tetiba terpikir

Saya bingung, mengapa ada banyak orang yang tidak suka, atau sinis, dengan ‘serius’, baik dengan katanya sendiri maupun dengan sikap. ‘Serius’ itu baru akan diperhatikan jika sudah menyangkut ego diri sendiri agar tidak ingin diganggu atau ingin diperhatikan.

“Gue serius!” begitu biasanya ujaran yang sering terlontar dari mulut. Namun, ketika ada orang yang kesan pembawaannya selalu ‘serius’, seperti saya contohnya, hampir setiap waktu alias bukan hanya pada waktu-waktu tertentu, justru menjadi bahan lelucon di mata orang-orang yang hanya menjadikan ‘serius’ sebagai tameng agar tak diganggu atau ingin diperhatikan. Menurut saya, menjadi ‘tidak serius’, sebenarnya, juga salah satu cara agar tidak diganggu atau agar bisa diperhatikan. Tapi, ‘menjadi’-nya itu tetap saja ‘serius’, kan ya? Iya nggak, sih?

Saya pun bingung, mengapa saya sulit untuk tertawa atau bersikap ringan sedikit saja dalam menanggapi hal-hal yang tidak menarik perhatian saya. Hal yang ringan, tentunya hal yang ringan di mata mereka yang sinis terhadap sikap saya yang selalu ‘serius.’ Padahal, saya merasa sedang bersikap seperti biasa saja, berperilaku atau berbicara sebagaimana asupan-asupan yang saya terima dalam aktivitas sehari-hari. Apa pula lah ‘serius’-nya jika seringkali mengutip sebuah teori demi memperjelas sebuah pernyataan pribadi? Lagipula, jika diingat-ingat, saya tidak pernah berjanji untuk membentuk sebuah citra yang ‘serius’. Saya hanya pernah berjanji untuk membentuk karakter yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Selain itu, serius saya adalah saya yang satu, saya yang apa adanya, bukan sebuah ‘alter-ego’ yang bisa saja datang tiba-tiba. Saya sangat sadar akan hal itu. ‘Serius’  yang saya miliki adalah kelucuan dan keringanan yang saya miliki.

Pertanyaan saya, mengapa orang selalu sinis jika saya selalu bertanya ‘mengapa’ dalam menanggapi hal-hal yang dianggap lucu dan tidak pernah berucap lucu dengan begitu manis dan imutnya?

Saya pun bingung, mengapa pula saya harus menulis kebingungan ini? Tidak ada salahnya kan, kalau memang ternyata saya akan terus selalu ‘serius’ dalam menjalankan hari-hari? Saya justru sekarang mulai berpikir, melihat orang bersikap sinis, meledek, atau kesal serta tidak menaruh perhatian ke saya hanya karena saya selalu bersikap serius itu lah yang akhirnya menjadi hiburan yang ‘lucu’. Sebab, betapa sempitnya sikap saya ditanggapi oleh orang lain yang tidak mau, atau belum, mencoba untuk mengerti ‘sikap serius’ saya walau hanya sedikit saja.

Padahal, kita sudah jelas-jelas hidup di lingkungan yang penuh ketertinggalan seperti ini. Betapa ironisnya.

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s