Membaca Gus Dur di Rumah Parungkuda

Wah, nyaman sekali menikmati pagi seperti ini. Hari ini adalah sebuah prestasi. Tadi malam, saya berhasil untuk tidak larut malam. Pukul sembilan lebih sedikit, saya sudah terlelap. Saya bangun pagi pukul enam. #asyek

Pagi ini saya di rumah Ageung. Di rumahnya, ada sebuah kamar kecil di atas loteng, dan di sanalah saya tidur jika menginap di rumah Ageung. Ibu Ageung (dan Ageung sendiri, tentunya) biasanya menganjurkan saya untuk menginap barang semalam dua malam di rumahnya jika datang bersilaturahmi. Udara di Parungkuda jelas berbeda dengan Depok, dan bangun pagi di Kampung Sawah itu lebih nikmat dibanding Kutek.

Saya sedang mengetik pagi hari (foto diambil Ageung)
Saya sedang mengetik, pagi hari, di kamar loteng rumah Ageung (foto diambil Ageung)

Sementara Ageung diomelin oleh ibunya karena gagal membantu membuat kue karena sudah terlanjur ketiduran di dalam kamarnya sendiri, tadi malam itu saya sibuk membaca buku kumpulan tulisan Gus Dur. Saya tertidur ketika selesai membaca sebuah tulisan yang berjudul “Kerudung dan Kesadaran Beragama”. Tulisan itu benar-benar mencerahkan. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya tentang pro-kontra kerudung yang semakin hari semakin ruwet dan sikut-sikutan antara yang mengkampanyekan hijab dan yang sinis terhadap hijab. Gus Dur, tokoh intelektual pecinta damai ini memaparkan pandangan obyektif mengenai hal itu.

dokumen-tooftolenk_membaca Gus Dur_02

Dulu, saya pernah memuat artikel di dalam blog ini, yakni sebuah ulasan atas potongan karya sastra Orhan Pamuk berjudul Snow. Potongan itu dimuat dalam Majalah Granta edisi 85 yang bertema Hidden History, dan diberi judul “A Religious Conversation” oleh redaksi. Sedangkan artikel ulasan saya, saya ber judul “Percakapan Imani”. Ringkasnya, karya sastra Pamuk, menurut saya, berbicara tentang polemik-polemik…seringkali muncul karena agama dan keyakinan selalu mengalami benturan dengan konstruksi-konstruksi sosial, Undang-Undang dan ketentuan hukum lainnya.

Pada artikel “A Religious Conversation”, kita akan disuguhkan perdebatan antara pihak sekolah yang menentang pelanggaran aturan mengenakan seragam atas dasar sekularisme, dengan seorang fundamentalis yang menentang pemberian sanksi terhadap siswi yang mengenakan kerudung atas dasar keyakinan beragama. Di akhir artikel, Pamuk menyerahkan kuasa kepada pembaca untuk merefleksi perdebatan itu; jawaban ada di tangan pembaca.

Setelah saya mengulik abis artikel Pamuk, sebenarnya pemahaman saya tentang pro-kontra kerudung masih mengambang, tak jelas ke mana arahnya. Saya hanya bersiteguh bahwa mengenakan kerudung akan sia-sia ketika ia hanyalah menjadi simbol belaka. Perbedaan antara pandangan sekularis dan fundamentalis pun akhirnya menjadi hal yang saya raba-raba saja.

Buku kumpulan tulisan Gus Dur, terbitan LKiS tahun 1999
Buku kumpulan tulisan Gus Dur, terbitan LKiS tahun 1999 (foto diambil oleh Ageung)

Tulisan Gus Dur itu, sedikit banyak, memberi penerangan yang memuaskan. Gus Dur juga memulai tulisannya dengan kasus yang sama dengan cerita Pamuk, yakni adanya kasus pemberian sanksi kepada siswi yang mengenakan jilbab oleh sekolah. Akan tetapi, tulisan Gus Dur tidak berbentuk karya sastra. Dia lebih sebagai sebuah refleksi dengan berbagai argumen penjelasan. Gus Dur berangkat dari latar belakang masyarakat Indonesia secara umum dan kemudian memberikan pandangannya sendiri.

Berikut ini, saya kutip tulisan Gus Dur berjudul “Kerudung dan Kesadaran Beragama”, dalam kumpulan tulisan “Tuhan Tidak Perlu Dibela” terbitan LKitahun 1999, yang saya kira akan menjelaskan mengapa saya melihatnya sebagai sebuah jawaban atas kebingungan saya setelah membaca cerita Pamuk:

 “Apa yang dilupakan kebanyakan orang adalah penglihatan global terhadap masalah kerudung itu. ia tidak lain adalah pencerminan dari kuatnya tuntutan di kalangan remaja muslim, agar ajaran Islam dilaksanakan secara tuntas dan konsekuen. Ia adalah bagian dari ketekunan yang semakin bertambah untuk meramaikan masjid, merumuskan ‘sikap Islam’ terhadap berbagai masalah, dan keberangan terhadap apa yang digeneralisasi sebagai ‘pandangan-pandangan sekularistik’ di kalangan kaum muslimin sendiri. Kasus kerudung itu adalah bagian dari meningkatnya kesadaran beragama di kalangan kaum remaja muslim dewasa ini.

Kesadaran itu muncul dari banyak sebab. Di antaranya adalah kekecewaan terhadap kebangkrutan teknologi dan ilmu pengetahuan modern, yang diredusir kedudukannya menjadi hamba kekuasaan modal saja, tanpa membawa perbaikan mendasar atas tingkat kehidupan manusia. Juga kekecewaan melihat terbatasnya kemampuan umat manusia untuk mencari pemecahan hakiki atas persoalan-persoalan utama yang dihadapinya. Tidak kurang pentingnya adalah juga kekecewaan mereka terhadap kegagalan elit kaum muslimin di seluruh dunia, yang tidak mampu meningkatkan derajat agama mereka di hadapan tantangan ‘pihak luar’ terhadap Islam.

Dapat dimengerti kalau kesadaran itu juga mempunyai imbas fisiknya atas perilaku para remaja muslim di mana-mana, termasuk mereka yang lalu memelihara jenggot dan memakai kerudung. Perilaku seperti itu tidak sepatutnya diremehkan dan disepelekan karena ia merupakan bagian dari kesadaran untuk menegakkan Islam sebagai ‘jalan hidup’. Boleh kita tidak setuju dengan aspirasi holistic seperti itu, namun dihargai sebagai upaya untuk menemukan Islam dalam kebulatan dan keutuhan, jadi motifnya berwatak transendental.

Jika ‘tindak disipliner’ atas ‘pelanggaran gadis berkerudung’ di salah satu SMA di Bandung itu tidak diperhitungkan dari sudut kesadaran beragama ini, terlepasnya dari keputusan apa yang akan diambil maka sebenarnya tindakan itu tidak memecahkan masalah. Ia hanya menunda atau memindahkan persoalannya saja. Kasus-kasus serupa akan tetap muncul, dengan intensitas dan implikasi yang mungkin semakin gawat bagi masa depan kita semua sebagia bangsa.”

Nah, keren gak, tuh!? #asyek

Saya sengaja mengutip panjang dan tidak mencantumkan pendapat saya lebih jauh karena menurut saya, tulisan Gus Dur itu sendiri sudan memberikan pemaparan yang jelas tentang bagaimana sebaiknya kita menyikapi fenomena pro-kontra kerudung.

Ah, bahagia sekali rasanya membaca Gus Dur di pagi Parungkuda. #ngopi #ngerokok #asyek

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

2 thoughts on “Membaca Gus Dur di Rumah Parungkuda”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s