Surat kedua untuk Nelly

Sebenarnya, sederhana saja, ada tiga syarat: 1) menawan, 2) riang plus supel; 3) berada di lingkaran orang-orang yang punya kesadaran (kalau misalnya terlalu berat untuk mengatakannya sebagai seorang intelek).

Jelas, syarat pertama itu sudah terpasang begitu saja ketika pertama kali aku melihatnya duduk di antara orang-orang yang sedang belajar: pemuda-pemudi dari berbagai daerah yang sedang berguru kepada dua orang yang kuidolakan sejak aku SMP (aku masih ingat, bahkan aku sudah mengidolakan mereka ketika aku masih bisa merasa begitu bersalah jika tidak mencium tangan ayah-ibu di pagi hari sebelum berangkat sekolah). Dan melihat seseorang yang menawan di lingkaran orang yang kuidolakan, tentu saja itu sebuah kejutan. Namun, itu barulah kesan pertama, dan aku, ketika itu masih duduk malu-malu memperhatikan penjelasan demi penjelasan tentang ‘apa itu kurator’ sembari minum susu kotak yang diberikan kepadaku secara cuma-cuma, dan tak ada pikiran lain di dalam pikiranku selain rasa kesepian karena sudah berjarak dengan orang-orang yang paling dekat. Untuk dapat dekat dengan lingkaran yang baru? Aku belum punya jawabannya waktu itu.

Badanku akan hancur, sepertinya, kalau harus dipaksakan. Akan tetapi aku seolah mendapat semacam kekuatan untuk bertahan sedikit lagi ketika kuteringat bagaimana girangnya hatiku (dan aku pun, akhirnya, hari ini merasa bersalah karena sadar sudah hampir empat tahun mencoba memendam rasa kegirangan itu) ketika melihatnya muncul dari balik pintu dengan muka bantal, tapi tetap bersih dan rupawan, titik air bekas cuci muka masih berkilau didagunya. Dia berbasa-basi sebentar lalu berlalu untuk membeli bubur ayam. Suasana pagi yang menyenangkan saat itu. Namun demikian, momen itu harus terbenam oleh banyak persoalan lain sesudahnya, hingga akhirnya momen itu berhasil kuangkat kembali beberapa menit yang lalu dari benaman arsip memori yang sudah menggunung dan berkarat. Penemuan akan ingatan ini membuatku ingin bertahan dan berceloteh lebih lama.

Akhirnya, akibat kejengahan dan ketidakterimaan akan lingkungan kampus yang begitu membosankan, serta hasrat ingin menjadi seorang kritikus handal yang aku cita-citakan sewaktu SMP dulu, aku masuk ke dalam lingkaran yang kusinggung tadi. Dan di sinilah semuanya bermula, cerita yang akan aku utarakan kepadamu, Nelly.

Oh, kau bertanya tentang syarat yang kedua? Ya, sama dengan syarat pertama. Dia sudah ada begitu saja. Lebih tepat, aku menyadarinya ketika dipaksa untuk menelusuri Jalan Margonda di pagi hari dengan modal sebesar Rp 50 ribu, dan harus membawa segudang cerita untuk dijadikan sebuah tulisan. Situasi itu benar-benar membuatku begitu salah tingkah. Belum juga akrab lebih dari seminggu, tapi kami sudah harus melakukan sesuatu terhadap kepingan-kepingan ingatan massa yang tersebar di mana-mana itu berdua saja (itu disebabkan sepupuku yang sebenarnya juga terlibat selalu membolos datang untuk menuntaskan kegiatan). Jadi, di lingkaran baru ini, aku dan dia adalah yang paling pertama akrab. Bagaimana tidak? Malamnya, kami harus menggambar peta; juga hanya berdua. Alah, Mak! aku sendiri, sekarang ini, merasa begitu malu padamu, Nelly, untuk mengatakan bahwa waktu menggambar peta itu, jantungku berdegub kencang! Dan… hm… aku juga gerogi waktu itu.

Beberapa hari setelahnya, aku bercerita kepada saudara sulungku dengan begitu semangat! Lalu aku tunjukkan padanya halaman media sosial teman baruku itu. Coba kau tebak, apa kata saudaraku? Dia berkata, “Mak, ancak juo ko, Zik! Ang pacari ajo lah! Hahaha!”

“Manga pulo???” rseruku. Aku tahu, waktu itu usulan saudaraku itu tidak masuk akal.

Tidak masuk akal; bukan berarti aku tidak mau. Namun, pada waktu itu aku berusaha menyangkal kemauan itu.

“Oke, syarat yang ketiga sudah jelas,” katamu tiba-tiba, sedetik sebelum aku ingin melanjutkan cerita. Lalu kau berkata lagi, “Karena tidak mungkin jadi begini kalau syarat yang ketiga tidak terpenuhi, dan tempat sekarang kau berada adalah lingkaran orang-orang yang memiliki kesadaran.”

“Tidak sepenuhnya sadar!” sahutku menyela.

“Maksudmu?”

Ya, dulu mungkin aku akan bangga dengan lingkaran ini. Namun sekarang, tidak sepenuhnya. Ada beberapa hal yang menyebabkan aku menerima sebuah kesimpulan bahwa manusia tidak akan pernah sadar sepenuhnya atas segala hal. Mereka pasti ada cela, dan kerentanan akan sifat cela itu lah yang kini menjadi rambu-rambu bagiku untuk tetap bertahan menjadi orang yang akan melindunginya, Nelly.

“Aku tidak mengerti,” begitu katamu, Nelly, dengan kening berkerut. “Kau melindungi sifat cela?”

“Bukan!” jawabku tergesa-gesa. “Aku sedang tidak berusaha melindungi sifat yang cela. Tapi aku mencoba sekuat-kuat yang aku bisa untuk melindungi seseorang untuk tidak lagi dilihat berbuat cela, meskipun dengan mengorbankan citra yang telah kupunya.”

“Citra apa yang kau punya?”

“Citra apa saja yang baik-baik di mata orang. Itu semua sudah aku korbankan, semuanya sudah jatuh kepada seseorang ini, demi mengurangi hal-hal yang dianggap orang cela yang melekat padanya. Padahal aku tahu dengan pasti, dia tak ada cela sama sekali.”

“Mengapa kau begitu yakin?”

“Karena dia lah orang yang ternyata memenuhi ketiga syarat itu,” jawabku.

Kau tersenyum, Nelly, tersenyum seraya menghembuskan asap rokok dari mulutmu yang mungil itu. Aku tahu, senyum itu adalah sebuah tanda akan keyakinan yang layak untuk dipertahankan dan diperjuangkan sepanjang hidup. Dan kau mengeluarkan senyum itu ketika mendengar jawabanku yang berada diambang batas antara kesedihan dan dan kebahagiaan ini.

“Mengapa kau sedih?”

“Karena aku baru tahu bahwa seburuk-buruknya pengalaman yang aku miliki, ternyata ada yang memiliki pengalaman lebih buruk. Dan sekarang, aku tidak mau pengalaman buruk itu terulang lagi padanya.”

“Ya, lindungilah ia, Zik! Selama kau percaya, semuanya akan baik-baik saja!” kata-kata itu yang hingga sekarang masih menjadi peganganku, Nelly.

Semoga nanti aku bisa memberikan cerita yang lebih menarik lagi untukmu.

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s