Cerita Man

Man tak begitu ingat kejadiannya. Itu berlangsung seharian. Pun kalau diceritakan, dia tak tahu akhirnya. Kejadian ini seperti mimpi.

Semua orang juga tahu, Sampu memanjangkan rambutnya bukan untuk pamer. Dia merasa biasa saja dengan tampilan gondrong seperti anak-anak band metal atau sastrawan handal. Katanya, “Aku selalu lupa mampir ke tukang cukur!”

Man sering mendengar teman-teman perempuan bergosip dan membicarakan Sampu. Tidak negatif. Justru membuatnya iri. “Sampu itu punya potensi jadi cowok ganteng, loh!” ujar salah satu dari perempuan. “Eh, gue kira cuman gue doang yang mikir gitu?!” tanggap yang lain. “Tapi, kan… dia dekil?!” kata perempuan ketiga. “Makanya, dia cuma berpotensi. Kalau gak ngubah kebiasaan, amit-amit, deh!” kata perempuan pertama. “Kalau dia bersihan dikit, sumpah mau deh gue jadi ceweknya. Anaknya pinter juga, kan? Baik, bisa diminta tolong ini itu.” Kata perempuan kedua.

Belum pernah ada yang mengatakan Man tampan. Dan dia tidak bisa berbohong lebih jauh pada dirinya sendiri bahwa dia ingin sekali dibilang tampan juga, atau paling tidak ada yang bilang dia menarik.

Tentu saja gunjingan perempuan-perempuan itu sangat mengesalkan. Di depan teman baiknya, mereka jual mahal. Di belakang, mereka mengelu-elukannya sebagai pangeran buruk rupa. Dan benar-benar memuakkan ketika kau menyadari ada orang yang tidak mau dekat-dekat denganmu hanya karena masalah penampilan.

Sebenarnya, kepopulera Man lebih baik dari Sampu. Dia dianggap sebagai orang yang ramah dan tak suka cari ribut. Sedangkan Sampu, dia terkenal karena kebiasaannya yang terlalu acuh tak acuh sehingga menjengkelkan orang lain. Tak banyak yang suka dekat-dekat Sampu. Man adalah salah satu di antara yang sedikit. Sebab, seperti gunjingan perempuan-perempuan itu, Man tahu benar bahwa Sampu adalah orang yang pintar. Tapi bukan sekedar pintar. Pintarnya benar-benar pintar. Man dekat dengan Sampu dari hati yang tulus. Bukan karena tampilannya, bukan juga karena kepintarannya. “Aku lah orang yang paling mengerti dia,” gerutunya suatu hari. Dia kesal waktu itu. Tapi tak tahu kesal karena apa. Man sering kesal tanpa sebab. Sepertinya, apa saja yang dia lihat dan dengar dari orang lain tentang Sampu akan membuatnya kesal. “Karena hanya aku lah orang yang paling mengerti dia.”

Maka tiba lah suatu hari yang bahkan tak sekedar membuat Man kesal. Dia benar-benar tak percaya dengan peristiwanya. Dan itu seperti mimpi.

Hari begitu panas. Rambut panjang membuat leher gerah. Keringat di kening Sampu membanjir. Sayang Man tak bawa tisu waktu itu. Tapi Sampu selalu membawa persedian karet gelang di saku celananya. Ketika angin berhembus pelan dan memberikan sedikit kesegaran, Sampu menguncir rambut gondrongnya. Man takjub setiap kali Sampu melakukan itu. “Dia seni hidup!” serunya dalam hati.

Di sebuah kafe yang ramai oleh pengunjung, siang itu sedang digelar dua sesi diskusi tentang hak-hak kelompok yang mengalami subordinasi. Para aktivis dari berbagai bidang hadir. Dia dan Sampu dua di antara banyak aktivis yang beberapa tahun terakhir aktif melakukan kampanye HIV AIDS. Hadir di setiap diskusi apa pun yang berhubungan sosial dan budaya memang sudah jadi kewajiban.

“Susah kalau harus tulis-menulis,” kata Ketua organisasi sebulan yang lalu. “Orang-orang lebih suka seminar-seminar. Lebih membahana, katanya. Padahal ketagihan berdandan saja.”

“Aku tidak pernah berdandan!” Sampu menanggapi Ketua.

“Ah, kau beda, Sampu. Kau beda,” kata Ketua.

Tapi siapa sangka ternyata keistimewaan Sampu disadari oleh hampir semua peserta diskusi hari itu. Rasanya, semua orang yang menyadarinya tak bisa menyangkal, seperti Man, bahwa leher Sampu ternyata begitu mempesona. Bahkan, dengan dia menguncir rambutnya itu, dia terlihat begitu tampan. Perempuan-perempuan di seberang meja sana pada cekikikan melihat Sampu. Man awalnya hanya mengangkat alis ketika menyadari itu, hingga akhirnya dia tak dapat percaya—makanya dia bilang seperti mimpi—ketika seorang perempuan paling cantik di dalam kafe itu menghampiri Sampu dan menawarkan agar ia bisa membantu Sampu menguncir rambutnya lebih rapi.

“Kenapa Diandra?” tanya Sampu.

“Sini, deh, biar gue yang kuncirin. Lo diem aja!”

Suasana diskusi jadi terganggu. Perhatian orang-orang ke Sampu dan Diandra. Adegan itu diiringi dengan seruan tepuk tangan seolah menyetujui keserasian dua muda-mudi yang terlihat malu-malu (lebih tepatnya, hanya Sampu yang malu sementara Diandra lebih terlihat seperti Mak Lampir menemukan mangsa baru). Ia tak terlihat cantik sama sekali. Kecantikannya kalah oleh pesona Sampu. Man melihat kekalahan itu.

Ada lagi, dan itu semakin membuat Man yakin kalau semuanya hanya mimpi. Tiba-tiba saja ada iring-iringan perempuan yang membawa tadah berisi mahkota penghargaan, kemudian menyematkannya kepada Sampu. Di antara perempuan-perempuan dalam iring-iringan, ada nenek Sampu. Atas jasa neneknya yang menemukan elemen kecantikanlah akhirnya Sampu ditetapkan sebagi kelahiran akan keindahan yang baru. Diandra lalu beranjak dan memberikan kata sambutan sembari mengiringi sang nenek, dan lantas memintanya membagikan pengalaman yang mengharu-biru tentang perjuangannya mencari elemen kecantikan. Ceritanya seperti sinetron!

Lalu, di belakang sampu sudah ada Ketua yang badannya sungguh sangat gendut itu duduk sangat dekat dengan Sampu. Dadanya menempel di punggung Sampu. Laki-laki yang jadi primadona itu terlihat begitu risih.

“Aku harus ke tempat nenek sekarang,” kata Sampu mencoba menghindar.

“Tenang saja,” kata Ketua. “Penghargaan ini tak akan kau dapat kalau bukan aku yang mewacanakan nenekmu sebagai pahlawan. Dan itu bukanlah bantuan tanpa tanda jasa.”

“Tapi…”

“Ayo lah… aku tahu kau tak mau mengecewakan nenekmu, kan?!” kata Ketua dengan nada yang makin mengesalkan. Binatang penuh kemunafikan itu—Man sudah dari dulu yakin, Ketua orang paling munafik di kota ini—semakin menjijikkan ketika Man tahu dia mulai melecehkan Sampu.

Tapi Man tak punya daya untuk membantu. Kalau dia teriak dan mengadu ke orang-orang, dia akan diasingkan ke Ende. Mana ada aktivis sekarang yang bangga diasingkan? Itu konyol!

Tapi Sampu bisa mengatasi masalahnya. Dia berhasil lepas dari pelukan si binatang. Sampu berlari menuju kamar tidur yang ada di balik panggung. Sementara itu, diskusi terus dilanjutkan setelah tepuk tangan membahana semua orang yang ikut terharu oleh cerita nenek mulai mereda sedikit demi sedikit.

Man diam terpaku.

“Lalu, bagaimana kelanjutannya, Man?” tanyaku.

“Ah, sudah lah!” dia mengelak.

“Ayo lah! Kau harus cerita! Kalau tidak, kita tak akan sampai pada inti persoalannya.”

“Bisa tidak kau berhenti mendesakku?!”

“Ya, aku mengerti kau tak suka… apa istilahmu, dicecer? Tapi aku sudah muak harus menunggu lama sementara ini kertas masih kosong. Aku harus melaporkannya pada Ketua sekarang.”

“Terserah!”

“Kau tahu akibatnya kalau keras kepala begitu, Man?!”

“Terserah!”

Aku sendiri masih tak yakin dengan peristiwa itu. Makanya, mungkin semua itu hanya mimpi. Tapi belum selesai.

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s