Percakapan Imani

…mestinya kembali bertanya: apakah jilbab menjadi satu kesadaran akan sebuah iman tanpa ada intervensi dari yang lain?

Advertisements

Kembali Bertanya Tentang Kewajiban, Kepentingan dan Kesadaran

“Hello, sir. Do you recognize me?”

“No, I’m afraid I don’t.”

“Halo, Pak. Anda kenal saya?”

“Tidak, sepertinya tidak.”

Itulah awal dari percakapan dua orang, antara seorang pria asing dari Tokat yang bekerja di Happy Friends Teahouse, dengan seorang direktur dari sebuah institut pendidikan, bernama Professor Nuri Yilmaz, yang berakhir dengan penuh tanya di kepala pembaca.

Halaman dalam Majalah Granta, edisi 85

Mungkin pertanyaa-pertanyaan yang muncul di kepala kita setelah membaca potongan karya sastra yang ditulis oleh Orhan Pamuk ini akan terjawab jika kita membaca keseluruhan isi novel  berjudul Snow (terbit di Turki tahun 2002) yang menggambarkan ketegangan sosial, politik dan budaya di era Turki modern. Saya sendiri belum membaca Snow, tetapi menemukan potongan tulisan tersebut di Majalah Granta, edisi 85, bertema Hidden Histories. Diletakkan pada urutan pertama, tulisan si peraih penghargaan Nobel Sastra tahun 2006 ini diberi judul ‘A Religious Conversation’.[1]

Sampul depan Majalah Granta, edisi 85

Jadi, saya hanya akan mengulas tulisan ini, ‘A Religious Conversation’, dengan mengabaikan karya utuh novelnya. Sedangkan tulisan itu sendiri merupakan potongan dari Bab 5, berjudul ‘Maaf, Pak: Percakapan Pertama dan Terakhir Antara Pembunuh dan Korbannya’, dari novel Snow: Di Balik Keheningan Salju.[2]

Ketika saya meninjau terjemahan novel tersebut, saya jadi tahu bahwa ‘A Religious Conversation’ itu ternyata sebuah transkrip rekaman (sebagai bukti pembunuhan) yang didapatkan si tokoh aku (sudut pandang orang pertama) dalam novel Snow, dari si janda Nuri Ylimaz, beberapa tahun setelah terjadinya peristiwa pembunuhan yang menimpa sang profesor.

Sampul novel Snow terbitan Serambi tahun 2008 | Sumber: google

Sederhananya, untaian kalimat-kalimat dalam ‘A Religious Conversation’—yang walau dilafalkan dengan datar, tetap mampu membangun suasana dramatik yang begitu menegangkan—menurut saya, dapat dilihat sebagai satu modifikasi yang dilakukan oleh Orhan Pamuk atas sejumlah ‘pernyataan dan pertanyaan kepada diri sendiri’ yang sering muncul di benak kita dalam bentuk percakapan abstrak tanpa tahu siapa berbicara kepada siapa ketika menghadapi polemik-polemik di sekitaran agama dan keyakinan. Kenyataannya, polemik-polemik itu seringkali muncul karena agama dan keyakinan selalu mengalami benturan dengan konstruksi-konstruksi sosial, Undang-Undang dan ketentuan hukum lainnya.

Contoh paling gampangnya—juga disinggung melalui sebuah jawaban cemerlang dari tokoh Profesor Nuri Yilmaz dalam cerita itu— ialah perbedaan dasar antara pemahaman kaum fundamentalis dan kaum sekuler. Sementara kita berkutat dengan pertanyaan-pertanyaan membingungkan sehubungan dengan keyakinan yang kita anut dan kenyataan sosial yang ada, Orhan Pamuk lantas menghadirkannya dalam sebuah percakapan ‘riil’—sebagaimana sebuah debat diskusi kaum intelektual—dengan menghidupkan karakter si pekerja toko dari Tokat, sebagai representasi kaum fundamentalis, dan karakter Profesor Nuri Ylimaz, sebagai representasi kaum sekuler.

***

‘A Religious Conversation’ mengisahkan tentang seorang Profesor dari sebuah institusi pendidikan yang menerima kunjungan dari seorang yang tak ia kenal. Pemuda itu mengaku berasal dari Tokat, melakukan perjalanan selama dua hari melawan keganasan musim dingin, hanya untuk bertemu dengan seorang figur yang ia anggap sebagai  ‘an eminent, enlightened, educated man’, untuk mendiskusikan sebuah soal yang ia ketahui secara mendalam, yakni tentang kewajiban seorang muslimah mematuhi perintah agama untuk mengenakan jilbab, tetapi mengalami diskriminasi oleh peraturan yang dibuat oleh negara.[3] Pemuda itu datang dengan sebuah tudingan bahwa sang profesor telah melakukan kesalahan karena melarang beberapa siswi masuk ke dalam kelas karena mereka mengenakan jilbab; memilih menaati peraturan di kota Ankara ketimbang perintah Tuhan yang tercantum dalam Al-Qur’an.

“There has been nothing in the Istanbul papers, sir, about your decision to deny schooling to girls who cover their heads as dictated by their religion and the Holy Book. All those papers care about is scandals involving fashion models. But in beautiful Tokat we have a Muslim radio station called Flag that keeps us informed about the injustices perpetrated on the faithful in every corner of the country.”

“Tak ada sama sekali di Surat Kabar Istanbul, Pak, [yang membahas] tentang keputusan Anda menolak murid perempuan yang mengenakan jilbab sebagaimana yang diperintahkan agama dan Kitab Suci mereka. Yang dibahas surat kabar-surat kabar itu adalah skandal-skandal yang melibatkan model. Akan tetapi di Tokat, kami punya radio Muslim bernama Flag yang terus menyajikan informasi tentang  ketidakadilan yang dilakukan atas keimanan di setiap pelosok negeri.”

Bangunan tradisional di Tokat, Turkey | Sumber: wikipedia

Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh pemuda itu, seraya berusaha meyakinkan sang profesor bahwa ia tidak memiliki hubungan sama sekali dengan organisasi apa pun, membenci terorisme, mempercayai kecintaan terhadap Tuhan Yang Mahakuasa dan kebebasan berpikir. Dia datang dengan mengakui dirinya sebagai ‘pembela tak bernama dari pahlawan tak bernama yang ditindas saat berusaha menegakkan keimanan beragama di dalam sebuah masyarakat yang tunduk pada materialisme sekuler’. Dia juga mengaku membenci cara-cara kekerasan, tetapi pengakuan itu bertolak belakang dengan sikapnya yang mengancam sang profesor melalui sebuah intimidasi di hadapan moncong pistol. [4]

Nantinya kita akan dapat mengidentifikasi bahwa si pemuda melakukan protes terhadap kebijakan di Kota Ankara yang mengakibatkan 6 orang perempuan yang dilarang mengenyam pendidikan karena mengenakan jilbab mengalami penderitaan tiada tara: satu orang perempuan menjadi gila, empat orang dikeluarkan dari sekolah, dan satu orang bunuh diri. Dan dia menjadi lebih marah karena sang profesor, yang mengaku muslim dan takut kepada Tuhan Yang Mahakuasa, justru memberlakukan kebijakan tersebut di lingkungan sekolahnya, dan di matanya si profesor sama saja dengan kaum kafir, yang telah menjadi ‘pion dalam sebuah rencana rahasia untuk menjauhkan kaum muslim Republik Turki yang sekuler dari agama dan kehormatan mereka’.

Semakin gugup karena intimidasi tiada henti yang dilakukan oleh si pemuda, si profesor terjebak dalam satu kegugupan, penyesalan, tetapi tetap berusaha untuk menyadarkan si pemuda bahwa apa yang sedang ia lakukan—pemuda itu mencoba untuk membunuhnya dengan dalih menghukum mati seorang kafir yang layak mati atas nama Tuhan—adalah satu tindakan yang justru akan menariknya ke kegelapan (memaknai agama tanpa akal pikiran dan pengetahuan).

Di penghujung percakapan, kita akan serta-merta berkesimpulan bahwa si pemuda itu akhirnya menembak sang profesor karena tidak puas dengan jawaban-jawaban yang diterimanya, di mana sebelumnya ia memaksa si profesor membaca sebuah surat pengakuan kesalahan (surat pernyataan hukuman mati) dari Freedom Fighters for Islamic Justice.

***

Salah satu pertanyaan penting yang keluar dari mulut pemuda itu kepada si profesor, ialah mengenai tanggapan si orang tua itu tentang the beautiful thirty-first verse of the chapter entitled “Heavenly Light”—yang dimaksud oleh pemuda ialah Surat An-Nur, ayat 31.

And tell the believing women to reduce [some] of their vision and guard their private parts and not expose their adornment except that which [necessarily] appears thereof and to wrap [a portion of] their headcovers over their chests and not expose their adornment except to their husbands, their fathers, their husbands’ fathers, their sons, their husbands’ sons, their brothers, their brothers’ sons, their sisters’ sons, their women, that which their right hands possess, or those male attendants having no physical desire, or children who are not yet aware of the private aspects of women. And let them not stamp their feet to make known what they conceal of their adornment. And turn to Allah in repentance, all of you, O believers, that you might succeed.[5]

“Katakanlah kepada perempuan yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau perempuan-perempuan Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Sang profesor justru menjawab:

“Yes, it’s true. This verse states very clearly that women should cover their heads and even their faces.”

“Ya, itu benar. Ayat itu dengan jelas menegaskan bahwa perempuan seharusnya menutup kepala dan bahkan wajah mereka.”

Kemudian dia menegaskan lagi bahwa di lingkungan negara sekuler, soal agama dan ketentuan-ketentuan hukum ialah terpisah.

“Excuse me, sir. May I ask you a question? Can a law imposed by state cancel our God’s law?”

“That’s a very good question. But in a secular state these matters are separated.”

“Maaf, Pak. Boleh saya bertanya satu hal? Bisakah hukum negara menidakkan hukum Tuhan?

“Pertanyaan yang bagus sekali. Tapi di dalam negara sekuler hal ini dipisahkan.”

Pada dasarnya, pertanyaan dari pemuda itu memang sesuatu yang sangat debatable. Sayangnya, sekularisme seringkali dilihat sebagai sesuatu yang menafikan keberadaan Tuhan.

“…Does the word “secular” mean “godless”?”

“No.”

“In that case, how can you explain why the state is banning so many girls from the classroom in the name of secularism, when all they are doing is obeying the laws of their religion?”

“Honestly, my son. Arguing about such things will get you nowhere. They argue it day and night on Istanbul television, and where does it get us? The girls are still refusing to take off their headscarves and the state is still barring them from the classroom.”

“…apakah kata ‘sekuler’ berarti ‘tak beriman’?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, bagaimana Anda bisa menjelaskan mengapa negara mengusir begitu banyak perempuan dari ruangan kelas atas nama sekularisme, ketika apa yang mereka lakukan adalah mematuhi hukum agama mereka?”

“Sebenarnya, Nak, berdebat tentang hal ini tak akan membawamu kemana-mana. Banyak yang mendebatkan ini siang dan malam di TV Istanbul, dan apa hasilnya? Anak-anak perempuan masih menolak melepas jilbab mereka dan negara tetap mengusir mereka dari kelas.”

Dimentahkan oleh pernyataan dari sang profesor, si pemuda itu lantas bertanya tentang hati nurani sang profesor.

“…when you think about the cruel way you treated those poor girls in front of your institute—when you remember that these girls were only obeying the Word of God as set out so clearly in the “Confederate Tribe” and “Heavenly Light” chapters of the Holy Qur’an—doesn’t your conscience trouble you at all?”

“…ketika Anda berpikir tentang cara lalim memperlakukan murid-murid perempuan malang itu di sekolah Anda—ketika Anda ingat bahwa murid-murid perempuan ini hanya mematuhi Firman Tuhan sebagaimana tercantum dengan jelas dalam surat Al-Ahzab dan An-Nur—tidakkah hati nuranimu terusik?”

Dari kalimat itu, satu lagi Orhan Pamuk menyinggung sebuah Surat dalam Al-Qur’an, yakni Al-Ahzab, dan jika kita rujuk ke ayat 59, ialah tentang kewajiban perempuan mengenakan pakaian yang menutup aurat:

O Prophet, tell your wives and your daughters and the women of the believers to bring down over themselves [part] of their outer garments. That is more suitable that they will be known and not be abused. And ever is Allah Forgiving and Merciful.[6]

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan pakaiannya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Namun demikian, sang profesor malah balik bertanya:

“My son, the Qur’an also says the thieves should have their hands chopped off. But the state doesn’t do that. Why aren’t you opposing that?”

“Nak, Al-Qur’an juga berkata para pencuri harus dipotong tangannya. Tapi negara tidak melakukan itu. Mengapa kau tidak menentang itu?

Dari kutipan-kutipan pertanyaan tersebut, kita dapat melihat bahwa Orhan Pamuk berusaha menghadirkan sebuah percakapan secara objektif sehubungan dengan perdebatan yang muncul dalam benturan-benturan antara ketentuan agama dan realitas sosial beserta perangkat hukum yang ada di masyarakat. Alih-alih menjustifikasi pihak mana yang lebih benar, melalui percakapan antara dua orang yang memiliki latar belakang berbeda—Nuri Yilmaz dari kelompok intelektual yang sedang ‘menegosiasikan’ pengetahuannya kepada kelompok-kelompok radikal tanpa mengintervensi keimanannya sendiri, dan si pemuda dari Tokat yang menjunjung tinggi iman secara naïf dan menilai segala hal di luar ketentuan yang berada di dalam Al-Qur’an adalah salah—Orhan Pamuk secara cerdas ‘menambah beban pikiran’ pembaca dalam memaknai keberadaan sebuah keyakinan (yang kita kenal sebagai iman) yang harus saling bergandeng dengan ketentuan-ketentuan yang diciptakan oleh elemen-elemen yang ada di masyarakat.

Perbedaan latar belakang yang akhirnya mempengaruhi pola pikir antara kedua tokoh juga terlihat secara jelas pada kalimat yang diucapkan oleh si profesor ketika mengajukan keberatan atas ‘pernyataan hukuman mati dirinya’ di secarik kertas yang diberikan si pemuda. Potongan pernyataan hukuman mati yang ada di dalam kertas itu—yang secara tidak langsung menjadi legitimasi si pemuda untuk menyalahkan si profesor—dibaca oleh si profesor itu sendiri dan berbunyi:

“…As for the girls who would not take off their headscarves, because they were devout and mindful of what is written in the Qur’an, I visited such cruelty on them that one girl could bear it no more and committed suicide…”

“…karena bagi murid-murid perempuan yang tidak akan melepas jilbab mereka, karena mereka taat dan sadar apa yang tertulis dalam Al Qur’an, saya mendatangkan kekejaman tersebut pada mereka sehingga seorang anak perempuan yang tak mampu bertahan lagi dan melakukan bunuh diri…”

Dan si profesor mengajukan keberatan dengan mengatakan:

“My dear child, with your permission, I’d like to make an objection here. I’d be grateful if you could pass this on the committee that sent you. This girl didn’t hang herself because she was barred from the classroom. And it wasn’t because of the pressure her father put on her, either. As the MIT has already told us, she was suffering from broken heart.”

“Nak, perkenankan saya mengajukan keberatan di sini. Saya akan berterimakasih jika kau menyampaikan ini kepada komite yang mengutusmu. Anak perempuan itu bukan gantung diri karena diusir dari dalam kelas. Dan bukan juga karena tekanan dari ayahnya. MIT sudah melaporkan, dia sedang mengalami patah hati.”

Si pemuda membantah:

“That’s not what she said in her suicide note.”

“Bukan itu yang dia katakan dalam surat bunuh dirinya.”

Si profesor bersikeras menjelaskan:

“Please forgive me, but my child, I think you should know—please lower that gun—that even before she got married, this uneducated girl was naïve enough to give herself to a policeman twenty-five years her senior. And—it’s an awful shame—but it was after he’d told her he was married an had no intention of marrying her…”

“Maaf, Nak, tapi saya rasa kau harus tahu—tolong turunkan pistolnya—bahkan sebelum dia menikah, gadis itu cukup naif untuk menyerahkan cintanya kepada seorang polisi yang dua puluh lima tahun lebih tua. Dan—sungguh memalukan—itu terjadi setelah laki-laki itu berkata dia sudah menikah dan tidak berniat menikahi gadis itu…”

Percakapan itu menjadi poin penting bagi kita untuk mencerna bagaimana isu-isu tentang keagamaan telah menjadi sebuah komoditas pelaku media yang akhirnya memunculkan disinformasi. Memang, di karya tulisan Orhan Pamuk itu tidak disebutkan bagaiamana media memanipulasi informasi, namun jika kita merujuk pada kota asal si pemuda, kesalahan informasi di media justru memunculkan konflik di masyarakat.[7]

Poin penting lainnya yang perlu kita cermati dalam percakapan itu ialah ketika sang profesor menceritakan tentang anaknya:

“My dear child, I have a daughter myself. She doesn’t wear a headscarf. I don’t interfere with her decision, just as I don’t interfere with my wife’s decision to wear a headscarf.”

“Why did your daughter decide to uncover herself? Does she want to become a film star?”

“She’s never said anything of the sort to me. She’s in Ankara studying public relations. But she’s been a tremendous support to me since I’ve come under attack over this headscarf issue. Whenever I get upset about the things people say, whenever I am slandered or threatened, whenever I have to face the wrath of my enemies—or people like you—who have every right to be angry, she calls me from Ankara and…”

“’And she says, ‘Grit your teeth, Dad. I’m going to be a film star.’”

“No, son, she doesn’t say that. She says, ‘Father dear, if I had to go into a classroom full of covered girls, I wouldn’t dare go in uncovered. I’d wear a headscarf even if I didn’t want to.’”

“Nak, saya punya anak perempuan. Dia tidak berjilbab. Saya tidak mencampuri keputusannya itu, sebagaimana saya tidak mencampuri keputusan isteri saya mengenakan jilbab.”

“Mengapa anak perempuanmu memutuskan tak berjilbab? Ingin jadi bintang film?”

“Dia tidak pernah mengatakan apa-apa kepada saya. Dia di Ankara belajar humas. Tapi dia menjadi dukungan yang luar biasa bagi saya sejak saya mulai diserang mengenai isu jilbab ini. Setiap kali saya marah tentang hal-hal yang dikatakan orang, setiap kali saya difitnah atau terancam, setiap kali saya harus menghadapi kemurkaan musuh-musuh saya—atau orang-orang seperti Anda—yang punya hak untuk marah, dia menghubungi saya dari Ankara dan…”

“Dan berkata, ‘yang sabar, Yah, aku akan jadi bintang film.”

“Tidak, Nak, dia tidak begitu. Dia berkata, ‘Papa, kalau aku harus masuk ke dalam sebuah kelas yang semuanya berisi murid berjilbab, aku tak akan berani masuk tanpa jilbab. Aku akan pakai jilbab meskipun aku tak mau.”

Pada kutipan tersebut kita melihat siratan dari Orhan Pamuk tentang situasi dan kondisi sosial masyarakat yang sesungguhnya, bahwa rivalitas tentang ‘kenyamanan’ dan harapan-harapan dapat ‘dipandang’ atau ‘diakui’ oleh orang lain merupakan salah satu faktor penting yang tidak dapat diabaikan. Secara tidak langsung, percakapan itu mengingatkan kepada kita tentang tujuan hakiki dari cara berpakaian kita sehari-hari. Terkait dengan pengenaan jilbab pada perempuan, kita mestinya kembali bertanya: apakah jilbab menjadi satu kesadaran akan sebuah iman tanpa ada intervensi dari yang lain?

Penjelasan yang diucapkan oleh Nuri Yilmaz tentang anaknya itu bukan serta-merta menunjukkan bahwa anak perempuannya telah menjadi budak ‘sekularisme’ (dalam sudut pandang si pemuda fundamentalis). Pernyataan kalimat Father dear, if I had to go into a classroom full of covered girls, I wouldn’t dare go in uncovered. I’d wear a headscarf even if I didn’t want to justru menjadi sebuah penegasan tentang esensi berjilbab yang sejatinya bukan karena paksaan sosial, melainkan karena kesadaran kita untuk mau melindungi aurat; melindungi diri sendiri. Pada titik itulah keimanan kita diuji: bagaimana kita mampu bernegosiasi dengan realitas sosial tanpa mengurangi nilai-nilai keimanan kita.

Sebagai pelengkap, mungkin kita perlu mendengar pendapat Quraish Shihab tentang jilbab

Keobjektivan Pamuk dalam membangun ceritanya pun terlihat kembali pada dialog yang lain dalam percakapan itu—di mana dia tidak serta-merta ‘memojokkoan’ si pemuda fundamentalis—ketika si pemuda menjelaskan bahwa di era modern di Turki, banyak perempuan yang telah menjadi korban konsumerisme (terpengaruh oleh ‘serangan’ film-film Barat). Dan jilbab, adalah salah satu cara bagaimana kita bisa berlindung dari momok industri kapitalis.

“…It saves them from the ordeal of entering beauty contest to compete with other women. They don’t have to live like sex objects, they don’t have to wear make-up all day. As Professor Marvin King has already note, if the celebrated film star Elizabeth Taylor had spent the last twenty years covered, she would not have had to worry so much about being fat. She would not have ended up in a mental hospital. She might have known some happiness…”

“…itu [jilbab] menyelamatkan mereka dari siksaan mengikuti kontes kecantikan untuk bersaing dengan perempuan-perempuan lain. Mereka tidak perlu menjalani hidup sebagai objek seks, mereka tidak harus merias diri setiap hari. sebagaimana kata Profesor Marvin King, jika bintang film terkenal Elzabeth Taylor menghabiskan 25 tahun dengan berjilbab, dia tak akan khawatir menjadi gemuk. Dia tidak akan berakhir di rumah sakit jiwa. Dia mungkin akan bahagia…”

Esensi tentang jilbab pun kian menjadi jelas, ketika kita mau memaknai teguran dari si Profesor Nur Yilmaz kepada si pemuda. Profesor itu berucap:

“You’re very upset, my boy. But has it never occurred to you that foreign power might be behind all this? Don’t you see how they might politicized the headscarf issue so that they can turn Turkey into a weak and divided nation?”

“Kau sangat marah, anakku. Namun, tak pernah terpikirkankah olehmu bahwa bisa jadi kekuatan asing berada di belakang ini semua? Tidakkah kau lihat bagaimana mereka mempolitisasi isu jilbab sehingga mereka bisa mengubah Turki menjadi sebuah bangsa yang lemah dan terpecah belah?”

***

Jika kita mencerna cerita yang dibuat oleh Orhan Pamuk ini, kita akan menemukan dua hal penting yang pastinya saling silang. dan juga saling melengkapi untuk menghantarkan kita pada pikiran-pikiran kritis terkait esensi sebuah kewajiban pada keyakinan yang kita anut.

Di satu sisi, jika kita memperhatikan lingkungan sosial masyarakat kita, soal ‘mengenakan jilbab’ telah berubah menjadi sebuah ‘paksaan yang mengekang’. Dia tidak lagi menjadi sebuah ‘kewajiban menjaga aurat’. Pandangan sinis terhadap mereka yang tidak mengenakan jilbab lambat laun menjadi sebuah sikap men-stereotipe sehingga berujung kepada hate-crime.

Di sisi lain, pengimplementasian sebuah kebijakan yang ‘menuhankan sekularisme’ justru memunculkan sebuah kebencian sosial di masyarakat, lantas terjadi sebuah diskriminasi antara kelompok satu dengan yang lain. Gambaran ketegangan sosial yang dikemas secara apik dan elegan dalam cerita Orhan Pamuk ini sangat relevan dengan apa yang terjadi di bangsa kita.

Namun, yang patut kita pelajari dari Orhan Pamuk ialah ia mampu memaparkan pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan kritis secara objektif melalui sebuah karya sastra. Jik kita membaca lagi ‘A Religious Conversation’, akan terlihat bahwa Orhan Pamuk tidak mendukung atau menyalahkan kelompok tertentu. Bagi saya sendiri, ‘A Religious Conversation’ merupakan sebuah laboraturium pemikiran, yang mengusahakan eksperimen-eksperimen, tempat di mana unsur atau elemen yang ada dimasyarakat (kewajiban, kepentingan, dan kesadaran) dipertemukan, dipadukan dan diolah sehingga memunculkan satu kesimpulan bagi pembaca dalam memaknai iman yang ia anut, dan langkah apa yang mampu ia ambil untuk bernegosiasi dengan masyarakatnya.


[1] Pada halaman Notes on Contributors di Majalah Granta edisi 85 itu juga diberi keterangan bahwa ‘A Religious Conversation’ diambil dari novel Orhan Pamuk, Snow, yang dipublikasikan oleh Faber di UK dan oleh Alfred A. Knopf di US.

[2] Terjemahan Indonesia dari novel Snow terbitan Faber and Faber (2005) di London. Hak terjemahan Indonesia pada Serambi, diterbitkan oleh PT Serambi Ilmu Semesta, tahun 2008. Seperti yang saya katakan, saya belum membaca seluruh isi novelnya. Saya membaca ‘A Religious Conversation’ dalam teks bahasa Inggris, terjemahan Maureen Freely dari Bahasa Turki di Majalah Granta. Versi Bahasa Indonesianya baru saya temukan di internet setelah mengalami ‘kekagetan luar biasa’ karena membaca potongan karya si pengarang yang karyanya sempat diterjemahkan ke 60 bahasa di dunia itu. Bagi yang ingin meninjau novel terjemahan Indonesianya bisa melihat ke sini http://books.google.co.id/books?id=g2ZLKjqMXRgC&pg=PA82&lpg=PA82&dq=Melahat+Sandra&source=bl&ots=TPji6hnmtU&sig=hbhVV7FgH04BU2_MuQje84ujVcg&sa=X&ei=-t0xUJzlDoWzrAeZo4HYCA&ved=0CAsQ6AEwAQ#v=onepage&q=Melahat%20Sandra&f=false.

[3] Dalam cerita itu, kemudian, dapat kita identifikasi bahwa pelarangan siswi mengenakan jilbab adalah kebijakan yang diterapkan di Ankara, ibukota Turki.

[4] Menjelang akhir cerita, akan kita ketahui bahwa pemuda itu adalah utusan dari Freedom Fighters for Islamic Justice untuk menghukum orang-orang seperti Profesor Nuri Yilmaz.

[5] An-Nur, ayat 31. Versi terjemahan ini diambil dari sini http://quran.com/24/31.

[6] Al-Ahzab, ayat 59. Versi terjemahan ini diambil di sini http://quran.com/33/59.

[7] Saya tidak tahu, apakah hal ini dijelaskan secara lebih detil dalam karya novelnya. Namun demikian, seperti yang saya katakana di awal, saya hanya mencoba memecahkan siratan Orhan Pamuk dalam ‘A Religious Conversation’ dengan mengabaikan karya novel utuhnya. Mungkin, lain waktu ketika saya telah membaca novelnya, saya akan membuat review yang baru untuk memverifikasi.

Author: Manshur Zikri

Penulis

4 thoughts on “Percakapan Imani”

  1. videonya markotop. apalagi pak kiayinya. dan anehnya tidak pernah satupun yang meprotes omongan Quarish. kenapa?

    intinya, kalau mau berbuat baik berbuat baik sajalah. jangan menilai apalagi memaksa ditambah dengan mengajar2in orang sepertinya paling bener. salut Quraish.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s