Puisi Cinta Saban

“Untuk apa juga menggoda perempuan?” tanya Cinde. “Lagipula orang sekarang ini berpuisi di twitter atau facebook. Orang-orang ingin kalimat-kalimat puitisnya dibaca oleh orang lain.”

Advertisements

“Mungkin selama ini kita salah. Cinta bukan tidak bisa diterka. ‘Kadang manis, kadang pahit…’ itu adalah ungkapan yang lebih tepat diperuntukkan pada kesiapan diri manusia dalam menerima hal-hal yang diharap. Sedangkan cinta, ia selalu indah. Itu adalah satu keadaan mutlak,” ujar Saban, yang saban hari tidak pernah berhenti bergumam sendiri.

Malam itu kering…

Namun, di mana angin? Membelai bulu kuduk pun, ia tidak. Memang tidak ada angin sama sekali.

Dingin tidak, panas juga tidak. Susah juga, rupanya, menggambarkan keadaan yang sesungguhnya dari malam itu. Kalau kau ada di sana saat itu dan bertanya pada Saban, jawabannya akan sama saja, “Malam ini kering.”

Jabir, Cinde dan Saban duduk di salah satu bangku besi, di Stasiun Gambir. Dengan satu batang rokok yang dihisap bertiga, mereka menunggu kereta menuju Depok.

“Kau ngelantur!?” Jabir yang berkata.

“Tidak. Aku mengatakan apa yang sedang kupikirkan!” jawab Saban sambil menoleh ke arah Jabir. Keningnya berkerut sementara bibirnya hampir tidak bergerak ketika mengucapkan itu.

“Biarkan saja dia!” kata Cinde. “Nanti kau malah ikut-ikutan ngelantur juga.”

“Kalimatmu aneh,” Jabir mengabaikan kata-kata Cinde. “Kau sedang berpuisi?”

Seketika wajah Saban berubah kemudian menjentikkan jari tangan kanannya sendiri, seakan menegaskan bahwa Jabir telah memberinya sebuah ide cemerlang.

Dia lantas membuka tasnya yang berisi banyak buku tebal, dan memilih sebuah buku catatan tipis. Lalu dia mengorek-ngorek isi tasnya, cukup lama, lalu mengeluarkan sebuah pulpen yang sudah tidak ada tutupnya. Dengan beralaskan lutut, Saban menulis dengan senyuman lebar di wajahnya. Gerakan tangannya pelan tapi pasti.

“Jadi, nih!” serunya semenit kemudian dan mengarahkan buku catatannya kepada Jabir.

Cinta itu tidak manis dan pahit

Cinta itu tidak ditafsir

Cinta itu mutlak indah

Sebab keindahanlah sifat dasarnya

sejak dunia pertama kali tercipta

Kala manusia hadapi realita

Ia lena dan sering lupa

Ketika harap lenyap dari indera

Segala pembenaran dibuat ada

demi kesenangan maya

“Puisi apa ini?” seru Jabir tertawa.

“Ya, itu puisi!” kata Saban. “Emangnya ada puisi ini puisi itu?”

“Hatiku tidak tersentuh membacanya!” kata Jabir seraya mengembalikan buku itu ke Saban. “Sama sekali!” tegasnya lagi.

“Aku bukan sedang menggodamu.”

“Setidaknya kau harus membuat puisi yang bisa membuat hati Diandra luluh!” kata Jabir tertawa. Tawanya lebih keras dan lebih puas. Sementara itu, Saban tidak peduli dengan cemoohan temannya, malah dengan senyum yang tetap lebar dan bangga, dia menandai catatannya dengan tanggal 3 Juli 2012, Stasiun Gambir, dan tanda tangannya sendiri.

“Kata nenekku, kita membuat puisi bukan untuk menggoda perempuan,” kata Saban setelah dia memasukkan catatannya ke dalam tas.

“Untuk apa juga menggoda perempuan?” tanya Cinde. “Lagipula orang sekarang ini berpuisi di twitter atau facebook. Orang-orang ingin kalimat-kalimat puitisnya dibaca oleh orang lain.”

“Itu wajar saja, kan?” Jabir menanggapi. “Sifat dasar manusia adalah ingin dihargai makanya mereka senang mengumbar citra.” Suara kereta mulai terdengar sayup-sayup.

“Kita ingin dikenal, kita ingin dikenang, kita ingin dilihat, kita ingin disoraki, kita ingin dipuji, kita ingin disanjung, kita ingin ditiru, kita ingin…”

Ketika kereta berhenti di depan mereka pun, malam itu masih kering. Mereka bertiga berdiri seraya menyandang tas masing-masing, kemudian masuk ke dalam kereta.

Kereta bergerak pelan meninggalkan peron tersebut, meninggalkan stasiun itu, perlahan-lahan menuju ke Stasiun UI, dan tentunya dengan berhenti di beberapa stasiun terlebih dahulu.

Depok, 11 Agustus 2012

Tooftolenk

 

 

 

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s