anak, bermain dan ‘ke-seru-an’

anak, bermain dan ‘ke-seru-an’

Beberapa menit lalu, saya membaca sebuah artikel di Kompas online tentang seorang anak kecil berumur 9 tahun, Keily Setiawan, yang berhasil menjadi penulis termuda di dunia dengan menerbitkan buku berjudul Chen Chen Goes to Space. Ini merupakan sebuah prestasi yang benar-benar membanggakan, menurut saya.

Anak… masa bermain… dan prestasi… mana yang lebih seru?

Menang dalam sebuah permainan/pertandingan ‘serbu benteng’ dengan teman-teman di lingkungan rumah, sewaktu kecil, mungkin lebih seru ketimbang berprestasi tanpa pernah mengenal boneka-bonekaan.

Saya jadi berpikir, apa yang seharusnya menjadi sesuatu yang seru itu? Membaca artikel tersebut, saya sedikit terdorong untuk berbagi sebuah pengalaman yang dekat dengan keseharian saya di kampus. Ya, selayaknya sebuah pancingan yang sering dilemparkan para pendiskusi ulung di sebuah forum diskusi, cerita ini hanya sekedar esai sederhana untuk mengajak kita merenung sejenak.

Pada tanggal 11 Mei 2012, rangkaian kegiatan Krim Competition yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Kriminologi (HIMAKRIM) FISIP, Universitas Indonesia, berakhir sudah. Juara umum diraih oleh mahasiswa kriminologi angkatan 2011. Kelegaan menyelesaikan satu tugas terlihat di wajah si PO, Yuriko.

Sesaat, saya teringat sebuah percakapan antara saya dan Yuriko beberapa minggu lalu, pada malam hari. Obrolan ngarol ngidul itu berujung pada cerita Yuriko tentang masa kecil dan remajanya yang tidak memiliki satu ‘keseruan’ karena ia harus menjalani hari-hari dengan urusan sekolah: sekolah, les, belajar, mengerjakan PR. Katanya, Yuriko tidak memiliki waktu yang cukup untuk bermain. Cerita semacam curhat itu membuat saya menjadi merenung kembali. Lihat sekarang si Yuriko, ia sudah menjadi salah satu tonggak yang dinamis di angkatannya. Mungkin kita harus berpikir ulang: ada satu titik di mana keuletan satu manusia muncul keluar dan memperlihatkan taringnya.

Jelas, ini merupakan satu permasalahan tentang anak yang menarik untuk dibahas lebih lanjut. Ingin sekali rasanya mengemukan satu pendapat tentang masalah ini. Namun, hari sudah begitu malam, dan saya tidak memiliki waktu untuk menulis panjang. Oleh karena itu, saya cukup me-reblog artikel dari seorang teman saya (artikel di atas), yang saya rasa cukup memberikan satu gambaran argumentatif, dengan rentetan pertanyaan yang sedikit skeptik, tentang bagaiamana pentingnya anak dididik dengan baik agar tidak kehilangan haknya untuk bermain dan mendapatkan satu ‘keseruan’ yang begitu berarti.

HERSTORY

Sore di hari minggu beberapa minggu kemarin, saya ga ada kerjaan. Kembali seperti dulu. Sebenernya sih ada tugas tapi bahan review tugas belum punya, mau motret konser pun masih di malam hari. Akhirnya saya melakukan rutinitas lama saya di weekend yang jadi sering tertunda akibat sibuk. Azek. Dulu saya sering menghabiskan waktu berjam-jam numpang baca di gramedia. Iya, numpang baca. Memang ada perbedaan tipis antara hemat dan pelit haha! Target bacaaannya ya buku-buku yang emang ga disegel. Kadang suka untung-untungan kalau mau baca buku best seller, kalau gramedia baik sih kadang ada yang dibuka. Tapi itu jarang banget. Harus nunggu bukunya udah selesai jadi best seller atau ada orang yang udah duluan ngebuka segel plastiknya. Wah, saya sih sampai sekarang tidak akan pernah mencoba membuka segel plastik itu walaupun pada buku yang saya ingin banget baca. Cihuy. Soalnya saya masih menghargai pihak toko buku tersebut, udah untung banyak buku yang…

View original post 582 more words

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s