannya. Ageung juga mengambil banyak foto di sekitar rumahnya: bangunan-bangunan, barang-barang, orang, dan peristiwa-perisitwa yang ada di dalam dan di sekitar rumah. Proyek ini sudah kami mulai secara serius sejak Bulan April, dan bukunya masih dalam proses penyuntingan.

Dalam mengkurasi tulisan-tulisan Ageung dan Aliet—hanya ada satu tulisan saya, ditaruh di awal, menjadi semacam pengantar—yang isu dari masing-masing tulisan masih terpisah-pisah, saya dan Ageung sepakat untuk menyelipkan sebuah percakapan yang menjadi jembatan antara satu tulisan ke tulisan yang lain, dan demikian juga untuk foto-fotonya. Foto-foto itu berguna sebagai ilustrasi, dan ada juga serangkaian foto yang berdiri sendiri sebagai esai di luar tulisan yang ada. Dalam mengemas kumpulan tulisan dan foto ini menjadi sebuah bangunan yang, sedikit-banyak, mengandung nilai cerita (bersifat naratif), pada percakapan-percakapan itu juga saya cantumkan obrolan mengenai proses pengerjaan proyek ini sehingga kedekatan antara saya, Ageung, dan Aliet [memang disengaja] ditonjolkan. Dalam dokumentasi foto-foto, kedekatan antara Ageung dan keluarganya juga ditonjolkan. Dengan kata lain, buku ini menjadi semacam dokumentasi keluarga Ageung, dan saya juga hadir di dalamnya sebagai teman dekat Ageung yang sering bermain dan menginap di rumahnya.

Menyunting sebuah buku, ternyata, tidak semudah yang saya pikirkan sebelumnya. Menggunakan perangkat lunak Adobe InDesign membutuhkan ketelitian yang super hati-hati. Mengemas tata letak (layout) juga susah, ternyata. Dengan modal insting dan perasaan saja, saya mencoba-coba untuk berkreasi dalam mengatur penempatan tulisan dan foto-fotonya. Sejauh ini saya masih belum menemukan masalah, ya, meskipun jika dilihat-lihat lagi, gaya saya dalam mengatur tata letak isi buku masih sangat kaku. Hahaha!

Masih ada beberapa tulisan lagi yang harus saya sunting dan diatur ke dalam bukunya. Saya juga masih menunggu foto-foto baru dari Ageung. Doakan saja, semoga proyek buku kumpulan tulisan ini rampung, dan blog dariwarga dapat menerbitkan (self-publishing) tulisan-tulisan versi cetak pertamanya. Amin!

Ayo, Ageung, Aliet, tetap semangat! #asyek

Author: Manshur Zikri

Penulis

3 thoughts on “Proyek [cetak]dariwarga”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s