Nyata

“Mengapa kau begitu resah?” Jabir bertanya kepada Saban.

Sebelum menjawab, Saban menghela napas lelah. Dia lelah sekali. “Bagaimana tidak resah, Bir? Aku tidak habis pikir, ternyata itu jawabannya. Sangat memalukan!”

“Kita ini manusia, Ban!” kata Jabir sambil mengusap wajahnya. Sepertinya, dia juga resah.

“Ya, memang kita apa kalau bukan manusia?” bertanya seperti itu, Saban mengorek tasnya dan menemukan bungkusan rokok yang sudah lecek. Dia mengambil satu batang rokok kemudian meraba-raba saku celananya. “Kau ada korek?”

Jabir, yang berbadan lebih besar dari Saban, berdiri kemudian mengambil sebuah korek dari saku celananya yang sempit dan menyerahkannya kepada Saban. Hari ini, Jabir berpenampilan lebih rapi. Wajahnya lebih bersih karena sudah bercukur. Dia mengenakan baju kemeja berwarna abu-abu polos.

Kalau Saban, berbeda. Dia setiap hari selalu dekil, jarang mandi, dan malas sekali untuk pergi ke tukang cukur. Saban memiliki badan yang kurus sekali, seperti tidak pernah mendapat asupan bergizi. Namun, raut-raut wajahnya memperlihatkan bagaimana pikirannya selalu dinamis dan tidak pernah seburuk badannya.

“Kenapa tak kau sulut rokoknya?” tanya Jabir.

“Tidak tahu, rasanya aku kenyang dengan rokok,” jawab Saban. “Apa karena perasaanku yang sedang tidak enak hingga akhirnya rokok ini tidak lagi menggoda.”

“Aku haus,” ujar Jabir.

“Ya, mungkin itu kata yang lebih tepat. Haus.”

“Di mana kita bisa mendapatkan air pada jam segini?”

“Di khayalan,” jawab Saban tertawa.

Here I’m allowed, everything all of the time… here I’m allowed, everything all of the time.

“Ini pengalaman paling aneh yang pernah terjadi dalam hidupku,” ujar Jabir.

“Aku juga, Bir!” tanggap Saban. “Ternyata ada jawabannya, ya?!”

“Ya, pasti memang ada jawabannya, tapi aku tidak menyangka bisa segamblang dan sejelas itu. Bukankah seharusnya jawaban itu hidup di dalam kepala setiap orang. Tidak perlu disamaratakan. Toh, orang-orang memiliki jawaban mereka masing-masing, kan?”

“Tapi sekarang sudah tidak lagi. Dia sudah memberikan jawabannya yang mutlak. Jawaban setiap orang yang berbeda-beda itu sudah tidak berlaku lagi. Makanya aku resah. Jawabannya begitu buruk, alasannya begitu buruk.”

“Tapi, aku pikir itu memang jawaban yang paling manusiawi, tidak ada yang lain,” kata Jabir. “Meskipun mengerikan juga ketika kita mengetahui diri kita yang sebenarnya. Namun aku tidak seresah seperti kau sekarang. Mengapa, ya?”

“Mungkin…” Saban diam sejenak. “Karena aku terlalu memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi, terutama ekspektasi tentang diriku sendiri. Manusia akan benar-benar kecewa jika mengetahui bagaimana dirinya yang sebenarnya.”

“Yah, kau memang korban sejarah dan ideologi, Ban!”

“Bukan korban sejarang atau ideologi, lebih tepatnya korban ilmu pengetahuan,” Saban menjelaskan tentang dirinya. “Ilmu pengetahuan, atau pengetahuan itu sendiri, terkadang membuat kita merasa lebih tinggi. Kita menjadi bias. Kita tidak bisa lagi membedakan harapan-harapan dan bayangan-bayangan yang sering kita pikirkan. Apakah itu sesuatu yang baik atau tidak, kita tidak tahu. Sempurna tidak selalu bagus. Aku ingin menjadi sempurna, tapi nyatanya apa yang aku inginkan begitu dangkal dan memalukan. Aku jadi berpikir, apakah mereka-mereka yang sudah mati, yang kita kenal sebagai orang-orang yang sangat menginspirasi, juga serupa dengan jawaban yang kita terima dari Tuhan tadi?”

“Tidak tahu,” Jabir mengangkat kedua bahunya dengan malas. “Lagi-lagi kau terjebak dengan tanya-tanya tentang orang-orang dulu, Ban. Tapi, ya, sudahlah, Tuhan mengatakan bahwa jawaban itu adalah jawaban untuk pertanyaan manusia jaman sekarang. Tidak ada gunanya menduga-duga yang dulu-dulu, sebuah kehidupan yang tak terjamah oleh kita karena kita tidak hidup pada masa itu. Lagipula, aku takut kau akan lebih resah dari yang sekarang ini jika tiba-tiba Tuhan memberikan jawaban yang sama sekali beda dari yang kau bayangkan saat ini.”

“Justru, aku sangat yakin bahwa jawabannya sama saja!” Saban akhirnya membakar rokok yang sedari tadi ia elus. “Kita sedang berbicara tentang manusia, kan? Dan manusia itu sama saja di setiap ruang dan masa yang berbeda.”

“Ya, memang seperti itulah adanya.”

“Maksudmu?”

“Sebenarnya aku sudah memiliki jawaban yang tidak jauh berbeda dari wahyu Tuhan,” terang Jabir. “Bahwa kita hadir di dunia ini dengan penuh harapan-harapan untuk dilihat dan didengar. Setiap manusia ingin menjadi ada dan berada. Manusia terjebak oleh catatan-catatan yang mereka buat sendiri. Manusia terjebak oleh ilusi-ilusi membangun peradaban. Padahal, sesungguhnya, bukan peradaban itu yang menjadi perhatian mereka, tapi dirinya sendiri. Mulai dari yang humanis hingga yang nihilis sekalipun, aku rasa, menginginkan sesuatu yang memalukan.”

“Kata humanis dan nihilis tidak ada kaitannya dengan ini, menurutku,” kata Saban. “Itu hanyalah sebuah istilah yang merujuk kepada pemikiran dan harapan-harapan yang diberi batasan arti. Persoalannya sekarang, kita sedang dihadapkan pada sebuah jawaban tentang manusia yang sebenar-benarnya manusia, mulai dari nabi hingga pendosa paling terkutuk. Fakta dari Tuhan, yang mengatakan bahwa mereka sama, membuatku, dan kau mungkin juga merasa seperti itu, merasa begitu terpukul. Seburuk itukah manusia? Seburuk itukah kita?”

Mereka diam lagi.

After years of waiting nothing came. As your life flashed before your eyes. You realize. I’m a reasonable man. Get off, get off, get off my case, I’m a reasonable man. Get off my case, get off my case.

Lantas, apa artinya sebuah kerpercayaan, yang digadang-gadang sebagai iman itu? Apa gunanya doktrin-doktrin yang telah dipaksakan sejak lahir jika jawabannya seperti itu. Apa gunanya dinamika hidup yang terus berjalan seperti roda dan timbul tenggelam seperti ombak lautan? Angin tidak bisa menjawab. Suara-suara alam menjadi diam. Waktu menggelengkan kepala. Ruang semakin menciut. Untuk apa kita ada kalau hanya menafsukan keadaan dan keberadaan?

“Kita harus mencari perlindungan, Bir!” kata Saban.

“Perlindungan?”

“Ya, perlindungan. Sesuatu yang bisa melindungi kita dari keresahan ini. Aku resah.”

“Aku tidak resah,” kata Jabir.

“Takut? Aku takut, Bir!”

Jabir diam. Dia menggigil. Dengan bergetar, tangannya meraba-raba meja dan mengambil sebatang rokok lantas membakarnya. Hisapannya begitu dalam, hembusan asap dari mulutnya begitu tebal dan berat.

“Ya, aku juga takut… Tapi, siapa yang bisa memberikan kita perlindungan?” kata Jabir, akhirnya.

“Bukan siapa, tapi apa,” kata Saban. “Apakah kita harus kembali kepada Tuhan? Karena sepengetahuanku, hanya Dia-lah yang paling Berkuasa terhadap segala apa yang ada.”

“Kembali kepada Tuhan?” Jabir membelalakkan mata. “Aku belum siap untuk mati, Ban! Itu sakit!”

Seketika, Saban berdiri dan menyulut api di lengan bajunya, kemudian melompat ke tumpukan rerumputan kering yang berada di depan mereka. Dia tidak beranjak, hanya menggeliat, menunggu apinya membesar. Jabir memperhatikannya dengan keringat mengucur deras ke seluruh tubuh. Betapa dia tidak mau berpikir sedikit lebih panjang? Sudah menyerahkah dia? Kalau orang seperti dia sudah begitu putus asa, bagaimana dengan aku? Pikiran Jabir jungkir balik. Kurang dari satu menit, tumpukan rerumputan kering itu hangus terbakar dengan tubuh Saban yang kaku menahan sakit di tengah-tengahnya, tak kalah hitam. Saban sedang mencari perlindungan.

Jabir masih duduk di tempatnya. Dia lebih takut, badannya bergetar lebih hebat. Dia sendiri. Dia mencoba menyulut sebatang rokok lagi. Rokok yang sebelumnya sudah mati karena basah oleh keringat.

“Anjing!” umpatnya begitu dia sadar rokok itu sudah habis.

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s