Peraga

Dokumen-Tooftolenk_Peraga_01

Senin sore hari, 22 April 2013, sepulang dari tempat service laptop, saya mampir ke kampus. Kebetulan, waktu itu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) mengadakan acara pembukaan Peraga 2013. Peraga adalah singkatan dari Pekan Olahraga.

Dokumen-Tooftolenk_Peraga_02

Saya sudah mulai jarang datang ke kampus sehingga tidak begitu mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga mahasiswa. Biasanya, kegiatan-kegiatan di kampus FISIP UI selalu “terdengar”. Di tahun ini, nuansa heboh itu sedikit berkurang. Selain acara Pekan Komunikasi yang telah ditutup beberapa hari lalu, pembukaan acara Peraga 2013 adalah kegiatan mahasiswa FISIP UI kedua yang saya lihat secara langsung.

“Lo hadirnya kalau di Takor doang sih, Bang!” ujar salah seorang mahasiswa. “Jadi gak tau apa-apa aja yang udah diadain di FISIP.”

Ya, jelas saja! Mana mungkin saya menghadiri satu per satu kegiatan mahasiswa yang jumlahnya begitu banyak? Badan saya cuma satu. Namun, saya tetap mengeluh bahwa aktivitas mahasiswa di FISIP UI, di tahun ini, memang terasa sangat kurang (tapi bukan berarti tahun-tahun sebelumnya lebih baik dari tahun ini). Masalah utama yang selalu saya temui di lingkungan mahasiswa FISIP UI ialah penyelenggaraan-penyelenggaraan acara tersebut tidak diiringi dengan publikasi yang menohok. Dengan kata lain, tidak canggih.

Dokumen-Tooftolenk_Peraga_03

Saya berusaha memaparkannya lebih jauh dengan meninjau Peraga 2013. Dari tahun 2009, keluhan yang bergaung berulang-ulang di kalangan mahasiswa, baik para pengurus lembaga maupun mahasiswa di luar pengurus lembaga, terkait dengan kegiatan olahraga kampus adalah tidak hidupnya euforia “pesta olahraga”. Dan memang pada kenyataannya, suasana “pesta” itu hanya akan terasa jika ada lembaga mahasiswa tertentu menyelenggarakan sebuah kompetisi olahraga. Di luar itu, nuansa olahraga hanya dirasakan oleh mereka yang memang memiliki hobi berolahraga dan setiap minggu mengikuti latihan rutin di komunitas-komunitas olahraga yang beroperasi di kampus. Ada pun usaha oleh Himpunan Mahasiswa di setiap jurusan atau departemen di FISIP UI demi menjaga antusiasme mahasiswa terhadap aktivitas olahraga, kegiatan itu hanya dilihat sebagai formalitas program regular dari setiap divisi olahraga yang ada di dalam himpunan tersebut. Akhirnya, wacana olahraga hanya berhenti di titik seru-seruan membicarakan klub sepak bola idola yang pertandingannya akan ditayangkan di televisi (Sekarang, sepertinya seru-seruan ini lebih hidup di twitter ketimbang di meja makan kantin kampus).

Dokumen-Tooftolenk_Peraga_04

Dokumen-Tooftolenk_Peraga_05

Dokumen-Tooftolenk_Peraga_06

Pernah suatu hari, seorang teman mahasiswa satu jurusan kriminologi bertanya bagaimana pendapat saya tentang realitas FISIP UI yang krisis budaya olahraga.

“Mengapa budaya olahraga di FISIP tidak hidup?”

Saya menjawab singkat: “Tidak semua mahasiswa menyenangi olahraga.”

Kalau didengar sepintas, memang pendapat itu terkesan masa bodoh. Namun, pendapat saya itu sebenarnya sedang mencoba menantang kita, mahasiswa FISIP UI, untuk mampu menghadirkan sebuah wacana per-olahraga-an yang polemis bagi mahasiswa FISIP UI sendiri. Polemis di sini maksudnya ialah “sesuatu yang memancing ketergangguan” atau “sesuatu yang memancing nalar dan perdebatan yang sehat”. Dalam hal membicarakan budaya olahraga di lingkungan kampus, tentunya sesuatu yang polemis itu harus merujuk pada konteks lingkungan kampus yang dimaksud. Dengan kata lain, saya sedang memikirkan bagaimana jikalau kita bisa membangun sebuah perdebatan intelektual yang sifatnya lokal bagi lingkungan FISIP UI. Saya rasa, langkah ini yang sepertinya belum dilakukan oleh BEM FISIP UI secara maksimal.

Oke, kita memang tidak bisa mengabaikan begitu saja usaha-usaha yang sudah dilakukan oleh BEM FISIP UI untuk menghidupkan budaya olahraga di kampus kita. Kalau istilah para pengurus BEM: “membumikan budaya olahraga”. Saya masih ingat, pertengahan tahun lalu, para pegawai kantin Takor FISIP UI mulai marak bermain tenis meja di siang hari di salah satu lahan kosong kantin, yakni lahan yang terletak antara toilet (sekarang toiletnya sudah pindah ke belakang kantin) dan meja-meja kantin.[1] Sebuah terobosan dari BEM FISIP UI: mereka memfasilitasi warga kampus dengan meletakkan tenis meja di tengah-tengah kantin, dan boleh digunakan oleh siapa saja yang ingin bermain. Banyak mahasiswa yang berkomentar bahwa langkah itu cukup “menendang” dan konkret karena antusiasme olahraga tidak lagi hanya muncul dari mahasiswa, tetapi juga dari semua warga yang ada di kampus. Selain itu, acara-acara besar tingkat fakultas atau jurusan yang diadakan oleh lembaga-lembaga mahasiswa ini juga, paling tidak, mampu menyaring bakat-bakat baru sehingga dapat mengisi kekosongan regenerasi atlet FISIP UI. Akan tetapi, lagi-lagi, kita melihat bahwa cara seperti itu tidak bertahan lama: dia sekedar menjadi langkah musiman.

Panggung acara Pembukaan Peraga FISIP UI 2013 dilihat dari Takor Pojok
Panggung acara Pembukaan Peraga FISIP UI 2013 dilihat dari Takor Pojok
Takor Pojok dilihat dari panggung acara Pembukaan Peraga FISIP UI 2013
Takor Pojok dilihat dari panggung acara Pembukaan Peraga FISIP UI 2013
Meja-meja di kantin Takor dilihat dari atas panggung
Meja-meja di kantin Takor dilihat dari atas panggung
Dibelakang panggung
Di belakang panggung

Dalam sebuah diskusi, saya dan teman-teman di kriminologi sempat bertanya-tanya, mengapa euforia masyarakat dunia terhadap sepak bola bisa begitu hidup bahkan memunculkan kelompok-kelompok penggemar fanatik bagi klub-klub sepak bola tertentu. Kalau ruang lingkup internasional dan nasional bisa memiliki atensi masyarakat yang begitu besar terhadap olahraga, mengapa ruang lingkup kampus FISIP UI yang kecil tidak? Diskusi kami menemukan jawabannya: FISIP UI tidak memiliki media massa. Tidak ada media massa (yang dikelola baik oleh mahasiswa maupun kampus) yang secara khusus mengangkat wacana olahraga ke dalam bentuk “teks”. Saya mengatakannya sebagai jawaban karena, memang, langkah ini belum dilakukan oleh BEM FISIP UI sebagai lembaga eksekutif di kampus: membangun basis informasi dan pengetahuan tentang olahraga. Lembaga mahasiswa di luar BEM FISIP UI juga tidak. Bahkan, FISIPERS, yang mengaku sebagai media massa FISIP yang dikelola oleh mahasiswa secara otonom, juga terbilang sangat jarang menghidupkan wacana ini (atau setidaknya mengarahkan opini publik ke masalah “olahraga di FISIP UI”).

Masyarakat dunia tidak akan tahu, dan juga tidak akan berkembang cara berpikirnya, tentang olahraga jika tidak ada media massa yang secara terus menerus dan intens mengangkat wacana per-olahraga-an dunia. Melalui media massa pula, olahraga tidak hanya menjadi sebuah aktivitas yang melibatkan raga, tetapi juga nalar dan pengetahuan dalam membangun peradaban yang sarat dengan sportivitas. Dan ini lah yang saya maksud dengan “menghadirkan sebuah polemik”; yang saya bayangkan bahwa budaya olahraga tidak hanya hidup di wilayah praktik, tetapi juga di wilayah pengetahuan dan perdebatan intelektual.

Sambutan PO Peraga 2013
Sambutan PO Peraga 2013

Kita bisa paham bahwa penyelenggaraan acara oleh lembaga mahasiswa adalah salah satu kewajibannya untuk memfasilitasi mahasiswa, sekaligus juga menjadi strategi untuk memupuk dan mengembangkan kemampuan dan prestasi di bidang olahraga, baik untuk kepentingan prestasi tingkat fakultas, universitas, maupun tingkat nasional dan internasional.[2] Namun, pertanyaannya, apakah hanya berhenti di tataran praktik dan hanya untuk mereka yang senang dan bisa berolahraga? Bagaimana mereka-mereka yang tidak piawai dalam berolahraga? Tentunya harus ada cara untuk memenuhi kebutuhan itu demi menjaga wacana dan perhatian publik FISIP UI terhadap budaya olahraga.[3]

Sambutan Ketua BEM FISIP UI 2013
Sambutan Ketua BEM FISIP UI 2013

Saya sendiri percaya bahwa dengan hadirnya media massa yang dikelola oleh mahasiswa, analisa dan perumusan tentang bagaimana meningkatkan kualitas atlet akan menjadi lebih terbantukan. Kerja media massa dalam mendokumentasikan perkembangan acara (kompetisi), pertandingan, kemampuan atlet, dan sebagainya yang berkaitan dengan olahraga, akan menghasilkan banyak arsip yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber data untuk mengevaluasi segala hal yang berhubungan dengan kegiatan dan wacana olahraga itu. Ide-ide dan inovasi-inovasi untuk mengembangkan kualitas budaya olahraga akan menjadi semakin banyak dan kuat karena didukung oleh kajian-kajian empirik. Langkah seperti ini pun akhirnya akan mereduksi pendapat-pendapat commonsense yang, pada kenyataannya, tidak memberikan perubahan yang berarti bagi peningkatan kualitas budaya olahraga di kampus kita.

Lantas, bagaimana dengan Peraga 2013 yang sekarang dihelatkan oleh BEM FISIP UI? Oke, ada baiknya kita simak sendiri penuturan dari para penyelenggara acara tersebut pada video berikut:

Komentar mereka adalah harapan (karena pada dasarnya belum menjadi kenyataan). Dan setelah meninjau dan menelusuri lebih jauh, saya tidak melihat bahwa Peraga 2013 memiliki tendensi yang kuat untuk merealisasikan pengembangan wacana dan budaya olahraga di FISIP UI secara ideal. Hingga artikel ini ditulis, saya tidak mendapatkan atau menemukan “teks” yang bisa dianggap sebagai materi yang bersifat pengetahuan, baik tentang Peraga 2013 itu sendiri maupun tentang fenomena olahraga yang sesuai dengan konteks lokal FISIP UI. Di profile akun resmi twitter Peraga 2013, @PeragaFISIPUI, hanya tertulis kalimat: “Depor BEM FISIP UI dengan bangga mempersembahkan : Pekan Olahraga 2013. 22-26 April & 13-26 Mei 2013! Semarak Pesta Olahraga Rakyat FISIP.” Yang ditekankan oleh kalimat itu ialah “acara” yang diadakan dalam rentang waktu tertentu. Informasi di akun twitter tersebut tidak mencantumkan alamat website atau blog, atau wadah informasi yang lebih komprehensif sifatnya, yang berhubungan dengan Peraga 2013.[4] Tentunya, wacana tidak akan bisa dibangun secara kokoh melalui kultwit ringkas, apalagi informasi di twitter dapat dengan mudah tenggelam oleh limpahan twit dari akun-akun orang lain. (Apakah mungkin karena saya yang kurang update? Jika iya, akan lebih baik jika pembaca bersedia menginformasikan hal tersebut di kolom komentar agar kita bisa bersama-sama membantu penyelanggaraan Peraga 2013 FISIP UI ini dengan menyebarkan atau saling berbagi segala informasi yang berkaitan dengannya).

Dokumen-Tooftolenk_Peraga_013

Jika wacana itu ingin hidup, media massanya juga harus hidup. Saya yakin bahwa tanpa ke kampus pun, saya dapat mengikuti perkembangan budaya olahraga di FISIP UI karena ada media yang bisa saya gunakan untuk menjaga stabilitas pengetahuan saya tentang per-olahraga-an di FISIP UI. Akan tetapi, jika ternyata keadaannya memang seperti apa yang terepresentasikan dari twitter @PeragaFISIPUI, yakni panitia penyelenggara Peraga FISIP UI 2013 atau BEM FISIP UI 2013 belum membangun basis informasi dan pengetahuan yang kuat serta ideal tentang olahraga yang sesuai dengan konteks lokal kampus FISIP UI, saya pesimis bahwa acara Peraga 2013 ini mampu membumikan budaya olahraga di kampus kita.[5]


[1] Aktivitas ini bahkan terasa begitu cair. Dia hadir tidak dalam bentuk acara, melainkan menjadi keseharian baru yang berjalan secara wajar. Sama halnya dengan orang-orang yang sengaja keluar rumah pada sore hari mencari tanah lapang untuk bermain bulu tangkis menjelang maghrib tiba. Namun akhir-akhir ini, saya jarang sekali melihat pegawai kantin Takor FISIP UI bermain tenis meja. Ada apa gerangan? Sayang sekali saya tidak memiliki dokumentasi foto tentang kegiatan itu. Saya akan mencoba menanyakannya kepada BEM FISIP UI. Semoga saja mereka punya arsipnya, dan lain waktu akan saya muat di blog ini.

[2] Padahal, kalau dipikir-pikir, persoalan ini menjadi isu yang sangat menarik dan kaya untuk dijadikan bahan studi atau diskusi, sekaligus juga mengembangkan kreativitas dalam kegiatan-kegiatan berbasis media. Bisa dibayangkan, betapa kerennya jika FISIP UI memiliki koran kampus semaca Koran Bola, yang secara khusus menyajikan informasi tentang perkembangan atlet-atlet kampus kita, tentang sistem penyelenggaraan acara, tentang analisa perkembangan budaya olahraga, tentang kebijakan-kebijakan yang menaungi kegiatan-kegiatan olahraga, dan sebagainya. Dan kesemuanya itu dihadirkan dengan konteks yang tak lepas dari kondisi sosiokultural masyarakat di lingkungan kampus FISIP UI. Saya yakin, itu pasti keren! Coba saja kalau tidak percaya!

[3] Sebenarnya, ada sebuah website tentang olahraga (sepak bola) yang  kalau tidak salah dikelola oleh mahasiswa FISIP UI, yakni Define Football, http://definefootball.com/, yang mewacanakan tema sepak bola dengan perspektif yang lebih intelek, berupa ulasan-ulasan yang sifatnya matang dan berbeda dari gaya penulisan media massa arus utama. Sayangnya, pembahasan-pembahasan pada artikelnya lebih bersifat global, tidak lokal untuk konteks FISIP UI.

[4] Saya bahkan mengalami kesulitan untuk mengetahui nama PO penyelenggara acara Peraga 2013. Sebenarnya adalah kewajiban saya untuk bertanya kepada panitia siapa nama si PO, tetapi awalnya saya berpikir mungkin ada di blog atau di portal online atau media lainnya yang menginformasikan tentang Peraga FISIP UI. Namun, yang saya dapatkan hanya akun twitter. Tidak mungkin saya mampu menelusuri twit akun tersebut untuk mencari apakah nama si PO pernah disebutkan atau tidak (cara itu tidak efektif). Mungkin, di website BEM FISIP UI, http://bem.fisip.ui.ac.id/, informasi-informasi yang berhubungan dengan Peraga 2013, ada. Namun, hingga artikel ini ditulis, alamat website tersebut tidak bisa saya akses. Ada yang bisa memberitahu saya di mana portal informasi (baik online maupun tidak online) penuh tentang Peraga FISIP UI bisa kita akses, selain twitter?

[5] Oke lah, kalau misalnya pihak lembaga eksekutif terlalu sibuk untuk memenuhi kewajiban itu, mungkin FISIPERS bisa memainkan perannya. Jika FISIPERS juga tidak mampu, masih ada kelompok-kelompok mahasiswa yang (saya percaya) suatu saat akan memulainya. Intinya, harus ada inisiatif dari kalangan mahasiswanya sendiri untuk membumikan budaya olahraga itu.

Author: Manshur Zikri

Penulis

4 thoughts on “Peraga”

  1. Ini sekalian gw coba sedikit share pengalam gw waktu dulu gw sempet ngurus peraga 2012 bang, acara peraga ini sebenernya hanya “sekedar ada” dan sebagai pemicu agar warga FISIP mau memakai fasilitas olahraga yang ada di FISIP, untuk hanya sekedar bermain atau latihan. Hal yang paling penting adalah pasca acara tersebut dimana ada maintenance terhadap apa yang udah dipicu oleh acara peraga tersebut. maintenance nya adalah terhadap fasilitas olahraga yang ada, terpakai secara rutin oleh warga FISIP sehingga timbul suasana olahraga dilingkungan FISIP secara terus menerus. namun dalam maintenancenya ada berbagai kendala yang dihadapi diantaranya libur panjang sekitar 3 bulan yang membuat apa yang udah menjadi sedikit terbiasa setelah peraga menjadi memudar setelah masuk kuliah, selain itu pada semester ganjil maintenance terkendala pada euforia terhadap acara olahraga lainnya yang cukup besar dengan adanya RFC, Olimfis dan Olim UI yang berfokus hanya pada mahasiswa dan cukup membuat sibuk sehingga menjadi tidak adanya yang memaintenance nya untuk unsur warga FISIP lainnya. Untuk merealisasikan supaya olahraga menjadi bener-bener membudaya pada warga FISIP perlu adanya peraga sebagai pemicu namun setelah itu perlu adanya maintenance yang sangat telaten agar menjaga apa yang telah dipicu dan juga penjagaan suasana/euforia olahraga itu sendiri. Waktu pas 2012, belum terlalu telaten dan jadinya ilang lagi dah tuh sedikit kebiasaan setelah peraga itu, juga pas semester ganjil tertutup dengan kompetisi-kompetisi sehingga fasilitas hanya dipakai saat kompetisi dan jarang terlihat dipakai untuk bermain, pemeliharaan terhadap fasilitas olahraga juga masih kurang (contoh meja pingpong takor yang tidak terurus dan sekarang rusak). penjagaan suasana olahraga cukup terjaga namun dengan sasaran yang berbeda-beda jadinya, kurang menyentuh terhadap orang yang kurang menyukai olahraga

    Untuk masalah media publikasi tentang olahraga dulu lu juga pernah bilang tentang buletin olahraga atau sesuatu yang bisa memuat tulisan tentang olahraga dan dapat dipublikasikan kepada warga FISIP secara berkala biar bisa merambah euforia ke orang yang ngga suka olahraga, waktu pas gw masih jadi staff, gw udah coba sampein hal tersebut tapi ya setelah gw coba jalanin selama kurang lebih setahun kepengurusan ya orientasi nya ga kesitu bang, sebenernya gw sangat setuju bang dengan idenya tapi dengan keterbatasan, kagak bisa realisasiinnya, banyak kendala bang yang bikin ide itu kagak jalan.

    Masalah publikasi acara sekarang makin ga keliatan gw gatau dah tuh bang, mungkin mesti nunggu ada yang “peduli” kayak gini dulu kali baru pada “sigap” dan lebih “peka”. Sepi dikampus bang, belom ada yang greget hahaha

    Like

  2. wah bang mantep nih ulasannya, buat ide yang media publikasi olahraga itu pernah juga lu kasih tau ke gw dulu bang setahun lalu, gw juga udah sampein tapi ya gitu bang dari awal ngga diorientasikan ke situ.

    Tapi sayangnya harus lu juga lagi nih bang yang harus sampe bahas hal kayak gini hahah, belum ada lagi yang kayak gini-gini lagi bang hahah

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s