renungan di warung nasi padang

Lagi! Saya menemukan dua momen menarik yang terjadi sekaligus dalam satu hari. Anehnya, ini terjadi di saat hati saya sedang gundah dengan sesuatu.

Momen pertama ialah ketika saya duduk ngaso di depan Gedung Nusantara FISIP UI, sore hari tanggal 9 Mei 2012. Saat itu, saya sedang berbincang tentang satu hal rahasia dengan seorang rekan. Hal yang rahasia ini kemudian menyebabkan saya sedikit jengah dengan kesibukan di kampus. Pada waktu itu lah si Ijal, seorang OB di gedung tersebut, menghampiri kami lantas ikut terlibat dalam perbincangan. Mungkin dia tidak mengerti soal rahasia yang sedang kami bahas, tetapi dia paham benar tentang keluh kesah saya akan kejengahan di lingkungan kampus.

Yang menarik, OB seperti dia justru memberi nasehat kepada saya.

“Lu harusnya bersyukur, Zik!” ujarnya. “Gue justru pengen jadi mahasiswa, bisa baca buku banyak kayak elu pada. Lah sekarang, gue cuma OB yang kerjaannya ngepel dan menerima omelan! Tapi gue tetap yakin masih bisa dapet ijazah SMA, dan kalau gue dapet, akan gue manfaatin sebaik-baiknya. Hidup itu juang, jangan ngeluh!”

Saya dan Drajat tersenyum-senyum saja mendengar nasehat dari pemuda yang penuh semangat ini. Semangat bercengkarama dengan orang-orang seperti kami, yang bisanya hanya mengeluh dan mengumpat-umpat. Siapa yang lebih paham tentang ketertekanan yang dialami oleh ‘pesuruh’ selain OB? Mereka bahkan masih bisa bersyukur di dalam ketertekanan itu. Jelas, ini merupakan pelajaran berharga di tengah-tengah sore yang saat itu kelambu seakan mengikuti irama di dalam hati saya.

Momen kedua, ialah di dalam angkot, malam hari. Saya, yang sudah begitu lelah mengikuti empat kelas dalam satu hari dengan materi yang berat-berat dan menyebabkan mata timbul tenggelam, secara sadar tak sadar justru terhibur oleh sebuah lantunan lagu melankolis dari seorang pengamen jalanan yang berdiri di pintu angkot seraya memainkan gitarnya.

Kalau boleh jujur, saya bukan penikmat lagu mendayu-dayu pop melayu. Akan tetapi, tidak tahu mengapa, pada momen itu saya justru menikmatinya. Lagu cinta penuh sendu itu justru seolah berubah menjadi siraman moral tentang bagaimana kita bisa berpikir lebih bijak dalam memahami dan menghargai orang lain, yang terkadang memiliki tembok berduri yang harus kita hadapi. Baik lirik dan irama, tidak memiliki kaitan langsung dengan masalah yang membuat saya jengah. Tapi mungkin waktu membuatnya demikian berhubungan. Saya menjadi teringat sebuah dialog dalam sebuah film, yang sayang judulnya terabaikan oleh ingatan saya, bahwa sesungguhnya apa pun yang terjadi dan ada di atas bumi ini memiliki keterkaitan. Saya tidak akan dapat mengambil hikmah dari sebuah lagu ‘sampah’ jika tidak sedang gundah. Saya tidak akan mendengar nasehat yang mengobarkan semangat dari Ijal jika tidak sedang jengah dengan kampus.

Toh akhirnya saya menjadi mengerti, bahwa berlama-lama berkutat dengan hal yang memang tak sanggup saya taklukkan adalah satu hal yang sia-sia. Mungkin saya harus berkata pada diri sendiri, “Akui saja lah, aku memang tak mampu. Apa daya? Mungkin lain waktu.”

Maka dua momen itu saya akhiri dengan lapang dada seraya berpikir ulang di sebuah warung nasi padang pinggir jalan yang sempat saya singgahi seturunnya dari angkot. Hidangannya mengingatkan masakan ibu di rumah, tentu saja.

Saya rindu kampung? Tidak begitu. Akan tetapi saya rindu untuk menjadi pribadi bebas tanpa terikat oleh kepentingan-kepentingan yang melenakan.

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s