kesan

Tempatnya tidak sederhana. Sekarang ini, ada banyak gedung megah di sana. Dulu, namanya saja sudah megah, semegah kabar tentang raja-raja yang dipuja sebagai jelmaan para dewa dalam cerita-cerita fantasi. Raja-raja itu datang sebagai penyelamat manusia. Selain raja, ada juga tokoh-tokoh penyelamat lainnya yang datang dari sudut antah berantah. Nama tokoh-tokoh itu terkenal sejagat. Nama mereka megah.

Di negeriku ini, dulu dan sekarang, juga ada banyak nama yang megah. Yang menyandang nama itu dikenal oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Aku sedikit lebih banyak mengetahui yang dulu daripada sekarang karena nama-nama itu ada di dalam buku-buku. Cerita tentang nama-nama itu begitu luar biasa sehingga aku selalu bergetar setiap kali menyimak cerita-cerita tentang mereka.

Tempat itu juga begitu, tetapi dulu. Kalau sekarang, dia megah hanya karena gedung-gedungnya. Sedangkan namanya, sekarang sudah banyak yang tidak percaya sebab orang-orang mulai curiga.

Mendengar nama tempat itu sekarang, aku tidak bergetar sebagaimana aku takjub membaca tulisan Tan Malaka tentang kisahnya yang melompat ke laut dari atas kapal demi menghindari kejaran agen-agen penjajah, atau membaca cerita Rosihan Anwar tentang Amir Syarifuddin yang tragis. Tidak pula bergetar hebat dan menjadi begitu romantis seperti ketika aku membaca tulisan Castro tentang awal perkenalannya dengan Gabo, atau penjelasan Ángel Esteban dan Stéphanie Panichelli tentang pertemuan si Gabo dengan angkatan Generasi 1927 dan Neruda di kafe-kafe di Bogotá.

Anehnya, ketika akhirnya aku berhasil menemukan ada banyak kehebatan yang layak untuk dibanggakan di balik kemegahannya yang menipu, tempat itu tetap tidak dapat membuatku gembira seperti saat menyadari kalau Radiohead berhasil memberikan gaya ungkap baru dalam bermusik di ranah populer. Dan aku juga tidak menjadi lebih bergetar bersemangat daripada mendengarkan lirik ‘Buruh Tani’, ‘Darah Juang’ atau ‘Totalitas Perjuangan’.

Aku ikut orang-orang: curiga dengan tempat itu. Tempat itu megah, tetapi tidak memberikan gairah. Aku justru merasa miris, dan terkadang diiringi ratap dan umpat.

Author: Manshur Zikri

Penulis

1 thought on “kesan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s