pendapatku setelah 1,5 tahun

Saya masih ingat wajahnya, wajah yang memperlihatkan ekspresi yang baraduk-aduk: kesinisan, kekecewaan, kelegaan, dan kemengertian. Tapi dia mengucapkan kalimat itu dengan senyum: “Lu tau artinya tahi, gak?

Saya pun hanya bisa tertawa menghela napas.

Dia lantas beranjak dari posisi awal kemudian pergi. Saya segera berdiri dari lantai tangga yang dingin itu, mengambil tas, dan mengikutinya dari belakang. Ada sekitar beberapa menit saya menunggunya karena dia harus menjawab sebuah panggilan melalui ponsel.

“Lu mau gue traktir kopi, gak?” tanya saya.

“Hayo dah!” katanya, lagi, menghela napas lagi. Kemudian kami pergi ke salah satu gedung yang digunjingkan sebagai sesuatu yang ada karena pelanggaran terhadap etika dan moralitas manusia. Ya, disanalah kami bercakap-cakap mengambil kesimpulan dari apa-apa yang telah kami lakukan dan kami coba pahami. Paling tidak, usaha kami selama ini membuahkan sedikit hikmah untuk patut dimengerti dalam meniti kedewasaan berpikir. “Masing-masing dari kita punya perspektif!” begitu katanya.

Oke! Mungkin, sebagaimana dia yang berusaha untuk menyelesaikan tanggung jawab (dan saya tahu dan paham benar usaha-usaha yang telah dan sedang dia lakukan hingga detik ini, yang membuat saya tidak akan bisa melepaskan rasa hormat padanya), saya juga harus mengujarkan satu kesimpulan setelah menghadapi carut-marut ini selama satu setengah tahun.

Kalian tahu mengapa negeri ini belum juga maju-maju? Itu terjadi karena mereka yang tua tidak pernah mau percaya (atau memberikan kepercayaan) kepada yang muda. Tak mau kalah, yang muda pun begitu pongah dengan latar belakang pengetahuan yang masih seumuran jagung. Akhirnya, kita berada di titik benturan yang jauh sama sekali dari prinsip dialektis. Hal itu, terjadi di era saya mengharapkan cita-cita yang begitu ideal terhadap satu tatanan aktivitas; terjadi di lingkungan tempat saya berkegiatan hampir setiap hari. Betapa menyedihkan!

“Udah lah, Sob! Mendingan kita nyari cewe aja dah, gimane?” kataku mencoba mencairkan suasana.

Saya melihat wajahnya, dia hanya duduk bersandar, menyandarkan kepala ke pintu kaca, menghela napas, sedangkan kopi yang kami beli beberapa menit sebelumnya tak lagi dilriknya sama sekali.

Author: Manshur Zikri

Penulis

1 thought on “pendapatku setelah 1,5 tahun”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s