TL

Ya, Bung…

sudah lama kau tak kusapa

belum berubah juga,

masih kuning sebagaimana kulihat dulu

 

Halah, aku begini-begini juga

tetap tak lepas pandang meski masih meraba-raba

tapi kau semakin cantik saja, Bung.

orang-orang setinggiku sudah lantang semua

sedang aku memilih duduk saja.

 

Oh, tidak… tidak tidak…

aku punya meja baru sekarang

lagipula si malam yang kemarin sudah tak kulirik

yang siang pun tak menanggapi baik

 

Senja, ya? Ya, memang aku yang menyebutnya senja meski warnanya putih

itu pun tak terkemas apik.

Lagipula, kau lebih menarik, Bung

yang menahanku berada di luar lingkar petualangan kesederhanaan

sudah kupilih serius dari awal untuk tak diam.

Ya, caraku memang bukan dengan kuning-kuning, sih…

 

Bagaimana kabar bapakmu, Bung?

masih bertingkah juga dia? Pastinya iya, kan?

terakhir kali aku dengar kau dibalut kain panjang

aku tahu kafan itu esensial,

mati, kan otokritik yang unik dari aktivitas manusia

meski kau bukan sepertiku, kau pabrik jiwa moral

dan wajar kau dikafan ketika moral-moral sudah mati

hingga sekarang aku masih percaya itu hanya mati suri.

 

Kau memang semakin menggairahkan, Bung

terlebih orang-orang yang setinggi aku dan yang lebih pendek,

sudah lantang,

sedang aku memilih tetap duduk

padamu ku tak akan lepas pandang.

 

Ya, Bung!

 

Lenteng Agung, 6 Juni 2012

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s