bodoh

Saya tidak tahu apakah saat itu saya harus merasa miris atau tidak. Yang jelas, saya tidak setuju dengan pernyataan-pernyataan yang terus mengalir dalam perbincangan dua tiga orang sepupu saya di dalam mobil, ketika kami terjebak macet di sekitaran Cinangka, Sawangan, Depok.

Lebih dari satu jam saya duduk di dalam mobil yang berisi delapan orang itu, saya terus saja menggerutu di dalam hati. Hal itu disebabkan perbincangan di antara sepupu saya yang, menurut saya, sudah salah arah dan salah kaprah. Mulai dari soal musik, industri media, usaha pakaian, hingga ke industri-industri lainnya, termasuk usaha waralaba. Sepertinya, sebagaimana yang saya tangkap dari pernyataan-pernyataan yang keluar dari mulut sepupu-sepupu saya itu, mereka mengamini segala bentuk industri kapitalis yang ada di bumi kita berpijak ini.

Gambar ini diambil di sini http://goodmorningjakarta.wordpress.com/2011/06/10/7-eleven-menteng/

Sebenarnya, saya tidak akan mempermasalahkan jika ada di antara kita menganggap kehadiran para pengusaha itu sebagai bentuk salah satu kemajuan perekonomian kita (kemajuan dalam bentuk yang lain, pastinya). Namun, saya sungguh sangat tidak setuju jika kita menilai ‘katro tidak katro’-nya sebuah wilayah perkotaan dari jumlah dan jenis waralaba yang ada di wilayah tersebut. Nah, persoalan waralaba inilah yang menjadi poin paling-ketidaksetujuan saya dalam tulisan ini. Sayangnya, pernyataan dari salah seorang sepupu saya berkata lain:

“Depok katro banget!” keluhnya. “Masa gak ada Seven Eleven sama sekali? Apalagi Lawson

That’s a really fucking stupid statement!!!

“Ya bagus, dong, kalau kotanya gak ada waralaba?!” celetuk saya. “Mendingan warung kopi!”

Gambar ini diambil di sini http://suarapengusaha.com/2012/04/13/mulai-rambah-jakarta-lawson-lawan-berat-7-eleven/lawson/

Jelas saja kita, yang mau sedikit sadar tentang persoalan roda perekonomian rakyat, tidak setuju dengan kehadiran beragam macam waralaba seperti itu. Mereka, secara tidak langsung, mengambil domain para pengusaha kelas menengah ke bawah, secara pelan tapi pasti. Selain itu, keberadaan pasar tradisional lambat laun digeser oleh kehadiran ‘super market’ dan ‘mini market’ yang digadang-gadang sebagai ‘pasar modern’.

Kaget juga saya mendengar pernyataan sepupu saya itu—yang secara tidak langsung bangga dengan label ‘dede-dede slurpee’. Padahal, istilah itu muncul di kalangan intelektual untuk menyindir kehadiran waralaba-waralaba seperti itu sebagai bentuk protes dan sikap sinis kepada segala atribut yang dapat merugikan masyarakat.

Yah, saya tidak tahu harus berkata apa lagi. Mungkin ini yang namanya korban sistem sosial yang ada di lingkungan masyarakat kita. Sebagaimana kata Paman saya tadi malam, “Itu namanya korban telak konsumerisme!”

Ah…!

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s