9:18 pm

Sudah cukup lama saya tidak bertatap muka dengan paman saya yang satu ini. Pesta sunatan tetangga beberapa hari lalu menyebabkan pertemuan itu terjadi meskipun dengan sedikit canggung.

Sempat saya bertanya padanya bagaimana cara menjadi seorang jurnalis yang handal. Saya tahu bahwa dulu, paman saya ini salah seorang pemuda yang sangat handal di bidang ini. Ada banyak pengakuan dari wartawan-waratan handal sekarang bahwa mereka belajar dari paman saya itu.

Dia menjawab, perbanyaklah jaringan.

Oke, saya tahu itu.

Lalu dia mengatakan lagi, “Kalau kau ingin banyak jaringan, seharusnya mencoba mencari dunia baru di bidang magang, jangan terpaku pada satu tempat saja. Cobalah mencari satu hal yang lebih menantang!”

Teman saya juga pernah berujar demikian. Dia berpendapat bahwa kalau saya magang di tempat yang sama, ya tidak ada artinya sama sekali karena tidak pernah tahu tempat-tempat yang lain. Bagaimana ingin belajar tentang manusia jika kita tidak bergerak kemana-mana? Kira-kira begitu kritik dari mereka.

Baiklah saya akan menjawab.

Alasan saya berada di tempat magang ini bukan karena takut dengan tantangan baru. Bukan karena tidak berani mengambil jalur lain. Tapi karena saya memang tidak ingin.

Saya mengerti dan sangat paham sekali bahwa ada musuh yang harus saya lawan dengan idealisme yang saya miliki sekarang. Bahwa idealisme ini tidak bisa dinegosiasi dalam bentuk apa pun. Dan saya tahu pula secara sangat sadar bahwa hampir tidak ada yang mau kompromi dengan idealisme ini. Dan hanya di tempat magang saya sekarang lah idealisme itu diterima, atau lebih tepatnya, tempat magang saya sekarang memiliki idealisme yang sama dengan saya, memiliki cita-cita yang sama dengan mimpi saya.

Saya sedang melawan sistem yang sudah bobrok. Saya sedang melawan kuasa media. Apakah mungkin saya harus menyerahkan diri kepada apa yang saya lawan agar mendapatkan naungan? Tidak. Merdeka 100% Bung Tan menjadi prinsip saya. Ketika saya tahu apa yang sedang saya lawan, saya tidak akan mau berkompromi sedikit pun, bahkan jika itu berhubungan dengan masalah magang saya. Lagipula, saya tidak mau mencacatkan catatan karir idealisme saya, yang sayangnya, hanya saya sendiri yang mengerti.

Egois? Bukan. Tapi ini persoalan apa yang kita pilih, kan?

Dan karena pilihan ini pulalah saya tidak bisa menggapai hal-hal lain yang, terkadang, juga menjadi penting bagi saya sendiri, yang sering saya sadari ketika malam hari selesai mengulik-ulik arsip. Saya tidak punya waktu, sedang waktu terus bergerak cepat. Pekerjaan rumah masih banyak. Musuh saya bukan sesuatu yang gampang untuk ditundukkan.

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s