stop! jangan baca ini!

 “Hidup muda yang penuh cinta dan bunga-bunga itu harus dinikmati!” ujar Paman saya suatu hari. Baiklah, saya mengerti ini. Saya mulai mencoba menikmati kegalauan sebagai semacam candu positif untuk berbuat dan membuat sesuatu, salah satunya tulisan ini.

Mungkin, tulisan ini akan menjadi sebuah olok-olok terhadap diri saya sendiri, yang baru beberapa menit lalu memutuskan untuk mengakui bahwa saya memang sedang mengalami keresahan di dalam hati. Sebenarnya saya sudah mengakui hal ini lebih dari dua minggu yang lalu. Akan tetapi saya memutuskan untuk jujur dalam dunia abstraksi yang dapat dibaca oleh semua orang, baru sekarang ini. Lagipula, ini bukan semacam onani atau pemancing untuk mendapatkan hadiah dari Santa, melainkan bentuk akhir dari kegiatan yang, toh tidak menghasilkan apa-apa. Lebih baik saya membuat tulisan ini untuk bisa dibaca-baca di kemudian hari.

Saya memahami dengan baik resiko yang akan terjadi setelah tulisan ini dimuat di dalam sebuah blog yang sudah memiliki stabilitas kunjungan sebanyak lebih kurang 300 sampai 500 kunjungan per hari ini. Saya mungkin akan menjadi bahan olok-olokan yang lebih nyata di lingkungan kampus dan komunitas, dan mungkin juga, saya akan dicap sebagai orang yang hanya ingin menarik perhatian. Atau yang lebih parah, saya akan dijauhi oleh orang-orang yang akhirnya menganggap saya sebagai pribadi yang aneh.

Itu tidak masalah, selama saya tidak menjadi aneh di mata saya sendiri. Kan, niat awal saya menulis ini adalah karena ingin menjadi orang yang sadar, meskipun nantinya dianggap sebagai orang yang ‘gila’. Saya percaya bahwa sadar dan gila itu beda tipis sebagaimana tipisnya perbedaan antara sedih dan bahagia.

***

Saya termasuk dalam kelompok orang yang tidak piawai dalam permainan cinta—yang secara gamblang, kita katakan saja dunia perpacaran, atau menggaet pasangan—tetapi saya paham tentang apa yang selama ini kita kenal sebagai cinta. Ini bukan nasehat, melainkan usaha bagaimana saya mendeskripsikan diri saya sendiri. Dan saya rasa, semua orang memiliki kapasitas pemahamannya masing-masing tentang cinta (yang tidak lagi saya sangkut-pautkan sebagai semata-mata sebuah kata yang memiliki makna, tetapi sebagai sebuah konsep atau wacana yang dapat membangun peradaban manusia). Kapasitas pemahaman itu jelas berbeda satu sama lain, tetapi tidak dalam hal benar-salah atau baik-buruk; beda secara horizontal, bukan vertikal.

Sejak saya memutuskan hubungan dengan Y, saya mulai membangun keyakinan bahwa hubungan kasih antara perempuan dan laki-laki tidak hanya berhenti pada bagaimana kita saling memahami. Akan tetapi jauh lebih kompleks dari itu, yang sampai sekarang belum saya temukan jawabannya dalam bentuk sebuah definisi yang ajeg dan baku. Saya percaya ada hal yang lebih hakiki dari sekedar saling memahami, yang berdiri di singgasana ketidakterlihatan itu, dan hingga sekarang saya belum bisa melihatnya. Kurang saling memahami apa antara Y dan saya, kalau boleh saya mengatakan? Namun, kami memutuskan untuk berpisah dan tidak berhubungan lagi. Mungkin ini bagian dari hal yang tidak terlihat itu.

Lebih dari setahun saya hidup ‘sendiri’ (jomblo). Saya juga bukan orang yang munafik, sok mampu bertahan untuk hidup ‘sendiri’. Bagaimana pun, saya adalah manusia biasa yang juga takluk oleh perasaan galau hidup ‘sendiri’. Dalam waktu kira-kira setahun, saya mencoba untuk mencari sosok perempuan yang bisa menggantikan mantan pacar saya yang dulu. Hasilnya, tiga kali jatuh hati, dan tiga kali pula gagal. Anda boleh tertawa mengetahui kenyataan ini.

Mengalami tiga kegagalan untuk mendapatkan pujaan hati, membuat saya memiliki banyak kesempatan untuk belajar dan memahami bagaimana seharusnya saya tertarik, mengenal, dan kemudian mencintai seseorang. Yang paling ideal, tentunya, kita dilarang untuk memaksakan diri mencintai seseorang karena ‘lapar mata’ atau tergerak karena tidak ingin dicap sebagai orang yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk mendapatkan pasangan. Selanjutnya, kita mencintai orang bukan karena pertimbangan rasional untung dan rugi. Dan yang terakhir, mencintai seseorang itu tidak perlu dianalisis dalam berbagai sudut pandang teori yang aneh-aneh. Kita berbicara soal perasaan. Dengan kata lain, kita berbicara tentang ruang lingkup hati dan keyakinan, yang tidak bisa dilihat dari sudut pandang logika dan pemikiran. Umumnya, perempuan bersikap dengan melandaskan diri pada tiga hal itu. Ini menjadi semacam argumen untuk tidak menyalahkan perempuan. Jujur saja, saya sedikit tidak menyenangi laki-laki yang menganggap remeh sikap perempuan. Justru, saya melihat bahwa ketika laki-laki menyalahkan perempuan yang memiliki pola pikir yang naif seperti ini, itu merupakan cerminan dari pribadi laki-laki yang patriarkis (saya tidak mau patriarkis). Anehnya, pemahaman seperti ini baru saya dapat secara perlahan dalam tiga kali proses yang selalu gagal itu. Sepertinya, laki-laki memang harus ‘dicambuk’ dulu biar sadar.

Pernah ada yang mengatakan kepada saya bahwa kegagalan yang saya alami disebabkan oleh saya sendiri yang menganggapnya gagal. “Lu pasti bisa kalau mau berusaha lebih jauh!” katanya. Mungkin pendapat itu benar: saya hanya bermain di tingkat harap-harap tanpa aksi konkret. Kalau boleh saya menanggapi pendapat itu, apa yang sedang saya usahakan adalah untuk mendapatkan pemahaman, bukan ‘jadian’. Jadi, gagal dalam konteks ini adalah gagal ‘menaklukkan hati’ si gadis pujaan karena saya tidak memiliki keberanian yang bisa dibanggakan. Saya sendiri sedikit kurang dapat menerima sebuah kewajiban untuk ‘menaklukkan hati’ itu. Sebagaimana yang sering dikatakan Drajat kepada saya, “Intinya, sebuah hubungan itu, kan bukan pada statusnya, Sob! Tapi sejauh mana lu bisa mendapatkan manfaat dari hubungan yang sedang dibangun. Ketika dia sudah mulai menggangu kesadaran yang lu punya, ya lebih baik abaikan dan kerjakan hal-hal lain yang lebih bermanfaat! Ribet amat, dah?!” Terlepas dari maksud sesungguhnya ketika Drajat mengeluarkan pernyataan itu, menurut saya ini sebuah pemikiran yang oke terkait konteks yang sedang saya bicarakan.

***

J, nama panggilannya, merupakan orang pertama yang membuat saya jatuh hati pasca berakhirnya hubungan saya dengan Y. Bisa dibilang, saya tidak kenal dekat dengannya, meskipun sempat terpikir untuk mendekati. Awal ketertarikan bermula pada kata orang-orang bahwa ia tipe perempuan yang kuat dan tahan banting, selain memiliki tampang yang menarik.

Tidak perlu munafik, saya menjadikan tampang sebagai salah satu ‘syarat’ untuk jatuh hati kepada perempuan. Ini wajar dimiliki oleh semua orang. Gara-gara hal ini, saya—seperti orang-orang di jaman sekarang yang ingin mengetahui profile seseorang—menelusuri segala hal tentangnya melalui situs jejaring sosial facebook dan twitter. Tentu saja, usaha penelusuran ini terbatas dan tidak lengkap; “kita tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya … hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya,” kata Harper Lee dalam To Kill a Mockingbird (1960).

Romantiasi dan dramatisasi berlebihan kemudian muncul di kepala saya. Ada semacam gerak tak sadar di diri saya untuk mulai menyenangi karya-karya puisi yang ia buat. Kemudian saya bertanya-tanya melalui percakapan-percakapan dan gosip-gosip mengenai J. Lantas, terbentuklah sebuah konstruksi tentang J yang ‘maha’ sempurna di mata saya. Saya sejujurnya sadar bahwa ini merupakan ulah dari sebuah ilusi yang tersebar di mana-mana di lingkungan kita, baik berasal dari dunia maya maupun dari informasi-informasi yang datang bukan dari pihak pertama. Akan tetapi mau berkata apa, ketika hati sudah tertumbuk pada sebuah perasaan ‘menyenangi’ yang kemudian perlahan-lahan menjadi rasa ‘ingin memiliki’, kita tidak bisa melihat apa-apa.

Mungkin ini lah contoh dari cinta buta, menyenangi sesuatu yang kita tidak tahu tentangnya. Jalaludin Rumi pernah berkias tentang orang yang buta: “Orang-orang buta tidak mengenali siapa yang merompaknya, walaupun perompak kejam itu mungkin terlanggar badannya.” (Masnawi, B2: 2352). Dengan kata lain, orang tersebut mengalami ‘kenal buta’. Artinya, ketika kita tidak bisa memahami seseorang secara menyeluruh, tetapi kita terlena untuk ‘mencintainya’ secara membabi buta, berarti kita ‘buta’ dan mengalami ‘cinta buta’. Ya, sejenis interpretasi kecil-kecilan yang sedikit dipaksa-paksakan dari saya.

Saya sempat beberapa kali berbincang dengan J melalui chat box di facebook dan pesan singkat di ponsel, dan sempat pula berbincang dengannya secara langsung ketika akan menyumbangkan beberapa buku ke Rumah Baca FISIP UI yang dikelola oleh Divisi Sosial Masyarakat (Sosmas) BEM FISIP UI. Tidak ada hubungan yang lebih jauh dari itu. Saya melihat bahwa J tidak memiliki respon ketertarikan yang lebih terhadap saya sebagai seorang Zikri tanpa embel-embel, dan saya juga tidak melakukan usaha untuk melakukan pendekatan yang lebih jauh. Saya sering diolok-olok oleh teman-teman karena tidak memiliki keberanian itu.

Saya akui bahwa ketertarikan saya terhadap J telah menyita konsentrasi saya terhadap hal-hal yang lain. Saya mengalami galau tingkat tinggi, waktu itu. Akan tetapi saya tetap saja menjadi katak dalam tempurung, dan hanya menikmati karya tulis yang ia buat di note facebook. Posisi saya sama dengan yang lain, tidak menjadi sesuatu yang khusus dalam kehidupan J sementara ia memiliki memori dan ‘permasalahan’ spesialnya sendiri yang saya tidak ketahui. Apa yang dapat saya banggakan untuk sekedar ‘mencuci tangan’ ialah saya tidak mau mengganggu hal spesial yang dimilikinya itu, atau malah menambah masalah-masalah baru dalam kehidupannya. Oleh karenanya, saya memilih diam ketika ‘ajakan’ saya (melalui pesan singkat di ponsel) untuk mengenalnya lebih dekat tidak begitu mendapat respon yang saya harapkan.

‘Kisah’ saya dengan J berakhir—dalam artian bahwa saya memutuskan untuk tidak berharap lagi dan menghentikan mimpi-mimpi untuk bisa menjadi pacarnya, atau menjadikannya pacar saya—ketika pada suatu hari saya mendengar kabar bahwa J jadian dengan orang lain. Jelas, ini membuat hati saya ‘patah’. Sakit, memang. Akan tetapi memang begitu lah dinamikanya, terkadang kita harus memilih untuk berhenti di saat kita memang tidak menginginkannya. Pada waktu itu, saya memaksa untuk ingin berhenti meskipun sulit, tanpa pernah mengatakan secara langsung padanya tentang perasaan saya. Sepertinya, kalau dijadikan sebuah film atau drama FTV, saya menjadi sosok paling pecundang. Miris? Ya, memang begitu kenyataannya. Ini kegagalan pertama.

***

Saya pernah mengikuti tes psikologi. Hasilnya menyebutkan bahwa saya adalah tipe orang yang mudah jatuh cinta. Itu terbukti tepat berdasarkan cerita saya ini. Tidak berselang begitu lama, saya kemudian jatuh hati kepada seorang mahasiswi baru (maba).

V adalah nama panggilannya. Interaksi saya dengannya jauh lebih intens ketimbang waktu galau kepada J. Hal itu disebabkan karena ia menjadi ketua pelaksana (penanggung jawab) atau PO satu kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa baru dalam sebuah festival atau pagelaran apresiasi seni untuk mahasiswa baru, bernama Gelas Maba, yang diselenggarakan oleh BEM FISIP UI, beberapa bulan lalu. Saya, yang lumayan aktif terlibat dalam kegiatan masa bimbingan (mabim) mahasiswa baru, secara tidak langsung mengambil peran sebagai mentor ‘dadakan’ untuk mengarahkan para maba menyusun konsep pertunjukan yang akan mereka tampilkan untuk acara Gelas Maba.

Saya mengikuti setiap perkembangan dan persiapan yang dilakukan oleh para maba untuk acara Gelas Maba, dari awal hingga akhir. Saya ikut terlibat dalam merumuskan ide, membantu menyiapkan segala hal, mulai dari barang-barang kebutuhan hingga membuatnya menjadi sebuah bentuk yang akan dipamerkan di posko milik mahasiswa Kriminologi, hingga pada hari H ketika pengumuman pemenang disampaikan oleh dewan juri. Saya cukup bersyukur, kala itu kami mendapat peringkat kedua, mengalahkan jurusan Komunikasi UI yang awalnya diduga menjadi pemenang. Jurusan Komunikasi mendapat peringkat ketiga, sedangkan peringkat pertama diraih oleh jurusan Politik.

Keterlibatan ini lah yang membuat saya memiliki banyak kesempatan untuk berinteraksi lebih banyak dengan V. Awalnya, saya hanya tertarik karena ia memang memiliki pesona yang berbeda dari maba Kriminologi yang lain. Namun, semakin lama berinteraksi, saya kembali terjebak di titik kegalauan. Saya jatuh hati lagi.

Perlu saya luruskan sejenak, jatuh hati yang dimaksudkan di sini adalah keinginan untuk memiliki. Meskipun itu bukan satu-satunya pengertian dari ‘jatuh hati terhadap seseorang’, pengertian ini, umumnya, di-iya-kan oleh hampir semua orang. Dan perlu pula saya tambahkan bahwa meskipun saya sering berujar kepada Drajat bahwa ada syarat-syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang perempuan untuk saya sukai, seperti misalnya harus berwawasan luas, bisa membuat karya tulis dengan baik, harus supel dan periang, ternyata saya hanya terjebak pada beragam abstraksi yang rumit, dan toh ternyata saya juga takluk oleh bentuk fisik. Sama halnya dengan J, saya jatuh hati kepada V tidak lain terdorong karena pesona yang dimilikinya, sedangkan keunikan atau kekhasan karakteristik yang mereka miliki itu saya temukan (dipaksa ada dan dicari-cari keberadaannya) ketika saya memang sudah berada pada posisi yang benar-benar galau. Jelas ini merupakan cara yang tidak baik untuk mencintai seseorang.

Ketika galau yang kedua ini terjadi, saya berada pada posisi yang sulit. Saya harus pandai-pandai untuk tidak bersikap pilih kasih kepada maba. Sejauh yang saya sadari, saya tetap bersikap sama rata. Selain itu, ada semacam tuntutan di kalangan para panitia mabim, untuk menjaga jarak dan wibawa di hadapan maba.

Cerita selanjutnya tentang V, tidak jauh berbeda dengan J. Saya lagi-lagi terbuai dalam dunia ilusi di situs jejaring sosial, melakukan aksi kepo terhadap segala aktivitasnya, mulai ‘memaksakan’ diri untuk tidak menjadi Zikri yang apa adanya hanya untuk mencoba menarik perhatiannya. Dan semua usaha itu gagal. Saya bukan orang yang mahir bermain peran dalam hal ini. Dan yang lebih parah, kejatuhan-hati saya terhadap V justru membawa banyak kerugian pada aktivitas saya di akumassa. Galau tersebut benar-benar mengganggu pekerjaan: produktivitas menulis turun, perhatian terhadap kuliah berkurang, pekerjaan-pekerjaan di akumassa berantakan, dan saya lebih banyak melamun. Saya berada pada titik yang benar-benar akut mendekati kronis.

Ini selalu menjadi bahan pikiran saya. Di satu sisi, galau terhadap gadis pujaan itu menyenangkan: buai demikian lenanya. Namun, di sisi lain, keberadaan hati yang galau justru membuat saya tidak dapat berkonsentrasi melakukan aktivitas lain yang lebih penting. Saya merasa ini merupakan sebuah masalah yang perlu mendapat perhatian lebih agar didapatkan solusi untuk mengatasinya.

“Kalau suka dengan orang, jangan terlalu berlebihan!” begitulah kira-kira ucapan V kepada saya di sebuah surat elektronik yang sudah saya hapus dalam usaha melupakannya. Kalimat itu semacam tamparan bagi saya sendiri yang tidak dapat mengontrol diri. Dan ini merupakan sebuah bahan pelajaran yang baru.

Berbeda pada kasus J, yang mengharuskan saya untuk mau menerima keadaan dan memaksakan diri untuk berhenti meskipun tidak ingin, pada kasus V, saya secara sadar memerintahkan diri untuk berhenti. “Oke, Zikri, ini tidak boleh dilanjutkan karena tidak bermanfaat sama sekali!” itu lah kalimat yang sering saya ulang-ulang di dalam kepala ketika itu. Saya bukan memaksa untuk mau berhenti, tetapi saya memang ingin berhenti bermimpi untuk menjadikan V sebagai pacar saya. Ini kegagalan kedua. Namun, saya sempat melakukan hal yang sedikit lebih ‘maju’ pada titik galau yang kedua ini, yakni saya sempat mengutarakan perasaan yang saya punya terhadap seseorang yang sempat membuat saya ‘gila’. Hasilnya, hubungan interaksi ini berakhir dengan damai.

Pengalaman gagal pada dua perempuan itu membuat saya jadi lebih banyak berpikir. Mengapa saya bisa suka terhadap seseorang? Bagaimana saya bisa suka terhadap orang? Dan untuk apa saya merelakan diri untuk suka terhadap orang? Lantas, kapan saya harus berpikir untuk berhenti suka kepada orang, atau justru mempertahankannya?

***

Bermula pada perkenalan yang kurang menyenangkan karena saya bersikap ketus dan terlalu meninggi, saya justru tertarik pada T, orang ketiga yang membuat saya galau. Ini kualat, namanya. Sebenarnya saya sudah lama tahu T. Ia seorang mahasiswi, satu angkatan di bawah saya. Akan tetapi, baru belakangan ini saya berteman lebih dekat dengannya karena ‘paksaan’ dari dosen yang menyuruh saya mendokumentasikan sebuah acara bersama orang yang ternyata memiliki banyak kejutan ini.

Cakep tuh, Zik!” celetuk Ageung, teman saya, waktu saya kegep sedang melihat-lihat blog milik T. Bukan apa-apa, waktu itu saya melihat blognya hanya karena ingin tahu bagaimana kira-kira karakter orang yang akan menjadi rekan kerja saya.

Memiliki ‘mainan’ sendiri, punya imajinasi aneh (dan senang mengutarakannya ke orang lain tanpa malu-malu), dan juga senang menulis walaupun dalam bentuk kemasan yang jauh berbeda sama sekali dengan gaya menulis saya. “Tulisan gue cuma nyampah doang, Zik!” begitu katanya.

“Sampah apaan? Dari pada kayak makalah? Gue malah kena kritik mulu dari koordinator akumassa gara-gara tulisan gue selalu ‘serius’,” kata saya menanggapi.

Akan tetapi bukan itu yang menjadikan saya semakin tertarik dengan T. Kalau kata buku-buku ilmu sosial, sebuah perbedaan yang menyerupai bumi dan langit atau kutub utara-selatan justru akan membawa satu titik temu hal yang baru. T jelas sekali memiliki karakter yang berbeda dengan saya, tetapi hal yang beda darinya menggelitik rasa ingin tahu saya. Selain itu, pembawaannya simple, tidak ribet seperti saya. Namun, kesederhanaan itu bukan berarti tidak memiliki wawasan. Berbeda dengan saya, dia mampu mengemas sesuatu menjadi hal yang menarik untuk disimak. Dan yang terakhir, seolah-olah takdir memperlihatkan saya sebuah oase di tengah gurun pasir, saya menemukan karakter unik yang selama ini saya cari-cari. Di tengah-tengah hedonisme dan keapatisan anak muda jaman sekarang terhadap narasi-narasi kecil yang tersebar di lingkungan masyarakat, saya menemukan orang yang mempunyai perspektif yang genial tentang warga. Selain senang dengan ‘kota’, T bukan hanya mau mencair di tengah-tengah massa, tetapi ia juga ‘menjadi’ warga. Itu intinya, dan menurut saya itu adalah karakter yang ‘seksi’.

Saya tak tahu, apakah ini hanya sebuah fatamorgana? Jangan-jangan, saya terjebak lagi dalam sebuah perasaan yang dilebih-lebihkan karena jatuh hati pada seseorang. Saya yakin, jatuh hati kali ini bukan didorong karena tampang atau bentuk fisik. Saya tidak sedikit pun berpikir ke arah itu ketika menyadari T telah menarik hati saya. Permasalahannya, saya memang belum mengenal T lebih jauh, tetapi ‘ketergila-gilaan’ saya akan karakteristik, kesederhanaan, pemikiran, dan pribadinya yang berbeda dari yang lain itu membuat saya ‘menderita’ dalam kegalauan dan mimpi-mimpi yang tak pasti. Ya, sudahlah! Setidaknya saya memiliki kenangan yang tak akan terlupakan tentang bagaimana seru dan menyenangkannya hadir di tengah-tengah kerusuhan massa dan kekhusyukkan sebuah ibadah, bersama T.

Kemudian, sekarang saya harus mengutarakan apa yang menyebabkan saya memilih berhenti berharap. Alasannya sederhana: karena T, mungkin, masih memiliki sejarahnya sendiri yang tidak bisa ia lepaskan semata-mata hanya karena bertemu dengan cerita-cerita baru. Saya tidak bisa (dan tidak pula mau) serta merta nimbrung dan mengobrak-abrik kenangan-kenangan manis atau pahit yang pernah ia miliki itu. Dengan kata lain, saya tidak ingin menjadi pengganggu kenyamanan yang ia miliki sekarang ini. Kalaupun saya pernah berpikir bahwa saya bisa menjadi sesuatu di lembaran kehidupannya yang baru, sekarang saya justru ragu apakah saya layak mendapatkan posisi itu atau tidak? Jadi, ya, mungkin ada baiknya saya melipir secara sopan dan tidak men-distract.

***

Saya sempat berhenti cukup lama untuk berpikir apakah akan melanjutkan tulisan ini sampai tuntas atau tidak. Jujur saja, ternyata rasa takut akan resiko yang datang di kemudian hari menjadi salah satu faktor yang membuat saya jadi ragu. Selain itu, ada yang lebih saya takuti, yaitu perempuan yang membuat saya berada di titik kegalauan ketiga, yang sedang saya rasakan sekarang. Saya bertanya-tanya, apa tanggapannya ketika membaca tulisan ini nantinya? Saya memang tidak memiliki niat untuk memperlihatkan tulisan ini padanya, tetapi saya berniat untuk memuatnya di blog, di halaman reflection, yang dengan kata lain tulisan ini sangat berpeluang untuk dibaca olehnya.

Baiklah, jujur saya katakan dalam tulisan ini bahwa di satu sisi saya juga mengharapkan hal itu agar ia tahu, dan berharap dengan demikian hatinya akan luluh. Akan tetapi ini hanya mimpi yang tak jauh beda dengan mimpi yang sudah-sudah. Apa hebatnya sebuah tulisan yang penuh curhatan sampah tidak jelas begini? Dengan kata lain, harapan saya ini hanyalah mimpi belaka. Saya sendiri tertawa geli karena menyadari betapa bodohnya saya bisa bermimpi seperti ini. Mungkin saya termasuk karakter yang menjadi korban cerita-cerita roman. Oke, Anda juga boleh tertawa.

Lagipula, saya tidak berpikir halaman blog saya akan dikunjungi olehnya. Ketika menuliskan kalimat ini, saya tersenyum sedih karena menyadari bahwa mungkin memang benar pikiran saya delapan jam yang lalu (sekarang pukul sepuluh malam, sedangkan saya mulai membuat tulisan ini sekitar pukul dua siang), bahwa saya bukan seseorang yang istimewa di mata T. Dan karena saya tidak ada istimewanya di mata dia, dia tidak akan repot-repot membuka halaman blog saya (orang tidak akan kepo terhadap sesuatu yang tidak menarik perhatian dan perasaannya) kemudian menemukan tulisan ini dan membacanya sampai tuntas. Saya berpikir bahwa mungkin posisi saya di mata T hanya sebagai teman baru untuk berbagi cerita, atau bahkan mungkin lebih kurang dari itu. Pemikiran yang sangat pesimis, memang. Akan tetapi memang ini lah yang sedang berkecamuk di dalam kepala saya sehingga mendorong saya untuk menyerah sesegera mungkin, daripada berlama-lama mengalami kegalauan yang, bisa saja, mengganggu aktivitas dan kesehatan saya.

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s