akan orasi di Bojongkokosan

Siang, Hari Kamis, 25 April 2013, melalui ponsel Ageung bercerita kepada saya tentang kabar terbaru dari pabrik PT. Nina 1 di Jl. Angkrong, Parungkuda. Katanya, tanggal 1 Mei tidak masuk kerja karena para buruh akan memperingati Hari Buruh Sedunia.

“Kami akan berkumpul di Monumen,” kata Ageung. “Kamu ingat taman yang pernah kita kunjungi bersama Fajar dulu itu, kan?”

“Oh, iya… aku ingat!” jawabku. “Buruh-buruhnya akan berorasi di sana?”

“Iya, kalau kamu bisa datang ke Parungkuda, kita ke sana, yuk?! Kita bisa tulis peristiwa itu.”

“Boleh juga, tuh! Lumayan cari isu tentang May Day yang baru, gak melulu di Jakarta.”

Lokasi yang dimaksud Ageung adalah Monumen di Bojongkokosan, sebuah desa di Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Di taman tersebut, kalau saya tidak salah ingat, terdapat dua monumen. Monumen pertama adalah 5 patung pejuang yang disebut Monumen Palagan. Pada sebuah artikel di blog bernama pecintawisata, dijelaskan tentang monumen tersebut:

“Di Monumen Palagan, terdapat 5 patung pejuang. Tepat di tengah-tengah, patung pejuang yang dengan bangganya memegang sang saka merah putih. Di sebelah kiri, patung pejuang yang menyerbu dengan menggunakan senapan. Di belakangnya, pejuang yang sedang menyabetkan parang. Di sebelah kiri paling depan, pejuang dalam posisi siap melempar bom Molotov. Dan di belakangnya, patung pejuang wanita dilihat dari kotak P3 K nya merupakan anggota palang merah yang, sayang, patung tersebut patah.”[1]

Pada monumen itu, ada ukiran bertuliskan: “BAGI PEJUANG TAK ADA SUATU KEPUASAN KECUALI HASIL PERJUANGANNYA DITERUSKAN OLEH GENERASI SELANJUTNYA”. Berdasarkan foto di artikel yang saya kutip, diketahui bahwa Monumen Palagan diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat, H.R.Moh.Yogie S.M, pada Bulan November 1992.

Sedangkan monumen yang kedua adalah sebuah tank, dan di monumen tersebut tertulis “Palagan Perjuangan, 1945, Bojong Kokosan”.[2]

Saya seringkali menoleh ke taman Monumen Bojongkokosan ini ketika bus yang saya tumpangi melintasi Jalan Raya Parungkuda. Lokasi rumah Ageung, di dekat Stasiun Parkungkuda, berjarak sekitar lima belas menit dari sana. Apalagi kalau Hari Sabtu (malam minggu), saya sering melihat banyak muda-mudi nongkrong di sana. Ada yang beramai-ramai atau berdua-duaan. Atau kalau bus yang saya tumpangi melintasinya di sore hari, saya juga sering melihat buruh-buruh pabrik (umumnya perempuan) melintas di depan taman itu. Rombongan buruh yang keluar dari pabrik itu merupakan sebuah pemandangan yang langka di tempat saya tinggal, di Depok.

Tanpa sengaja, saya menemukan sebuah sajak pada sebuah blog. Sajak tersebut, sedikit banyak, menggambarkan sifat dari lokasi itu. Berikut adalah sajak yang di-post oleh Pyan Sopyan Solehudin tertanggal Cicurug, 20 Desember 2009 tersebut:

“gadis-gadis mekar

tumpah padah

mengitari pabrik-pabrik

mengantri masa depan

bojongkokosan

saksi para pejuang

monumen diruntuhkan

dalam upacara kematian

muda-mudi bergiliran

mojok bercinta-duaan

membekas darah perjuangan”[3]

Membayangkan suasana demonstrasi atau orasi yang akan dihelatkan oleh para buruh se-PT. Nina, se-Parungkuda atau se-Kabupaten Sukabumi di sana, saya menjadi semangat. Momen itu pasti menjadi sebuah pemandangan tentang peristiwa massa yang sangat menarik. Bagi saya, mungkin, yang bukan orang Parungkuda, hal itu menjadi eksotis. Bagi orang-orang Parungkuda, seperti Ageung, atau para buruh-buruh pabrik, itu sudah menjadi kegiatan tahunan yang biasa, tetapi penting.

Kalau dipikir-pikir, sepertinya taman itu memang satu-satunya tempat yang pas untuk melakukan orasi karena di depan taman itu, seingat saya, ada sebuah tanah lapang yang cukup pas untuk menampung massa. Selain benda sejarah yang ada di taman itu juga berkaitan dengan peristiwa di masa lalu yang esensinya memiliki kesamaan, yakni perjuangan, lokasi itu juga merupakan lokasi yang akrab bagi warga yang tinggal di sekitaran Jalan Raya Parungkuda. Katanya, lokasi itu menjadi salah satu kebanggaan warga lokal di sana.

Pada tulisan ini, saya tidak memiliki dokumentasi fotonya. Semoga saja pada tanggal 1 Mei nanti, saya bisa hadir di sana dan berkesempatan mengabadikan peristiwa demonstrasi para buruh. Saya berjanji, jika kesempatan itu jadi kenyataan, saya akan memuatnya di blog ini. #asyek

Jika teman-teman ingin membaca informasi tentang lokasi tersebut, bisa disimak di blog pecintawisata, atau di sebuah artikel di akumassa yang berjudul “Kenangan Kepahlawanan dalam Seremoni 10 Nopember”.


[1] Diakses dari “Melihat Sejarah di Monumen Bojongkokosan”, http://pecintawisata.wordpress.com/2011/09/26/melihat-sejarah-di-monumen-bojongkokosan/, 25 April 2013, 03:50 PM. Ejaan disesuaikan oleh penulis.

[2] Ibid.

[3] Diakses dari “Monumen Bojongkoksan”, http://asi7.wordpress.com/2009/08/13/monumen-bojongkokosan/#comment-382, 25 April 2013, 04:02 PM.

Author: Manshur Zikri

Penulis

3 thoughts on “akan orasi di Bojongkokosan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s