Dari Parungkuda; Kesurupan Massal

“Karena ada rasa empati itu, orang yang ada di dekatnya akan merasakan hal yang sama,” kata Ageung. “Kesurupan itu sendiri, kan dipicu bukan karena adanya hal yang bersifat magis.

“Dari Parungkuda” adalah kategori atau rubrik baru di dalam blog ini. Dalam rangka mengalihkan kepenatan menghadapi skripsi yang gak kelar-kelar, saya mengganti tema blog ini menjadi lebih sederhana, tetapi justru dengan tampilannya yang sederhana itu saya menambahkan beberapa kategori/rubrik, salah satunya rubrik ini (sekaligus ngerayu Ageung supaya keselnya ilang… #eaaa).

Ageung
Ageung

Bagi saya sendiri, rubrik ini pastinya akan menjadi istimewa dan unik di antara rubrik yang lain karena saya akan menyajikan tulisan-tulisan khusus tentang Ageung dan cerita-ceritanya di Parungkuda, sebuah desa yang terletak di perbatasan antara Bogor dan Sukabumi. Ageung, yang sekarang bekerja sebagai buruh pabrik wig milik perusahaan Korea, belakangan ini memiliki cerita-cerita yang menarik. Saya masih menanti-nanti tulisan terbaru di blognya, dariwarga.wordpress.com, tentang “perdagangan gelap gorengan oleh buruh” yang sering ia ceritakan dengan begitu semangat. Saya juga tidak sabar menunggu foto-foto coretan dinding toilet perempuan di pabrik PT. Nina, yang kata Ageung penuh berisi percakapan para buruh tentang pasangan lesbi. Itu dua di antara sekian banyak cerita Ageung tentang Parungkuda, tentang pabrik, tentang lingkungan tetangga rumahnya, tentang hobi Si Abah yang suka mancing, tentang kebiasaan Indah (si bungsu) menghabiskan waktu berjam-jam mendengarkan lagu Pop Korea, tentang si Aa Randi yang badungnya setengah mati, atau kepiawaian ibunya dalam mebuat kue bolu berloyang-loyang, dan masih banyak lagi. Masalahnya, selain karena durasi jam kerjanya dari pukul delapan pagi hingga enam sore di pabrik sehingga menyita waktunya untuk menulis, Ageung sering kali juga malas untuk mulai menulis kalau tidak saya desak. Dia bercerita hari ini, nulisnya nanti-nati atau besok-besok, lama kelamaan dia sendiri lupa pernah bercerita apa saja (yah, begitulah Ageung… Hahaha!). Oleh sebab itu, saya berinisiatif untuk menulis sendiri cerita-cerita dari Ageung di rubrik ini. Setiap dua atau tiga minggu sekali saya datang ke Parungkuda mengunjungi Ageung, atau setiap malam saya berbincang dengannya melalui ponsel. Jadi, saya memiliki banyak cara untuk mendapatkan cerita-cerita baru. Saya yakin, ceritanya pasti menarik untuk dibaca oleh orang banyak.

Dokumen-Tooftolenk_Dian-Ageung-Komala-02

Tentunya, rubrik ini tidak akan menjadi lahan masturbasi: menjadi kategori tulisan yang berisi curhatan sampah mengenai kami berdua (#uhuk!). Sama sekali tidak! Justru, saya berpikir tulisan-tulisan yang akan saya kumpulkan ini menjadi semacam pilot project untuk memetakan Parungkuda. Jikalau dariwarga adalah blog tentang Parungkuda yang berasal dari perspektif warga lokal Parungkuda (Ageung dan orang-orang di sekitarnya), rubrik saya ini bisa dibilang menjadi wadah yang menampung catatan-catatan tambahan yang ditangkap oleh orang luar Parungkuda, yaitu saya sendiri. Semuanya murni berasal dari cerita Ageung kepada saya mengenai peristiwa-peristiwa yang ia alami, atau berasal dari amatan saya mengenai peristiwa-peristiwa yang saya alami di Parungkuda, atau cerita tentang Ageung-nya sendiri sebagai akumedium yang bersirkulasi di lokasi tersebut. Pokoknya, tulisan-tulisan ini bukan tulisan arogan yang mengobyektifikasi Parungkuda, melainkan cerita yang cair dengan peristiwa massa, massa-nya sendiri, dan lokasi tempat mereka berada.

***

Dua hari yang lalu, Ageung bercerita bahwa sekitar empat puluh orang buruh di PT. Nina sempat mengalami kesurupan. (“Kayak yang di tivi tivi, nih!” kata saya dalam hati).

“Aku gak tahu cerita awalnya, tapi katanya, sih satu persatu pada pingsan, terus jerit-jerit. Pertamanya 8 orang, nambah terus sampe yang aku denger terakhir 40 orang,” Ageung menjelaskan.

Ageung belum pernah bercerita kalau di PT. Nina ada narasi atau gosip tentang keberadaan setan. Tentunya peristiwa kesurupan itu akan cocok skenarionya jikalau memang misalnya di pabrik tersebut ada semacam legenda urban di kalangan buruh mengenai hantu atau setan penunggu gedung pabrik. Saya mulai membayangkan sebuah kisah misteri tentang seorang buruh perempuan pabrik yang mati gantung diri karena ditinggal kekasihnya (#dubrak!). Memang, sih, Ageung adalah pegawai baru di pabrik itu, dan mungkin teman-temannya belum sempat bercerita tentang misteri-misteri seputar pabrik yang angker.

Akan tetapi, ada kemungkinan lain: bisa jadi aksi kesurupan massal itu hanyalah sebuah pertunjukkan dari para buruh untuk melakukan semacam protes. Saya teirngat cerita saudara saya, Hauza, tentang aksi kesurupan massal siswa-siswi di sebuah SMA tempatnya bekerja sebagai pembimbing ekstrakurikuler Rohani Islam (Rohis). Hauza mengatakan bahwa siswa-siswi itu tidak benar-benar kesurupan. “Mereka hanya berpura-pura untuk mencari perhatian, umumnya didorong oleh latarbelakang masalah pribadi. Itu wajar di kalangan remaja, mereka masih labil dan sedang mencari jati diri,” jelas Hauza ketika menceritakan aksi bijaknya dalam menangani kasus tersebut. Nah, tidak menutup kemungkinan motif yang sama juga terjadi di kalangan buruh PT. Nina, kan?

Lebih dari satu minggu yang lalu, Ageung menulis tentang gaji buruh pabirk PT. Nina yang jumlahnya lebih kecil dibandingkan dengan UMR Jakarta. Meskipun dalam tulisan itu Ageung tidak menceritakan soal keluhan para buruh pabrik secara eksplisit, saya tetap berspekulasi bahwa persoalan gaji mungkin ada hubungannya dengan peristiwa kesurupan massal tersebut. Kesejahteraan buruh yang dipotong habis-habisan oleh para penguasa pabrik bukanlah masalah yang baru. Dengan berpura-pura kesurupan, buruh bisa mengekspresikan protes mereka kepada atasan (semacam inovasi dari mogok kerja, barangkali?! #asyek).

Ageung sendiri berpendapat bahwa aksi kesurupan yang melibatkan puluhan buruh itu dapat terjadi karena rasa empati yang ada pada masing-masing buruh satu sama lain. Ia masa bodoh dengan penyebab “kesurupannya”, dan lebih tertarik untuk menganalisa mengapa aksi itu bisa terjadi secara massal.

“Karena ada rasa empati itu, orang yang ada di dekatnya akan merasakan hal yang sama,” kata Ageung. “Kesurupan itu sendiri, kan dipicu bukan karena adanya hal yang bersifat magis. Hahaha! Sotoy, nih bahasanya!”

Hm… cukup rasional, sih…

Yah, begitulah… mudah-mudahan nanti Ageung punya kabar terbaru tentang buruh yang kesurupan (sekarang saya tertarik dengan kisah misteri seorang buruh laki-laki yang mati karena keselek cireng. #takjedes … Kita tunggu saja ceritanya!).

***

Sekian dulu cerita pertama Dari Parungkuda. Nantikan cerita-cerita menarik lainnya. #asyek

NB: Seharusnya di dalam tulisan ini saya mencantumkan foto-foto yang relevan dengan kisah kesurupan massal di pabrik. Berhubung saya tidak punya data fotonya, ya kenalan sama Ageung saja dulu… Noh, potonya udah gue pajang! Hahaha!

Author: Manshur Zikri

Penulis

4 thoughts on “Dari Parungkuda; Kesurupan Massal”

  1. masalah kesurupan itu lebih dititikberatkan pada suasana tegang maka kondisi psikis jadi labil sementara target kerja tinggi karuan saja kita menjadi kalut oooeee….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s