Komoditas Adalah Agama Baru Kita

Agama bukan lagi menjadi hal hakiki, melainkan celah bagi para pebisnis untuk menjual produk mereka untuk kita konsumsi. Kita yang ‘cinta’ dengan agama, tidak lagi melihatnya sebagai ‘iman’, tapi sebagai barang konsumsi dan menjadikannya atribut identitas keagamaan yang kita anut.

Disiplin sosiologi dan antropologi telah cukup lama ‘mencurigai’ agama sebagai komoditas yang bukannya meluruskan jalan manusia, tetapi justu menyesatkan. Menggunakan istilah fetishism (Fetischismus), Marx melakukan analisis tentang agama, mengacu pada komoditi sebagai satu analogi jimat-karakter (Fetischcharakter). Dalam situs science.jrank.org dijelaskan, istilah itu mencerminkan argumen Marx: ekonomi muncul di titik mana agama telah dianut pada periode-periode sebelumnya, memiliki fungsi sebagai sebuah ‘lembaga hukum’ yang tampak alami.

Balibar dan Althusser, dalam menjelaskan ide Marx tentang ‘fetisisme komoditas’, memancing pendapat para antropolog Marxis: dalam masyarakat non-industri, sifat hubungan sosial kita ditentukan oleh faktor-faktor dan institusi-institusi ekstra-ekonomi, yang dilihat “alami atau ilahi”, seperti gereja (masjid) atau kerajaan (monarki). Dan kapitalisme, merupakan “mode produksi dimana fetisisme mempengaruhi wilayah ekonomi”. Singkatnya, dalam masyarakat yang tiada memiliki ‘market economy’ mapan, fetisisme (fetisisme komoditas: pemujaan terhadap sesuatu yang kemudian mengamankan dominasi modal ekonomi, politis maupun ideologis) dapat beroperasi dengan menghadirkan produk dengan kualitas sesuai ‘lingkungan sosial’-nya.

Sedikit lebih jauh, kita perlu meninjau pemikiran Theodor Adorno, salah satu ‘jagoan’ Frankfrut (1991: 34). Dijelaskan oleh Dominic Strinati (1995: 101), masyarakat yang heboh membeli tiket konser Toscanini (disinggung dalam jabaran Adorno) justru sedang memuja harga yang dibayarkan untuk tiket. Dengan kata lain, masyarakat lebih memuja uangnya dibandingkan pertunjukan musiknya sendiri. Masyarakat tersebut menjadi “korban fetisisme komoditas ketika relasi sosial dan apresiasi budaya diobjektivikasi dalam pengertian uang”.

Mae, seorang blogger (thefeed.blackchicken.ca) menulis: If the sacred becomes commodified, does it then fall into the realm of the profane? Religion has surely become big business and it appears that the commodification of religion is being widely accepted and even propagated. Sebagai contoh, Mae memajang beberapa T-shirt yang mengkombinasikan tema keagamaan dengan humor.

Agama bukan lagi menjadi hal hakiki, melainkan celah bagi para pebisnis untuk menjual produk mereka untuk kita konsumsi. Kita yang ‘cinta’ dengan agama, tidak lagi melihatnya sebagai ‘iman’, tapi sebagai barang konsumsi dan menjadikannya atribut identitas keagamaan yang kita anut.

Contoh, kita mau duduk lama menonton sinetron “Para Pencari Tuhan” buatan Deddy Mizwar, produksi PT Demi Gisela Citra Sinema. Hampir di setiap adegan ada iklan, ditayangkan pada jam yang seharusnya menjadi waktu untuk ibadah Berbuka Puasa atau Sholat Tarawih. Tidak sedikit, ada yang lebih memilih mengkonsumsi hiburan itu ketimbang melaksanakan kewajiban yang sesungguhnya. Tak hanya itu, pada rentang waktu hari-hari besar keagamaan, Bulan Ramadhan dan menjelang Natal misalnya, sajian TV seketika berubah menjadi ‘alim’; bisnis iklan bertopeng agama, melemparkan slogan-slogan menjalankan ibadah dengan khusyuk, tapi secara tak etis mempengaruhi publik untuk lebih peduli (hingga ke aksi membeli dan mengkonsumsi) barang yang diiklankan dengan nuansa religius.

Argumen ini bukan tanpa dasar. Penelitian yang dilakukan Pradip Thomas (2009) dari Universitas Queensland, Australia, berjudul Selling God/Saving Souls: Religious Commodities, Spiritual Markets and The Media, mengeksplorasi bentuk komoditas ponsel Kristen dan penggunaan politis spesifiknya, di India dan Amerika. Penelitian itu menyelidiki cara-cara kelompok keagamaan Pantekosta dan Neo-Pantekosta dalam menggunakan produk multi-media dan program-program penginjilan. Hasilnya, “dalam konteks ekspansi global dan ekspor Kristen fundamentalisme, hubungan yang semakin erat antara Kristenyang terpengaruh media dan bentuk-bentuk komoditas memfasilitasi perluasan dari bentuk-bentuk khusus, konservatif, nilai-nilai berbasis kapitalisme”.

Dalam dunia postmodern tentang consuming passion, hal ini menjadi perhatian disiplin kultural kriminologi. Ia  dilihat, pertama, sebagai proses komodifikasi kehidupan sehari-hari (everyday life), termasuk kejahatan dan kekerasan. Kedua, adanya kebutuhan mutlak untuk konsumsi legal maupun ilegal atas komoditas untuk reproduksi dari sistem ekonomi dan sosial (Williamson, 1988). Hal ini menjadi aneh: situasi berlimpahnya kehalusan metafisis dan sopan santun teologis (Marx, 1977: 435).

Kejahatan, dalam bentuk komoditas, memungkinkan kita untuk mengkonsumsi tanpa biaya sebagaimana kita menikmati kegembiraan, emosi kebencian, kemarahan dan cinta. Contohnya, Presdee bercerita tentang sekelompok orang yang terkesima melihat sajian reality show polisi mengejar pelaku kejahatan, lengkap dengan adegan drama nyata pergulatan polisi dan pelaku serta kehadiran korban. Penonton terkesima, menganggapnya sebagai sesuatu yang hebat. Namun Presdee justru sangsi: not least of which is how the police could possibly become involved in the production and creation of crime and excitement as a commodity to be sold and consumed through the entertainment market (Mike Presdee, Cultural Criminology and The Carnival of Crime, 2000: 57-58).

Ilustrasi Presdee itu relevan dengan soal agama yang dialihfungsikan menjadi mesin penipu publik. Masyarakat jadi korban sistem bisnis yang menyulap agama menjadi barang. Presdee, merujuk pada argumen Slater (1997: 27), melihat pembangunan atas masyarakat dan individu yang gila konsumsi, didorong oleh emosi, beriringan dengan pengembangan komodifikasi aspek yang lebih dan lebih lagi dari kehidupan kita. Pendidikan, kesehatan, cinta dan agama telah menjadi komoditas.

Seharusnya, kita perlu memaknai agama dengan mengembalikan arti yang sesungguhnya: hubungan suci antara Sang Khalik dan manusia. Kepasrahan kepada Yang Mahakuasa bukan berarti menjadikan diri kita robot yang gampang terbuai oleh objek-objek pendukung kekhusyukan, yang justru menyasarkan kita pada kesalahpahaman tentang agama itu sendiri.

_______________________________________________________

Tulisan ini dibuat oleh Manshur Zikri, Muhammad Ridha Intifadha & Andreas Meiki Sulistyanto, dan telah dimuat di Buletin wepreventcrime, Edisi IV,terbitan Himpunan Mahasiswa Kriminologi (HIMAKRIM), Divisi Buletin WPC. Tulisan ini kembali saya hadirkan di blog ini untuk misi penyebaran dan berbagi pengetahuan/informasi untuk kepentingan pendidikan. Pembaca dapat mengakses Buletin wepreventcrime di sini .

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s