Dulu, ada kesurupan juga…

Seminggu yang lalu, Ageung menceritakan lanjutan gosip tentang kesurupan massal yang terjadi di PT Nina. Katanya, belakangan gosip tentang kesurupan massal itu mulai mendramatisasi ke sebuah kisah yang terjadi di masa lampau. Saya menyambut cerita ini dengan semangat. Sebab, seperti yang saya tulis di “Dari Parungkuda; Kesurupan Massal”, kisah tentang kesurupan massal akan terasa lengkap jika dibumbui oleh kisah-kisah misteri yang ‘katanya’ pernah terjadi di lokasi yang bersangkutan.

Perusahaan wig milik orang Korea tempat Ageung bekerja itu terdiri dari tiga cabang perusahaan di Parungkuda: PT Nina 1, 2, dan 3. PT Nina 1 terletak di sebuah daerah yang oleh masyarakat Parungkuda disebut Angkrong. Kalau saya tidak salah ingat, PT Nina 2 terletak di daerah yang lebih dekat dengan Bojongkokosan, sedangkan PT Nina 3 di daerah Cibadak.[1]

Menurut cerita Ageung, PT Nina 2 itu dulunya adalah PT Nina 1. Katanya, dulu di PT Nina tersebut juga pernah terjadi peristiwa kesurupan meskipun bukan kesurupan massal. Korban kesurupan waktu itu adalah seorang buruh perempuan. Si buruh perempuan mengalami kesurupan selama berhari-hari. Karena tidak sembuh-sembuh, keluarga si korban memutuskan untuk membawanya berobat ke Banten. Seorang dukun di Banten yang mengobatinya mengatakan bahwa makhluk halus yang merasuki tubuh si buruh perempuan adalah seorang pangeran (tidak jelas pangeran dari kerajaan apa) yang jatuh cinta kepadanya. Kesurupan yang dialami oleh si buruh perempuan tersebut adalah bukti cinta sang pangeran. Dia menolak untuk keluar dari tubuh si perempuan. Akhirnya, kesurupan yang dialami si buruh perempuan malah menyebabkan dirinya mati. Matinya gantung diri.

Dari gosip yang beredar di kalangan buruh, peristiwa kesurupan massal yang terjadi di PT Nina 1 yang sekarang itu dikait-kaitkan dengan cerita kesurupan seorang buruh perempuan tersebut. “Dan kalau dipikir-pikir, semua buruh yang kesurupan waktu itu juga semuanya perempuan,” kata Ageung.

Cerita tentang kesurupan ini juga melompat atau dikait-kaitkan ke kisah misteri yang terjadi di perusahaan lain, yaitu PT Cosmo.[2] Salah seorang teman Ageung, yang dipanggil Teh Puput, pernah menjadi buruh di perusahaan tersebut, dan mengalami kesurupan. “Kesurupannya juga berhari-hari,” kata Ageung menjelaskan. Teh Puput juga berobat ke Banten, dan dari usaha pengobatan tersebut, diketahui bahwa ada tujuh makhluk halus yang merasuki tubuh Teh Puput. “Mendengar cerita itu, aku jadi inget film Mirrors,” kata Ageung sambil tertawa.

Film Mirrors karya Alexandre Aja (2008) yang disebut Ageung itu adalah sebuah film horor supernatural yang berkisah tentang seorang laki-laki yang berusaha menyelamatkan keluarganya dari serangan hantu-hantu yang muncul di cermin-cermin. Dalam rangkaian ceritanya, akan diketahui nanti bahwa hantu-hantu itu terkurung di dalam cermin karena, secara tidak langsung, dipaksa keluar dari tubuh seorang perempuan yang sebelumnya menjadi semacam tempat bersemayam para hantu. Awalnya, kesurupan yang dialami oleh si perempuan dianggap oleh para ahli kesehatan sebagai gangguan mental. Untuk menyembuhkannya, sebuah terapi cermin diterapkan pada si perempuan. Namun, terapi itu justru memancing para hantu untuk keluar dari tubuhnya dan terjebak di dalam cermin. Sementara itu, para dokter yang menangani kasus tersebut tidak tahu-menahu tentang keberadaan hantu yang mendiami tubuh si perempuan. Setelah lama berselang, para hantu itu menuntut untuk dipertemukan kembali dengan si perempuan. Caranya, mereka meneror orang dengan serangan-serangan yang menelan korban jiwa, dan orang yang diteror tersebut dituntun untuk mencari seorang perempuan bernama Esseker yang ternyata adalah mantan pasien rumah sakit jiwa sekaligus juga perempuan yang dulunya menjadi wadah tempat bersemayamnya para hantu. Di akhir cerita film tersebut, tokoh bernama Anna Esseker yang telah menjadi biarawati itu mengorbankan dirinya untuk dirasuki kembali oleh para hantu demi menyelamatkan keluarga Ben Carson, si tokoh laki-laki yang menjadi korban teror para hantu.

“Mirip, sih… tapi, kan kalau di Mirrors hantunya banyak banget,” saya menanggapi Ageung.

“Hahaha, ya sama aja, yang penting hantunya lebih dari satu!” ujar Ageung.

Setelah mendengar gosip dari PT Cosmo itu, saya belum mendengar lagi kabar terbaru dari Ageung tentang kesurupan di PT Nina. Mungkin isunya sudah tidak semenarik ketika perisitwa kesurupan massal itu terjadi, atau mungkin karena buruh-buruh di PT Nina 1 sedang sibuk dengan tenggat waktu ekspor perusahaan sehingga kekurangan waktu untuk bergosip.

Yang membuat saya sedih adalah hingga sekarang saya tidak mendengar ada kisah misteri tentang buruh laki-laki yang mati keselek cireng. Padahal, cerita itu pasti lebih menarik untuk dikait-kaitkan dengan peristiwa kesurupan massal. Hahaha!


[1] Saya akan mencoba memastikannya nanti kepada Ageung.

[2] Ageung tidak menyebutkan letak PT Cosmo tersebut. Akan tetapi setelah menelusurinya di google, kemungkinan PT Cosmo yang dimaksud adalah perusahaan elektrik yang terletak di daerah Cibadak, Sukabumi.

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

1 thought on “Dulu, ada kesurupan juga…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s