hukum manusia (?)

Sekali kau dicap sebagai pembuat kesalahan, kau akan selalu menjadi pembuat kesalahan…di mata orang yang mencap dirimu. Bahkan jika sekarang ini kau tidak lagi melakukan kesalahan itu, kau akan terus menjadi orang yang disalahkan.

Sekelabat terlintas di kepala saya, bagaimana kalau kita berbicara tentang dosa? Setiap agama punya definisinya masing-masing tentang itu. Mengingat sebuah pemikiran dari kaum peacemaking yang melihat dunia ini sebagai sebuah kosmos keseimbangan, tindakan kejahatan (atau yang merugikan, atau yang berdosa) dianggap sebagai satu tindakan yang merusak keseimbangan. Ketiadaan responsiveness dari individu yang satu terhadap yang lain menyebabkan rusaknya keseimbangan sehingga memunculkan sebuah ketimpangan (kerugian). Menurut pemahaman saya terhadap pemikiran itu, bisa kita simpulkan bahwa pada titik itu, ada sesuatu yang salah yang sedang terjadi, atau ada yang melakukan kesalahan, atau ada yang sedang berbuat dosa.

Saya coba bercerita hal itu secara lebih dekat dengan sedikit mencurahkan isi hati sehubungan dengan pengalaman saya di masa lampau.

Dulu, saya pernah melakukan kesalahan besar; saya pernah melekatkan sebuah perilaku salah. Substansi salahnya benar-benar besar, terutama di mata orang yang pernah mengalami langsung proses dan dampak dari perilaku salah saya itu. Sekarang ini, mungkin saya berada di titik yang aman. Perilaku salah itu sangat kecil kemungkinanya terulang pada posisi saya sekarang. Akan tetapi itu cuma satu kemungkinan. Artinya, kemungkinan yang lain juga ada, yang bisa jadi bertolak belakang.

Saya sempat merasa gembira beberapa waktu lalu karena dapat melupakan kesalahan itu. Saya selalu berdoa agar dampaknya tidak berlanjut dan dapat terkikis oleh waktu. Setiap detik saya berharap orang yang mengalami kerugian atas perilaku salah saya itu dapat semakin mematangkan isi kepala dan hatinya sehingga mampu terbebas dari memori-memori (serta akibat-akibatnya) yang buruk, yang pernah saya lakukan. Dan saya sangat yakin itu sudah terjadi; orang yang menderita karena saya itu adalah orang yang memiliki pribadi kuat, mampu bertahan dan bangkit. Namun, dia bukan tipe orang yang dengan gampang melupakan masa lalu, dan mungkin juga, dia seorang yang ‘senang’ memendam sakit dari masa lalu menjadi sebuah modal untuk bertahan. Mungkin kepala dan hatinya telah matang, mapan dan lebih kuat dari yang dulu, tetapi untuk memaafkan kesalahan saya itu, sangat sulit.

Menyadari hal ini, saya kembali sedih. Ternyata, saya tidak bisa lepas dari benang merah masa lalu, dan noda hitam tidak bisa dibersihkan. Saya tetap menjadi orang yang disalahkan. Padahal, maaf sudah terucap di mulut, tetapi kadang mulut mengujarkan hal yang beda makna dengan apa yang dimaksud. Hingga detik ini, celah untuk memperkuat maaf itu tidak ada.

Dulu, saya lari. Saya lari agar terlepas dari belenggu-belenggu yang saya ciptakan sendiri. Saya lari agar hal-hal salah itu tidak terus menumpuk menjadi lebih besar melampaui keraksasaan gunung neraka.

Saya tidak sempat berpikir kalau aksi melarikan diri itu dapat memunculkan bentuk kesalahan lain. Memang, waktu itu saya lari dengan kesombongonan dan kearoganan tingkat tinggi. Hal ini menyebabkan terbekasnya pemandangan alam neraka berupa kenangan masa lalu yang tidak akan pernah dapat dihapus, dilupakan, dan dibersihkan. Pemandangan alam neraka yang amat buruk itu telah tersegel waktu, berada di lingkaran lampau yang takkan pernah terjamah lagi. Sebuah gunung kesalahan atas perilaku buruk, dan kawah kemunafikan atas kearoganan yang menyakitkan hati. Saya menjadi manusia bajingan total. Kalau pun bisa dikata saya tidak bajingan lagi sekarang, bekas bajingan itu sudah tercanangkan, tercipta menjadi sebuah artefak yang dilindungi total oleh waktu dan ingatan yang sulit melupakan.

Kata maaf tidak akan pernah cukup. Saya tahu itu.

Saya sendiri baru belakangan sadar bahwa betapa besarnya kesalahan yang pernah saya lakukan, beberapa waktu setelah saya lari (melarikan diri). Ketika saya menyadarinya, kesempatan untuk memperbaiki sudah hilang sama sekali. Sepertinya, sejauh pengamatan saya, pintu hati yang merasa dirugikan oleh saya dulu itu telah ditutup oleh si empunya. Dan mungkin, kepala si empu juga telah ia blokir sendiri untuk tidak menghadirkan ‘saya yang sekarang’ dalam pikiran-pikirannya. Akan tetapi, entah mengapa, ‘saya yang dulu’, yang salah itu, tetap abadi di dalam kenangannya, dan seolah menjadi sumber referensi agar tidak terjebak lagi pada kesalahan-kesalahan baru. Betapa malangnya saya kalau itu memang benar-benar terjadi. Soalnya, saya rada-rada yakin kalau itu memang ia lakukan.

Saya pasrah sekarang ini. Artinya, mau tidak mau, saya harus menerima cap yang melekat pada diri saya akibat kesalahan saya dulu. Saya justru tidak bisa lari sedikit pun dari cap yang memalukan itu, terutama di mata orang yang tahu kesalahan besar saya.

Sekali kau dicap sebagai pembuat kesalahan, kau akan selalu menjadi pembuat kesalahan…di mata orang yang mencap dirimu. Bahkan jika sekarang ini kau tidak lagi melakukan kesalahan itu, kau akan terus menjadi orang yang disalahkan.

Membaca kesimpulan itu, tiba-tiba saya ingat bagaimana caranya menangis. Saya menangis dengan tawa sedih yang tersendat, diiringi oleh kepala yang begitu sakit dan dada yang sedemikian sesak.

Kesalahan seperti itulah yang mungkin kita kenal sebagai dosa. Pengalaman saya itu mungkin bisa menjadi sebuah contoh, bahwa kurangnya kepekaan dan ketanggapan kita menyebabkan kosmos tidak seimbang, yang akhirnya memunculkan keadaan yang cacat dalam karir hidup. Kita (saya) berdosa.

Ketika kita menyadarinya sebagai sebuah dosa, mungkin di titik itulah kita mengingat kembali bahwa ada Tuhan, Yang Mahakuasa dan Yang Maha Memaafkan, sebagai satu-satunya kesempatan kita untuk kembali menjadi manusia yang baik, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Sang Zat Abadi itulah penjaga kosmos.

Semua orang orang pernah melakukan kesalahan besar seperti itu, yang menyebabkannya tidak akan pernah dimaafkan dan menjadi pihak yang selalu disalahkan. Apakah… saya bertanya-tanya, kepada diri sendiri, kepada udara di sekitar saya, kepada apa pun yang ada di hadapan saya, apakah cap kesalahan itu dapat menjadi sebuah kontrol bagi kita untuk tidak mengulangi kesalahan besar yang demikian? Dengan segala kepasrahan yang saya punya sekarang, saya hanya bisa berharap kalau jawabannya adalah ya.

Harapannya, kepasrahan itu dapat mengembalikan kosmos kepada keseimbangan sediakala.

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s