Keyakinan dan Usaha Mencarinya

kebenaran itu adalah sebuah proses untuk mencari jawaban, bukan jawabannya yang apakah benar atau salah.

Ada dua perbincangan yang menarik, terjadi pada tanggal 6 April 2012. Saya terlibat di kedua perbincangan itu. Temanya adalah tentang keyakinan, atau bahasa yang lebih tegasnya, iman.

Pertama, terjadi ketika saya makan ketoprak di depan Gereja Katedral Jakarta, Jalan Kathedral, No. 7-B, Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Berawal dari obrolan tentang kesan nuansa baru yang saya dapatkan ketika berada di tengah-tengah massa dalam gereja yang sedang menjalankan ibadah Jalan Salib—saya muslim, tetapi sengaja berada di sana untuk kepentingan riset kecil-kecilan—teman saya, Tyas, bercerita tentang bagaimana seharusnya manusia diberikan kebebasan untuk memilih jalan yang ia yakini. Menurutnya, agama, toh keberadaannya bukan untuk mengekang, tetapi memberi terang dan kebebasan bagi kita untuk berinteraksi dengan Sang Khalik. Ketika doktrin agama diterima begitu saja tanpa usaha untuk memahaminya lebih jauh, kita akan terjebak dalam sesat pikir dan ketersempitan cara pandang.

Pendapatnya itu mengingatkan saya pada sebuah pernyataan yang sempat diucapkan oleh seorang sosiolog, Hikmat Budiman, dalam sebuah seminar yang diadakan oleh ruangrupa beberapa tahun silam. Kira-kira, katanya seperti ini, “Agama, dan juga teknologi, ketika kita menghadapinya tanpa berpikir, kita tidak akan kemana-mana.” Kata ‘berpikir’ ini lah yang, mungkin, bisa saya kaitkan dengan apa yang sering saya jelaskan kepada beberapa teman di kampus (mahasiswa baru), “Hidup itu harus selalu curiga, dalam artian harus selalu bertanya dan berusaha untuk mencari jawabnya.” Paling tidak, pendapat saya ini sangat mendekati keterangan yang sering disebutkan dalam berbagai ensiklopedi. Salah satunya dikatakan bahwa keberhasilan Archimedes menemukan hukum tentang gaya ke atas pada tekanan air dipicu karena dia selalu bertanya.

Kembali pada perbincangan saat ketoprak saya bersisa setengah piring, Tyas kemudian menceritakan gaya berpikir seorang temannya, yang menurut pendapatnya pribadi adalah keliru. Teman yang dia maksudkan itu mengaku sebagai atheist, dan menyalahkan semua agama karena mengekang kebebasan berpikir individu sebagai manusia.

Gue akan ngelarang anak gue untuk memeluk agama mana pun supaya gak terkungkung oleh agama!” kata Tyas, menirukan kata-kata temannya.

“Menurut gue, itu sama aja, kan? Melarang anaknya untuk memeluk agama juga kungkungan,” ujar Tyas mengomentari gaya berpikir temannya itu. “Mungkin lebih baik kalo dia memberikan kebebasan pada anaknya untuk memilih agama sendiri, suruh belajar banyak untuk mendapatkan keyakinan agama mana yang benar!”

***

Perbincangan kedua terjadi di sore hari, sekitar pukul tiga, di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesa, sepulang dari Jakarta Pusat. Perbincangan ini terjadi antara saya dan Kunto.

“Idealisme itu penting atau tidak?” tanyanya kepada saya.

Lu menganggap iman itu penting, gak?” saya balik bertanya.

Kunto hanya tersenyum, lantas membiarkan saya melanjutkan pendapat saya.

Saya pribadi berpendapat bahwa jika kita ingin hidup sebagai manusia, kita harus memiliki prinsip yang bersifat idiil. Jika kita memiliki prinsip hidup—di kalangan mahasiswa, bahasa kerennya adalah idealisme—kita akan memiliki satu hal yang akan dipertahankan dan diperjuangkan, selain menuntut kita untuk terus mempertanyakan kebenaran dari prinsip itu sendiri.

Bagi saya sendiri, prinsip hidup, atau idealisme, atau keyakinan (yang dengan kata lain sama saja dengan iman, yang diarahkan kepada sesuatu yang ideal atau melebihi jangkauan tangan manusia) hadir di dalam kehidupan kita sebagai satu tatanan nilai yang mengatur bagaimana kita bersikap dan berperilaku. Sederhananya, kita akan melakukan hal yang sesuai dengan keyakinan, dan akan menolak segala hal yang bertentangan dengan keyakinan itu.

“Menurut lu, minuman yang memabukkan itu haram, dalam konteks Agama Islam? Mengapa haram?” saya bertanya kemudian, kepada Kunto.

“Kalau kita lihat secara ilmiah, ya dia merugikan buat tubuh,” jawabnya.

“Siapa bilang?” kata saya. “Gue rasa, minum alkohol gak akan merugikan kalau gak berlebihan. Katanya, alkohol juga memberikan manfaat bagi tubuh.”

Setidaknya, saya berkata demikian karena pernah membaca sebuah artikel.[ii] Menurut hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh The University of Texas Southwestern Medical Center di Dallas, dan oleh The New England Journal of Medicine, pada tahun 1999, alkohol yang dikonsumsi dengan takaran normal justru memberikan manfaat bagi tubuh, seperti mengurangi resiko terkena serangan jantung koroner dan stroke. Terlepas valid atau tidak validnya hasil penelitian yang dikutip dalam artikel itu, saya berkata berdasarkan rasio, bahwa bagi orang yang hidup di iklim yang berbeda dengan Indonesia, menenggak alkohol bermanfaat untuk memberikan kehangatan bagi tubuh. Saya sendiri mencerna dalil “dilarang meminum minuman yang memabukkan” sebagai peringatan bagi kita untuk tidak mabuk, dan lebih baik hindari sebelum itu terjadi. Namun, bagaimana jika ada orang yang memang sudah pasti bisa mengontrol dirinya untuk tidak mabuk? Kemungkinan itu pasti ada.

Namun, jika saya bersikap sebagai seorang muslim, dalil yang melarang “meminum minuman yang memabukkan” adalah sesuatu yang ‘mutlak’ sebagai ketentuan, karena ada label haram di sana. Jika saya melanggar ketentuan ini, saya akan berdosa.

Ini lah yang saya maksudkan sebagai iman tersebut. Ketika kita memiliki iman, kita tidak akan melakukan hal yang bertentangan dengan iman tersebut, meskipun ada unsur manfaat pada sesuatu yang bertentangan itu. “Bagaimana pun manfaatnya, saya tidak akan meminum alkohol, karena prinsip hidup yang saya yakini mengatakan bahwa minuman alkohol haram!” mungkin itu yang akan saya katakan sebagai seorang muslim.

Hal yang serupa juga terjadi dengan kata ‘idealisme’. Meskipun Hatta dan Soekarno dengan tegas mampu menjelaskan manfaatnya jika kita menanti ‘serahan’ kemerdekaan dari Jepang, Tan Malaka dan para pemuda pada masa detik-detik proklamasi tidak mau menerima hal itu karena bertentangan dengan idealisme atau prinsip hidup yang mereka yakini sebagai Bangsa Indonesia. Bagaimana pun keadaannya, merdeka kita harus 100% tanpa bantuan para penjajah sama sekali. “Ini soal prinsip, Sob!” mungkin begitu kata Tan kepada Hatta. Intinya, menolak yang bertentangan dengan keyakinan, dan menjalankan apa yang diyakini benar.

***

Ada dua poin penting yang mungkin dapat kita tangkap dari hasil dua perbincangan yang terjadi pada waktu berbeda dalam satu hari itu. Pertama, tentang ‘kebebasan alam pikir’ yang dimiliki oleh manusia. Kedua, tentang prinsip hidup yang juga harus dimiliki sebagai pribadi berjiwa. Saya secara pribadi menjadikan dua hal ini sebagai dua ‘mesin’ untuk menghindari keterjebakan dalam pandangan yang sempit.

Kita memang harus memiliki iman, tetapi kita tidak boleh memandang iman atau keyakinan dengan kacamata kuda. Bukan kah kita memiliki akal? Kita memiliki pikiran yang dengan bebas bisa menjamah alam ilmu pengetahuan yang luasnya tak kalah dengan jagat raya. Saya berpendapat bahwa iman bukanlah suatu doktrin, melainkan hasil dari apa yang telah kita pikirkan secara masak dan mantap sehingga kita memiliki kepercayaan untuk menganutnya. Secara tidak langsung, saya mencoba mematahkan kenyataan yang ‘taken for granted’, yang dialami oleh hampir semua manusia ketika dia lahir: mengikuti keyakinan yang diyakini oleh orang tuanya atau yang mengasuhnya. Mungkin ini lah yang dimaksudkan oleh Tyas: memberikan kebebasan bagi seorang individu untuk memilih merupakan satu hal yang perlu dilakukan. Akan tetapi, seperti katanya kepada saya, “Kebebasan itu harus dibarengi oleh usaha untuk belajar sebanyak-banyaknya tentang agama secara tuntas!”

Sementara itu, prinsip hidup, atau idealisme, atau keyakinan alias iman itu, merupakan hasil dari konflik batin atau proses yang telah kita lakukan dengan belajar sebanyak-banyaknya. Dengan kata lain, ketika ketentuan satu iman mengatakan A, kaji lah sedalam-dalamnya mengapa harus A, dengan memperhitungkan berbagai aspek yang mungkin saja B, C, D dan lainnya. Ketika kita sampai pada titik final bahwa A memang sesuatu yang perlu kita lakukan, lantas jadikanlah ia sebagai keyakinan yang tidak akan kita ingkari dalam hidup. Bagi saya, itu lah iman.

Manusia yang mengalami taken for granted, sesungguhnya, memiliki peluang dengan kebebasan alam pikir yang bisa dia dayagunakan. Mungkin, saya yang terlahir sebagai muslim, perlu untuk mempelajari Islam secara lebih jauh dan dalam hingga tuntas, untuk menemukan kebenaran hakiki tentang keimanan saya terhadap Islam itu sendiri.[iii] Artinya, saya melakukan satu usaha untuk menemukan jawaban dengan beragam pertanyaan yang muncul dari kepala saya. Ketika semuanya telah terjelaskan dalam sebuah proses pencarian itu, kita akan lebih kuat untuk mengatakan bahwa keyakinan kita adalah sesuatu yang memang harus kita percaya. Toh, Nabi Muhammad SAW juga melakukan hal yang sama di Gua Hira, barulah dia mengucap lafal keimanannya kepada Allah SWT. Pertanyaan untuk kita, apakah kita sudah melakukan hal yang sama, terkait dengan masalah keimanan ini?

Ya, saya berusaha mengambil intinya saja: agama tidak boleh ditelan mentah-mentah. Kita perlu mempelajarinya lebih jauh, mendayagunakan kebebasan alam pikir yang kita miliki untuk menguliknya hingga bagian yang terdalam, menelaah dan memahami misteri tentang keberadaan Sang Khalik dan para Nabinya itu. Bagi saya sendiri, kebenaran itu adalah sebuah proses untuk mencari jawaban—dan ini jelas sekali ada dalam mata kuliah filsafat kriminologi tentang pengembangan sebuah ilmu pengetahuan, yang menuntut sebuah proses yang tidak instan—bukan jawabannya yang apakah benar atau salah.

Singkatnya, kita akan memiliki iman jika kita melakukan usaha (belajar sebanyak-banyaknya dengan menggunakan akal dan pikiran) untuk menemukan alasan mengapa dia kita jadikan sebagai satu keyakinan atau kepercayaan dalam hidup. Lantas, ikatlah janji atas keyakinan itu dengan menyatukannya dalam hati kita, sebagai manusia, agar kita tidak mengingkarinya.


[i] Tulisan ini merupakan salah satu oleh-oleh yang saya bawa dari perjalanan iseng menyelinap ke dalam Gereja Katedral Jakarta untuk menonton drama tentang Penyaliban Isa secara langsung.

[ii] Setelah mencarinya lagi, artikel yang saya maksud itu ada di sini: http://sindhu-strong.com/2008/07/manfaat-alkohol-untuk-tubuh.html

[iii] Sama halnya dengan Alexander Fleming yang percaya bahwa bakteri bisa melawan bakteri (melawan penyakit), dia kemudian melakukan usaha-usaha empirik untuk menegaskan apa yang dia percaya adalah benar melalui serangkaian penelitian dan percobaan. Kata dosen saya, yang menjadi ‘benar’ bukanlah hasil penelitiannya, tetapi bagaimana dia berusaha untuk mencari alasan-alasan argumentasi yang dapat memperkuat apa yang ia percaya tentang bakteri itu. Ini bisa saja kita lakukan untuk mempertanyakan agama yang kita anut: kita harus berusaha sendiri, dengan belajar dan berpikir, untuk menemukan alasan arguemntasi yang menguatkan kita untuk tetap memeluk keimanan yang kita terima dan kita miliki.

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s