batu permata ke batu kecapi

Tahu tidak?! Tadi malam, Ageung bercerita lagi kepada saya bahwa ada gosip baru yang berhubungan dengan surup-kesurupan… #asyek Hahaha! Saya cukup antusias mendengarnya meskipun sedikit kecewa karena bukan soal buruh laki-laki yang mati keselek cireng. Cerita kesurupan dari Parungkuda ini mulai beranjak ke persoalan mitos dan kisah misteri yang hidup di masyarakat Parungkuda melalui mulut ke mulut. Sebuh narasi kecil yang (bisa dibilang) tidak pernah diangkat oleh media arus utama.

Jadi, katanya, buruh perempuan di PT. Nina 1 yang lama, yang mati karena kesurupan setan pangeran dari kerajaan antah berantah itu, mirip dengan Teh Puput, teman Ageung sesama buruh di PT. Nina 1 yang sekarang. Kemiripan mereka berdua juga di-iya-kan oleh teman sesama buruh yang lain, yakni Munir, Teh Yulis dan Mak Een. Munir mengatakan bahwa si buruh perempuan itu menjadi wadal manusia (atau tumbal, lebih tepatnya). Sementara itu, Mak Een mengatakan bahwa si buruh perempuan tersebut mati kesurupan karena dikerjai atau diguna-guna oleh mantan kekasihnya.

Menurut cerita Ageung, yang ia dengar dari para buruh, dahulu di lokasi PT. Nina 1 yang lama (sekarang menjadi PT. Nina 2) ada sebuah pohon besar tempat bersarangnya para setan. Sekarang, pohon itu sudah tidak ada. “Udah ditebas, katanya,” jelas Ageung.[1]

Menurut saya, tentunya cerita ini sudah terdramatisasi sedemikian rupa karena selalu dibumbui dengan segala tambahan peristiwa khayal ketika diceritakan secara terus-menerus dari mulut ke mulut. Sangat mungkin bahwa si buruh perempuan yang mati kesurupan itu, sebenarnya, mengalami kematian yang wajar-wajar saja. Pengalaman-pengalaman tentang kesurupan itu membuat persepsi orang-orang di sekitarnya mencoba mengait-ngaitkan penyebab kematian dengan hal-hal gaib.

“Tapi, kalau menurut Munir, sih, perempuan itu matinya gak wajar,” kata Ageung. “Sebelum mati, kelihatan tanda-tanda serangan si setan, seperti air liur yang selalu menetes seperti anak kecil, dan sebelah matanya juling. Tapi itu katanya, ya…! Hahaha!”

Masih ada yang percaya bahwa para setan di PT. Nina 2 sekarang ini belum pergi dari pabrik itu. Ada kemungkinan akan terjadi peristiwa kesurupan lanjutan, bisa nanti, besok, minggu depan, bulan depan, atau kapan pun… kita tidak tahu.

“Kok bisa begitu?” tanya saya.

“Soalnya, kata Munir masih ada satu benda yang belum ditemukan,” jawab Ageung.

“Satu benda? Maksudnya?”

“Iya, satu benda misteri, semacam permata, yang jadi sarang si setan.”

“Oh, gitu…”

Mendengar cerita itu, saya jadi teringat novel Harry Potter. Musuh besar Harry, si Lord Voldemort, membagi jiwanya menjadi tujuh dan menyimpannya di tujuh benda keramat. Untuk memusnahkan Voldemort, Harry harus menghancurkan ke tujuh benda itu, yang oleh para penyihir disebut sebagai Horcrux.

Saya jadi tertawa ketika mendengar cerita Ageung. “Wah, berarti pohon besar itu horcrux si setan pangeran, dong?”

“Iya, bisa dibilang begitu! Hahaha!” ucap Ageung tertawa juga. “Ya, kalau bahasa kitanya, pohon besar atau permata itu seperti jimat gitu, deh…”

“Nah, omong-omong soal jimat, dulu ada orang di dekat rumah yang sering kesurupan juga,” lanjut Ageung. “Kira-kira waktu aku masih SMP, deh…”

“Gimana kesurupannya?” saya bertanya penasaran. (Dan saya masih berharap-harap cemas kalau jawabannya adalah kesurupan karena mati keselek cireng. Ini soal prinsip: cerita misteri tentang buruh laki-laki yang mati keselek cireng itu lebih menarik ketimbang acara reality show “dunia lain” di TV. #asyek)

 “Jadi, orang itu sering kesurupan gara-gara dirasuki oleh siluman ular,” jawab Ageung. (“Yaaaaaaaaaah…!!!” saya berseru kecewa di dalam hati).

“Bapak orang yang kesurupan itu memiliki sebuah batu yang bentuknya seperti telur ular,” Ageung melanjutkan penjelasannya tanpa mau mengerti kekecewaan saya. #hiks

“Batu apa?”

“Batu jimat gitu, deh… bentuknya seperti telur ular,” kata Ageung. “Nah, anaknya mengalami kesurupan karena, katanya, batu jimat itu dikasih ke orang lain. Silumannya marah sehingga merasuki tubuh si anak.”

“Hmm… gitu…!” saya berujar masa bodoh. “Gak ada cerita tentang orang yang kesurupan arwah gentayangan yang mati keselek cireng, yak?”

“Gak ada!” seru Ageung sedikit kesal, kemudian dia tertawa (mungkin membayangkan tampang kecewa saya yang bodoh. Hahaha!)

“Eh, ada lagi cerita yang lain,” kata Ageung.

“Keselek cireng, gak?”

“Bukaaaan!”

“Ya udah, ya udah… gimana ceritanya?”

“Cerita ini udah lama, waktu aku masih SD. Tentang setan Batu Kecapi.”

“Batu apa?”

“Kecapi…”

“Alat musik?”

“Iya, alat musik.”

“Oh, jadi setannya keluar dari alat musik?”

“Bukan, Batu Kecapi. Itu nama lokasi, daerahnya di wilayah bagian atas.[2] Di daerah itu ada batu yang bentuknya mirip kecapi.”

“Oh, terus…?”

“Nah, dulu aku punya saudara, waktu itu dia masih remaja, sering kesurupan juga.”

“Siapa namanya?”

“Aduh, aku lupa… Sebentar, aku tanya ibu dulu, ya!” di ponsel terdengar suara langkah Ageung berlari menuruni tangga kamar tidurnya. Saya menunggu sekitar sepuluh menit. Kemudian: “Ah, ibu juga lupa ceritanya. Hahaha!”

“Yeee, gimana dah?!”

“Seinget aku aja, ya?”

“Sok, lanjut…!”

“Jadi, saudara jauhku itu sering mengalami kesurupan. Dia sering dirasuki oleh setan yang merupakan nenek buyutnya sendiri. Nenek buyutnya itu dijadikan istri oleh Jin Pangeran yang berasal dari Batu Kecapi.”[3]

“Pangeran lagi…?!”

“Iya… Katanya, setelah sadar dari kesurupan, dia mengaku merasa sedang naik kuda emas, lengkap dengan iring-iringan kerajaan. Dulu, nenek buyutnya itu hilang secara tiba-tiba ketika masih remaja. Nah, kata orang, dia itu hilang karena dipersunting oleh si Jin Pangeran.”

“Batu Kecapi itu adanya di kecamatan apa?”

“Itu udah jadi nama daerah. Masih wilayah Parungkuda, kok, kalau aku gak salah. Sama halnya kalau kamu di Jakarta, orang kenal nama Lenteng, Proposal, atau di Depok ada Kutek dan sebagainya.”

“Oh…”

Ageung juga mengatakan bahwa Batu Kecapi itu[4] sudah sering dipindah-pindahkan, tetapi tanpa diketahui bagaimana kejadiannya, batu itu selalu berada lagi di lokasi tersebut.

“Katanya, pernah ada yang membawa batu itu ke Pelabuhan Ratu, eh nongol lagi nongol lagi…!” kata Ageung. “Bagi warga di sini, cerita tentang Batu Kecapi itu udah menjadi semacam mitos atau cerita rakyat gitu, deh…!”

“Lokasi tepatnya di mana, sih?” saya semakin penasaran.

“Kamu ingat jalan yang kita lalui waktu pergi berenang bersama Randi? Nah, angkot yang kita naiki melintas di depannya.”

“Hm…” saya menanggapi dengan santai (padahal di dalam kepala saya, jiwa petualang saya mulai muncul. Saya bahkan berniat untuk datang ke sana dan ingin melihat langsung. Semoga saja Batu Kecapi-nya masih ada di sana).

Hadeuh… mulai dari cerita kesurupan di pabrik, malah melebar ke cerita rakyat di lingkungan warga Parungkuda. Hahaha!


[1] Tenang, Ageung bercerita dengan santai, kok! Tidak seperti orang yang hobi cerita serem-serem, yang menunjukkan ekspresi menegangkan demi menakut-nakuti orang yang mendengarkan cerita. Lagipula, Ageung, kan cakep! #preeet

[2] Maksudnya, daerah yang kalau kita melalui jalanan aspal, kita akan melalui jalanan yang mendaki.

[3] Okeh, ceritanya mulai aneh. Padahal, hantu keselek cireng tidak akan se-absurd ini. Saya percaya itu.

[4] Saya mulai membayangkan sebuah batu besar yang bentuknya mirip kecapi. Ceritanya jadi mirip legenda Batu Malinkundang. Hahaha! Tapi saya rada-rada lupa. Kalau tidak salah, tadi malam itu Ageung mengatakan bahwa batu-batu di sana mirip kecapi (berarti batunya banyak). Nah kalau begitu, saya membayangkan sebuah lokasi yang isinya banyak batu, dan batunya mirip kecapi. Atau… au ah! Hahaha!

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s