lima november dua ribu dua belas pukul empat sore

“Semakin rapi saja, kau!” kata Saban pasca tegukan pertamanya terhadap kopi yang baru saja datang ke meja itu.

“Tadi ada pertemuan,” kata orang yang disapa Saban. Dia datang menghampiri kami. Dan dia memang rapi.

“Sementara yang lain, tidak!” Saban berkata tanpa me-ngindahkan alasan pemuda itu. Dia terus melihat pemuda itu lekat-lekat sementara si pemuda memposisikan badannya di tempat duduk senyaman mungkin. Kemudian, pemuda itu berkata seraya mengerutkan kening, “Yang lain?!”

“Ya, yang seperti aku ini, yang masih sempat berharap dari orang-orang yang memiliki akses dan bisa berbuat lebih.”

“Ah, kau sudah banyak berbuat lebih dibanding kami,” si pemuda berpenampilan rapi itu tersenyum.

Aku justru menangkap senyum yang membuat aku ingin marah sementara Saban sedikit lebih dapat mengontrol dirinya agar perbincangan itu tetap berlanjut.

“Memang, tetapi tidak serapi dengan apa yang seharusnya bisa kau lakukan,” ujar Saban. “Ayolah, akui saja! Siapa yang mau mengikuti kami yang bahkan untuk memakai sepatu ke dalam kelas pun harus berpikir dua kali? Dan itu menjadi alasan mengapa kau, dalam waktu dua semester terakhir, berpenampilan seperti ini. Kalau tidak ada yang mau mendengarmu sedari awal, kau tidak akan datang dari ruangan di atas itu sambil menenteng atribut-atribut kebanggaan.”

“Aku tidak pernah bangga cuma karena jaket,” kataku, mencoba menimpali. Mereka hanya memandangku tanpa ekspresi.

“Tapi apa yang sudah kau lakukan selama ini benar-benar membantu, Saban!” kata pemuda itu. “Kau sendiri yang bilang bahwa harus ada penyeimbang. Kau telah melakukannya de-ngan baik. Siapa yang tidak mendengarmu?”

“Kami didengar?! Ya!” Saban berucap dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya. “Tapi apakah yang kami serukan dijalankan oleh orang-orang?! Tidak!”

“Ya, begitu juga dengan apa yang kami alami!” si pemuda itu balas menanggapi seraya merenggangkan badannya. Jelas sekali, dia terlihat begitu lelah. “Tidak mudah mengubah kebiasaan orang-orang yang sudah nyaman dengan keadaan.”

“Makanya kami menunjukmu, Bach!” aku emosi. Saking emosinya, tanpa sadar aku memukul meja hingga kopi Saban terguncang dan sedikit isinya tumpah. Karena sikap itu, aku jus-tru mendapat lemparan sebatang korek api dari Saban. Dia sudah menyulut rokoknya sekarang.

Nah, aku suka in! Perbincangan biasanya akan menjadi lebih menarik kalau Saban sudah menghisap sebatang rokok.

Kami duduk di sebuah meja batu, di taman. Tempat ini sepi, tetapi tidak luput dari pandangan orang-orang yang melintasi koridor. Koridor itu cukup panjang, mulai dari gedung kelas bertingkat enam di ujung sana, melintasi mushola, perpustakaan, berbelok ke kiri, hingga akhirnya berakhir di kantin. Meja taman tempat kami duduk, berjarak sekitar dua puluh meter dari area kantin. Tentunya, perbincangan kami ini, yang sudah seperti pertemuan konspirasi-konspirasian, tak akan terdengar oleh orang lain kecuali jika mereka datang mendekat dan ikut berbincang. Namun, posisi kami mencolok. Hingga sekarang, aku sudah melihat lebih dari lima orang memperhatikan kami, baik ketika sedang berjalan atau sedang duduk di meja-meja kantin yang memiliki jarak pandang jelas ke arah meja ini.

“Dulu kita pernah sepakat, kan, bahwa mengubah keadaan itu memang sulit?! Sekarang kami sedang berusaha.”

“Mengusahakan apa?”

“Ah, lagi-lagi kau melemparkan pertanyaan yang sebenarnya kau sendiri sudah tahu jawabannya, kawan!”

“Aku hanya ingin sebuah ketegasan,” kata Saban. “Bagaimana aku bisa percaya kalau kau hanya sibuk mengucapkan kata mimpi sementara langkah-langkah yang kau lakukan untuk menggapai mimpi itu keliru!?”

“Keliru? Itu, kan menurutmu,” Bach tertawa.

“Kalau tidak keliru, lalu apa hasilnya?”

“Kau juga pernah bilang, kan, kalau hasil itu tidak penting, proses lah yang paling utama,” Bach membalas.

“Ya, proses. Tapi aku tidak melihat ada proses di sini…”

“Kau saja, mungkin, yang memiliki takaran terlalu tinggi sehingga apa yang sedang kami usahakan tidak kau anggap sebagai proses.”

“Bukan tarafnya yang tinggi, tetapi memang proses itu tidak pernah terlihat,” Saban membakar rokoknya yang sempat mati.

Aku juga merasa aneh, mengapa tiba-tiba angin berhembus? Tidak terik, tidak pula dingin. Ya, seandainya saja kau sadar, semua ini hanyalah cerita fiksi.

“Mimpi bukan sekedar ilustrasi mengambang, apa yang fiksi berangkat dari apa yang nyata!” gerutu Saban seolah-olah membaca pikiranku.

“Kau mengatakan itu berulang-ulang, Saban! Sejak kita masih mengalungkan nametag, kalimat itu sudah menjadi andalanmu dalam beradu argumen.”

“Karena memang layak untuk menjadi andalan,” Saban berkata sambil mengangkat kedua bahunya. “Bahwa imaji-imaji kita…”

“…didorong oleh pengalaman-pengalaman dan bantahan-bantahan yang berkecamuk di dalam batin!” Bach menyambung kalimat itu sebelum Saban menyelesaikannya. “Aku masih ingat itu, kawan!”

“Dan aku juga tahu kalau kau setuju dengan ide itu,” Saban menyeruput kopinya.

Karena, sepertinya, aku tidak memiliki kesempatan lebih banyak untuk berbicara, aku pun menghisap rokok yang sedari tadi tersangkut di telinga kiri. Aku sampai membakar korek api empat kali karena tiga korek sebelumnya mati tertiup angin.

“Nah, itu kau tahu! Tapi masih saja begitu… ya, aku mengerti, niatmu baik. Kami justru membutuhkan orang-orang sepertimu. Tapi, kawan, daripada kau terus mempermasalahkan hal ini, seharusnya kau menaruh perhatian pada hal-hal yang lebih besar, yang lebih pelik. Kau juga pasti tahu apa yang aku maksud, kan?”

“Bagaimana mungkin aku bisa beranjak lebih jauh sementara kekuatan yang aku harapkan sedang memble?”

“Ya, kan, caramu selama ini memiliki kekuatannya sendiri?!”

“Kekuatan untuk meromantisasi masalah,” kata Saban.

Kami diam.

“Kau takut sendiri, ya, Saban?” tanyaku mencoba menggodanya.

“Mungkin iya,” jawab Saban pelan.

“Tapi…” sambungnya. “bukan… bukan takut sendiri. Aku justru takut, mungkin bukan ‘takut’ kata yang paling tepat, tapi ‘gelisah’…”

Asyek, ‘gelisah’!!!” aku memberi penekanan pada kata itu.

“Kau mengerti, tidak, mengapa aku bersiteguh bahwa tidak ada proses?!” tanya Saban kesal.

“Tidak!” aku dan Bach menjawab serentak.

“Makanya, coba jelaskan, langsung saja, masalahnya apa?!” seru Bach. “Kami terbuka untuk dikoreksi. Apa yang salah dari langkah-langkah kami?”

Saban menarik napas. Dia menghisap rokoknya yang sudah begitu pendek, lalu membuangnya. Kemudian, dia menyeruput kopi lagi. Kopinya sudah tinggal sedikit.

Kami diam lagi, sementara Saban mendongakkan kepalanya, lalu melihat Bach, terus menoleh ke kanan (aku tidak tahu dia melihat ke mana atau ke siapa), keningnya berkerut. Akhirnya, dia mengambil sebatang rokok lagi dan membakarnya.

“Begini,” ujarnya memulai. “orang sering berkeluh ketika lembaga-lembaga tidak membumi, atau gagal membumikan sebuah isu. Seperti yang sering kau keluhkan padaku, terkait spanduk itu, misalnya. Mengapa bisa begitu?”

“Ya, kalau aku tahu jawabannya, sudah dari dulu aku lakukan,” jawab Bach. “Makanya aku mengajakmu berbincang, mungkin saja kau punya saran.”

“Ya, aku sudah lama juga ingin membicarakan hal ini.”

“Lalu apa yang salah?” tanyaku. “Bukankah itu salah satu cara yang sering kau sebut bisa dilakukan, Saban, konsep A-I-D-A, komunikasi? Bagaimana membuat ide-ide ini menempel di kepala orang sehingga semuanya tergerak untuk ikut berpartisipasi? Kau bilang: dengan propaganda.”

“Tahu apa kita tentang propaganda?!” bentak Saban. Kali ini, dia yang memukul meja. “Mendiskusikan film G30S/PKI saja, yang datang tidak lebih dari tujuh orang. Ketika diskusi, sotoy semua, tapi menonton film-nya dengan serius saja, tidak.”

“Jadi, apa itu propaganda?!” Bach bertanya kepada Saban, dan pertanyaannya itu terkesan menguji dan menantang wawasan si Saban. Aku tahu benar bahwa Saban sangat mengerti tentang hal-hal yang seperti itu. Dan aku akan sangat senang jika dia bisa menjabarkannya panjang lebar dan membuat lidah si Bach menjadi kaku tidak bisa menjawab. Biar dia tahu rasa!

Namun, harapanku itu patah seketika ketika Saban justru berkata, “Aku tidak tahu!”

“Lah, terus mengapa kau, dalam selebaran-selebaranmu itu, berkoar-koar tentang propaganda?!” tanya Bach. “Bahkan dalam setiap diskusi, kau selalu mengusung ide-ide itu.”

“Ya, mungkin waktu itu aku salah ketika menyebut kata ‘propaganda’…”

“Oh, berarti kau sekarang sedang mencuci tangan?!” kataku.

Tidak mempedulikan kataku itu, sementara pandangannya ke Bach sedemikian lekat, Saban justru berkata, “Sudah sering aku bilang, semuanya harus dilakukan berulang-ulang. Bahasa iklan! Selain itu, cara-cara begini tidak akan pernah bisa tanpa kajian mendalam. Merealisasikannya harus strategis!”

“Apa yang kau maksud dengan strategis?”

“Yang keliru dari kalian adalah dalam setiap cara yang kalian lakukan, ada unsur pendiskreditan dan justifikasi publik!”

“Kau yang justru selalu mendiskreditkan orang-orang seperti kami!” Bach menanggapi cepat.

“Pejabat memang harus siap untuk disalahkan!”

“Tidak bisa begitu…” Bach mulai tidak terima, tetapi sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, Saban melanjutkan, “masyarakat adalah raja, dan buatlah raja senang setiap saat. Belai hatinya!”

“Bagaimana caranya?” tanyaku.

“Kita tidak difasilitasi,” jawab Saban.

Aku rasa Bach langsung mengerti apa yang dimaksud oleh Saban karena dia mengangguk-anggukkan kepala.

“Kau adalah tokoh, kau adalah ikon, kau adalah panutan!” Saban menunjuk-nunjuk muka Bach. “Bagaimana bisa orang-orang yang ada di sekelilingmu melakukan apa yang kita harapkan ketika kau tidak memberikan teladan. Teladan tidak dilihat dari sekadar caramu berpakaian. Citra, itu penting. Pertanyaannya, bagaimana membangun citra yang baik dengan cara yang baik?! Itu!”

Kami diam lagi.

Ya, aku juga, akhirnya, mengerti, bahwa satu masalah (dan mungkin inilah yang dianggap oleh Saban sebagai ‘proses’ yang tidak pernah terlihat itu) yang melekat pada lembaga-lembaga ialah ketiadaan ruang-ruang interaksi dengan publik; ruang-ruang publik yang tidak hanya diisi oleh basa-basi. Saban menuntut adanya satu ruang akses bersama, dari kedua belah pihak, untuk saling berkomunikasi, lengkap dengan rentetan pandangan yang holistik, atau yang sering ia sebut sebagai ‘kajian’. “Bertindaklah sesuai dengan status yang melekat di bajumu itu: intelektual!” kata Saban satu hari. Aku masih ingat itu.

“Ya, aku sebenarnya menuntut di lingkungan yang lebih internal saja, Bach!” kata Saban akhirnya. “Kalau dari luar, itu banyak. Paling-paling, masalahnya adalah karena kehilangan ongkos, makanya mereka muncul sporadis! Tapi kalian, kalian kebanjiran sumber daya manusia. Kalian punya kekuatan; kau punya kekuatan! Masalahnya sekarang, bagaimana kekuatan itu bisa diberdayakan, lalu menularkannya ke lingkungan yang lebih luas, yang di luar lingkaran kalian. Tidak mungkin hanya berpangku tangan pada idealis-idealis nyentrik yang, bisa dibilang, hanya muncul dalam beberapa dekade!!!”

“Tapi, susah, kawan!” kata Bach. “Susah untuk mengajak yang lainnya mau menulis. Selalu ada banyak alasan.”

“Mengapa kau tidak melakukannya terlebih dahulu?!” kata Saban, dengan gayanya yang khas (bagian yang paling aku suka) ketika menutup perbincangan. Katanya, “Belum pernah aku melihat pemimpin lembaga menulis kritik. Bukankah kau ingin membentuk citra yang baik? Maka lakukanlah itu!”

Kami diam. Kemudian, Saban berkata lagi, “Aku tunggu!”

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s