untitled

Saya juga punya hak suara dan pendapat. Dan untuk ranah dunia maya, dengan beberapa paragraf inilah saya berpendapat dalam usaha menyalurkan aspirasi yang lebih beretika. Artikel opini ini tidak menutup diri dari kritik.

Saya percaya, dan dari dulu pula saya memiliki keyakinan ini, bahwa yang dilihat sebagai sebuah prestasi ialah ketika kita bisa menghasilkan sebuah perubahan yang baik bagi diri sendiri dan orang lain. Dan saya juga percaya bahwa keyakinan ini mestinya dimiliki oleh semua orang. Terlebih mahasiswa Universitas Indonesia, yang memiliki tingkat intelektualitas yan baik dan keterbukaan cara pandang dalam melihat persoalan, keyakinan ini menjadi sebuah modal mutlak yang harus dimiliki.

Lantas apa jadinya ketika kita mengikis keyakinan itu hanya karena hasrat untuk menjadi bangga pada suatu hal yang, pada dasarnya, hanyalah kebanggan semu dan tidak memiliki dampak yang berarti pada perubahan yang kita bayangkan?

Coba lihat lagi, apakah kita sudah berhasil melakukan perubahan kalau hingga detik ini, pertengkaran sepele selalu menjadi hal yang dibesar-besarkan di atas nama emosi? Beranjak dari fase ‘bocah’ menuju fase kedewasaan berpikir dan kebijakan sikap pun, sepertinya saya pesimis ketika, lagi-lagi, harus menonton debat kusir yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Kalau sudah seperti itu, saya menjadi bertanya-tanya: apa gunanya kegiatan yang selama ini kita perjuangkan untuk terus dipertahankan tradisinya, jikalau, ujung-ujungnya kita melestarikan sifat iri hati, dan sikap saling tuding-menuding, salah-menyalahkan, sindir-menyindir?

Coba pikir lagi baik-baik, kita sedang mempertengkarkan apa? Yang berlalu biarlah berlalu. Segala yang dianggap berhasil akan menjadi titik atau tolak ukur untuk meningkatkan kualitas pencapaian, sedangkan yang gagal akan menjadi jejak koreksi agar tidak mengulangi kesalahan dan kegagalan baru. Masalahnya, siapa yang berhak dan mampu menentukan mana yang berhasil dan mana yang tidak? Toh, kegiatan yang kita lakukan hanyalah sebuah inisiatif yang berangkat dari semangat kebersamaan, mengapa malah justru memunculkan keretakan? Ini konyol, namanya!

Pertengkaran yang menjadi tontonan ini memang “menarik” dan “menghibur”, yang dengan secara bersamaan juga membawa ketidakharmonisan. Dan pertemuan-pertemuan yang dilakukan, baik itu di dunia maya maupun dunia nyata, akan menjadi percuma jikalau kita semua sama-sama membawa kepala batu dan kebanggaan semu yang ingin terus dipertahankan.

Kita ingin bangga? Ya berbanggalah pada prestasi yang benar-benar riil! Berbanggalah pada capaian-capaian yang memang menghasilkan perubahan yang benar-benar dapat dirasa pengaruh baiknya. Jikalau merujuk pada pertengkaran yang terjadi, rasa-rasanya kita semua gagal membawa perubahan yang baik itu.

Di kampus sana, masih ada bibit-bibit baru. Mereka membutuhkan bimbingan kita yang sudah memiliki pengalaman melakukan berbagai hal. Menurut saya, memberikan perhatian yang sebesar-besarnya kepada bibit-bibit baru ini agar mereka dapat belajar dengan cara yang lebih baik, dan untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang kita lakukan di waktu lalu, adalah sebuah persoalan yang lebih penting ketimbang berdebat kusir tiada henti yang justru memberikan contoh yang buruk, dan bahkan memalukan.

Ayo, lah… lebih baik kita bersenang-senang, duduk berkumpul bersama, tertawa dan bernyanyi di sebuah meja yang, saya yakin, sangat dicintai oleh kita semua. Tidak ada gunanya bertengkar seperti ini.

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s