KEJAHATAN, APAKAH ITU? : Usaha Mendefinisikan dan Menakar Masalah Kejahatan

Kejahatan, sebagaimana penyimpangan, merupakan sebuah konsep dengan makna yang beragam, tersebar dan sukar dirumuskan. Seperti yang dikutip oleh penulis What is Crime? Defining and Measuring the Crime Problem[i] dari Henry dan Lanier (2001), definisi kejahatan yang begitu spesifik akan berakibat pada pengabaian tindakan atau perilaku lainnya yang merugikan, seperti kekerasan dalam rumah tangga, SARA, dan bahkan kejahatan kerah putih. Namun, jika didefinisikan terlalu luas, semuah tindakan menyimpang dari norma umum akan dianggap sebagai kejahatan.

Pada kenyataannya, telah terjadi perubahan yang signifikan pada cara bagaimana para kriminolog dan ‘hukum’ dalam melihat sesuatu hal yang diperhitungkan sebagai ‘kejahatan’. Kejahatan bersifat kontekstual; bergantung pada sejarah, agenda sosial, atau situasi dan kondisi dari tempat dan waktu terjadinya. Pengertian yang dipaparkan hukum tentang kejahatan mungkin dapat dilihat sebagai jawaban, tetapi dia terbuka untuk beragam interpretasi. Sebagaimana oleh hukum, definisi oleh aparat pemerintah (penguasa) dan pakar kriminologi digunakan oleh masyarakat untuk menakar batas atau tingkat dari kejahatan itu sendiri.

Definisi kejahatan berdasarkan ketentuan perundang-undangan, sejak Abad keenambelas, merujuk pada tindakan atau perilaku yang dilarang, digugat dan dihukum oleh hukum tentang kejahatan (Henry dan Lanier, 2001: 6). Sedangkan para pakar kriminologi yang lain berpendapat bahwa pengertian kejahatan dari sudut pandang hukum atau perundang-undangan masih memiiki ruang yang terbatas, seperti terabaikannya permasalahan tentang kejahatan kerah puti atau kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang terhormat (Sutherland, 1949a). Oleh karena itu, dibutuhkan banyak cara dan pendekatan untuk memahami kejahatan.

Pada review ini, saya akan lebih fokus pada bagaimana usaha pendefinisian kejahatan yang dilakukan oleh pakar melalui analisis dimensi-dimensinya dengan pendekatan Piramida John Hagan dan Prisma Kejahatan.

Pendekatan Konsensus dan Konflik

Pendekatan ini memiliki sudut pandang yang berbeda dalam mendefinisikan kejahatan. Pendekatan consensus melihat bahwa masyarakat memiliki satu persepsi atau asumsi yang sama dalam melihat kejahatan, sementara pendekatan konflik melihat bahwa kejahatan merupaka satu istilah yang muncul akibat adanya perbedaan-perbedaan gagasan di masyarakat yang pada dasarnya juga memiliki tingkat dan kelompok kepentingan yang berbeda pula. Dalam pandangan konflik, kejahatan merupakan satu definisi yang diberikan oleh kelompok kepentingan yang lebih berkuasa atau dominan terhadap kelompok kepentingan yang minoritas dengan menerapkan atau menjalankan satu sistem penghukuman dan opresi bagi yang melanggar peraturan tersebut. Negara, merupakan salah satu contoh dari ilustrasi bagaimana kelompok dominan memberikan definisi kejahatan bagi kelompok yang ada di bawahnya atau yang berbeda dengan kepentingan negara tersebut.

Piramida John Hagan dan Prisma Kejahatan

Diakses dari http://plato.acadiau.ca/courses/soci/thomson/criminaljustice/deviance/deviance.htm

John Hagan lebih jauh menjelaskan bagaimana  kejahatan itu dedfinisikan oleh negara. Menurutnya, kejahatan, atau penyimpangan, dapat diletakkan pada tingkat tertentu yang bervariasi berdasarkan konteks norma sosial yang diatur melalui hukum yang berlaku di satu masyarakat. John Hagan membagi tiga kategori yang mempengaruhi pendefinisian kejahatan. Setiap kategori, kuat atau tidaknya, akan mempengaruhi satu perilaku atau tindakan untuk ditempatkan pada tingkat atas (paling jahat) atau bawah (tidak kejahatan).

Pertama, berdasarkan tingkat konsensus dan perjanjian yang disepakati bersama oleh anggota masyarakat. Pada tingkat ini masyarakat menerima satu perilaku sebagai satu hal yang diyakini benar atau salah menurut kesepakatan umum. Kedua, tanggapan masyarakat terhadap hukum yang berlaku. Kuat atau tidaknya perhataian masyarakat terhadap hukum yang menangani satu perilaku akan mempengaruhi kuat atau tidaknya pula definisi kejahatan bagi tindakan atau perilaku tersebut yang diyakini oleh masyarakat. Ketiga, tingkat seriusitas kejahatan berdasarkan penyebab dan akibat yang ditimbulkan kejahatan tersebut.

Usaha yang dilakukan oleh Hagan ini sedikit memberikan kejelasan bagi kita untuk dapat mendefinisikan atau menakar satu perilaku apakah termasuk kejahatan atau tidak. Namun demikian, masih terdapat kekurangan dalam piramida Hagan tersebut. Kekurangannya adalah Hagan tidak memasukkan poin ‘kepedulian masyarakat’ terhadap kejahatan (crime awareness). Hagan juga tidak mempertimbangkan keberadaan dan posisi korban di dalam piramidanya serta dimensi keseriusitasan repson atau reaksi dari masyarakat itu sendiri terhadap kejahatan, hukum, dan korban yang ditimbulkan.

Diakses dari http://www.epidemiologicalcriminology.com/recentpublications.htm

Lantas dicoba disusun sebuah bagan piramida yang lebih lengkap dengan memperluas cakupan kategori utnuk mendefinisikan kejahatan. Bagan ini kemudian disebut sebagai Prisma Kejahatan. Prinsip kerjanya, serupa dengan prisma sebagaiaman mestinya, adalah menguraikan masing-masing faktor yang dapat dimanfaatkan untuk menakar satu perilaku termasuk dalam tingkat kejahatan tertentu. Prisma dibagi menjadi dua dimensi, atas dan bawah. Bagian atas menjleaskan kejahatan yang terlihat, seperti kejahatan jalanan, sedangkan bagian bahwa menjelaskan kejahatan yang dilakukan oleh pihak yang abstrak, seperti organisasi, korporasi, pemerintah, yang tidak teridentifikasi secara langsung, tetapi ada. Dengan demikian, akan didapatkan satu analisis dimensi yang lebih lengkap dan komperhensif.

Penempatan atau pengategorian kejahatan pada tingkat-tingkat tertentu dilihat dari hubungan antara bentuk kerugian, respon hukum, korban dan reaksi sosial masyarakatnya. Semakin banyak faktor yang diperhitungkan, dan ketika nilainya semakin kuat mempengaruhi, maka satu perilaku tersebut masuk pada bagian yang paling mengerucut atau meningkat, dan dianggap serius (lihat pada gambar, kategori a, b, dan c). Sementara itu, ketika satu perilaku tidak menghasilkan satu dampak yang signifikan pada beragam faktor tadi, dia akan menempati tingkatan yang lebih bawah, misalnya victimless crime, yang tidak menimbulkan kerugian pada orang lain.

Kerugian individu dan kerugian sosial menjadi aspek yang paling penting, terutama pada prisma bagian atas, dalam penempatan tingkat serius atau tidaknya satu perilaku sebagai kejahatan. Ketika satu perilaku memunculkan kerugian yag permanen bagi korban, kemungkinan besar dia terletak pada tingkat paling atas, sedangkan kerugian sementara akan menempati posisi yang lebih bawah. Perilaku penyimpangan yang hanya memunculkan kerugian moral dan tidak langsung, menempati tingkatan yang lebih bawah lagi. Jumlah atau kuantitas dari kerugian atau respon yang dimunculkan juga mempengaruhi. Seperti misalnya korupsi atau kejahatan lingkungan, yang tidak memberikan dampak langsung, tetapi sangat signifikan merugikan bagi orang banyak, juga menempati posisi yang paling tinggi (pada prisma bagian bawah), dan dengan oleh karenanya koneskuensi hukum dan sanksi juga harus lebih tinggi.

Namun demikian, kejahatan yang tidak jelas (atau bersifat abstrak) juga dapat masuk dalam dimensi Prisma Kejahatan, dan akan menempati bagian yang lebih mengerucut (menajam) sebagai bentuk gambaran peningkatannya, di prisma bagian bawah. Misalnya, kejahatan pornografi anak, yang tidak dapat dilihat secara langsung, tetapi dia ada, memunculkan korban yang bukan perorangan, dan melibatkan banyak aspek bagi terjadinya. Kejahatan ini menempati posisi terbawah pada prisma bagian bawah. Demikian juga dengan persoalan gender, yang masih menjadi perdebatan, juga menpemati bagian terbawah dari sisi bawah prisma. Dengan kata lain, semakin abstrak satu perilaku atau persoalan dalam konteksnya dengan kejahatan, maka akan terletak pada posisi yang paling bawah. Ini lah keistimewaan yang dimiliki oleh Prisma Kejahatan dalam usahanya mendefinisikan perilaku kejahatan.


[i] Artikel ini merupakan tugas review dalam mata kuliah Teori Kriminologi Post Modern dan Budaya. Saya disuruh me-review artikel jurnal akademik yang berjudul What is Crime? Defining and Measuring the Crime Problem, yang dibagikan kepada para mahasiswa dalam bentuk foto-copy-an, tetapi tidak dilengkapi keterangan tentang nama penulis dan tahunnya. Saya sendiri masih mencari sumberny. Saya akan segera mencantumkannya jika berhasil mencari sumber dari artikel tulisan tersebut.

Bacaan lebih lanjut:

Author: Manshur Zikri

Penulis

2 thoughts on “KEJAHATAN, APAKAH ITU? : Usaha Mendefinisikan dan Menakar Masalah Kejahatan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s