tembok obskura #1

“Setiap akhir, merupakan sebuah awal. Hanya saja, kita tidak mengetahuinya pada waktu itu,” kata Albom dalam sebuah catatan, yang hingga sekarang belum lagi aku temukan apa maksudnya.

meja dan surat kabar

Saya membaca kabarnya tadi malam. Katanya, sih pas waktu makan siang. Dan itu pun, katanya, tidak jadi. Masih ada sekitar seratus dua pulun menit lagi sebelum pukul satu siang. Jadwal makan siang yang tidak jelas untuk masyarakat tempat saya tinggal ini, menambah kebingungan di dalam kepala. Saya pun menjadi ragu, apakah akan menetap di meja ini beberapa menit lagi hingga melihat batang hidungnya, atau segera beranjak ke tempat yang lebih nyaman untuk membaca.

Meja ini sudah sepi lagi seperti tadi, ketika saya baru saja duduk tadi pagi. Keinginan untuk tidak menyebut kata rokok dan kopi, ternyata, tidak bisa saya wujudkan. Memang, dua hal itu lah yang menjadi sajian pagi hari untuk membuat saya lebih ‘sadar’. Sepertinya, saya harus mengatur jadwal yang lebih baik untuk menghindari kebiasaan begadang di malam hari. Pasalnya, kebiasaan ini bukan penyakit, melainkan satu keharusan untuk menuntaskan pekerjaan yang, mungkin saja, hanya saya dan Lulus yang mau melakukannya di sekitaran Ibukota.

Sedikit geli rasanya, ketika membaca sebuah cerita dari seorang teman yang dengan bangganya menyebutkan seorang tokoh utama yang menggilai rokok dan kopi. Meskipun saya adalah konsumen paling setia, secara pribadi saya mengamini anjuran untuk menghindari dua produk yang tidak sehat itu. Saya ingin sekali melakukannya.

Kapan?

Sebenarnya, niat untuk berbuat sudah terbentuk, hanya saja butuh pemicu yang lebih nyata. Untuk mendapatkan pemicu itulah, saya meluangkan waktu untuk menunggu di sini, hanya untuk memastikan jawaban-jawaban yang telah tersusun begitu saja di dalam khayalan saya, tadi malam. Kalau pun salah, saya percaya bahwa mungkin kekecewaan yang begitu mendalam itu juga bisa menjadi pemicu alternatif. Mungkin, itu baru sebuah ‘mungkin’. Mungkin yang lain, saya justru menjadi tokoh utama dalam cerita teman saya yang baru saja tahu bagaimana serunya dunia baca-tulis.

***

“Setiap akhir, merupakan sebuah awal. Hanya saja, kita tidak mengetahuinya pada waktu itu,” kata Albom dalam sebuah catatan, yang hingga sekarang belum lagi aku temukan apa maksudnya.

***

Coba aku ingat-ingat. Kira-kira, ada sekitar satu setengah jam tubuhku merasakan panas dari alat yang aneh ini. Biasanya, aku ditempeli oleh benda-benda bening berisi cairan yang dingin, atau makanan-makanan yang dilahap oleh makhluk yang, bahkan, untuk menganggapku ada dan berjiwa saja, tidak pernah. Mereka juga tidak pernah berpikir sedikit lebih dewasa, menurutku. Bagaimana tidak? Seharusnya, ada hal-hal lain yang bisa dilakukan—dan ini bisa menjadi hiburan untukku karena bisa melihatnya dengan lebih nikmat. Memang, sih, ada beberapa kali waktu, aku ditempeli oleh alat yang sama, tetapi tidak sesering benda-benda bening yang dingin.

Benda-benda bening menyapaku setiap hari.  Mereka berganti-ganti. Biasanya, tidak lebih dari satu jam aku bercengkrama dengan benda-benda bening itu, lantas pergi dan diganti oleh benda-benda bening yang lain.

Aku terkadang kesal juga, aku sering dipukul dalam tawa karena sebuah banyolan yang aku tidak mengerti. Aku lebih mengerti ketika aku menjadi perantara sebuah perbincangan yang membetahkan orang untuk membangun masyarakatnya. Sebenarnya, selain tidak mengerti, aku juga jengah mendengar percakapan yang itu ke itu saja. Coba tebak, apa perbincangan mereka?! Kalau bukan soal pujaan, umpatan dan keluhan, ya, paling tentang prestasi dangkal untuk memuji diri dan kelompok sendiri. Mereka tidak tahu saja, kalau aku ini sebenarnya memiliki karakter yang lebih idealis dari pihak mana pun yang pernah mereka olok-olok karena tidak nyambung dengan mereka. Akan tetapi, mungkin memang sudah tugasku untuk setiap malam hadir pada perbincangan yang membosankan itu—lebih tepatnya, merekalah yang hadir. Kalau tidak ada benda bening, mungkin aku sudah memilih untuk melapukkan diri. Aku, kan sudah begitu tua.

Aku tidak pernah berpikir, dan tidak pula mau mengakui, kalau aku bercengkrama setiap hari dengan mulut-mulut yang membosankan itu, meskipun aku berada di sini. Aku bahkan tetap ada di sini ketika mata dan telinga tidak ada. Aku memang tidak ada bedanya dengan benda-benda bening, yang interaksinya tak kalah dekat dengan mulut-mulut itu. Benda bening, bahkan, hampir setiap hari dibelai oleh bibir, yang terkadang memuakkan, terkadang menggiurkan. Aku tidak sedang cemburu—walau harus aku akui juga bahwa aku pernah jatuh hati pada salah sebuah benda bening, yang cantik rupawan dan mengasyikkan. Aku hanya tidak senang ketika melihat mereka, benda-benda bening itu, disalahgunakan. Aku akui juga, aku ini adalah penganut paham kolot yang sudah mengakar dalam tradisi dan norma masyarakat yang sesungguhnya.

Mengenai benda aneh yang membuatku panas itu—dalam artian bahwa kulitku memanas secara fisik karena tempelannya yang tidak lepas-lepas sekitar satu setengah jam—dia adalah hasil dari kemajuan peradaban masyarakat. Memang, dia tidak berasal dari sini, melainkan dari pulau seberang. Akan tetapi, kehadirannya sudah begitu melekat dengan mereka, sebagaimana mereka tidak bisa lepas dariku. Dia sangat dibutuhkan. Meskipun aku merindukan bunyi ctak ctak yang lebih keras, bunyi yang berasal dari benda yang bisa dikatakan nenek moyangnya, aku tidak bisa menafikan bahwa keberadaan benda yang membuat kulitku semakin meradang ini—tetapi radangnya tidak pernah kelihatan—sangat dibutuhkan (bahkan olehku sendiri). Aku bisa melihat hal yang lebih berarti, yakni aliran wacana-wacana yang sedikit lebih dinamis ketimbang obrolan membosankan yang aku singgung di awal tadi, ketika benda panas itu menempeli tubuhku.

***

Layaknya tatapan gila Eddie kepada Dominguez, yang saat itu, tak lama lagi akan berangkat ke Meksiko, dia memandangku lekat-lekat. Akan tetapi, aku justru merasa senang dengan kehadirannya. Teman baru, yang lebih mendapat perhatian, belakangan ini.

Albom mengatakan, waktu itu, bahwa beberapa saat sebelum matanya tertutup di siang hari, laki-laki bernama Eddie itu kecewa karena tidak akan ada pesta. Ingin rasanya aku mengundangnya ke sini. Setiap malam, tempatku selalu ada pesta, walau hanya kecil-kecilan, dan pasti menyenangkan jika bisa berbagi dengan Eddie. Ya, dia jauh di seberang lautan sana, sedangkan aku di sini dan tidak akan pernah ke mana-mana hingga lapuk.

“Kau memang aneh,” kata teman baruku itu. “Begitu sangat dibutuhkan, tapi justru selalu mengeluh. Tidak ada bedanya dengan keluhan-keluhan mereka yang sering kau keluhkan.”

“Keluhku berbeda,” jawabku seraya menghela napas. “Berbeda pula dengan keluh orang yang sedari tadi mengacak-acak bajumu.”

“Baju?” katanya tertawa. “Aku tidak pernah mengenakan baju, aku begini apa adanya.”

“Ya, terserahlah!” kataku. “Aku menyebutnya baju karena bunyinya sama dengan baju. Tapi, sebenarnya, baju memiliki suara yang lebih lembut ketika diacak-acak.”

“Kalau ini baju, di mana tubuhku?” dia bertanya.

“Kaulah yang tahu! Itu, kan kau apa adanya.”

Dia hanya mengangguk-anggukkan kepala.

Srak srak srak… bunyi itu, yang aku bilang mirip seperti suara baju, terdengar lagi. Dia terlihat semakin kusut, dilipat-lipat, kemudian dibuka lagi, dan dilipat lagi. Orang yang membawa benda panas itu menggerayangi tubuh teman baruku dengan begitu antusias.

Aku menyebutnya sebagai teman baru karena memliki hal yang sama. Sementara aku menyenangi wacana-wacana yang lebih dinamis, dia justru sumber yang dinamis itu (terserahlah kalau ada yang mengatakan bahwa dia hanya buatan tangan-tangan yang ingin mencari keuntungan). Paling tidak, isinya berbeda dengan obrolan yang tidak aku sukai.

Dia, dan yang sepertinya, seringkali dilupakan begitu saja. Pagi hari ditenteng-tenteng dengan rasa sayang, setelah kusut dan berpindah-pindah tangan, dia ditinggalkan begitu saja. Sedih juga rasanya melihat hal itu. Akan tetapi ada juga senangnya, karena orang-orang meninggalkannya di dekatku sehingga aku bisa berbincang banyak hal dengannya. Walau pertemanan kami hanya berlangsung selama satu hari, itu sudah menjadi waktu yang cukup lama untuk menjadi akrab. Ketika hari berganti, teman baruku itu tidak pernah kelihatan lagi (kalau pun kelihatan, pasti bentuknya sudah begitu kusut dan menyedihkan: kusam, lecek, sobek-sobek, atau dengan tampilan mengenaskan lainnya. Bahkan untuk mengatakan ‘Hai!’ saja dia sudah tak mampu lagi). Setiap hari baru, aku mendapatkan teman baru lagi—seperti biasa, kemunculannya ditenteng dengan rasa sayang, setiap pagi—yang sama persis karakter dan kedinamisannya. Ketika berbincang dengan teman baru di hari yang baru itu, dia tak ada bedanya. Oleh sebab itu, aku percaya bahwa teman baruku itu memang hanya satu. Isi boleh beda, tetapi bentuk gerak dinamisnya sama. Bukankah itu yang terpenting?

***

Cukup lama saya menunggu, tak juga kelihatan batang hidungnya. Tempat ini kembali ramai, seperti satu jam yang lalu. Saya jadi bertanya-tanya, apa mungkin saya salah tempat? Kebingungan ini menjadi semakin rumit karena ingatan akan sebuah pekerjaan yang harus segera saya kerjakan. Sialan!

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s