Belaka-belaka Performa Kita

Saya mulai menduga, jangan-jangan yang ada di dalam kepala kita hanyalah popularitas, dan oleh karenanya tak aneh jika banyak mahasiswa yang bangga ketika bisa ngemeng dan ngecap soal propaganda.

Tulisan berikut ini merupakan sebuah esai yang saya buat pada tanggal 1 November 2012. Pada Bulan November, saya memiliki rencana untuk menyebarkan tulisan ini di kampus FISIP UI, tetapi karena kendala kesibukan di komunitas dan kegiatan kampus (ditambah dengan persiapan menghadapi ujian), niat tersebut tidak terlaksana. Mengingat konteks waktu yang sudah berlalu, tulisan ini pun akhirnya hanya menjadi penambah daftar arsip di komputer saya. Saya memuatnya di blog ini sekedar untuk dapat dibaca-baca, dan mungkin saja ada pembaca lain yang memiliki pendapat berbeda.

—————–***—————–

Ketika saya mencoba membuat tulisan ini, terlintas di pikiran saya sebuah pertanyaan: “Apa hebatnya aksi-aksi macam begini jikalau akhirnya hanya akan menjadi argumentasi yang dilihat sambil lalu dan tak memberi pengaruh apa-apa?” Paling-paling, ini hanya akan menjadi selebaran gratis di sela-sela aktivitas nongkrong di Takor atau pengisi waktu luang sembari menunggu azan di musholla. Meyakininya sebagai sebuah cara untuk memancing perubahan pun, atau sebutlah meningkatkan jiwa kritis kita, belakangan ini saya rada pesimis.

Meskipun begitu, bagaimana pun, mau tidak mau, saya melihat bahwa memang inilah satu cara yang paling mudah: menulis. Setidaknya, cara ini lebih sederhana, tapi elegan, dibanding cara-cara lain yang memiliki tujuan sama. Karena menulis di surat kabar sekelas KOMPAS atau TEMPO itu sulit—opini-opini mahasiswa tenggelam oleh amatan-amatan sekelas ‘profesor’, dan orang-orang seperti Bagun dan Mahargasarie perlu menjaga kredibilitas konten media massa miliknya dengan menyajikan tulisan-tulisan para intelek sementara intelektualitas mahasiswa hari ini dipandang sebelah mata—dan mempromosikan tulisan di media on-line kurang efektif karena se-ring dianggap ‘masturbasi’, maka pilihannya jatuh pada kertas fotokopian. Di jaman social media begini, kertas fotokopian seperti ini juga bisa langsung mengalihkan perhatian publik karena keberhinggapannya di atas tangan pembaca tidak akan tenggelam oleh kultwit-kultwit para “pemikir” atau keluhan akan tugas kuliah dan kegalauan mencari pasangan.

Saya rasa, ini pula yang menjadi alasan mengapa kritikan-kritikan melalui selebaran anonim, seperti yang pernah muncul sekitar 1-2 tahun lalu di FISIP UI, seringkali dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa yang gelisah dengan kampusnya. Bagaimana tidak, forum-forum diskusi oleh mahasiswa jarang sekali diselenggarakan. Kalau pun ada, penyelenggaraannya hanya akan jadi ajang unjuk gigi, orasi dadakan, dan debat kusir, serta dihadiri oleh mahasiswa berjumlah tidak lebih dari dua puluh orang (sering juga cuma dua orang). Menyebutnya sebagai satu pertarungan atau konflik kepentingan, saya sendiri sering tertawa dan berujar pada diri sendiri: “Tahu apa kita dengan politik kampus selama gejala-gejala KKN di kampus ini masih hanya jadi perbincangan iri hati yang berbisik-bisik?”

Saya mulai menduga, jangan-jangan yang ada di dalam kepala kita hanyalah popularitas, dan oleh karenanya tak aneh jika banyak mahasiswa yang bangga ketika bisa ngemeng dan ngecap soal propaganda.

Pola kegiatan-kegiatan mahasiswa pun juga begitu. Kesuksesan yang ingin dicapai ditakar dari perspektif “kuantitas pe-ngunjung”—demikian beberapa mahasiswa FISIP UI mengistilahkannya—sedangkan usaha-usaha sosialisasi ide, sebagai tolak awal untuk aksi konkret, sering terlupakan (dan akhirnya aksi konkret itu tak pernah jadi ada). Kerangka berpikir kita menunjukkan sebuah ujung panah yang menusuk kotak berisi kata “eksistensi”. Hal ini, seperti biasanya saya berpendapat, menyebabkan lembaga-lembaga mahasiswa sibuk dengan perencanaan acara-acara bersifat selebrasi dan pamer diri; ma-sing-masing himpunan mahasiswa di setiap jurusan/departemen di FISIP UI terobsesi untuk unjuk kebolehan—ajang seperti Olimfis dan Gelas Maba dijadikan kesempatan untuk “mempermalukan” lawan. Cita-cita yang digadang-gadang, misalnya #satufisip, pun hanya menjadi hiasan spanduk di depan musholla. Maklum saja jika Beringin, di edisi ke-25 FISIPERS (Oktober, 2012), dengan sedikit emosi, menulis dan melempar pertanyaan: “FISIP masih satu, kan? Atau jurusan dan organisasi di dalamnya sudah asyik dengan proyek dan lapak masing-masing? Pfftt…”

Saya tidak sedang menjawab pertanyaan saya di awal, melainkan ingin berpendapat bahwa gelagat kehidupan mahasiswa sekarang ini, terutama FISIP UI tempat tulisan ini disebarkan secara khusus, penuh dengan ‘pertunjukan-pertunjukan’. Generasi kita adalah generasi performa. Perhatian kita terhadap hal-hal yang lebih pelik dibenamkan oleh hasrat diri yang ekspresif; interaksi di antara mahasiswa penuh dengan pengungkapan ke-aku-an yang tinggi. Kita bisa saja terpancing, dengan sedikit bertolak pinggang tapi sesungguhnya begitu tertarik, oleh sentilan dan jargon, atau bahkan sekarang oleh sekadar hashtags.

Ternyata, kita masih kekurangan ‘pertunjukan’. Benar-benar begitu datar, dan oleh sebagian orang, keadaan ini jelas dapat dirasa. Ada banyak ketidaksetujuan diajukan kepada penyelenggara-penyelenggara acara pada setiap pertemuan dengan para panitia. Ketidakterimaan pada sebuah putusan diperpanas dalam gosip-gosip, lalu akhirnya, memutuskan untuk tidak ikut terlibat. Sudah begini, lagi-lagi masih ada yang mengeluh bahwa dinamika kehidupan kampus kita begitu-begitu saja (dan saya adalah salah satu yang paling sering mengeluhkan ini).

Belakangan, para pengkritik dituding memiliki kegagalan. Pertama, kritik yang sering dilemparkan, seperti melalui tulisan ini, misalnya, hanya berhenti sebagai sebuah bacaan karena tidak pernah ditanggapi secara serius oleh pengurus-pengurus lembaga. Kalimat birokratis seperti “Terimakasih atas masukannya, akan kami pertimbangkan!” lah yang menjadi upah bayaran atas jerih payah para penulis dalam menjabarkan argumentasinya secara terstruktur. Kedua, para pengkritik, yang dulu aktif melakukan serangan-serangan hingga dicap dengan kata “Apasih!?”, dituding gagal melakukan kaderisasi karena, nyatanya, sekarang kita tak bisa menghitung dengan jari (bukan karena banyak, tetapi karena tidak ada) penulis-penulis yang mau mengutarakan kritikannya. Kehilangan sosok seperti Beringin, yang selalu berbicara paling akhir di setiap forum diskusi dari BEM FISIP UI, menjadi kekhawatiran baru, bahkan kekhawatiran itu muncul dari pihak BEM dan BPM FISIP UI sendiri. Kaget juga saya ketika menyadari bahwa dua lembaga ini merasa ketagihan “dicubit”. Atau jangan-jangan, mereka membutuhkan sebuah pertunjukan yang ‘seru’ agar setiap mahasiswa FISIP UI tertarik untuk datang dalam forum-forum seperti itu? Dan saya tahu pasti, pengkritik sejati bukan menginginkan hal seperti itu, melainkan sebuah perubahan yang sesuai dengan yang ia tuntut.

Beberapa orang yang dulu suka melempar kritik dengan berbagai cara, kini biasanya memberikan alasan: “Sudah tua! Tidak mau terkena sindroma pasca kekuasaan.” Entah sejak kapan pula para pengkritik memiliki kekuasaan, karena seharusnya, menurut saya, mereka berada di luar lingkaran ‘kekuasaan’ tersebut. Oleh sebab itu, menjadi sah kiranya jika kritik dapat hidup hingga akhir jaman, dan semua orang berhak untuk terus melakukan kritik dari sejak dia muda hingga tua, bahkan jika dia tidak bisa lagi berjalan, melihat, dan berbicara.

Jadi, ketiadaan kritik, tentunya disebabkan oleh hal-hal lain. Contohnya, selebaran anonim berhenti berkiprah karena kehabisan ongkos dan kehilangan penulis-penulis yang berani dan mampu berperilaku bijak; penulis-penulis yang memiliki hasrat berpikir begitu tinggi tanpa terperdaya oleh godaan-godaan performa belaka dan popularitas, yang menorehkan namanya bukan untuk dikenang, tapi sebagai ketegasan tanggung jawab.

***

Kita harus mengakui bahwa kita kekurangan orang yang mau mengkritik lingkungannya sendiri. Saya ragu, apakah nanti tulisan ini akan ada yang mengkritiknya? Saya perlu meng-ingatkan, keberadaan lembaran ini tidak akan bertahan selama dua puluh empat jam! Sebentar lagi, mungkin dia akan menjadi bagian dari sampah-sampah yang ada di bawah meja Anda.

Beberapa hari ini, kegelisahan seperti ini mulai dijawab (dan saya juga turut menjawab). Kedewasaan para pengkritik kini diuji untuk mau lebih peka dalam memilah apa-apa yang perlu mendapat kritikan yang membangun. Jikalau inisiatif-inisiatif seperti ini, yang mulai kembali hidup pada permulaan Ujian Tengah Semester Gasal ini, masih diragukan dan dilihat hanya sebagai bagian dari kecenderungan “hasrat performa”, sebagai cara untuk menjadi populer di lingkungan kampus, saya menangkisnya dengan alasan: saya adalah manusia Takor yang ingin membaca “perdebatan-perdebatan intelektual” sembari menunggu dan menghabiskan nasi alo dan es teh Mang Ari.

Perhatikan lebih jauh dinding-dinding di kampus ini! Orang-orang yang mengaku merasa bosan mulai menunjukkan aksi-aksinya. Saya lantas bertanya apakah alasan yang mendorongnya ialah performa-performa belaka? Atau adakah kesadaran untuk mengkomodifikasi hasrat-hasrat performa itu menjadi sebuah strategi untuk melakukan perubahan? Bagaimana pun, kemunculannya masih ditanggapi oleh celetukan sinis, seperti “Kayaknya ada yang mau melakukan perubahan, nih…” atau “Cie gue dikritik, dipantau, dsb…” atau “mau nyalonin diri jadi ketua BEM tahun depan, ya? Ada unsur kampanyenya!” Semuanya melihat inisiatif seperti ini sebagai performa, dan ditanggapi dengan performa pula, seolah gerakan ini salah dan sedang mencari musuh.

Dan akhirnya, sebagai satu gaya untuk menyambut baik inisiatif-inisiatif kritis, saya harus kembali mengeluarkan pertanyaan ini: DI MANA KESADARAN KITA, MAHASISWA?

Depok, 1 November 2012

Tooftolenk Manshur Zikri

Author: Manshur Zikri

Penulis

1 thought on “Belaka-belaka Performa Kita”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s