ritme

#1

3 April 2012

“Malah ketawa?!?! Lu, kan bilang ndiri waktu itu, kalo ngomong soal ini gak perlu pake teori?!” serunya ketika aku tidak lagi bisa bertahan dengan kilah. Bagaimana tidak, wajahku memerah karena terjebak kata-kata sendiri.

“Gue coba ngomong dalam konteks sekarang, ya, Sob… karena digitalisasi, jarak udah jadi bias. Nah, lu sendiri nyadarkan, beberapa hari belakangan kalian hanya diperantarai sama layar… apa istilahnya? Yang sering lu pake dalam puisi itu… supra antropologis?”

“Bukan istilah dari gue itu, ada orang yang pernah menulisnya dalam katalog,” terangku padanya.

“Ya, itu lah pokoknya!” dia mengibaskan tangan. “Jujur ae dah! Lu seneng, kan?” dia terus mendesak.

Aku tidak bisa bertahan lagi, hanya tawa yang bisa aku lemparkan untuk menanggapinya. Lagipula, aku masih ragu, belum ada pernyataan sikap yang jelas tentang hal ini.

“Alah, itu cuma kilah lu doang!” serunya lagi, seakan-akan bisa membaca pikiranku. “Lu itu manusia, Sob! Lu ga ada bedanya dengan yang lain, termasuk gue. Coba ngaca, pikir lagi, lu sedang mencoba membohongi diri sendiri, kan? Sebeneranya lu punya jawabannya. Sebenernya, lu malu aja… takut terulang lagi kayak yang dulu-dulu?! Hahaha… menyedihkan! Iya, kan?! Ngaku, lu!”

Oke, aku mulai garuk-garuk kepala karena merasa tak nyaman. Seperti kata sejawat, ketika ini mulai mengganggu, binasakan!

“Saran gue, ye… mendingan lu buruan…!”

“Udah, sih, ah!” seruku memotong kalimatnya, kemudian mematikan lampu, dan tidur di bawah selimut.

#2

4 April 2012

Kami berdua duduk di teras depan, di dua kursi yang diperantarai oleh satu meja kecil. Kopi, rokok, menjadi teman ketika membaca koran.

Srak srak!

Dia meletakkan koran, yang kini terlipat asal-asalan, usai membaca headline lanjutan isu tempo hari. Aku yang awalnya menduga bahwa dia akan mengeluarkan semacam argumen yang mengesankan, eh, dia justru melanjutkan perdebatan tadi malam.

“Kok, bisa?” katanya.

Aku hanya diam saja, menyeruput kopi, kemudian menyulut sebatang rokok. Aku masih diam.

“Woi, cerita cerita lah, Bro!” desaknya lagi.

Ada apa ini, nuansa yang campur aduk?! Di satu sisi, aku enggan untuk membahas persoalan ini, lagi dan lagi. Akan tetapi, di sisi lain, ada semacam candu yang aku rasakan ketika mulai memasuki ranah perbincangan dengan topik yang mengundang rasa penasaran temanku itu. Namun, aku tidak bisa menjelaskan bagaimana rasa candunya. Alih-alih menanggapi desakannya, aku justru semakin dalam menghisap rokok. Mungkin saja, seperti ungkapan di roman-roman, asap bisa membawa pikiran yang mengganggu. “Mungkin, ye… tauk, dah bener apa nggak!” ucapku dalam pikiran.

Dia juga ikut mengambil sebatang rokok di atas meja, menyulut korek api, membakarnya, dan menghisapnya tak kalah dalam. Akan tetapi arah pandangnya tidak lepas sama sekali melihat ekspresi wajahku, yang aku sadari sudah semakin tidak karuan sebagai representasi apa yang sedang berkecamuk dalam kediaman.

Kemudian, aku menghela napas panjang.

Gilirannya sekarang yang mendapat celah untuk tertawa terpingkal-pingkal, bahkan lebih pingkal dari tawaku tadi malam.

Beberapa saat kami diam.

Perlu aku jelaskan, ini bukan roman yang romantis. Tidak ada angin yang sepoi-sepoi di pagi hari itu. Tidak ada suara ayam berkokok merdu, tidak ada tukang sayur yang berlalu lalang. Justru hiruk pikuk jalanan sudah begitu ramai di pukul delapan pagi tersebut. Polusi, baik udara dan suara, sudah menyebar ke mana-mana.

“Hah…!” aku menghela napas lagi , tidak panjang, justru sedikit tersendat, sesaat setelah meletakkan rokok yang baru terhisap seperempat.

“Karena menarik,” ujarku memecah diam kami. Tanpa aku lihat pun, aku tahu benar tampangnya mulai bersemangat seakan mendapat tontonan baru (atau mungkin bahan tertawaan baru).

“Asyek!” serunya.

“Ya, lu tau lah, jarang gue nemu hal semenarik ini, Bro!”

“Haha, gue, sih cuma bisa bilang ‘Oh!’ doang!” tanggapnya, dan tanggapan seperti itu membuat aku kesal.

“Tapi gak tau juga, Sob! Masih gak jelas… gimana, yak?” aku mengernyitkan kening.

“Ya… gimana? Lau lah yang tau…?!”

Baru saja aku akan bercerita lebih jauh, ponselnya berbunyi. Beberapa saat dia bercakap-cakap dengan orang di ujung jaringan sana, kemudian dia berkata ketika mereka selesai bercakap, “Gue cabut dulu, yak?”

“Lha… kemana?”

“Ngasi proposal,” jawabnya, seraya mengenakan helm, lalu menghidupkan motor.

“Lho? Yang kemaren?”

“Apaan, disuruh ulang! Gak dapet sms-nya, Lu? Untung ae kelar tadi malem! Lau malah tidur, beuh!” gerutunya manyun.

Aku tertawa mendengar keluhannya itu. Sesaat kemudian dia pergi, aku duduk sendiri, menghabiskan kopi tadi.

#3

6 April 2012

“Ya, lumayan lah, gue liat kemegahan atapnya! Arsitektur jaman gothic  apa, yak?” ceritaku ketika dia bertanya.

“Seru, gak?”

“Gerah!” kataku tertawa. “Tapi waktu liat dramanya, ya… menggigil juga, sih!”

“Ye… bukan itu maksud gue,” katanya seraya memainkan alis.

“Buset, dah! Gue udah males, nih yang begini-beginian! Auk, ah, gue mau boker!” kataku salah tingkah, kemudian mematikan rokok dan menuju kamar mandi. Sedangkan dia, tertawa sambil memukul-mukul paha sendiri.

Tapi, pertanyaannya memang perlu aku jawab, setidaknya jawaban untuk diri sendiri. Ada banyak yang aku lihat, aku dapat, dan tentunya, aku sadari. Ternyata, apa yang rumit itu tidak selalu disajikan dengan berbelit-belit. Menulis pun bisa dilakukan dengan pengejawantahan dalam bentuk perilaku. Dan itu, yang aku lihat di dalam kereta, ketika pulang menuju Depok. Selain itu, percakapan-percakapan yang aku lakukan seharian ini, membuktikan bahwa berpikir terlalu rumit justru membuat kepala menjadi sakit. Intinya, aku ingin menjadi lebih simple walau hanya sedikit.

#4

8 April 2012

“Yah, semakin menarik,” kataku di tengah-tengah percakapan. Lagi, masih tentang hal yang seringkali dia pancing untuk dijadikan bahan obrolan. “Gue ampe nyari empat ebook buat dibaca, cuma untuk menyamakan tone  biar gak keliatan bego!”

“Bakalan lu baca, gak ntar, tuh ebook-nya?”

“Ya, dibacalah! Kalo nggak ngapain di-download?”

“Kan lau begitu, punya ebook banyak cuma disimpen di komputer doang!” komentarnya. “Itu semua buku teori film di komputer kosan, ada lu baca?”

“Nggak. Hahaha!” jawabku. “Belum, maksudnya…!”

“Korek, dong!” katanya padaku seraya mengambil sebatang rokok di dalam bungkusan yang terletak di atas meja.

Seperti biasa, kami duduk di teras depan dengan diperantarai oleh meja kayu kecil kusam. Malam hari, waktu itu. Belum terlalu larut, tapi hampir dua bungkus sudah kami menghabiskan rokok. Kebiasaan yang tidak baik, memang. Mau bagaimana lagi? Memang begitu lah kebiasaan yang sering dilakukan orang-orang seperti kami. Berbincang lama, menghabiskan rokok dan kopi: berwacana, hanya untuk mengisi waktu di saat lengang. Itu hiburan yang tak enak jika harus dilewatkan.

Obrolan apa pun, mulai dari pendapat tentang lingkungan tempat kami tinggal, komentar tentang berita di surat kabar, keluhan tentang tugas kuliah, dan tak jarang juga perbincangan tentang sosok pujaan hati. Aku rasa, semua laki-laki dan perempuan muda melakukan hal itu. Dan itu wajar.

Oke, abaikan! Kembali ke ceritaku tadi.

Ada sesuatu yang beda pada obrolan kami malam itu. Materi perbincangan tidak lagi berada di titik saling mengolok-olok. Dia bahkan sudah paham, bahwa aku sekarang ini berada di titik yang benar-benar sulit. Demikian juga sulitnya untuk aku jelaskan dalam catatan ini.

“Jarang, Sob! Lu tau, kan, gue udah nyari dari dulu! Pernah nemu sekali dua kali, tapi ya… begitu… ‘Segitu doang?!’ kayak ungkapan yang sering lu bilang. Tapi kalau yang sekarang, gue nggak liat tanda-tanda itu. Mengalir…” kataku kemudian.

“Ya… dari cerita lu tentang kepiawaian mencair di tengah-tengah massa atau bersikap fleksibel dalam kereta api, gue ngerti, kok!”

Aku menyandarkan badan, lantas menghembuskan napas panjang. Lagi, semakin sering saja aku menghembuskan napas panjang dalam sebuah perbincangan, belakangan ini terutama.

“Usaha, Bro! Usaha! Udah nemu celahnya, kan?” dia memberi saran seraya tertawa.

“Ye… ini juga lagi usaha, Nyet!” aku menimpali.

“Jadi, kemarin itu gimana?” tanyanya lagi, seiring dengan kamar kosan di sebelah kami memutar lagu Good Times-nya Edie Brickell.

“Yah, lumayan lah…!” aku malah menggaruk kepala.

“Ada setengah harian. Dan yang paling menarik itu, kata-kata terakhir… gue semacam diperintah!” kataku lagi sambil memperagakan tanda kutip ketika menyebutkan kata ‘diperintah’. “Tapi itu dugaan doang, sih… gak tau deh… kayak yang gue harapin apa nggak yak…? Haha!”

“Perintah?” dia justru bingung, sedangkan aku menganggukkan kepala seraya menenggak kopi.

“Perintah apa?” tanyanya penasaran.

“Disuruh tidur!” jawabku. “Tidur, yuk ah!” kemudian aku beranjak.

“Ha?” dia semakin bingung.

Aku tidak peduli karena aku memang segera beranjak tidur untuk menenangkan kepala yang sudah semakin berat memikirkan persoalan itu dan hal-hal lainnya. Lagipula, esok hari masih ada banyak tugas yang harus aku kerjakan.

#5

10 April 2012

Baiklah, hal ini sudah membuatku begitu jengah. Aku emosi. Aku menutup lembaran tugas, beranjak dari tempat duduk yang panas itu, lantas ke warung membeli rokok. Aku kembali lagi ke meja yang sama, membuka halaman baru dan mulai melampiaskannya ke sini. Niat awal yang tercetus ketika aku berada di atas angkutan umum, beberapa menit yang lalu, seketika hilang karena emosi yang tiba-tiba datang ini. Bagaimana tidak? Aku menemukan satu pertanyaan yang tidak bisa aku jawab; dan memang tak perlu pula harus aku jawab, tetapi aku membutuhkan jawabannya hanya untuk membuat kepala ini tenang. Aku tahu, mungkin ini adalah ego dari seorang manusia, tetapi siapa yang bisa mengatur perasaan yang sedang gundah gulana oleh suatu hal yang sebenarnya hanya ilusi belaka akibat berjam-jam duduk di depan beragam alat supra antropologis yang melenakan ini. Toh, akhirnya aku menghamba lagi pada perangkat yang tak bisa berbicara ini, tapi bisa memberikan dunia mimpi, dan aku menumpahkan curahan hati kepadanya. Aku sadar, ini memuakkan. Dan aku menjadi lebih muak lagi ketika menyadari bahwa aku, dengan bodohnya, merelakan diri untuk larut dalam kemuakkan yang ternyata juga merupakan hasil dari ilusi itu sendiri. Sialan!

Di waktu-waktu seperti ini, kesombonganku memuncak. Tugas kuliah? Alah, gampang! Aku bisa mengerjakannya dengan sekejap mata: hanya sebuah formalitas dari sistem yang gila akan puja-puja dan cita-cita. Lagipula, aku memiliki kepiawaian dalam mengarang dan berkata-kata, aku pandang sebelah mata tugas itu (yang mulai kuanggap tak ada guna). Orang yang melihat keadaan emosiku sekarang ini pasti akan sangat kesal dan benci.

“Biarlah!” aku berkata dalam hati. “Bukankah ini duniaku, dunia yang tak bisa disebut sebagai hal yang platonis sama sekali karena aku memiliki banyak harap-balasan, dan tak pula bisa disebut sebagai hal yang plastis karena aku tidak memiliki kapasitas untuk membentuk hal yang aku inginkan. Hanya aku yang mengerti bagaimana rasanya menjadi pecundang di dalam pikiran sendiri! Persetan dengan pendapat orang!”

Kurang dari empat puluh delapan jam, aku berujar dengan bangganya bahwa setiap manusia itu memiliki sejarah mereka masing-masing yang tidak bisa dihilangkan serta merta ketika menemukan suatu cerita baru. Sebuah kalimat dari hasil pemikiranku sendiri sebagai kilah kegusaran yang sedang melanda perasaan yang tak berisi ini. Akan tetapi, kenyataannya, aku berpaling dari kalimat itu. Aku justru membenci ketika mengetahui bahwa orang tidak bisa lepas dari sejarah masa lalunya. Mengapa? Aku ingin tahu artinya! Apa itu, artinya?

Percuma juga aku berkeluh kesah, selalu berkeluh kesah, terutama kepada dia yang sering datang mengunjungiku ke gubuk yang berantakan ini. Dia juga memiliki kesibukannya sendiri, orang yang sudah tergila-gila dengan perbincangan tak jelas dan bisanya hanya mencari-cari kegalauan orang lain, tanpa mengaca pada diri sendiri. Sebetulnya, aku sangat mengetahui hal ini, dia juga mengalami hal yang sama denganku. Akan tetapi mengapa selalu aku yang selalu menjadi bahan pertanyaan? Aku bahkan mulai muak dengan penulis cerita ini, yaitu aku sendiri, yang terpaksa harus menuliskan apa yang benar-benar terjadi sesuai skenario yang berasal dari pihak yang tak aku sadari. Masalahnya, aku terjebak dalam dunia ilusi! Aku muda, tapi mengapa begitu mudah terbawa-bawa? Bukankah aku harus memiliki sikap yang selalu curiga terhadap segala hal? Mengapa pada situasi dan kondisi ini, aku justru lebih tergoda untuk larut dalam permainan mimpi-mimpi? Aku tidak bisa menghilangkan memori orang lain karena memori diriku sendiri pun tak bisa aku lupakan. Toh (lagi-lagi aku mengucapkan kata ‘toh’ seraya bertegak pinggang), ini bukan dunia sihir di mana orang bisa menuangkan ingatan masa lalu yang menyakitkan ke dalam sebuah baskom berisi cairan biru-biru berpendar. Bukan, jelas bukan!

Halah, irama?! Ritma?! Tahik kucing dengan itu semua! Aku mulai berpikir untuk kembali ke keadaan semula tanpa berbasi-basa. Aku mulai berpikir untuk berhenti mencoba meraba-raba semua kemungkinan yang ada, yang umumnya hanya memberikan harapan palsu belaka? Karena apa? Karena orang-orang memiliki masa lalu mereka. Aku, sekarang ini, hanya ingin membuang semua harapan tak guna itu, dan meninggalkan satu doa: Tuhan, lepaskan aku dari jeratan yang membuat kepala dan dadaku semakin sakit ini. Bukankah kakek itu, tadi malam, menasehatiku untuk mulai mengerjakan sesuatu yang belum dikerjakan orang lain? Sementara perasaan gundah gulana ini, sudah sering aku kerjakan (dan bodohnya selalu gagal), dan itu bukan hal yang baru. Namun, apa aku bisa lepas dari ini? Apakah bisa?

Kesimpulannya, aku benci menjaga ritma!

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s