Pemantauan Media Sebagai Aksi Surveillance Terhadap Pelaku dan Lembaga Media

 A. Kegiatan Pengamatan yang Dilakukan

Pada tulisan ini, penulis akan menjabarkan kegiatan yang saat ini penulis lakukan bersama rekan-rekan di sebuah lembaga riset independen, bernama Forum Lenteng. Lembaga riset ini memiliki satu program bernama akumassa, yaitu pengelolaan media berbasis jurnalisme warga. Akumassa sendiri memiliki program perluasan bernama rekammedia-akumassa, yakni satu kegiatan memantau media lokal oleh komunitas lokal.

Kegiatan ini penulis lakukan bersama rekan-rekan di lembaga riset tersebut dengan alasan bahwa kami melihat kinerja media, terutama media lokal, belum optimal dalam memenuhi kebutuhan warga masyarakat lokal akan informasi lokal di daerah mereka. Sejauh ini, lembaga yang secara tegas memposisikan dirinya sebagai pemantau media (media watch) belum terbilang banyak. Hal ini mendorong Forum Lenteng untuk melakukan aksi pemantauan guna untuk mengetahuai bagaimana para pelaku media lokal bekerja di ruang lingkup kota mereka masing-masing, dengan melihatnya dari perspektif warga masyarakat lokal. Tujuan atau hasil yang diharapkan adalah produk buku berupa hasil analisa dari data yang terkumpul sehingga dapat memberikan informasi alternatif kepada masyarakat untuk mengetahui bagaimana sebuah informasi di media tersebut diproduksi.

Lokasi pemantauan media ini dilakukan di sepuluh kota, yaitu Aceh, Padangpanjang, Lebak, Jakarta, Tangerang Selatan, Depok, Pemenang (Lombok), Jember, Surabaya, dan Yogyakarta. Sejauh ini, aksi pemantauan telah berjalan selama satu setengah bulan (sedang memasuki minggu kedelapan). Rencananya, kegiatan pemantauan terhadap media ini akan terus berjalan selama satu tahun ke depan. Masing-masing pemantau setiap kota memilih, minimal, dua surat kabar lokal di daerah mereka. Penulis menjadi salah satu pemantau untuk Kota Depok, Jawa Barat.

Bentuk kegiatan yang kami lakukan adalah membaca koran lokal yang dipilih tersebut setiap hari, kemudian mengategorikannya ke dalam isu-isu global yang telah disepakati oleh tim, yakni good governance, HAM, perempuan dan/atau anak, kriminalitas, dan lingkungan hidup. Kategori ini dimasukkan ke dalam tabulasi silang, kemudian dihitung jumlah frekuensi artikel yang membahas isu terkait. Setiap minggunya, masing-masing dari pemantau melakukan analisa dan membuat semacam laporan atau penilaian mereka terhadap sajian media tersebut, kemudian dimuat ke dalam media online yang dimiliki oleh Forum Lenteng, yaitu http://akumassa.org. Masing-masing pemantau diberikan hak untuk menilai sesuai sudut pandang mereka sebagai warga lokal dan berdasarkan latar belakang pengetahuan yang dimiliki.

Penulis melakukan pemantauan terhadap tiga koran lokal Depok, yaitu Radar Depok, Jurnal Depok, dan Monitor Depok. Perhatian atau objek pengamatan penulis dalam melakukan kegiatan tersebut adalah apakah isu-isu penting bagi warga Depok, menurut pendapat penulis sebagai warga Depok, telah dipenuhi oleh tiga koran lokal tersebut. Asumsinya, seringkali media lokal meniru media nasional dengan menghadirkan isu-isu nasional dan melupakan isu-isu di tingkat lokal. Sajian yang menjadi perhataian utama dari penulis dalam kegiatan ini adalah halaman pertama atau headline, penyajian tajuk rencana dari media lokal yang bersangkutan, dan rubrik-rubrik khusus yang secara special membahas tentang isu-isu lokal.

Hasil pengamatan yang penulis lakukan menunjukkan bahwa masih banyak terdapat kekurangan pada media-media lokal tersebut, baik dari segi kemasan hingga penyampaian informasinya. Berita yang terkesan melebih-lebihkan, memberikan stigma dan label kepada kelompok tertentu, dan bahasan yang kurang mendalam, seringkali ditemukan pada artikel. Selain itu, frekuensi penyajian isu-isu yang berhubungan dengan kepentingan lokal masih terbilang sangat sedikit. Umumnya, media lokal di Depok sering mengacu pada nilai berita yang bersifat nasional. Padahal, peran ini sudah dilakukan oleh koran-koran nasiohal, dan sudah semestinya media lokal untuk lebih menaruh perhatian pada kepentingan lokal yang tidak terangkat oleh media nasional.

B. Analisa

Surveillance, dalam Bahasa Indonesia dapat diterjemahkan sebagai pengawasan, pengamatan, atau penjagaan, oleh David Lyon (2007), diartikan sebagai aksi memantau perilaku, aktivitas atau perubahan informasi, biasanya orang atau badan, untuk tujuan mempengaruhi (influencing), mengatur (managing), mengarahkan (directing) atau melindungi (protecting) (David, 2007). Aksi surveillance ini bisa saja dilakukan oleh individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok lain tanpa sepengetahuan subjek dan objek yang dipantau.

Istilah surveillance juga dipakai dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan penelitian. Salah satu contohnya adalah dalam ranah medis, dikenal surveillance epidemiologi. Noor (1997) menjelaskan bahwa surveillance epidemiologi merupakan satu aktivitas “pengamatan secara teratur dan terus menerus terhadap semua aspek penyakit tertentu”. Selain itu, surveillance juga dapat diartikan sebagai metode pengumpulan data dengan pembedaan kekuatan dan kelemahan berdasarkan survey (http://conflict.lshtm.ac.uk/page_68.htm, 3 April 2012; 13:00 pm).

Berangkat dari tiga pengertian tersebut, penulis melihat bahwa aktivitas yang sedang penulis lakukan bersama lembaga riset Forum Lenteng merupakan satu aktivitas surveillance. Hal ini didasarkan pada bentuk aktivitas yang melaukan pengumpulan data, lantas mengategorikannya, dan dilakukan secara teratur (setiap hari) dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Hal ini sejalan juga dengan pengertian tentang data profiling yang memiliki pengertian sebagai satu proses perakitan informasi tentang individu atau kelompok (atau obyek amatan) untuk menghasilkan satu profil, dapat berupa gambaran pola dan perilakunya. Proses ini kemudian dapat menjadi alat yang tepat untuk melakukan analisis jaringan sosial, guna menemukan fakta-fakta tentang subjek dan objek amatan yang selama ini tidak disadari (Mireille & Gutwirth, 2008).

Aktivitas pemantauan media yang penulis lakukan itu merupakan satu aksi yang berusaha untuk menemukan pola tertentu dari sajian media. Dalam konteks ini, yang menjadi objeknya adalah sajian media dan perilaku pelaku media, sedangkan pelaku media (lembaga perusahaan, penulis berita atau wartawan) menjadi subjek pemantauan. Kegiatan ini juga memiliki tujuan untuk membongkar apa-apa saja yang selama ini tidak disadari oleh publik pembaca terkait dengan bagaimana sebuah informasi diproduksi dan dikemas oleh media tersebut.

Konteks keterkaitan aktivitas penulis ini dengan disiplin kriminologi dapat dilihat irisannya pada kajian news-making criminology, yang memiliki fokus pada bagaimana sebuah berita kejahatan diprouduksi oleh pelaku media. Aktivitas penulis ini berpotensi bagi ruang lingkup kajian kriminologi dalam melakukan aksi surveillance terhadap media, khususnya bagi media lokal.


[i] Berikut ini adalah Tugas Mata Kuliah Intelijen dan Investigasi Kejahatan, yakni menceritakan pengalaman melakukan aktivitas surveillance yang pernah dan sedang dilakukan.

[ii] Sumber Referensi

Noor, Nur Nasry (1997). Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. Jakarta: Rineka Cipta.
Lyon, David (2007). Surveillance Studies: An Overview. Cambridge: Polity Press.
Hildebrandt, Mireille; Serge Gutwirth (2008). Profiling the European Citizen: Cross Disciplinary Perspectives. Dordrecht: Springer.
http://conflict.lshtm.ac.uk/page_68.htm, 3 April 2012; 13:00 pm

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s