Meninjau

Pukul setengah empat sore sekarang. Belum lega rasanya karena tugas paling penting dalam bulan ini belum juga selesai. Apalagi kalau bukan laporan bulanan pemantauan media rekammedia-akumassa? Pekerjaan ini benar-benar menyita waktu dan tenaga. Sudah tertunda berapa kali, ya? Selain disebabkan oleh Ujian Akhir Semester selama dua minggu, sakit tipus yang menyerang secara sporadis dalam bulan ini juga menjadi penyebab tertundanya pembuatan laporan tersebut.

Anehnya, saya tidak membenci tugas ini sama sekali. Justru kehadirannya menjadi sebuah kesibukan yang membuat candu. Saya pun yakin, candu ini juga dirasakan oleh rekan-rekan pemantau yang ada di kota-kota lain. Dan puncak yang paling memuaskan itu adalah ketika dapat melihat ratusan data yang tersusun rapi di dalam folder, dan berhasil ditransformasikan ke dalam sebuah artikel yang dapat dibaca oleh orang lain. Akan tetapi sekarang ini saya belum bisa lega karena laporan bulan keempat itu masih berjalan 40%.

Setidaknya, detik ini saya sedang melakukan kegiatan rehat sejenak. Menutup layar yang berisi ratusan data itu, dan tidak pula melirik layar-layar jejaring sosial seperti biasanya ketika saya sedang bersantai. Ada beberapa hal yang ingin saya abadikan dalam teks ini terlebih dahulu sebelum mereka hilang ditelan waktu.

Pertama, satu kegiatan yang paling membuat saya jengah selama satu setengah tahun terakhir berakhir sudah. Kegiatan itu adalah masa bimbingan (mabim) dan pelantikan mahasiswa kriminologi angkatan 2011. Kegiatan itu berakhir tidak sesuai dengan harapan awal, yakni terlaksananya kegiatan sarasehan (sarse) di Puncak. Alih-alih, pelantikan tahun ini dilaksanakan di lingkungan kampus, tepatnya di sepanjang Jalan Cinta, Universitas Indonesia.

Kami gagal? Atau justru kami berhasil? Ada beberapa orang yang mungkin menganggapnya demikian, ada pula beberapa yang lain dapat memakluminya. Namun, bagi saya sendiri, jelas tidak ada kata gagal atau berhasil sama sekali dalam masalah ini.

Di satu sisi, penuntasan kegiatan itu hanyalah karena tuntutan tradisi yang sudah mengakar sejak lama (tak pula tepat dikatakan mengakar karena memang tidak ada akarnya yang jelas). Kehadiran kegiatan turun temurun setiap tahun itu, entah mengapa, sudah tertanam dalam pemahaman bawah sadar mahasiswa kriminologi UI sebagai sesuatu yang memang harus dilakukan agar dapat diakui oleh lingkungannya sendiri. Tak lebih hanya sebuah kebanggaan bagi angkatan yang berperan sebagai panitia mabim dan sarse ketika mereka dapat menuntaskan apa yang telah pernah dilakukan oleh generasi sebelumnya. Dan ketika ada niat untuk mencari sesuatu yang lebih dari sekedar kebanggan, ialah hanya sebuah pemahaman terhadap lingkungan tempat kita bernaung selama empat hingga enam tahun selama kuliah.

Mungkin, melalui kegiatan inilah setiap mahasiswa di Departemen Kriminologi UI yang juga berhubungan (secara tidak jelas) dengan IKK (Ikatan Keluarga Kriminologi) itu mampu memahami apa itu rekan yang seiring, sepaham dan sejalan. Melalui kegiatan ini, setiap mahasiswa berpeluang untuk mempelajari pribadi-pribadi yang memiliki ego dan perspektifnya masing-masing. Dengan demikian, di sisi lain, kegiatan ini hadir sebagai rentang waktu untuk meniti kedewasaan berpikir dalam mengelola sebuah jaringan kerja, pertemanan, idealisme dan tanggung jawab. Oleh sebab itu, menurut pendapat saya pribadi, hasil yang patut dilihat bukan terletak pada berhasil atau tidaknya kegiatan sarse di Puncak itu dilaksanakan, melainkan sekuat apa bangunan idealisme dan negosiasi atas tanggung jawab serta pemahaman dari sebuah angkatan mahasiswa atas peran yang diemban. Sebagai bonus, keakraban dalam hubungan pertemanan yang jarang didapat di lingkungan lain: teman nongkrong, teman diskusi, teman untuk saling berbagi.

Kedua, semua mata kuliah wajib yang harus saya tuntaskan di semester enam lalu mendapatkan hasil yang cukup memuaskan. Jujur saja, IP saya turun, tetapi tidak begitu mencolok turunnya. Dan justru IPK saya naik. Itu cukup menggembirakan. Lagipula, nilai terendah yang saya dapat pada semester itu juga tidak begitu buruk, yakni B-, pada mata kuliah yang memang tidak saya minati. SKS yang saya raih sudah cukup untuk dapat mengambil mata kuliah skripsi. Artinya, saya sudah berada pada posisi mahasiswa tingkat akhir yang harus menuntaskan karya akademik itu sesegera mungkin.

Di dalam kepala saya, sudah terbayang beberapa tema yang akan saya angkat sebagai bahan kajian skripsi. Tema-tema itu, jelasnya, berhubungan dengan kegiatan yang saya minati saat ini, yaitu tentang kajian media dan kejahatan. Nantinya, beberapa tema yang sudah terpikirkan itu akan saya konsultasikan dengan pembimbing akademik saya, Muhammad Irvan Olii, dan juga beberapa kenalan saya di Forum Lenteng. Harapannya, skripsi yang saya buat dapat menjadi sebuah karya akademik yang baik dan bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.

Akan tetapi, kesibukan dengan proyek pemantauan yang sedang saya kerjakan dalam setahun ini, tampaknya mengharuskan saya untuk menunda mengambil mata kuliah skripsi itu semester depan. Kalau saya tidak salah hitung, jika saya mengambilnya di semester delapan nanti, dan jika tidak terkendala, saya akan bisa menyelesaikan studi empat tahun. Sekali lagi, saya dihadapkan pada pilihan, dan saya sudah memilih: proyek pemantauan ini harus diselesaikan terlebih dahulu. Namun demikian, pilihan ini masih harus dipertimbangkan lagi (kita lihat saja hasilnya setelah berkonsultasi dengan dosen dan teman-teman di Forum Lenteng).

Ketiga, tentang kegiatan aktivisme di lingkungan kampus. Rasanya, saya mulai bosan dengan orasi-orasi, koar-koar, dan kritik mengkritik di lingkungan mahasiswa sekarang ini. Kalau kata Andan ruru, bisa jadi sekarang ini saya berada di titik jenuh. “Itu selalu dialami oleh mahasiswa tingkat akhir,” katanya beberapa minggu yang lalu. Artinya, mungkin di waktu-waktu yang akan datang, kehadiran nama saya sebagai ‘pembuat rusuh’ dan ‘tukang nyampah’ di lingkungan kampus akan saya kurangi sedikit demi sedikit. Selain untuk menghindari sindrom ‘lingkar studi’ dan ‘hasrat mengkaderisasi’ (yang justru tidak saya senangi), hal itu akan saya lakukan dalam rangka atau usaha untuk ‘bersemedi’ atau belajar sesuatu yang lebih menantang lagi: mengkaji hal-hal yang tidak akan saya temukan di lingkungan kemahasiswaan (sebenarnya ada, tetapi tidak terlihat saja).

Keempat, saya punya PR untuk liburan ini: membaca tumpukan buku yang direkomendasikan oleh Ugeng dan Hafiz untuk saya khatami. Itu harus saya lakukan untuk mengejar ketertinggalan dalam berwacana. Saya sudah bosan berwacana sotoy-sotoy-an (hal itu saya sadari ketika saya merasa geli sendiri melihat beberapa rekan di kampus yang berbicara asal. Padahal, saya juga sering melakukan hal yang demikian). Intinya, saya harus belajar untuk berhenti ‘berbicara’ atau berhenti ‘vokal’ dari sekarang. Melawan hal yang tidak disenangi dengan tulisan masih bisa dilakukan.

Kelima, saya harus belajar bahasa Inggris lagi, sepertinya. Mau tidak mau, bahasa ini harus dikuasai (dan saya harus mengejar ketertinggalan ini secepat mungkin). Saya mengakui, kurangnya kemampuan bahasa Inggris saya menjadi kendala dalam kegiatan saya belakangan ini. Tentunya, saya tidak mau kendala itu terus ada.

Lima hal penting itu sudah saya tulis. Sekarang waktunya melakukan kegiatan yang lain.

#asyek

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s