jangan bosan dengan bosan

Sore hari, sekitar pukul tiga. Duduk di taman depan ‘kamar baca’, setelah lelah menahan gerah di dalam gedung riuh, mungkin dapat menjadi satu hiburan yang lebih mengasyikkan. Seruan “Loh?!” dari sejawat terabaikan begitu saja. Toh, acara TRIVIA, yang diselenggarakan setiap tahunnya oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP, Univeristas Indonesia, memang begitu-begitu saja!

Kita boleh saja mengeluh ketika tidak menemukan hal yang baru. Bukankah bosan merupakan salah satu unsur yang melengkapi manusia sebagai benda berjiwa? Oleh karenanya, mungkin beranjak menjauh dari riuh monoton tahunan itu menjadi pilihan yang lebih bijak ketimbang ‘menampang’ diri seraya menahan umpat.

Hal-hal baru…

Sebenarnya, setiap detik adalah sesuatu yang baru, sebagaimana waktu tidak bisa berulang, meskipun suara detaknya tetap begitu. Namun, manusia memiliki mata dan telinga yang bisa memaknai serta membandingkan, lantas memori pun menjadi bahan rujukan. Bahkan, di detik yang baru pun, satu peristiwa bisa berulang dengan sama. Nuansanya tidak berubah. Hal ini menyebabkan detik-detik baru gagal menjadi satu hiburan yang memanjakan.

Kalau dipikir-pikir, mengulang sesuatu itu juga bukan hal yang salah. Apalagi, sesuatu itu baik dan manis adanya. Di titik ini, arti dari yang baru dan yang terulang menjadi bias.

Benturan itu, pada dasarnya, memancing kita untuk berpikir kembali. Apa yang sesungguhnya menjadi alasan bagi kita untuk merasa bosan? Bukan karena tidak menemukan yang baru, bukan pula karena mengulang yang dulu-dulu. Mungkin, jawabannya ialah kita bosan ketika kita tidak merasa puas. Kegagalan satu momen atau hal-hal lain dalam membelai hasrat kepuasan kita merupakan pelaku utama yang memunculkan kata bosan sebagai pihak yang kemudian dipersalahkan.

Pertanyaan yang muncul kemudian: untuk apa kita bosan?

Lagi-lagi kita memang harus mengakui bahwa bosan tak akan pernah jauh-jauh dari manusia. Bosan merupakan sesuatu yang lekat di setiap detik yang dilalui insan. Namun, bagaimana caranya agar kita tidak menyalah-nyalahkan? Menyalahkan si bosan itu sendiri, apalagi?

Bosan memang akan tetap ada. Oleh karena itu, ada baiknya jika kita bisa mengambil hikmah dari bosan. Keberadaannya merupakan satu titik yang mengharuskan kita untuk berhenti sejenak, meninjau kembali, lalu mendorong diri sendiri untuk mencari apa yang baru secara mandiri. Bagaimana pun, apa-apa yang baru itu tidak akan pernah datang dengan sendirinya.

Sore hari di Kampus FISIP UI, 10 Mei 2012

Tooftolenk

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s