Santapan Dadakan di Tengah Bosan Hari Ini

Tadi sore, sekitar pukul tiga, saya benar-benar merasa bosan. Bagaimana tidak, dari awal menjadi mahasiswa baru, kegiatan acara yang disuguhkan oleh lembaga-lembaga mahasiswa di kampus saya selalu begitu saja, tidak ada nuansa baru yang menarik hati. Jengah berada di dalam ruangan yang mulai gerah karena banyaknya penonton—saya sendiri bingung mengapa acara semacam TRIVIA, semacam kompetisi layaknya cerdas-cermat berkelompok, masih diminati oleh mahasiswa untuk ditonton, padahal acara tidak menghibur jika diulang-ulang (jelas ini hanya pendapat pribadi saya)—saya memutuskan untuk pergi menuju taman di depan Gedung MBRC (yang dikenal dengan nama Plasa oleh warga kampus FISIP UI), duduk sendiri, bermenung dan menghela-hela napas: bosan.

Baru beberapa detik setelah saya memutuskan untuk segera berangkat menuju Forum Lenteng—lembaga riset independen tempat saya beraktivitas di luar kampus—tiba-tiba seseorang memanggil saya. Orang itu adalah Bang Jaka, salah seorang teman di Forum Lenteng. Tentu saja saya kaget, mengapa dia berada di kampus FISIP UI.

“Gue jadi pembiacara,” katanya. “Acara Bioskop Sosio.”

Saya lantas teringat bahwa minggu ini Jurusan Sosiologi memang sedang mengadakan acara yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa-nya yang cukup menarik (setidaknya dibandingkan dengan acara lembaga mahasiswa lain di kampus itu). Saya sempat menyesal tidak mengingatnya lebih awal karena mungkin saya tidak perlu menghadapi bosan jikalau menghadiri acara itu sedari pagi selepas kuliah. Berdasarkan publikasi acaranya, film-film yang diputarkan di Bioskop Sosio itu memang menarik semua, yaitu film-film yang belum pernah diputar sebelumnya oleh rangkaian kegiatan acara mahasiswa lainnya, sejauh yang saya ingat. Selain itu, tema film-film yang diputar tidak mainstream di benak masyarkaat penonton, atau bisa dibilang, menjadi semacam tontonan alternatif di tengah-tengah maraknya pemutaran karya-karya independen atau komersil yang tidak sesuai dengan hati saya.

Berdasarkan keterangan yang saya dengar dari Bang Jaka, acara diskusi yang ia jadi pembicaranya memang belum dimulai. Dengan kata lain, saya masih memiliki kesempatan untuk bertahan lebih lama menyaksikan sedikit acara yang bisa menghibur hati.

Beberapa saat kemudian, Deden, mahasiswa Jurusan Sosiologi yang menjadi panitia acara, mendatangi meja tempat kami berbincang. Dia mengatakan bahwa film yang akan didiskusikan nantinya sudah dimulai. Tanpa menunggu lebih lama, saya, Bang Jaka dan seorang temannya, memutuskan untuk segera memasuki ruang pemutaran film Bioskop Sosio, yaitu Ruangan Audit Komunikasi, Gedung Komnikasi FISIP UI.

Suasana saat pemutaran film Bayi Ajaib (1982) karya Tindra Rengat

Film yang telah diputar beberapa menit itu berjudul Bayi Ajaib yang disutradari oleh Tindra Rengat. Sebuah film yang diproduseri oleh Kristo Tjandra ini bercerita tentang sebuah keluarga kelas menengah. Pasangan suami isteri, Kosim (Muni Cader) dan Sumi (Rina Hassim) melahirkan seorang anak yang dipengaruhi oleh roh jahat. Tanda-tanda pengaruh roh jahat itu sudah terlihat jelas di awal-awal cerita, yaitu kelahiran sang anak, diberi nama Didi (Rizwi Ibrahim), yang penuh kejanggalan. Tidak hanya pada waktu kelahiran, ketika dia mulai besar dan akan disunat, alat kelaminnya begitu keras, bahkan membuat pisau penghulu sunat patah. Didi juga sering mengganggu warga sekitar dengan kekuatan gaibnya hingga mengakibatkan kematian.

Bayi Ajaib (1982) karya Tindra Rengat [Sumber: Google]

Berdasarkan kisah kilas balik yang ditampilkan dalam film tersebut, diketahui bahwa roh jahat tersebut merupakan arwah gentayangan dari seorang Portugis yang sempat menjadi pemimpin desa setempat, dahulunya. Dorman Dominique, si orang Portugis itu, merupakan seorang pemimpin desa yang lalim sehingga menyebabkan masyarakat desa marah dan menggantungnya. Dorman Dominique sempat mengucapkan sumpah menuntut balas sebelum kematiannya. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh keturunannya, yang juga bernama Dorman, untuk memenangkan pemilihan Lurah di desa tersebut. Secara kebetulan, Kosim merupakan saingan politiknya, sehingga anak Kosim lah yang menjadi tumbal tempat bersemayamnya roh jahat si orang Portugis.

Singkat cerita, roh jahat yang bersemayam di tubuh Didi, yang mulai meresahkan masyarakat desa dan menyebabkan banyak kematian, akhirnya dapat dikalahkan oleh bantuan dari seorang Pak Haji, yang dengan instingnya mengetahui masalah yang dialami oleh keluarga Kosim.

Salah satu adegan dalam film Bayi Ajaib [Sumber: Google]

Selama menonton film tersebut, nuansa yang saya dapatkan justru bukan ketegangan atau keseraman. Alih-alih berteriak karena ketakutan, para penonton malah tertawa terpingkal-pingkal melihat setiap adegan horror yang ditampilkan oleh film yang diproduksi tahun 1982 itu.

“Ini satu nuansa yang jelas berbeda dengan saya waktu kecil dulu, ketika menonton film ini pertama kali di bisokop,” kata salah seorang pembicara, Semiarto Aji Purwanto, seorang Antropolog Universitas Indonesia. “Kalau dulu teriak ketakutan, sekarang justru tawa kegirangan. Tapi ada hal yang tidak berubah, yaitu ketika si Pak Haji mengeluarkan ancang-ancang melawan roh jahat, semua penonton pasti bertepuk tangan.”

Suasana saat dimulainya diskusi

Merupakan satu inisiatif yang baik, menurut saya, dilakukan oleh Jurusan Sosiologi dalam rangkaian acara mereka, khususnya pada hari itu. Tema Klenik menjadi sesuatu yang menarik untuk dilihat. Seperti yang kita ketahui, mitos-mitos tentang kekuatan gaib, hantu, dan perdukunan merupakan tema yang paling sering diangkat menjadi film, sejak dulu hingga sekarang. Jurusan Sosiologi mengangkat tema tersebut menjadi satu wacana diskusi yang dapat dibahas dalam sudut pandang sosial dan politik. Sebagaimana yang diuatarakan oleh Bang Jaka, dari kalangan pengamat dan aktivis film, “Bahwa sebetulnya, setiap kali saya menonton film dengan tema klenik, yang terlihat hanyalah kebodohan. Namun demikian, yang menjadi menarik adalah sesungguhnya kita bisa melihat fenomena tersebut berdasarkan konteks sejarah, terkait ruang dan waktu, sehingga akan lebih bermanfaat jika kita bisa membahas isu sosial-politik yang tersembunyi di belakangnya.”

Presentasi yang dipaparkan oleh Bang Jaka dan Aji Purwanto, pada dasarnya, memiliki kesamaan gagasan. Bang Jaka, secara inti, berpendapat bahwa unsur klenik yang diangkat ke dalam sebuah film sesungguhnya merupakan representasi dari masyarakat yang haus akan ilusi sehingga memiliki hasrat untuk lari dari realitas sesungguhnya, serta juga merupakan satu cara bagi penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya. “Hal ini dapat kita lihat pada contoh tentang fenomena Nyi Roro Kidul, yang dipercaya sebagai isteri gaibnya Sultan (Raja-raja Jawa). Ketika Sang Raja bisa menaklukkan alam gaib, itu semacam legitimasi bagi rakyatnya bahwa raja berkuasa, karena rakyatnya sendiri takut dengan alam gaib itu.”

Sedangkan Aji Purwanto, yang berangkat dari pembahasan tentang dukun dan perdukunan—mulai dari yang tradisional hingga yang kekinian (desa ke kota)—berpendapat bahwa mitos atau perdukunan merupakan sebuah representasi dari ketidakberdayaan manusia menyelesaikan sesuatu. “Ketika masyarakat menghadapi sebuah masalah yang telah melebihi titik puncak rasionalnya, dukun atau ilmu gaib menjadi pilihan untuk menghadapi masalah itu.” Lebih lanjut, Aji Pruwanto juga menekankan bahwa sesungguhnya dukun atau perdukunan dapat dipahami sebagai fenomena tentang masyarakat yang mengalamai situasi sosial dan politik yang tidak stabil.

Sedikit informasi tambahan, presentasi dari Aji Purwanto benar-benar menghibur karena cara penyampaiannya yang lucu. Dengan jenaka, Bung Aji memaparkan perbedaan-perbedaan antara dukun di desa dan di kota. “Di Desa, dukun menjadi sebuah hal yang tidak pasti, dengan artian bahwa dia bukan menjadi satu profesi melainkan kemampuan yang ada begitu saja. Bedanya di kota, dukun sudah menjadi satu profesi yang mendatangkan pemasukan bagi pelakunya. Oleh karena itu, dukun-dukun di Jakarta hadir untuk memberikan pelayanan jasa, lengkap dengan berbagai atribut yang berfungsi untuk meyakinkan kliennya,” jelasnya.

Saya sendiri memiliki pemahaman yang sama dengan dua pembicara itu. Hal-hal yang gaib, menurut saya, memang menjadi satu tempat pelarian dari manusia dan masyarakat ketika mereka tak mampu lagi menyelesaikan sebuah masalah.

Bang Jaka saat memaparkan presentasinya tentang Film dan Klenik

Yang menarik perhatian saya tentang diskusi itu, terkait juga dengan sejarah perkembangan film-film bertemakan klenik yang ada di Indonesia, terdapat perbedaan yang jelas antara zaman Orde Baru dan pasca Orde Baru. Perbedaannya, kata Bang Jaka, terletak pada arah ideologi yang terlihat dalam film itu sendiri. Meskipun Bang Jaka sendiri sedikit pesimis apakah film-film mainstream di Indonesia memiliki ideologi yang jelas, setidaknya hal itu sedikit terlihat di era Orde Baru. Tema klenik di dalam film menjadi semacam gambaran tentang ‘fungsi’ dari mitos dan kepercayaan akan klenik itu sendiri, terkait dengan tujuan politik dari para penguasa. Sedangkan pada film-film di era pasca Orde Baru, hal itu tidak terlihat lagi. “Mungkin karena pengetahuan film di lingkungan sineas kita, menyebabkan produksi-produksi film bertemakan klenik di masa sekarang menjadi tidak berkualitas. Film Pocong Idiot hadir begitu saja dengan kemasan yang memang idiot; pelaku di lingkungan industri film kita sekarang membuat film tanpa basis pengetahuan film yang kuat sehingga arah dan maksud dari film yang dibuat itu pun menjadi tidak jelas. Itu yang saya katakan bahwa kita, sebagai penonton, hanya melihat kebodohan dalam film-film bertemakan horror, terutama sekarang ini.”

Hal yang senada disampaikan oleh Aji Purwanto, yang dengan jelas memberikan beragam contoh film-film Indonesia tahun 70-80-an yang memiliki tema klenik, besertaan dengan bahasannya. Salah satunya adalah Dukun Kota (1987)karya Dahlan Rafie, yang dibintangi oleh Alicia Djohar dan Benyamin S. “Film ini menjadi semacam kritik sosial terhadap masyarakat yang mudah percaya dengan perdukunan,” jelas Bung Aji. “Sedangkan film-film bertemakan horror yang ada sekarang, memiliki ideologi juga, tapi ideologi pasar.”

Saya sendiri berpendapat, jika kita lihat dari konteks sejarahnya, film-film bertemakan klenik pada zaman Orde Baru (bisa kita lihat sebagai contoh: film-film-nya Suzanna) merupakan semacam kritik kepada penguasa, atau bentuk lain dari ‘melawan’ yang digagas oleh pembuat film terkait dengan isu perempuan yang didominasi oleh sistem pemerintahan yang patriarkis. Perempuan yang tidak bisa melawan dominasi laki-laki, melawan dengan cara lain yang lebih kuat, misalnya dengan kekuatan gaib, yang hanya bisa dimatikan dengan kembali ke agama. Hal ini menjadi semacam respon dari situasi sosial masyarakat pada masa itu. Sedangkan film-film horror sekarang, merupakan fenomena yang saya lihat sebagai satu respon dari dominasi kekuasaan pula, tetapi ‘kuasa’ dari kalangan non-pemerintah atau negara (sebut saja serbuan film-film Hollywood dan monopoli Bioskop 21), sehingga para pembuat film menjadikan tema horror sebagai salah satu cara untuk bertahan bisa masuk ke ruang bioskop (secara logika, tema horror, kriminalitas dan seks tidak akan lepas dari hasrat keingintahuan mendasar manusia).

Cara ini menjadi pilihan karena orientasi keuntungan atau komersil, tentu saja, bukan bertujuan pada peningkatan kualitas pendidikan dan wawasan dari film itu sendiri. Seperti yang saya dengar dari dosen kajian film saya, semester lalu, pada kenyataannya, meskipun jumlah penonton film-film horror terbilang sedikit, tetapi dia ada. Memproduksi film dengan tema horror itu sangat gampang, dan membutuhkan biaya yang sangat kecil. Semakin banyak diproduksi dalam rentang beberapa bulan, jumlah penonton yang sedikit itu justru mendatangkan akumlasi keuntungan yang bahkan lebih besar dari Sang Penari yang membutuhkan biaya lebih besar dan rentang waktu produksi yang lebih lama. Dengan kata lain, bisnis film horror lebih menguntungkan dari pada bisnis film dengan tema lain yang lebih mendidik. Sungguh miris.

Para penonton dan peserta diskusi Sosio Bioskop (umumnya mahasiswa Jurusan Sosiologi)

Diskusi berlangsung sekitar satu jam-an. Sebenarnya ada banyak yang ingin saya tanyakan. Namun, karena keterbatasan waktu, saya tidak mendapat kesempatan. Diskusi itu pun ditutup oleh moderator tanpa memberikan satu kesimpulan yang pasti. “Gue rasa mahasiswa UI udah pinter-pinter, yak, jadi silakan buat kesimpulan sendiri!” katanya.

Yah, begitulah! Setidaknya, rasa bosan saya pada hari Kamis, 10 Mei 2012 itu sedikit terobati dengan rangkaian kegiatan yang diadakan oleh mahasiswa Jurusan Sosiologi FISIP UI.

Advertisements

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s