…belum terjawab

saya bertanya apa, dijawab hal yang beda, lantas mencap saya sebagai orang yang hanya bisa berkomentar. Di mana kedewasaannya? Sinema (dengan huruf S besar) bukan hanya segampang ‘mengadokan’ atau ‘mengemas’ kata cinta dan realita. Dia ‘mendobrak, membangun, dan meruntuhkan’ realita itu sendiri… Itu loh maksud saya… Dan kenapa pula masih bertanya apa itu bahasa? #hadeuh

Author: Manshur Zikri

Penulis

6 thoughts on “…belum terjawab”

  1. Hmmm.. Sebenarnya gua mau menghindari diskusi soal film ini. Karena film jelek, kalau didiskusikan, jadi berasa penting, jadi berasa bagus, hehehe… Anyway. Sebetulnya sederhana. Kekecewaan gua terhadap film Sanubari Jakarta terhapus setelah gua nonton Lovely Man (sutradara Teddy Soeriaatmadja). Keduanya sama-sama film Indonesia. Keduanya sama-sama bertema LGBT. Tapi terlihat bahwa yang satu dibuat dengan kesadaran yang lebih, dalam hal ini adalah Lovely Man. Film ini tidak pretensius berceramah tentang suka-duka kalangan homoseksual. Lovely Man, justru mengambil perspektif yang menarik; bahwa gay juga sama seperti warga kota yang lain. Coba elo tonton juga film ini, sebagai pembanding.

    Briefly, Sanubari Jakarta menurut gua justru gagal total sebagai film dengan misi advokasi kelompok LGBT. Yang ada film ini justru memperkeruh stereotipe publik tentang mereka. Tapi ada dua chapter yang lumayan gua suka; film yang pertama (lupa judulnya) dan film yang hitam-putih (Mencari Warna kalau gak salah). Kesalahan besar ada pada penulis skenario yang cuma satu orang. Itu fatal. Apalagi kalau dia cuma bermodal pengamatan pribadi, kata orang, kata temen. That’s far from enough.

    Menurut gua, aktivis LGBT sekarang justru jangan mengukuhkan stereotipe. Mereka justru harus keluar dari stereotipe yang, jangan-jangan, mereka bikin sendiri.

    Like

  2. setuju dengan pendapat ttg penonton yg tertawa melihat adegan seks. masalahnya adalah ketika mereka keburu murka dgn kritikan bang zikri yg kritis sehingga mereka kehilangan esensi dari setiap jawabannya (kalo gamau dibilang jawabannya kosong). dan lebih terkesan curcol :””)

    untuk masalah riset, yg dilakukan hanya sebatas menguatkan cerita yg dikirim agar ditemukan kesahihannya. karena tujuannya kan based on true story. jadi kalo dibilang riset yaa sesempit pernyataan true or not bang. bukan riset utk mengkaji bagaimana cara mengedukasi.

    Like

    1. Yap,, that’s the point! Seharusnya riset yang dilakukan adalah memahami kompleksitas serta relasi sejarah, sosial, politik dan budaya dari LGBT itu sendiri.. bukan apakah dia cerita yang benar terjadi atau bukan di kehidupan sebenarnya. Jika hanya berpatok pada cerita itu nyata atau tidak, ya berarti hanya akan sebagian masalah saja yang ter-cover, bukan tentang masyarakat (society) sepenuhnya.

      Like

      1. saya sih melihatnya seperti diary yg difilmkan~ jadi yaa sejauh ini yg saya dapatkan adalah kesenangan mengintip cerita di diary org.

        tp ada beberapa film yg lumayan. salah satu contohnya yg lampu merah itu. sayangnya, film Sanubari Jakarta ini terlalu banyak dlm jumlah kuantitas, tp kualitasnya banyak yg zonk hehe.

        Like

  3. saya td menyimak dgn perlahan tiap pertanyaan bang zikri. mungkin ada beberapa hal yg saya setuju dengan bang zikri.

    1.teknik sinematografi:
    yg digunakan banyak yg membuat mata kurang nyaman menonton. paling mencolok (menurut saya) adalah pada pewarnaan dalam proses editing. kenapa hrs kuning, kenapa hrs hijau. maknanya apa.

    2. adegan seks:
    entah kenapa saya agak terganggu dgn banyaknya adegan seks. seolah cuma adegan ini yg bisa memvisualisasikan kemesraan pasangan LGBT.

    3. tentang cara aktivis LGBT mengkampanyekan ttg LGBT:
    dari pengamatan saya yg saya liat di akun media sosial atau teman saya yg mengidentfikasikan dirinya aktivis LGBT, saya melihat bahwa konsep toleransi yg mereka kemukakan seolah menjadi bumerang. ketika ada yg menolak ajakan anti homophobia, terkadang mereka marah dan melabel org yg menolak berpikiran sempit dan tdk peka terhadap HAM. ketika berdiskusi dgn dosen sosiologi, saya sampai pada suatu konsep bahwa orang yang tidak toleran dengan ketidaksetujuan orang lain terhadap apa yg disampaikan jg disebut tidak toleran. walaupun hal yg mereka sampaikan adalah TOLERANSI terhadap komunitas LGBT.

    dan untuk statemen “Saya bertanya apa, dijawab hal yang beda,” itu juga saya rasakan.

    Like

    1. Yah ini memang masalah sih di lingkungan perfileman Indonesia… banyak dari sineas kita yang memiliki referensi visual yang tak cukup sehingga sajiannya terbatas dan tidak inovatif maupun genial… (seperti yg gue bilang, tak jauh2 dari FTV–dan perlu diingat, FTV di sini bukan teknis atau tuturan ceritanya, dan bukan pula soal media dan istilah, melainkan wacananya.. dan ini memang debatable..)
      Terus, gue rasa, para pembuat film Sanubari Jakarta harus mendalami lebih jauh persoalan inti dari LGBT–gue sebagai penonton melihat bahwa hasil riset mereka tentang LGBT masih kurang, dan itu terlihat dari filmnya..
      Sanubari Jakarta, tidak lain, hanya menambah deretan daftar karya yang memperuncing perdebatan, memperkuat stereotip dari masyarakat terhadap LGBT. bukan mengedukasi.. Sajiannya tidak mengedepankan cara bagaimana wacana atau masalah LGBT itu bisa dipahami lebih jauh. Sanubari Jakarta, menurut pendapat gue, kurang taktis dan kurang strategis dalam bernegosiasi dengan wacana dominan di publik penonton… Film Sanubari Jakarta adalah film LGBT pertama yang bertahan 20 hari lebih di studio 21??? Mengurut gue, itu bukan patokan bahwa ia telah berhasil memeberi pemahaman yang positif ke masyarakat tentang isu LGBT.
      Coba ingat, ada berapa banyak penonton yang tertawa setiap melihat adegan-adegan seks di dalam film itu? Coba cerna, positif atau negatif kah tawa itu? Jelas ini merupakan dampak dari visual yang disajikan. Sanubari Jakarta kurant (kalau berat hati untuk mengatakan tidak) filmis.
      Kesimpulannya, dengan usaha yang lebih ‘keras’ dari para pembuat filmnya, seharusnya film Sanubari Jakarta bisa lebih baik dari itu; tak sekedar mengemas realita jadi tontonan hiburan, tetapi bagaimana realita itu disajikan menjadi sesuatu pembelajaran yang hakiki. #asyek

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s