OTOPSI

Sebagai Bagian dari Kerja Investigasi Kejahatan

Pendahuluan

Pada tanggal 4 April 2012, mahasiswa dari Departemen Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Indonesia (UI), yang mengikuti kelas Intelijen dan Investigasi Kejahatan, mendapat kesempatan untuk mengunjungi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jalan Dipeonegoro, No. 71, Jakarta Pusat. Kunjungan tersebut dilakukan dengan maksud untuk melihat proses otopsi oleh Tim Forensik dari Departemen Forensi, Fakultas Kedokteran UI.

Pada mata kuliah Intelijen dan Investasi Kejahatan, investigasi menjadi kajian yang penting untuk diketahui oleh peserta didik. Investigasi kejahatan perlu dilakukan untuk mengetahui apa yang tersembunyi dari satu permasalahan sehingga kita dapat memaparkannya secara terang dan terperinci.

Secara sederhana, investigasi kejahatan dapat diartikan sebagai tata laksana dalam melakukan proses pengeidentifikasian dan pengusutan satu masalah (kasus kejahatan) agar dapat dilihat secara jelas dan tidak kabur. Investigasi kejahatan secara mendalam dipelajari dalam disiplin ilmu kriminalistik, yakni sebuah mata profesi atau disiplin ilmu yang bertujuan untuk mengenal, identifikasi, individualisasi dan evaluasi bukti dan fisik dengan menerapkan ilmu alam dalam masalah hukum.

Dalam kasus kejahatan, identifikasi atau uji forensik dapat dilakukan pada pengenalan tanda badaniah, tafsir dari potret atau foto, mengeidentifikasi jejak jari (daktiloskopi) atau penjabaran tentang modus operandi akan kasus yang dimaksud. Terutama dalam kasus pembunuhan, identifikasi tanda badaniah dilakukan dalam satu proses yang dikenal dengan nama proses otopsi. Hal ini lah yang menjadi dasar bahwa kegiatan kunjungan mahasiswa ke RSCM di Jakarta Pusat menjadi penting, guna untuk melihat atau memahami secara langsung proses otopsi tersebut.

Secara umum, proses otopsi berguna untuk memeriksa atau mengetahui waktu kematian, penyebab kematian, termasuk di dalamnya adalah faktor-faktor atau kemungkinan lain yang dapat menyebabkan seseorang kehilangan nyawa, dan juga penemuan bukti melalui pemeriksaan darah, rambut, atau sperma. Proses ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi bentuk potongan daging (tubuh), keadaannya setelah mengalami kematian, yang dimaksudkan untuk pengungkapan apakah pelaku mengetahui anatomi korban dari potongan-potongan yang telah dilakukan oleh pelaku tersebut.

Berikut ini akan dipaparkan secara naratif bagaimana proses otopsi yang dilakukan oleh tim dokter di RSCM tersebut.

Proses Otopsi

Rombongan mahasiswa berangkat sendiri-sendiri dari kampus. Ada juga beberapa yang tergabung dalam rombongan menaiki KRL dari stasiun UI dan turun di stasiun Cikini. Sementara dosen, yaitu Prof. Adrianus Meliala dan Yogo Tri Hendarto, sudah berada di tempat uji otopsi lebih awal.

Saat di lokasi, tim forensik dari Departemen Forensik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, terlebih dahulu memberikan penjelasan kepada para mahasiswa dan mahasiswi yang datang berkunjung terkait dengan otopsi yang akan dilakukan. Penjelasan ini berlangsung sekitar empat puluh lima menit, dimual pada pukul dua siang. Sedangkan proses otopsi dilakukan setelahnya, yang berlangsung lebih-kurang selama satu setengah jam.

Penjelasan yang diberikan oleh tim forensik, yang saat itu dipandu oleh dr. Ade Firmansyah Sugiharto Sp. F., ialahn tentang langkah-langkah yang akan dilakukan, dan etika-etika yang harus ditaati oleh para dokter yang melakukan proses otopsi.

 Uji forensik yang dilakukan di RSCM tempo hari merupakan proses visum terhadap mayat yang merupakan korban kecelakaan kereta api. Korban tertabrak kereta jalur Jakarta-Karawang, pada tanggal 29 Maret 2012, pukul 07:00 pagi. Mayat korban tiba di RSCM dari Polsek Jatinegara tanpa identitas jelas. Hal ini menyebabkan tim dokter harus menunggu selama 2 x 24 jam, untuk memastikan tidak ada yang keberatan dengan permintaan dari pihak kepolisian Jatinegara kepada tim visum untuk melaukan pemeriksaan luar-dalam terhadap mayat korban.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh dr. Ade Firmansyah Sugiharto Sp.F., syarat pertama yang harus dipenuhi untuk melakukan proses otopsi adalah adanya surat permintaan Visum et Repertum (VSP) dari polisi atau pihak RSCM. Pemenuhan surat ini harus melalui proses pemberian izin dari pihak keluarga. Bagi mayat yang identitasnya tidak diketahui, pihak rumah sakit harus memastikan terlebih dahulu bahwa memang tidak ada yang keberatan dengan permintaan dari pihak kepolisian, yakni menunggu selama dua hari.

Ada dua bentuk pemeriksaan yang dapat dilakukan oleh dokter forensik, yakni pemeriksaan luar (external exam) dan pemeriksaan dalam (internal exam) tubuh korban. Ada ketentuan yang perlu diperhatikan terkait SPV ini. Surat pemeriksaan atau SPV dikeluarkan jika ada permintaan dari penyidik untuk dilakukan proses otopsi. Pernyataan dari penyidik, atau oleh tim dokter ahli forensik, ini menjadi penting untuk menentukan apakah mayat perlu diotopsi atau tidak. Pemeriksaaan terhadap mayat dalam proses otopsi harus dilakukan sepengetahuan keluarga korban, atau dapat pula dilakukan jika status si mayat telah kadaluarsa (2 x 24 jam, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya).

Dokter Ade menjelaskan bahwa Negara (melalui perangkat sistem peradilan pidana) memiliki hak untuk memutuskan apakah mayat korban dari kasus pembunuhan atau kecelakaan perlu diperiksa melalui proses otopsi atau tidak. Sementara itu, pihak kedokteran atau tim forensik memiliki tugas untuk pelayanan kesehatan dan juga penegakan hukum. Proses uji otopsi atau visum yang dilakukan oleh pihak kedokteran merupakan salah satu kerja konkret mereka dalam proses penegakan hukum. Proses ini memiki tujuan untuk mengidentifikasi korban, mencari adanya perlukaan, jeneis kekerasan terhadap korban, penyebab kematian dan mekanisme kematian (sesuai yang diterangkan dalam mata kuliah Intelijen dan Investigasi Kejahatan).

Uji forensik menjadi penting dalam usaha untuk mengungkap sebuah kematian yang tidak wajar, seperti kecelakaan, kekerasan, pembunuhan, homicide, atau pun suicide (bunuh diri), demi mencari alasan-alasan yang menguatkan dugaan tindak pidana. Dugaan tindak pidana selalu muncul pada mayat korban yang mengalami kematian secara tidak wajar. Misalnya, orang yang tidak mengalami sakit apa-apa, mati secara mendadak, atau ditemukan tanda-tanda kekerasan di bagian dalam dan luar tubuh mayat. Mati yang biasanya dianggap wajar adalah mati karena penyakit, atau orang yang mati berada dalam pengawasan dokter.

Perlakuan terhadap mayat tetap berada pada aturan etika yang jelas, seperti mengembalikan keadaan mayat seperti semula setelah melakukan otopsi, dan dikuburkan secara layak. Tidak ada satu pun dari dokter yang terlibat dalam proses otopsi diizinkan membawa pulang organ dari si mayat.

Dalam proses ini, biaya ditanggung oleh keluarga si mayat. Akan tetapi, jika identitas keluarga tidak diketahui, semua biaya ditanggung oleh Negara, sedangkan dokter yang menangani otopsi adalah sukarelawan (tidak dibayar). Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa proses otopsi ini murni sebagai proses penegakan hukum dan pelayanan terhadap hukum itu.

Proses otopsi yang dilakukan pada hari itu oleh tim dokter terbagi dalam beberapa tahap. Dokter Ade menjelaskan bahwa ada tiga hal yang dilakukan. Pertama, membuka rongga dada, dan memastikan tanda-tanda yang mengarahkan pada kesimpulan penyebab kematian. Kedua, membongkar ronga perut dan memeriksa semua organ yang ada di dalamnya. Semua organ diukur volume dan ukuran luasnya, kemudian dicatat datanya dalam form laporan data forensik. Pada tahap ini, pemeriksaan juga dilakukan pada rambut, darah, DNA, bentuk rongga mulut dan gigi, dan karakteritik khas organ bagian dalam tubuh korban, serta cairan-cairan lainnya. Tahap ketiga, pembongkaran kepala, untuk mengetahui lebih lanjut penyebab-penyebab yang mengantarkan si korban pada kematian.

Berdasarkan pengamatan penulis, ketika mayat masih dalam keadaan utuh, tidak terlihat ada tanda-tanda luka luar. Hal itu baru terlihat jelas ketika tim otopsi melakukan pembedahan pada tengkorak mayat, dan terlihat gumpalan-gumpalan darah, yang oleh dr. Ade, disebut sebagai salah satu bukti yang menyebabkan kematian pada korban. Hal ini kemudian mengarahkan kesimpulan dari tim otopsi bahwa dugaan terjadinya kekerasan sangat mungkin dialami oleh korban.

Tim dokter, yang saat itu terdiri dari tujuh orang, secara bergantian melakukan pembedahan terhadap mayat. Ada satu dokter yang siap siaga mendokumentasikan proses kerja otopsi. Dokumentasi ini juga berfungsi untuk mengabadikan bentuk dari organ sebelum dilakukan pembelahan, untuk kepentingan arsip dan penganalisaan data oleh pihak kepolisian dan tim forensiknya sendiri. Hasil otopsi berupa data ini menjadi panduan bagi pihak kepolisian untuk melakukan langkah selanjutnya.

Otopsi dan Keterkaitannya dengan Kriminologi

Bagi disiplin ilmu pengetahuan kriminologi, hasil kerja dari tim forensik yang melakukan otopsi juga menjadi penting. Investigasi kejahatan tidak serta merta terbatas pada penelusuran kasus melalui kerja jurnalistik kriminologi, tetapi juga dapat difungsikan sebagai bahan data primer untuk menganalisa keterkaitan konteks dengan masalah penelitian.

Hal ini dapat kita lihat pada contoh yang dilakukan oleh Lombroso, yang menjadikan data-data organ dan bentuk tubuh untuk menggagas sebuah pemikiran tentang kejahatan yang diidentifikasi secara biologis. Namun dalam perkembangannya, fungsi data hasil uji otopsi tidak hanya berhenti di situ.

Kumpulan data dari berbagai jenis kasus, misalnya pembunuhan, yang memaparkan tentang bentuk kekerasan dan penyebab kematian juga bisa menjadi bahan bagi para kriminolog untuk memetakan karakteristik bentuk kejahatan. Pola-pola dari data ini menjadi acuan bagi para kriminolog untuk mendeskripsikan dan memaparkan persoalan kejahatan di masyarakat secara lebih jauh.

___________________________________

Artikel ini merupakan lembar tugas laporan hasil kunjungan ke RSCM untuk melihat proses otopsi, dan disusun sebagai lembar tugas Ujian Tengah Semester dalam Mata Kuliah Intelijen dan Investigasi Kejahatan.

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s